Follow Us @agnes_bemoe

Monday, 4 January 2021

Selamat Natal, Nak

 Kamis, 24 Desember 2020





Selamat Natal, Nak.

Engkau tak lagi merayakan Natal.

Tak hanya itu, engkau tak ada lagi berada bersama denganku dan kuyakin, engkau tak ingin berada bersama denganku.

Aku tak bisa menyalahkanmu. Hubungan kita tak pernah baik sejak hari pertama kita bertemu. Aku merasa tak siap menerimamu. Dan terbukti, aku tak siap. Inilah yang kuduga menjadi akar tidak baiknya hubungan kita. 

Awalnya, aku merasa engkau orang yang tak tahu berterima kasih, setelah semua bantuanku buatmu.

Lalu, di suatu saat ketika umurku mencapai limapuluh, aku mendapat penyadaran. Aku seorang yang toxic. Panjang sebabnya. Namun, akibatnya adalah aku meracuni semua hubunganku, termasuk dengan dirimu.

Aku mengecilkanmu; fisik dan mental (dan aku menamainya “pendidikan yang keras namun bermanfaat buat masa depanmu”. Maaf.) Aku ternyata tak mampu mencintaimu. Bukan karena engkau tak pantas dicintai tapi karena aku tak bisa mencintai diriku sendiri.

Aku tumbuh dalam keluarga yang tak punya cinta satu sama lain, tak saling support, dan sebaliknya saling bully on daily basis. Aku membalaskan rasa marahku yang terpendam pada dirimu.

Ketika masih kecil, engkau menerima dengan diam (yang kuartikan sebagai “manis” dan “penurut”). Ketika sudah beranjak dewasa, engkau memutuskan untuk lari menyelamatkan dirimu.

Engkau pergi pada pria yang kau anggap mencintaimu. Pria berbeda agama yang menawarimu cinta asalkan engkau mau ikut agamanya. Bukan cerita pertama buatku. Sejak SMA dan mengenal cinta, sudah banyak kulihat skenario yang sama.

Tak bisa kusalahkan dirimu. Aku yang membangun kondisi sedemikian rupa sehingga engkau memilih lari. Lari pada orang pertama yang menawari cinta.

Kuharap pria itu benar-benar mencintaimu dan bukan memakaimu sebagai salah satu trofi kemenangan pindah agama. (Jujur, bila berganti keyakinan, aku ingin engkau memilih keyakinan yang lebih mencerdaskan dan menghargai kehidupan, kemanusiaan, dan perempuan).

Tapi, ya sudahlah. Itu satu masalah. Ada hal yang lebih penting yang ingin kusampaikan kepadamu di Hari Natal (yang tidak lagi kau percayai magic-nya ini): maafkan saya.

Tak bisa kumaafkan diriku untuk banyak kesalahan yang sudah kulakukan kepadamu. Hanya engkau yang bisa memaafkanku.

Kalau bisa saya ulang lagi, saya ingin mengubah semua pendekatanku kepadamu. Saya ingin lebih sering memelukmu. Membelai rambut hitammu yang lebat. Memuji mata belomu yang cantik. Menemanimu belajar (hal yang sering kutinggalkan dengan alasan kerja), mengajakmu jalan-jalan, masak atau nyanyi bersamamu ... intinya, menunjukkan bahwa engkau penting dan istimewa buatku (karena engkau memang penting dan istimewa).

Di hari Natal ini, saya harap -entah bagaimana- engkau membaca catatan ini. Mungkin engkau belum bisa memaafkanku sekarang. Tak apa-apa.

Yang sangat saya harapkan adalah, karena saya sudah meninggalkan begitu banyak toxin dalam masa kecil dan remajamu, semoga engkau menyadarinya bahwa ada kemungkinan besar engkau juga menjadi pribadi yang toxic. Tidak menyalahkanmu tapi perhatikan baik-baik relasimu dengan orang terdekatmu. Banyak-banyaklah berefleksi dan mohon petunjuk Tuhan. Mohon kesembuhan.

Benar, bukan salahmu. Ini salah saya. Dan sekali lagi, saya minta maaf. Namun, dengan memberi peringatan ini saya harap saya sedikit membantu.

Engkau tak harus memaafkan saya tapi kalau boleh saya mengharuskan: refleksi dan sembuhkan dirimu.

Banggalah pada dirimu. Rawat dirimu. Carilah apa yang membuatmu bahagia. Cintai dirimu supaya engkau bisa mencintai orang di sekelilingmu.

Well, ini catatan Natal yang panjang.

Kalau masih ada rezeki, semoga kita masih bisa bertemu. Kalaupun tidak, maafkan saya, may life treats you kind, semoga kebahagiaan dengan limpahan berkat dan rahmat selalu menyertaimu.

Selamat Natal, Nak.

Mami

No comments:

Post a comment