Follow Us @agnes_bemoe

Saturday, 19 September 2020

Pelajaran Besar Buat Saya: Jangan Mau Bekerja Sama Tanpa Kontrak

September 19, 2020 0 Comments

 




Kasus kontrak kerja sama kepenulisan kemarin membuat saya teringat akan peristiwa yang saya alami sendiri. Bukan kurang teliti membaca kontrak tapi saya terlalu percaya sehingga mau saja bekerja sama tanpa kontrak. Ketika kerja samanya bermasalah, saya tak bisa berbuat apa-apa.

 

Waktu itu saya baru mulai menulis (sudah ada buku terbit tapi belum banyak). Seorang penulis kenamaan mengajak saya kerja sama menulis buku. Tentu saja saya senang dong. Tak hanya dapat kesempatan belajar tapi juga belajar pada orang yang tepat, pikir saya waktu itu.

Waktu itu si penulis terkenal ini (kita sebut saja Penulis A ya) sudah mengatakan kalau kontrak hanya ada antara penerbit dengan Penulis A (catatan: konsep besar naskah ini sudah disetujui penerbit dan naskah ini berupa serial). Jadi tidak ada kontrak untuk saya. Untuk royalti juga antara penerbit dengan Penulis A. Saya menerima dari Penulis A. Jujur, waktu itu saya tak merasa keberatan. Saya pikir, ini masalah teknis saja. Kemudian baru saya menyadari betapa tidak tepatnya tindakan saya ini.

 

Proses penulisan berjalan lancar. Ide dari Penulis A. Penulis A juga mengajari saya cara menyusun bahan mentah menjadi naskah pada buku. Saya mencari bahan, menyusun, lalu menuliskannya. Terakhir Penulis A memoles lagi di sana-sini sebelum dikirim ke penerbit.  Saya diberi kesempatan menulis dua judul, berarti dua buku.


Permasalahan timbul ketika salah satu dari kedua buku ini terbit. Yang tertulis di buku itu bukan nama saya. Dan lagi-lagi, saya yang super naïf. Saat itu saya tenang saja karena percaya. Saya percaya karena merasa berurusan dengan orang-orang yang saya anggap punya integritas. Saya yakin akan ada penyelesaian yang bermartabat, yang tidak merugikan saya sebagai yang menulis materi di buku itu.


Saya salah besar.


Ada permohonan maaf dari editor pelaksana melalui inbox dilanjutkan dengan penjelasan dari editor kepala. Saya memahami, ada kesalahan manusiawi (tidak disengaja) karena di dummy yang dikirimkan ke saya sebelumnya tidak ada kesalahan sedikitpun. Namun, saya mengharapkan tindak lanjut untuk naskah karya saya. Saya mengharapkan ada koreksi secara umum dari penerbit bahwa nama penulis “Penulis B” (Penulis A dan B) di buku XXX itu keliru. Yang benar adalah “Penulis A dan Agnes Bemoe”. Secara umum di sini bukan juga di surat kabar. Di media sosial pun sudah memadai. Yang penting saya punya pegangan bila bermaksud mempromosikan buku itu (atau mengklaim untuk portofolio, misalnya). Kan lucu kalau saya menyatakan buku itu karya saya sementara nama yang tertera di buku itu bukan nama saya dan dari penerbit tidak ada satu penjelasan pun tentang itu.  


Pihak penerbit hanya bisa mengupayakan dua hal. Pertama, membuat semacam stiker kecil bertuliskan nama saya lalu dikirim ke toko-toko buku (karena katanya buku sudah terlanjur dikirim ke toko-toko buku). Stiker itu akan ditempelkan di buku XXX tersebut. Tapi penerbit tidak bisa menjanjikan bahwa toko akan benar-benar menempelkan nama saya itu. Saya menganggap ini tetap merugikan saya karena tidak ada jaminan nama di buku itu diganti dengan stiker nama saya (dan tentu saja bukan tugas toko ‘kan, untuk mengganti nama di buku tersebut).


Kedua, penerbit menjanjikan akan mengubah kesalahan tersebut pada cetak ulang. Waduh, pikir saya, yang ini saja belum beres, bagaimana saya mengharapkan cetak ulang? Iya kalau cetak ulang. Iya kalau pada saat cetak ulang tidak terjadi kesalahan tulis lagi. Kan sangat tidak jelas.


Selagi berbicara inilah barulah saya menyadari lemahnya kedudukan saya. Saya tidak punya kontrak apapun dengan penerbit. Secara hukum penerbit bebas menerakan atau tidak menerakan nama saya di naskah itu. Keterikatan saya dan penerbit hanya secara moral. Dan moral bukan hukum positif. Dan yang bukan hukum tidak punya daya paksa pada seseorang untuk berbuat benar dan baik, kecuali ada niatan yang benar-benar kuat dari seseorang itu untuk berbuat baik.


Dalam konteks ini saya yang salah. Saya keliru telah mengerjakan sesuatu tanpa kontrak. Jangankan menandatangani, melihat dan membacanya pun tidak! Mau saya teriak-teriak sampai leher putus pun penerbit akan tenang-tenang saja.

 


Lalu bagaimana dengan Penulis A? Yang mengajak ‘kan Penulis A?


Saya juga berharap Penulis A mau berada di pihak saya. Paling tidak, ikut berbicara buat saya. Penulis A memang tidak dirugikan apa-apa pada saat itu. Namun, saya sungguh berharap solidaritasnya buat saya. Taruhlah saya bukan temannya, lihatlah saya sebagai sesama penulis. Sebagai seorang penulis juga tentu beliau bisa membayangkan bagaimana kalau naskah terbit dengan nama orang lain.


Mungkin Penulis A sudah bicara juga dengan penerbit untuk membantu saya, saya tidak tahu. Kalau memang sudah, melalui tulisan ini saya mengucapkan terima kasih. Ketika bicara dengan Penulis A saya malah mendapati beliau merasa lebih mencemaskan posisi beliau ketimbang bagaimana bisa melakukan sesuatu buat memperkecil kerugian saya.


Saya cuma bisa terdiam. Berbagai hal berkecamuk di kepala saya tapi akhirnya lagi-lagi saya hanya bisa menyalahkan diri saya sendiri. Saya yang terlalu percaya. Super duper naïf.


Penulis B (yang namanya tertulis sebagai ganti nama saya) juga menghubungi saya. Dengan polosnya menyatakan kalau dia ingin membantu (ikut bicara) tapi dicegah.


Oke deh, berarti memang saya dibiarkan sendirian menghadapi permasalahan ini. Tapi, bagaimana mau menghadapi? Saya tidak punya secuil kontrak pun dengan penerbit yang telah keliru menerakan nama pada naskah tulisan saya.

 

Saya kecewa sekali.


Teringat lagi ketika menuliskan naskah itu saya sudah kena HNP (Herniated Nucleus Pulposus = syaraf terjepit) biarpun belum tahu kalau itu HNP. Jadi saya menulis sambil meringis-meringis, menahan ngilu. Lembur pun dilakonin, berharap bisa memberikan yang terbaik. Sungguh pelajaran yang sangat menyakitkan secara fisik dan mental.

 

Tahu hanya akan menghantam angin, saya pun menarik diri. Tak mau lagi mengurusi hal itu. Biarlah mereka menikmati hasil kerja saya. Saya tak peduli.

Saat itu juga kesehatan saya sedang buruk-buruknya. Otak saya tak punya tempat lagi buat memikirkan hal ini karena sedang memikirkan kesehatan badan, pengobatan, dan pembiayaannya (saya masuk RS 2 kali).

 

Buku itu sendiri kemudian saya lihat terpajang di toko, tanpa nama saya. Menyakitkan lho, melihat sesuatu yang kita tulis terpajang dengan nama orang lain. Saya menerima sejumlah uang dari Penulis A sebagai royalti buku itu. Saya percaya, jumlah yang diberikan kepada saya pasti sesuai dengan seberapa besar hak saya.

 

Saya memutuskan untuk tidak mau lagi berhubungan dengan Penulis A. Terlalu traumatis. Saya berterima kasih atas bantuan beliau pada saya ketika saya mulai menulis. Penulis A membantu memuluskan jalan saya ke penerbit. Itu saya akui dan tidak saya hilangkan dalam catatan saya. Namun, sama sekali tak menyangka, saya harus membayar sangat mahal untuk bantuan itu.

 

Saya juga memutuskan tidak mau lagi mengirimkan naskah pada penerbit itu. Saya yakin mereka juga tidak akan mau menerima naskah saya sih. Syukurlah, buku-buku saya kemudian terbit di penerbit-penerbit lain. Ternyata, saya bisa kok menembus penerbitan mayor besar dengan karya saya biarpun tentu saja proses belajar menulis tidak akan pernah berhenti buat saya.

 

Kapok menulis duet?

Tidak juga. Tidak kapok tapi lebih hati-hati. Hati-hati dengan kontrak dan hati-hati dengan siapa kita bekerja sama.

Beberapa tahun setelahnya sebuah penerbit meminta saya menulis buku dengan tema tertentu. Di tengah jalan, ketika baru menyelesaikan separuh naskah, saya harus masuk rumah sakit. Saya sudah mau mundur ketika penerbit menyarankan untuk duet. Saya pun mencari teman penulis untuk duet. Sudah terpikir oleh saya untuk meminta kontrak tersendiri bagi teman duet saya. Ternyata, penerbit sudah duluan menyiapkan. Syukurlah. Buku duet kami jadi. Kami masing-masing punya kontrak dan royalti dikirimkan ke masing-masing penulis.

 

Seorang teman penulis dan editor menambahkan tips berikut untuk menulis duet:

1.      Bisa saja 1 kontrak untuk dua orang penulis tapi tanda tangan tetap dua orang penulis itu dan penerbit langsung transfer royalti ke masing-masing penulis.

2.      Bila lebih dari dua orang penulis, semua penulis memberikan kuasa pada satu orang penulis untuk tanda tangan kontrak namun transfer royalti tetap ke masing-masing penulis.

Saya rasa cara di atas cukup fair ya, ada jaminan keamanan buat semua pihak.

 

Baiklah, itu yang mau saya bagikan terkait kontrak. Pelajaran besar buat saya mudah-mudahan bisa jadi pengingat buat yang lain. Sukses buat kita semua ya.

 

*** 

Pebatuan, 20 September 2020

@agnes_bemoe

 

 

Monday, 14 September 2020

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Perjalanan Menuju Cahaya

September 14, 2020 0 Comments

 


Judul: The Year I Met You. Tahun Itu Kita Bertemu

Penulis: Cecelia Ahern
Penerjemah: Utti Setiawati
Diterbitkan di Indonesia oleh: Gramedia Pustaka Utama, 2017

Baru membaca lembar-lembar pertama saja saya sudah enggan baca buku ini. Sebabnya adalah salah satu tokoh utamanya (Matt Marshall) melakukan hal yang -izinkan saya bilang- sangat menjijikkan. Saya tak bisa membayangkan jatuh hati pada pria semenjijikkan itu.

Namun, kesamaan kisah hidup antara tokoh perempuan (Jasmine) dengan diri saya membuat saya bertahan. Ingin tahu sampai di mana batas kesamaannya. Lalu, entah di halaman berapa (halaman agak akhir, saya rasa) saya baru menyadari konteks keberadaan si Matt Marshall. Matt memang harus digambarkan semenjijikkan itu untuk memengerti intensitas luka yang ditanggungnya.

Novel ini memang berkisah tentang orang-orang yang terluka karena terlahir dan hidup dalam keluarga yang rusak (disfunctional family). Mereka sehat secara fisik dan relatif sehat mentalnya tapi terluka parah jiwanya (soul). Ini menyebabkan orang-orang ini tumbuh menjadi sama toxic-nya dengan orangtua yang membesarkannya (dan yang mereka benci sampai ke sumsum tulang).

Orang-orang seperti ini kerap muncul dalam perilaku super sinis, negatif, dan lebih sering mensabotase dirinya sendiri dengan perilaku yang menyebalkan sampai menjijikkan, seperti yang ada pada pribadi Jasmine dan Matt.

Kata Jalalludin el Rumi: “The wound is the place from where the light enters you”.

Lalu, datanglah the wound itu bagi Jasmine maupun Matt di penghujung 2015 yang dingin. Tanpa mereka sadari, the wound itu menuntun mereka pada the light yang mereka sangka tak pernah ada.

Tentu saja novel ini menyederhanakan proses penyembuhan (healing) pada pribadi-pribadi yang terluka. Namun demikian, saya salut banget pada penulisnya yang mau mengambil sudut pandang ini bagi novelnya. Satu lagi yang saya suka dari penulisnya adalah dia tidak bercerita secara eksplisit mengenai akar permasalahannya. Dia memaparkan sebuah kehidupan dan mempersilahkan pembaca mengunyahnya sendiri. Kalau saya tidak kebetulan sedang suka pada topik healing, toxic family, self love, dll, mungkin saya kurang mudheng dengan konteks penceritaannya. Eh tapi, karena tidak eksplisit itu, bisa jadi juga saya keliru menginterpretasikan 😀

Yang saya kurang suka dari buku ini ada 2 hal; kualitas penjilidan dan penerjemahannya.

Penjilidannya kurang bagus. Halaman bercopotan bahkan ketika saya masih di sepertiga halaman pertama. Selanjutnya, repot sekali memegangi buku setebal 450 halaman ini karena nyaris terpotong jadi 3 bagian.

Penerjemahannya juga kurang begitu lancar dan enak dibaca (menurut saya yang tak pandai menerjemahkan ini). Saya seolah-olah bisa membayangkan apa kata Bahasa Inggrisnya sangking dekatnya terjemahan itu ke Bahasa Inggris.

X : What? —> Apa?
Y : Nothing —> Tak ada apa-apa

Bagaimana kalau:
X : Apa sih?
Y : Nggaaak.

Namun demikian, selain dua hal di atas, novel ini layak dibaca, terutama kalau Anda tertarik dengan masalah kesehatan jiwa (soul), healing, dan relationship yang sehat.

Kalau penerjemahannya bagus, saya beri lebih deh. Tapi kali ini saya beri ***/5.

Pebatuan, 11 September 2020
@agnes_bemoe

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Tersesat Bersama Bus Malam

September 14, 2020 0 Comments

 



Judul: Bus Malam

Novel Grafis
Karya: Zuo Ma
Penerjemah: Afiva Nur Qomariyah
Diterbitkan di Indonesia oleh Rotasi Books
Cetakan Pertama, Maret 2020

Saya menyerah.
Ini novel grafis kedua yang saya baca dan saya kesulitan memahami alur ceritanya. Alur besarnya ngerti sih: seorang gadis tersesat dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Tapi, detil ceritanya tidak sepenuhnya saya mengerti. Mungkin novel grafis bukan untuk saya. Mungkin saya perlu berkontemplasi pada gambar-gambarnya lebih lama untuk menemukan kata-kata yang biasanya bercerita buat saya.

Kualitas gambarnya jelas jempolan. Gambar-gambarnya berkarakter dan berjiwa. Saya bukan ilustrator dan saya tak mengerti teknik menggambar. Saya juga kurang familiar dengan gaya-gaya manga. Namun saya menikmati ilustrasi yang dibuat Zuo Ma di bukunya ini.

Namun, saya tidak menyesal membeli dan membaca buku ini. Dengan caranya yang tak saya pahami novel ini memberikan ruang untuk berkontemplasi. Bila ketemu dengan pembaca yang tepat saya yakin novel ini mampu memberikan impact yang lebih kuat lagi.

Pebatuan, 14 September 2020
@agnes_bemoe

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Menjajal Novel Grafis: 1 - 0 buat Novel Grafis

September 14, 2020 0 Comments

 Judul: Walking

Novel Grafis

Karya: Zuo Ma
Diterbitkan di Indonesia oleh Rotasi Books 




Ini buku pertama dari dua buku Zuo Ma yang saya baca (yang lainnya adalah 'Bus Malam"). Buku ini berisi sepuluh cerita pendek dengan tema besar (kalau bisa dibilang begitu) pandangan dan keresahan si tokoh tentang desanya, modernisasi, dan sisa keluarganya di desa itu.

Jujur, saya kesulitan memahami ceritanya. Tentu saja bukan karena penceritaannya atau ilustrasinya. Lebih karena saya tidak familiar dengan format novel grafis.

Huruf yang kecil-kecil di beberapa tempat (tidak banyak sih) cukup menyulitkan buat mata tua saya. Dan, beberapa bagian penerjemahan memaksa saya berpikir keras menemukan konteks ceritanya. Sungguh saya ingin tahu bagaimana cerita ini dituliskan di bahasa aslinya. Bila benar seperti yang dituliskan di blurbnya "manis dan puitis", saya kok kesulitan menemukan hal itu.

Satu-satunya cerita yang mengasyikkan buat saya (saya anggap mudah dipahami) malah yang wordless, yang pengarangnya malah mengaku paling sulit membuatnya dan menyebabkan dia sangat tertekan.

Namun demikian, saya yakin ini adalah novel yang sangat tepat bagi pembaca yang tepat. Biarpun tidak bisa menikmati sepenuhnya, saya tetap merekomendasikan buku ini. Buat saya sendiri, saya tidak kapok membaca novel grafis karya Zuo Ma. Saya tetap terbuka buat judul-judul yang lain. Mudah-mudahan semakin banyak saya membaca, semakin mudah saya memahaminya.

Pebatuan, 12 September 2020
@agnes_bemoe

Monday, 3 August 2020

Menjadi Mentor dalam Creative Writing by YTPI

August 03, 2020 1 Comments



Juli lalu, tepatnya tgl. 2 – 11 Juli 2020, saya membantu adik slash rekan penulis yang super jempolan, Yovita Siswati, mengampu kelas Creative Writing yang diselenggarakan oleh Yayasan Tujuhbelas Ribu Pulau Indonesia (YTPI).

Kelasnya sendiri terdiri dari anak usia 8 – 11 tahun yang ingin belajar tentang penulisan kreatif, khususnya penulisan novel. Btw, anak-anak ini ngagetin lho. Ngagetin kreatifnya! Beberapa malah punya blog yang keren terawat rapi dengan tulisan-tulisan mereka sendiri yang juga keren. Tidak hanya suka menulis, anak-anak ini juga ternyata pembaca militan (heran ga sih?).

Di kelas itu mereka belajar dari A – Z tentang bagaimana menuliskan cerita; menggali ide, membangun karakter, elemen cerita, sampai dengan memilih kata dan menyusun dialog. Tidak hanya mempelajari teorinya, anak-anak juga langsung diminta mempraktikkan cara mencari ide lalu mengembangkannya menjadi plot yang lengkap. Anak-anak juga berlatih menuliskan lembar pertama (the first page) cerita mereka. Di akhir kelas setiap peserta sudah mempunyai satu konsep cerita yang matang lengkap dengan first page-nya. Oh ya, keseluruhan materi ini disampaikan dalam Bahasa Inggris karena anak-anak ini pengguna Bahasa Inggris sebagai bahasa pertama mereka.

Dalam kegiatan ini saya sendiri hanya membantu-bantu Yovita Siswati. Itu juga keciiil sekali! :D

Terima kasih, YTPI yang sudah menyelenggarakan kegiatan ini. Terima kasih juga buat Yovita Siswati yang sudah berbaik hati mengajak saya.

***

Pebatuan, 4 Agustus 2020
@agnes_bemoe


Saturday, 23 May 2020

Sehatkah Rumah Kita Secara Psikologis? - Kesehatan Mental di Masa PSBB

May 23, 2020 0 Comments



Sejak pertama kali usulan lockdown dilemparkan saya sudah terpikir tentang sehat tidaknya rumah kita secara psikologis. Anggota keluarga mau tak mau harus tinggal bersama selama sekian hari (bulan) kali 24 jam. Kalau keluarga itu adalah keluarga yang sehat, masa-masa ini akan menjadi masa yang tidak terlalu berat. Sebaliknya, bila keluarga adalah keluarga yang kurang sehat (toxic), masa-masa ini akan menjadi saat yang sangat berat dengan dampak lanjutan yang luar biasa merusak.

Sebelumnya, saya bukan psikolog. Saya awam tentang psikologi. Ada kemungkinan saya salah. Itu juga yang membuat saya awalnya ragu-ragu menuliskan opini saya ini. Namun, saya lalu mengambil risiko itu dengan harapan ada yang bermurah hati berdiskusi dengan saya.

Kedua, saya tidak anti lockdown (atau kemudian yang disesuaikan menjadi PSBB). Saya mendukung 100% demi keselamatan jiwa banyak orang. Tapi bahwa saya lalu punya kecemasan tersendiri tentang dampak psikologis lockdown, ya benar,  saya cemas.



Rumah jelas tempat yang paling aman untuk memutus persebaran Covid 19. Namun, harus diakui, tidak semua rumah adalah rumah yang sehat secara psikis.
Ada saja kasus dimana anggota keluarga lebih senang berada di luar rumah; ayah yang lebih suka sibuk di luar kota, ibu yang lebih suka tenggelam dengan organisasi yang dikelolanya, atau anak-anak yang lebih suka nongkrong sampai pagi dengan teman-temannya misalnya, merupakan indikator kecil bahwa belum tentu rumah adalah sarang yang nyaman. Anggota keluarga menghindari bertemu dan berkumpul dengan anggota keluarga yang lain karena pertemuan itu biasanya tidak menyenangkan; entah berakhir dengan pertengkaran fisik ataupun verbal, entah perundungan, atau atmosfer negatif lainnya (ejekan, cercaan, sindiran, dll).

Lalu sekarang, di masa PSBB ini anggotan keluarga mau tak mau harus menerima dan menelan semua ketidaknyamanan itu. Hal ini pasti berat dan sangat merusak secara psikis. Saya langsung teringat pada elemen paling lemah dalam keluarga: anak. Bagaimana anak-anak yang kebetulan berada pada keluarga toxic seperti ini.

Dalam tulisan ini saya tidak akan mencari solusinya karena jujur, saya juga belum tahu apa solusinya. Namun, dalam pemikiran saya, biasanya kita sendiri tidak sadar kalau kita ada dalam keluarga yang toxic. Kita tidak sadar karena dari kecil kita hidup dalam situasi itu sehingga kita menganggap itu hal yang normal. Kedua, karena menganggap toxicity adalah sesuatu yang normal, biasanya kita tak mau memperbesar masalah (dengan kata lain, tak mau serius menanganinya). Biasanya, kita lari pada penyangkalan: bukan keluargaku. Keluargaku “baik-baik saja”.

Atas asumsi kita sendiri tidak menyadarinya itu saya mengajukan beberapa indikator tentang rumah yang toxic di tulisan ini. Semoga tulisan ini membantu siapa saja yang membutuhkan untuk men-scan kondisi kesehatan psikis keluarganya.

Lalu, apa tanda-tandanya kita berada dalam keluarga yang toxic. Berikut ini ada tujuh tanda yang menunjukkan kemungkinan besar kita berada dalam keluarga yang kurang sehat secara emosional:



1.       Kita merasa diabaikan. Perasaan, perkataan, apalagi opini kita dianggap tidak penting. Pernyataan semacam: ‘ah, kamu tau apa’ atau sejenisnya biasanya digunakan untuk membungkam perkataan kita. Atau versi yang lebih lunaknya, yang mau kita katakan langsung dipotong/disela dengan hal lain. Hal ini membuat harga diri kita terluka. Kita merasa diabaikan dan tak penting. Jarang ada pembicaraan timbal balik yang sehat dalam keluarga.

2.       Kita merasa dibebani dengan tuntutan yang tinggi. Apa-apa harus perfect. Kita merasa kita hanya layak dicintai kalau yang kita lakukan sudah sesuai dengan harapan orangtua. Orangtua biasanya beralasan: ini untuk kebaikan anak. Mereka tidak pernah puas atas capaian anaknya. Mereka jarang sekali memberikan pujian untuk hal kecil yang dilakukan anaknya. Sebaliknya orangtua terus menerus menaikkan tuntutan sampai menjadi sesuatu yang tidak realistis.



3.       Kita merasa terbuang dan tidak ada yang memahami kita. Perasaan kita disepelekan dan apapun yang kita alami dianggap tidak penting. Biarpun kita minta tolong, anggota keluarga lain tidak bersikap suportif. Biarpun kita mati-matian berjuang dengan kondisi emosi kita, anggota keluarga lain tetap tidak mau menunjukkan simpatinya.

4.       Kita merasa hanya terlihat ketika dibutuhkan. Anggota keluarga hanya akan bersikap baik bila mereka butuh sesuatu dari kita. Kalau mereka bersikap baik, biasanya akan ada sesuatu yang mereka butuhkan setelahnya. Anggota keluarga bersikap manipulatif dan menganggap kita adalah permainan untuk kebutuhan mereka saja. Mereka terus menerus mengambil dari kita tanpa pernah memberi.



5.       Kita merasa tak nyaman bila berkumpul dengan keluarga. Rasanya terpaksa sekali karena tak ada pilihan lain. Kita merasa tak betah terperangkap dalam lingkaran kenegatifan. Termasuk ke dalam ketaknyamanan ini adalah kita secara terus menerus mengalami kekerasa fisik di samping kekerasan verbal. Ini membuat kita tidak hanya tak nyaman tapi juga ketakutan dan trauma. Orangtua sering beralasan: mereka memukul demi kebaikan anak. Faktanya, jiwa anak terluka dengan pemukulan itu, yang kemudian membuat mereka sulit berkembang menjadi pribadi yang sehat. Kekerasan fisik juga menyebabkan anak yang lebih besar merasa berhak memukuli adiknya (atau pihak yang merasa berkuasa terhadap anak/pihak lain yang lemah).

6.       Ada permainan raja-pion seperti dalam catur. Biasanya ini ada dalam keluarga yang orangtua bercerai (atau tak henti-hentinya bertengkar). Orangtua memperalat anak-anaknya untuk saling melawan pasangannya. Hal ini bisa membuat anak-anak trauma.

7.       Terakhir, kita tidak merasa bahagia berada di sekitar keluarga kita. Keluarga menarik kita dalam lingkaran gelap kenegatifan. Bahkan ketika ada hal baik yang terjadi, mereka bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang buruk.

Tinggal dalam keluarga yang toxic bisa mempengaruhi kesehatan mental. Dampaknya bisa menghantui kita selama sisa hidup kita. Luka fisik bisa diobati namun luka secara psikologis agak sulit sembuh tanpa penanganan yang tepat.

Kata para ahli, menjauhi keluarga yang seperti ini bukanlah perbuatan buruk. Sebaliknya, inilah yang paling tepat dilakukan untuk kesehatan mental. Langkah yang selanjutnya perlu dilakoni adalah menyembuhkan diri sendiri dulu. Untuk ini kita perlu terbuka, tidak denial, dan perlu mengenali tanda-tandanya (yang tentu saja perlu dilakukan bersama orang yang ahli).



Nah, sekarang, dalam situasi PSBB ini bagaimana kalau kita ternyata terperangkap dalam keluarga toxic?
Itu tadi, saya tidak punya solusi. Namun, jika kebetulan kita berada dalam posisi yang lebih punya power di keluarga, bersediakah kita mengambil langkah pertama untuk perbaikan dan penyembuhkan keluarga?

Kalau kita kebetulan berada dalam posisi yang tak punya daya, ini akan menjadi sesuatu yang sangat berat. Semoga, apapun yang terjadi pada diri kita, akan mengantar kita pada sesuatu yang lebih baik di kemudian hari. Believe in big picture. Saya yakin, kata-kata saya ini tidak membantu. Namun, setulusnya saya bersimpat dan berdoa bagi kita semua.

Demikianlah uneg-uneg saya tentang keluarga toxic ini. Semoga membantu.  

***

Pebatuan, 23 Mei 2020
@agnes_bemoe

Sumber tulisan ini saya ambil dari sini.  

Friday, 17 April 2020

Pandemik Covid 19 dan Kesehatan Mental (Pengalaman Pribadi)

April 17, 2020 0 Comments



Bagaimana teman-teman dengan Mental Illness di masa pandemik ini? Semoga dalam keadaan relatif baik ya.

Satu bulan dalam masa karantina, saya tak menduga akan terimbas secara mental biarpun beberapa postingan di fb sudah mengingatkan. Eh, sebelumnya, lagi-lagi saya harus perjelas: saya tidak sedang caper dengan mental illness ini. Kalau Anda merasa saya caper, silakan lewat. Kedua, saya tidak self-diagnosed. Saya didiagnosa menderita mild depression dengan potensi panic attack dan anxiety oleh seorang dokter ahli jiwa dari RS Santa Maria Pekanbaru. Kalau Anda tak paham maknanya, go educate yourself jangan tuduh orang lain caper.

Balik lagi ke masa pandemik.

Dalam situasi normal saja mereka yang hidup dengan penyakit mental sudah merasa sangat berat. Apalagi dengan tambahan pandemic ini. Saya tuliskan apa yang saya alami. Saya tidak mewakili siapapun kecuali saya sendiri. Saya memutuskan untuk menuliskannya karena menulis adalah salah satu cara saya untuk menguraikan kecemasan saya. Menulis adalah langkah terapeutik buat saya.

Selama 40 hari dari Rabu Abu (26/2) sampai Minggu Palma (5/4) saya pantang medsos. Artinya saya tidak menggunakan medsos sama sekali baik aktif maupun pasif (kecuali WA, untuk berkomunikasi, tapi tidak memanfaatkan WA story-nya, dan kecuali email, tentu saja).  Untuk yang belum tahu, pantang ini adalah aturan dalam Gereja Katolik, yakni mengurangi atau meniadakan sama sekali hal-hal yang secara pribadi paling disukai (nyaris menjadi candu) selama 40 hari sebelum Pekan Suci (Pekan Paskah).

Logikanya, kalau mengurangi hal yang disukai, tentu saya ‘menderita’. Iya sih, saya susah karena terbiasa bengong di depan fb, scrolling atas bawah tanpa tujuan :D Waktu terasa panjang dan membosankan.

Namun, ketika selesai masa pantang dan saya mulai membuka fb dan twitter, betapa terkejutnya saya bahwa dalam masa pandemik ini buat saya fb dan twitter menjadi “killing field yang mengerikan”. Postingan-postingan tentang pandemik Covid 19 terasa berat buat saya. Ada yang isinya keluhan tak berkesudahan, ada lagi yang posting foto-foto dan video yang buat saya terasa menekan ditambah dengan caption yang mendramatisir, belum lagi berita tentang korban yang bertambah di sela-sela caci maki antara kelompok pro dan anti pemerintah. Duhh….

Di grup WA pun tak kalah “serem”; mulai dari gempuran sharing berita sampai puisi-puisi dari para sastrawan di sebuah grup penulis, yang buat saya puisi-puisi itu sangat depressing (bercerita tentang kematian dengan dramatisir yang luar biasa, khas penyair papan atas). Duhh lagi….

Saya rasa, terkait dengan pantang yang saya ceritakan di atas, saya sadari bahwa pantang itu malah menyelamatkan saya dari air bah berita dan ekses pandemik ini.

Di lain pihak, mengenai WFH, sudah sepuluh tahun ini saya secara harafiah work from home (sesekali work from Taman Kota atau mall :D) Jadi, kerja di rumah (sebagai penulis) seharusnya bukan perubahan yang mengagetkan buat saya. Lalu, kenapa saya terguncang ya?

Oh iya, sebelumnya… hehehe… maaf kalau tulisan saya terlompat-lompat. Saya mau ceritakan apa persisnya yang saya rasakan, dan kenapa itu saya anggap pertanda awal depresi saya kambuh.
Ini yang saya rasakan:
1.       Rasa tidak nyaman yang amat sangat. Seperti orang akan dibekap mukanya. Ini pernah saya alami dulu dan ternyata itu adalah gejala awal panic attack.
2.       Super sensi. Yang muncul berupa mudah menangis untuk hal yang sepele, seperti membaca cerita sedih.
3.       Akibat dari keduanya adalah: saya sulit tidur dan sulit konsentrasi (dan kehilangan semangat menulis karya)

Saya menduga, hempasan badai Covid 19 inilah penyumbang terbesar kondisi saya ini. Sudah beberapa tahun sejak terkena depressi saya rajin menjaga diri supaya tidak kambuh (makan makanan sehat, tidaka nonton TV, meditasi, berenang). Nah, sekarang kambuh lagi, tertuduh utama saya tentu si Covid 19 ini.

Menyadari ini, sedini mungkin saya pasang barikade. Ini yang saya lakukan saat-saat ini, ketika saya merasakan gejala awal depressi, panic attack, dan anxiety:

1.       Stop scrolling fb dan twitter. Saya hanya gunakan fb dan twitter untuk unggah. Jadi, duluan mohon maaf kalau saya “egois”, tidak pernah (atau jarang) menerakan like dan comment. Kapok bener saya melihat fb dan twitter! Kita tak baca persis caption pun akan terlihat beberapa foto dan video. Belum lagi kalau pas terbaca joke-joke yang tak punya perasaan tentang Covid 19. Huh! Saya marah betul dengan orang-orang yang tak berperasaan itu! Belum lagi membaca pertentangan dan klaim kekanak-kanakan antara kelompok tak percaya Tuhan dan percaya Tuhan dalam kaitannya dengan penyembuhan virus ini. Biyuhh! Btw, untuk IG, saya tidak keberatan karena IG saya kebanyakan berisi akun gukguk dan penggemar buku.

2.       Makan makanan sehat. Tidak makan processed food atau yang high sodium. Nah ya ini, saya pernah cheating satu kali… hiks… waktu itu pingiiin sekali mi instan. Padahal bumbu cuma pakai sepertiga dan tanpa cabai keringnya. Tetap saja habis itu saya merasa mood saya kacau. Ngomong-ngomong mengenai makanan, tadi pagi kami membuat soto ayam yang lezat. Kaldu sotonya dibuat dari tulang-tulang ayam kampung, yang berarti super sehat. Rasa soto yang maknyus itu terbukti membuat suasana hati ikut senang.

3.       Meditasi; mengatur pernapasan, merilekskan diri. Yoga ringan (karena saya punya HNP jadi harus hati-hati)

4.       Stop Nonton TV. Kecuali beberapa acara favorit saya yang aman, seperti: The Voice dan Masterchef Australia. Atau komedi semacam The Big Bang Theory, Friends, atau Hot in Cleveland. Gantinya, tontonan saya adalah channel Youtube tentang gukguk, masak-memasak, film-film komedi, atau pengembangan diri.

5.       Membaca buku-buku yang tidak terlalu berat (tidak dramatis)

6.       Betapapun inginnya saya bisa menulis, otak saya sepertinya ngambek. Bagian ini yang paling membuat saya sedih. Saya suka menulis. Maksudnya menulis cerita fiksi (cerita/novel anak). Dan saya bukan tipe pemalas. Tapi begitu duduk di depan laptop, kepala saya sepertinya tak mau kerja sama L Semoga suatu saat saya bisa kembali ke masa saya bisa berpikir dengan kreatif dan tajam sehingga bisa menuliskan cerita-cerita yang menarik. Amin.

7.       Melakukan kegiatan yang saya sukai. Sekarang ini saya sedang suka masak. Saya lihat resep di Youtube dan mencoba-coba sedapat bisa. Hal lain yang baru saja saya coba tadi pagi adalah menyanyi di Smule. Tak saya sangka, melakukan kegiatan yang saya sukai ini membuat mood saya membaik. Iya, dulu-dulunya saya juga suka menyanyi di Smule. Tapi, merasakan dampaknya terhadap mood itu baru saya rasakan sekarang ini.



Saya tidak tahu apakah ada yang juga terkena dampak secara mental. Saya duga sih ada ya. Susah dideteksi karena badan kita tidak bonyok berdarah-darah… hehehe…. Belum lagi kita kadang-kadang enggan terbuka karena perilaku judgmental orang-orang di sekeliling kita.

Saya harap kita masing-masing mampu memetakan kondisi kita, paling tidak dengan menguraikannya saja itu sudah suatu langkah terapeutik, menurut saya. Dan tentu saja saya harap tidak sampai parah. GET HELP kalau teman-teman merasa tak sanggup lagi.

Itu saja yang ingin saya bagi di sore ini. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Tuhan. Amin.

***

Pebatuan, 17 April 2020
@agnes_bemoe

Sunday, 5 April 2020

Terima Kasih, Pastor Yohanes

April 05, 2020 0 Comments

RIP P. dr. Yohanes Djohan Halim, Pr



Pertengahan Maret lalu saya mendengar kabar mengejutkan: Pastor Yohanes Halim, Pr. meninggal. Pastor Yohanes meninggal dengan tenang di rumah pribadinya di Jalan Veteran, Padang pada tanggal 17 Maret 2020.

Waktu itu pemerintah sudah menyerukan untuk membatasi ruang sosial tapi saya memutuskan ke Padang untuk memberikan penghormatan terakhir. Pastor Yohanes Halim, Pr adalah sosok yang tidak bisa saya tinggalkan begitu saja. Sangat besar hutang budi saya pada beliau. Kalau bukan karena beliau, belum tentu saya bisa menyelesaikan kuliah S-1 saya. 

Tahun 1988, saya baru saja masuk semester kedua kuliah saya di IKIP Yogyakarta ketika saya mendapat kabar yang sangat tidak mengenakkan dari ibu saya: beliau tidak bisa membiayai saya. Saya shocked. Terpukul. Begitu saja. Beliau tidak bisa lagi membiayai saya.

Beliau minta kakak sulung saya yang saat itu sudah punya pekerjaan untuk membiayai tapi kakak saya itu keberatan. Jadi, saya harus menerima bahwa saya akan drop out dari kuliah. Kakak saya yang lain menjanjikan akan mencarikan saya pekerjaan di sebuah money changer.

Okelah. Baiklah. Sebesar keingingan saya menolak kenyataan itu tak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya. Jadi, saya cuma terdiam.

Saat itu ibu saya tinggal di Denpasar. Jadi, saya pulanglah ke Yogya untuk melanjutkan Semester II (karena sudah terlanjur bayar).

Pastor Yohanes bersama mendiang Bapa Uskup Situmorang, OFMCap


Hal pertama yang saya lakukan adalah menemui Sr. Benedicte, CB, suster kepala asrama (Asrama Syantikara Yogyakarta). Bukan, saya bukannya mau minta tolong. Dalam pikiran saya, logisnya tentu saya harus minta izin baik-baik sekaligus minta izin tinggal sampai akhir semester dengan kemungkinan bayar uang asrama dengan super seret. Saya ceritakan kondisi saya pada Sr. Ben (panggilan kami, anak asrama, pada Sr. Benedicte, CB).

Saya ingat waktu itu Sr. Ben tidak berkata apa-apa. Beliau hanya menyuruh saya tetap tabah dan dengan murah hati beliau membolehkan saya tinggal sampai selesai semester II. Saya lega. Saya kembali ke kamar lalu seterusnya diam-diam saya mulai mengepaki barang-barang saya (yang tidak banyak). Teman-teman sekamar saya pada tak tahu saya berkemas-kemas :D

Waktu berlalu.

Bulan Mei 1988 perkumpulan mahasiswa katolik di kampus saya mengadakan ziarah ke Sendang Sriningsih, Klaten. Cerita mengenai itu saya tuliskan di sini. Dengan pemikiran bahwa itu mungkin kumpul-kumpul terakhir saya dengan teman-teman katolik, saya ikutan ziarah. Di depan Ibu Maria Sriningsih pun saya ingat saya malah tak bisa berdoa. Hanya terdiam. Mau dibilang pasrah juga tidak. Tapi berharap juga merasa tak mungkin. Jadi, ga tau deh. Pokoknya blank aja.

Bulan Juni 1988 tiba-tiba Sr. Ben memanggil saya. Beliau mengatakan ada seorang ketua yayasan pendidikan di Riau yang mencari guru untuk sekolahnya. Ketua yayasan itu bersedia membiayai pendidikan guru itu asal kemudian mau berkarya di yayasan. Sr. Ben menanyakan kalau-kalau saya mau menerima tawaran itu. TENTU SAJA SAYA MAU!



Maka, di situlah saya bertemu dengan Pastor dr. Yohanes Johan Halim, Pr. Beliau adalah ketua Yayasan Prayoga Perwakilan Riau, sebuah yayasan pendidikan katolik milik Keuskupan Padang yang membawahi sekolah-sekolah di Riau.

Beliau seorang yang tinggi besar namun berwajah lembut dengan suara yang tak kalah halus. Beliau menanyakan hal yang sama dengan Sr. Ben: apakah bersedia bekerja di yayasan beliau dan nantinya semua biaya kuliah dan biaya hidup akan ditanggung. Saya rasa pembaca sudah tahu apa jawaban saya.

Itulah sebabnya, seumur hidup saya berhutang pada Pastor Yohanes (begitu beliau sering disapa). Beliau bersedia mengulurkan tangan buat saya, orang yang sama sekali tidak dikenalnya, di saat saya sudah putus asa.

Bantuan beliau tidak hanya sebatas biaya kuliah. Setelah lulus sebenarnya beliau mengizinkan saya tinggal di salah satu rumah di pastoran Bagansiapiapi (tempat saya ditugaskan pertama kali) dengan mengajak ibu saya. Saya boleh tinggal tanpa membayar. Namun, ibu saya yang tidak mau tinggal di Sumatera.

Setahun di Bagansiapiapi ternyata saya kurang betah. Kondisi cuaca di Bagansiapiapi membuat saya sakit-sakitan. Saya ceritakan isi hati saya dengan jujur pada Pastor Yohanes. Beliau ternyata mau memahami. Tahun berikutnya saya dipindahkan ke Duri. Duri ternyata lebih cocok buat saya.

Di Duri, di sekitar tahun 1995, saya menjalani operasi pengangkatan tumor di payudara kiri. Biaya operasi waktu itu sebenarnya tak terjangkau buat saya biarpun Yayasan Prayoga Perwakilan Riau memberikan bantuan pembayaran setengahnya. Lagi-lagi, kepada Pastor Yohaneslah saya lari. Saya katakan, saya pinjam uang Pastor, nanti saya ganti dengan mencicil dari gaji. Pastor Yohanes memberikan pinjaman yang saya butuhkan.

Beberapa waktu kemudian saya kembali lagi ke Pekanbaru untuk membayar pinjaman saya pada Pastor Yohanes. Di luar dugaan saya Pastor Yohanes menyuruh saya menyimpan uang saya untuk keperluan lain. Waduh, terkejut saya. Pinjaman saya itu cukup besar (saya juga bisa mengembalikan karena pinjam lagi dari CU sekolah). Rasanya “aneh” ada seseorang yang merelakan jumlah uang yang cukup besar. Pastor Yohanes berkeras. Beliau bahkan mengatakan sambil bergurau: apakah Agnes tidak menghargai uang Pastor? Nah lo. Mau ditolak, bagaimana. Mau diterima, bingung juga. Akhirnya memang saya membawa kembali uang itu. Pastor sama sekali tidak mau dibayar kembali.

Kalau dihitung-hitung, saya hanya membayar jumlah yang keciiil sekali dari keseluruhan biaya operasi saya waktu itu. Dan lagi-lagi, kemurahan Pastor Yohaneslah yang memungkinkannya.

Baiklah, yang saya ceritakan di atas adalah segala kebaikan konkret yang saya alami dengan Pastor Yohanes. Yang lebih penting daripada itu adalah dalam pandangan saya beliau orang baik. Sikap beliau pada saya, setelah semua bantuan yang nyaris luar biasa itu, tetap baik, ramah, dan menghargai. Tak sedikitpun saya merasa beliau arogan pada saya atau mengungkit-ungkit masalah bantuan-bantuan itu.

Uang mungkin sangat mudah didapatkan tapi karakter yang baik jauh lebih berharga, bukan?

Itulah sebabnya saya akan terus berhutang pada beliau seumur hidup saya.

P. dr. Yohanes Djohan Halim, Pr. dimakamkan di Columbarium, Kompleks Keuskupan Padang.


Tahun 1997 beliau tidak lagi menjabat sebagai ketua yayasan. Beliau mendapat tugas belajar ke Amerika. Karenanya sejak tahun itu saya tak pernah lagi bertemu dengan beliau. Apalagi, sejak pulang dari Amerika beliau jatuh sakit. Parkinson menyerangnya di tahun 2000.

Dua tahun terakhir ini –jujur- saya kok kepikiran beliau dan ingin sekali menemui beliau. Belum sempat terkabul keingingan untuk bertemu, beliau sudah berpulang. Rasanya kecewa juga karena tidak sempat bertemu dengan Pastor Yohanes.

Karena “membayar” rasa kecewa itulah, saya bela-belain ke Padang untuk mengantar beliau ke peristirahatannya yang terakhir. Paling tidak, saya merasa, beliau tahu, saya tidak melupakan beliau.

Beristirahatlah dalam damai, Pastor Yohanes yang baik. Saya belum sempat membalas semua kebaikan Pastor. Saya berharap Tuhan membantu saya membalaskannya buat Pastor dengan memberikan tempat yang terbaik di Surga.

Pastor adalah Injil yang hidup buat saya. Pastor membuat saya percaya tangan Tuhan ada di mana-mana. Sekali lagi terima kasih telah memberikan kesempatan sekali seumur hidup buat saya. Doa saya selalu buat Pastor.



***

Pebatuan, 7 April 2020
Agnes Bemoe