Follow Us @agnes_bemoe

Monday, 14 September 2020

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Perjalanan Menuju Cahaya

 


Judul: The Year I Met You. Tahun Itu Kita Bertemu

Penulis: Cecelia Ahern
Penerjemah: Utti Setiawati
Diterbitkan di Indonesia oleh: Gramedia Pustaka Utama, 2017

Baru membaca lembar-lembar pertama saja saya sudah enggan baca buku ini. Sebabnya adalah salah satu tokoh utamanya (Matt Marshall) melakukan hal yang -izinkan saya bilang- sangat menjijikkan. Saya tak bisa membayangkan jatuh hati pada pria semenjijikkan itu.

Namun, kesamaan kisah hidup antara tokoh perempuan (Jasmine) dengan diri saya membuat saya bertahan. Ingin tahu sampai di mana batas kesamaannya. Lalu, entah di halaman berapa (halaman agak akhir, saya rasa) saya baru menyadari konteks keberadaan si Matt Marshall. Matt memang harus digambarkan semenjijikkan itu untuk memengerti intensitas luka yang ditanggungnya.

Novel ini memang berkisah tentang orang-orang yang terluka karena terlahir dan hidup dalam keluarga yang rusak (disfunctional family). Mereka sehat secara fisik dan relatif sehat mentalnya tapi terluka parah jiwanya (soul). Ini menyebabkan orang-orang ini tumbuh menjadi sama toxic-nya dengan orangtua yang membesarkannya (dan yang mereka benci sampai ke sumsum tulang).

Orang-orang seperti ini kerap muncul dalam perilaku super sinis, negatif, dan lebih sering mensabotase dirinya sendiri dengan perilaku yang menyebalkan sampai menjijikkan, seperti yang ada pada pribadi Jasmine dan Matt.

Kata Jalalludin el Rumi: “The wound is the place from where the light enters you”.

Lalu, datanglah the wound itu bagi Jasmine maupun Matt di penghujung 2015 yang dingin. Tanpa mereka sadari, the wound itu menuntun mereka pada the light yang mereka sangka tak pernah ada.

Tentu saja novel ini menyederhanakan proses penyembuhan (healing) pada pribadi-pribadi yang terluka. Namun demikian, saya salut banget pada penulisnya yang mau mengambil sudut pandang ini bagi novelnya. Satu lagi yang saya suka dari penulisnya adalah dia tidak bercerita secara eksplisit mengenai akar permasalahannya. Dia memaparkan sebuah kehidupan dan mempersilahkan pembaca mengunyahnya sendiri. Kalau saya tidak kebetulan sedang suka pada topik healing, toxic family, self love, dll, mungkin saya kurang mudheng dengan konteks penceritaannya. Eh tapi, karena tidak eksplisit itu, bisa jadi juga saya keliru menginterpretasikan 😀

Yang saya kurang suka dari buku ini ada 2 hal; kualitas penjilidan dan penerjemahannya.

Penjilidannya kurang bagus. Halaman bercopotan bahkan ketika saya masih di sepertiga halaman pertama. Selanjutnya, repot sekali memegangi buku setebal 450 halaman ini karena nyaris terpotong jadi 3 bagian.

Penerjemahannya juga kurang begitu lancar dan enak dibaca (menurut saya yang tak pandai menerjemahkan ini). Saya seolah-olah bisa membayangkan apa kata Bahasa Inggrisnya sangking dekatnya terjemahan itu ke Bahasa Inggris.

X : What? —> Apa?
Y : Nothing —> Tak ada apa-apa

Bagaimana kalau:
X : Apa sih?
Y : Nggaaak.

Namun demikian, selain dua hal di atas, novel ini layak dibaca, terutama kalau Anda tertarik dengan masalah kesehatan jiwa (soul), healing, dan relationship yang sehat.

Kalau penerjemahannya bagus, saya beri lebih deh. Tapi kali ini saya beri ***/5.

Pebatuan, 11 September 2020
@agnes_bemoe

No comments:

Post a comment