Follow Us @agnes_bemoe

Sunday, 28 February 2021

TEMA VALENTINE'S DAY DALAM CERITA ANAK

February 28, 2021 0 Comments

 Di Indonesia tema ini pasti ditolak mentah-mentah masyarakat mayoritas,  baik oleh orangtua pembaca (sebagai yang memilihkan buku untuk anaknya) maupun penerbit. Interpretasi yang berbeda tentang Valentine’s Day menyebabkan masyarakat antipati dengan tema ini.

 

Namun, di tempat-tempat lain, tema ini ternyata sangat luas digarap (ini dalam konteks cerita anak ya). Sudah ada ratusan buku ditulis dengan tema ini. 


Berikut ini saya unggah lima contoh cerita bertemakan Kasih Sayang, tema sentral dalam Valentine’s Day.

 

11. Love from The Very Hungry Caterpilar, Eric Carle

Ini buku yang imut sekali, yang mengajarkan anak-anak bagaimana mengungkapkan dengan bahasa yang indah rasa sayangnya kepada orang-orang di sekitarnya. Pantas buku ini mendapat tempat peringkat satu New York Times Bestseller. 

 


22. The Invisible String, Patrice Karst.

Buku ini bercerita tentang kasih sayang yang diibaratkan sebagai sebuah benang yang tak terlihat. Benang tak terlihat ini menghubungkan kita dengan orang-orang yang kita kasihi, sejauh apapun mereka. Benang tak terlihat ini juga menunjukkan bahwa dukungan dan kasih kita tak akan pernah putus.

 



33. The Day It Rained Hearts, Felicia Bond

Dari judulnya, buku ini jelas menunjukkan tema Valentine’s Day. Namun, isinyalah yang luar biasa: tentang memberi/memperhatikan orang lain dengan sepenuh hati (thoughtful)

 



44. Pete the Cat “Valentine’s Day is Cool”, Kimberly & James Dean.

Ditulis oleh New York Time best-selling artist, buku ini berkisah tentang memaknai Valentine’s Day. Bagi Pete the Cat, yang awalnya tidak menyukai Valentine’s Day, makna perayaan ini  ternyata sangat sederhana namun hangat dan indah.

 



55. Roses Are Pink Your Feet Really Stink, Diane de Groat.

Ini buku yang manis sekali, yang menggambarkan bahwa sebagai teman, kita sering berbuat nakal/keliru. Namun, hal-hal tersebut menjadi proses pembelajaran, selagi kita memiliki kasih sayang satu sama lain.

 


 

Luar biasa sekali bahwa tema kasih sayang ini dieksplorasi sedemikian rupa menjadi cerita-cerita yang manis, yang intinya mengajak anak untuk menghormati dan mengasihi siapa saja; orangtua, saudara, teman, bapak pengemudi bus, atau siapa saja yang bisa kita temui dalam kehidupan kita.

 

Enggak ada cium-ciuman dan seks? Tidak ada. Wong ini buku anak. Penulisnya tentu dengan sangat cerdas menginterpretasikan makna kasih sayang -yang sebenarnya universal itu- ke dalam dunia anak. Hasilnya adalah buku-buku yang indah dan manis.  Kalau tak percaya, baca sendiri… hehehe….

 

Semoga suatu saat masyarakat Indonesia bisa menemukan pemahaman yang benar tentang Valentine’s Day ini ya, supaya buku cerita anak pun semakin meriah dan bermutu dengan tema kasih sayang ini. Amin.

 

 Selamat Hari Valentine's Day (biarpun terlambat :D )


***


Pebatuan, 1 Maret 2021

@agnes_bemoe

 

Thursday, 25 February 2021

CERITA ANAK KRISTIANI: SI MUKA KECUT

February 25, 2021 0 Comments




Di hari Jumat, hari pantang ini, saya mau memberikan sebuah cerita anak tentang pantang dan puasa. Cerita ini terinspirasi dari pesan Yesus di perikop "Hal Berpuasa". Semoga pada suka ya. 


Ceritanya bisa dibaca di sini. 

Selamat berpantang dan puasa! 


***


Pebatuan, 26 Februari 2021

@agnes_bemoe

Wednesday, 24 February 2021

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: SERU-SERUAN DENGAN LOKOMOTIF BERSEJARAH

February 24, 2021 0 Comments

Duo Detektif: Sabotase Lokomotif B2503

Penulis: Wiwien Wintarto
Ilustrator: Saiful Basor
Editor: Maria Felicia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2019
Chapter Book
e-book




Jalu dan Bima suka hal-hal yang berbau detektif. Tak nyana mereka berdua terlibat sungguhan di sebuah kasus. Kasusnya juga tak main-main: sabotase kereta api wisata di Ambarawa. Kisah keduanya melawan penjahat yang akan mensabotase kereta inilah yang diceritakan di buku ini.

Ceritanya menarik. Saya suka settingnya yang Indonesia banget dan non-Jakarta. Settingnya adalah kota kecil Ambarawa, Jawa Tengah, dengan wisata kereta api-nya yang ikonik.

Bersetting Jawa Tengah, tak heran kalau kata-kata berbahasa Jawa bertebaran. “Piye iki?” atau “apa ta?” adalah salah satunya. Buat saya ini tentu menarik. Kita merasa dekat dengan ceritanya.

Yang juga menonjol adalah penggunaan teknologi mutakhir dalam cerita. Di beberapa bagian bahkan agak detail diceritakan tentang pemanfaatan teknologi ini. Ini membuat cerita tetap terasa pop biarpun bersetting sebuah kota kecil.

Saya juga tertarik dengan diikutkannya tokoh difabel, Taufan, yang tuna rungu dan tuna wicara (maafkan kalau penamaan saya keliru). Semoga di kesempatan lain Taufan akan diberi porsi yang sama atau bahkan lebih banyak lagi. Anak-anak Indonesia perlu tahu hal-hal seperti ini. Dengan ini chapter book ini lengkap menonjolkan representasi anak Indonesia. Salut.

Sayangnya, buat saya pribadi, irama novel ini lumayan lambat, terutama di 3 bab pertama. Namun saya pikir, hal ini tidak akan menjadi kendala buat pembaca targetnya, yakni anak-anak SD.

Yang menjadi ganjalan utama buat saya adalah yang berkaitan dengan prinsip pendidikan, benar-salah dan baik-buruk. Diceritakan bahwa Bima mengambil kunci ruang komputer sekolah dari ayahnya tanpa meminta izin (ayahnya penjaga sekolah). Ayah Bima memang mengatakan akan menghukum tapi tetap membolehkan Bima dan Jalu menggunakan ruang komputer.

Saya mendapat kesan kelakuan Bima itu dianggap hal sepele atau keisengan anak-anak biasa. Dan saya kurang sreg dengan ini. Ini seolah-olah mengatakan bahwa kalau anak punya alasan bagus dia bisa saja melakukan kenakalan/kejahatan. Kecuali kalau di cerita ini si ayah memang orang jahat yang gemar mengajarkan hal buruk pada anaknya, saya bisa paham konteksnya.

Berikutnya lagi ketika Jalu belanja di Koperasi Sekolah dan lari meninggalkan Koperasi Sekolah tanpa membayar padahal ia sudah diingatkan. Bagian ini mungkin dimaksudkan untuk menimbulkan efek 'hidup' dan 'greget' pada cerita dan saya setuju itu. Namun, saya berharap bisa diceritakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa meninggalkan penjual marah-marah karena tidak dibayar itu adalah peristiwa 'lucu'.

Saya tidak bermaksud 'sok puritan' karena dalam kehidupan sehari-hari pasti kejadian seperti ini ada. P.S. saya juga pernah sangat jengkel ketika cerita saya tentang anak yang kabur karena tidak suka pada tamunya di-cut oleh pemberi proyek tulisan. Alasannya takut ditiru pembaca. What? pikir saya. Anak-anak pembaca tidak punya orangtua untuk mengajarkan perilaku kah, sampai-sampai semua diserahkan pada buku?

Saya tak mau jadi sesempit itu. Saya merasa paham maksud penulisnya yaitu untuk menghangatkan cerita jadi saya tidak akan mengusulkan untuk meng-cut bagian itu. Namun, saya berharap, bila dituliskan lagi, akan ada penekanan pada yang benar atau diceritkan sedemikian rupa sehingga memang kelihatan lebih wajar dan manusiawi. Tentu saja, saya bisa sangat keliru dalam memahami bagian ini. Bila ada teman yang sudah baca dan punya pendapat lain, saya ingin sekali mengetahuinya.

Di luar semua itu saya rasa ini novel (chapter book) yang akan disukai anak-anak. Kalau teman-teman punya anak usia SD bisa cari buku ini deh.


***
Pebatuan, 22 Februari 2021
@agnes_bemoe

Tuesday, 23 February 2021

APAKAH DI BUKU CERITA ANAK TIDAK BOLEH ADA KATA ASING/SULIT?

February 23, 2021 0 Comments




Ada orangtua yang welcome dengan kata-kata baru/asing (big words) di buku anak.


Pernah seorang ibu bercerita, anaknya menanyakan arti kata ‘gelembung’ di buku “Hujan! Hujan! Hujaan!”. Ibu itu menjelaskan. Dan sejak itu kalau melihat hujan anaknya ingat kata ‘gelembung’. Orangtua senang karena ada kosakata baru.

Tapi, ada juga yang kurang suka kalau ada kata yang kurang dimengerti anak. Mereka maunya anak membaca tanpa kesulitan/tanya-tanya.

Masing-masing orangtua dengan sikapnya ya.

Kalau saya pribadi, ga keberatan ada kata asing/sulit asal tidak mendominasi. Tidak kebanyakan/berlebihan.

Kata-kata asing bisa jadi sarana belajar, baik belajar kata baru maupun belajar memahami kata/kalimat lewat konteksnya (tak mengerti arti katanya tapi paham maksudnya).

Konteks juga bisa dibantu oleh ilustrasi (karena ini buku anak). Proses ini melatih anak untuk berpikir. Menghubungkan gambar dengan cerita. Makanya, saya ga keberatan dengan kata-kata sulit/asing.

Bagaimana menurut Panjenengan?

***

Pebatuan, 24 Februari 2021
@agnes_bemoe

Sunday, 21 February 2021

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: MENIKMATI KESEDERHANAAN YANG INDAH DAN MENYEJUKKAN

February 21, 2021 0 Comments

 Buku #8




All Things Wise and Wonderful (Semua yang Bijak dan Megah)
Penulis: James Herriot
Penerjemah: Lanny Murtihardjana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Buat saya buku ini healing banget.

Untuk yang belum tahu, buku ini berisi kisah hidup penulisnya, James Herriot, sebagai seorang dokter hewan di Darrowby, sebuah dusun kecil di daerah Yorkshire, Inggris. Secara khusus, buku ini bercerita seputar masa penulisnya menjalani wajib militer di masa Perang Dunia II.

Selagi menjalani kehidupan sebagai calon penerbang militer inilah James Herriot mengulang kembali kisah hidupnya bersama penduduk Darrowby, terutama bersama anjing, sapi, kuda, kucing, dan babi mereka.

Kisah-kisah yang tulus dan polos. Sangat menyentuh. Di beberapa bagian malah bikin tercekat.

Kisah Wes -si anak nakal- dan anjing kesayangannya sudah saya baca di buku “Dog’s Story”. Membaca ulang tak mengurangi intensitas tonjokannya.

Kisah Oscar alias Tiger, membuat kita cemas sekaligus geli. Kok bisa ya, ada kucing seperti itu.

Dan berbagai kisah lain yang hangat dan menyentuh. Penulisnya pandai bercerita. Orang sering menganggap dokter itu orang yang dingin (saya juga beranggapan seperti itu). Namun James Herriot mampu menceritakan kembali kisah hidupnya dengan sederhana, apa adanya, manis, dan hangat.

Karenanya, buat saya pribadi, tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan buku yang terbit pertama kali di tahun 70-an ini selain: healing.

Buku ini seperti oase di padang pasir kehidupan yang berat dan gersang. Buku ini membuat kita percaya bahwa masih ada hal yang baik di luar sana. Tepat sekali judul yang diterakan: semua yang bijak dan indah.

Sulit saya menemukan kekurangan di buku setebal 741 halaman ini. Saya malah mengajak Anda membaca buku ini jikalau belum, atau belum pernah baca buku Mr. Herriot.

***
Pebatuan, 21 Februari 2021
@agnes_bemoe

Friday, 19 February 2021

IDE CERITA DARI BUKU LAIN, BISA KAH?

February 19, 2021 1 Comments

 




Hari ini tujuh tahun yang lalu, 20 Februari 2014, buku saya yang berjudul “Hujan! Hujan! Hujaaan!” terbit di Gramedia Pustaka Utama.


Moment ini mengingatkan saya tentang bagaimana saya mendapatkan ide cerita.

 

Ide cerita buku ini saya dapatkan dari buku lain.

Lho, menjiplak? Plagiat dong!

Hehehe… ya enggak lah! Enak aja!

 

Beberapa waktu sebelumnya saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Renny Yaniar. Judulnya “9 Dongeng Indah Musim Gugur”. Buku ini benar-benar manis isinya, berbeda dengan suasana musim Gugur yang sepanjang pengetahuan saya adalah musim yang suram. Saya tertarik karena kontradiksinya ini.


 



Saat membaca itu, saya sudah terpikir, kenapa tidak membuat cerita tentang musim yang ada di Indonesia ya? Musim Hujan dan Musim Kemarau?

 

Namun, pemikiran itu tidak saya lanjutkan. Ide tinggallah ide.

 

Saya baru terpikir lagi tentang ide ini setelah dalam sebuah pelatihan menulis picture book dipaksa untuk mengeluarkan ide. Ide tentang musim di Indonesia ini muncul dan saya tertarik mengulik musim Hujan. Tak nyana, ide ini dipilih oleh mentor saya. Lalu proses selanjutnya adalah penulisan sampai terbit menjadi buku. Btw, cerita lengkapnya bisa dibaca di sini ya.

 

Jadi, bisakah ide diambil dari buku lain?

Dalam kasus saya, bisa. Dalam hal ini saya “tersengat” oleh buku “9 Dongeng Indah Musim Gugur” karya Renny Yaniar. “Sengatan” itu memicu saya untuk menuliskan cerita-cerita berdasarkan suatu musim tertentu. Saya memilih musim Penghujan yang lebih dekat dengan keseharian saya. Hasilnya adalah buku “Hujan! Hujan! Hujaaan!”, yang hari ini berulang tahun ke-7.

 

Terima kasih secara khusus untuk buku “9 Dongeng Indah Musim Gugur”. Terima kasih untuk yang sudah membaca buku “Hujan! Hujan! Hujaaan!”. Terima kasih juga pada penerbit Gramedia Pustaka Utama, Mbak Ramayanti sebagai editor, Kak Anastasia Mustika Widjaja, teman-teman illustrator, dan semuanya saja.

 

Oh ya, buku ini masih bisa didapatkan di Gramedia Digital lho, tentu saja dalam bentuk e-book ya. Buruan langganan deh. Ga nyesel kok! :D

 

***

 

Pebatuan, 20 Februari 2021

@agnes_bemoe

 

Wednesday, 17 February 2021

TIPS AMAN BEKERJA DI DAPUR A LA "PAK KETOPRAK"

February 17, 2021 0 Comments

 Ananda di rumah ingin memasak? Boleeeh! Tapi, perhatikan dulu tips dari Pak Ketoprak ya.

  


1.            Peralatan tajam. Untuk memasak kita membutuhkan pisau, pembuka kaleng, gunting, parutan, dll. Karena benda-benda itu tajam, maka hati-hati saat memakainya. Pastikan pisaumu adalah pisau yang benar-benar tajam. Pisau yang tumpul malah membuat pisau itu terpental saat dipakai untuk mengiris dan bisa-bisa mengenai jarimu.

 

2.            Peralatan panas. Kita membutuhkan kompor atau oven untuk memasak. Pastikan bahwa kompor dan oven benar-benar sudah mati ketika kamu selesai memasak. Bila sedang memasak lebih baik gunakan baju berlengan pendek. Lengan baju yang panjang kerap menjadi penyulut api untuk menjalar.

 

Jangan tinggalkan kompor dalam keadaan menyala tanpa memasak apa-apa. Bila yang hendak kamu masak belum siap, lebih baik matikan kompor terlebih dahulu.

 

Bila menggunakan microwave, ingatlah bahwa makanan yang dikeluarkan dari microwave akan sangat panas. Jadi jangan buru-buru mendekat apalagi memegang.

 


3.            Gunakan cempal. Penggorengan atau panci yang kita gunakan bisa jadi sangat panas. Gunakan cempal saat memegang peralatan dapur tersebut.

 

4.            Kebersihan makanan. Selalu pastikan bahan makanan dicuci terlebih dahulu. Ini untuk mencegah keracunan. Cuci tangan setelah memegang bahan makanan mentah seperti telur atau daging, atau setelah memegang sampah dapur.

 

5.            Kebersihan dapur. Lantai dapur harus bersih, kering, sehingga tidak licin. Bila ada minyak atau air tumpah, segera bersihkan. Minyak dan air bisa membuat lantai menjadi lebih licin.

 

6.            Harus bersama orang dewasa. Jangan bekerja di dapur sendirian ya. Pastikan ada orang dewasa yang bisa dimintai tolong sewaktu-waktu. Pastikan juga kamu sudah mendapat izin dari mama atau papa untuk memakai dapur.

 

Kalau mau mencoba resep-resep jempolan seperti: "Nasi Goreng dalam Selimut", "Jelly Joss", atau "Kipas Anti Lapar", baca saja resepnya di buku "PAK KETOPRAK KOKI AJAIB". Selamat memasak, Chef! 


Ditulis ulang dengan beberapa penyesuaian dari:sumber ini. 




***


Pebatuan, 18 Februari 2021

@agnes_bemoe


Sunday, 14 February 2021

LAGU "IE BELE WEA" DI BUKU RING OF FIRE

February 14, 2021 0 Comments

 


Di cerita "Rokatenda Menari" di buku "Ring of Fire" ada potongan lagu "Ie Bele Wea". Ini adalah lagu daerah Lio Ende, NTT.


Nah, dulu ada seorang ibu yang tanya lagunya. Katanya anaknya pingin tahu lagunya (saya lupa nama ibu itu itu. Ada dugaan, tapi takut salah). Waktu itu saya bongkar youtube, tak ketemu yang cukup representatif.


Nah, pagi ini iseng saya cari lagi karena habis post sesuatu tentang "Rokatenda Menari". Eh, ketemu! Dinyanyikan oleh siswi-siswi SMA Syuradikara! Cukup lengkap dan representatif. Mereka menyanyi dengan suara yang merdu dan gerakan tari Rokatendanya.



Buat yang sudah membaca cerita "Rokatenda Menari" dan penasaran akan lagu "Ie Bele Wea", silakan lihat lagu lengkapnya di sini ya. Lagunya mudah dan enak untuk goyang 😃




***

Pebatuan, 15 Februari 2021
@agnes_bemoe

LAGU "ROKATENDA MENARI" OLEH ANASTASIA AGITA

February 14, 2021 0 Comments



Senang sekali saya waktu ditunjuki sebuah lagu berjudul "Rokatenda Menari". Lagu ini diciptakan oleh Anastasia Agita, seorang ibu muda yang saya kenal lewat facebook. Menurutnya, lagu "Rokatenda Menari" ini terinspirasi dari cerita dengan judul yang sama di buku "Ring of Fire".


Lagunya ringan, riang, dan imut. Dengarkanlah! Kita bisa ikut menyanyi dan bertepuk tangan dengan gembira. Dan, bagian paling menyenangkan adalah lagu ini dinyanyikan oleh putra Mbak Agita sendiri. Aduuuh, suaranya imut banget! 


"Rokatenda Menari", ilustrasi oleh Audelia Agustine



RING OF FIRE (Anastasia Agita)

Rokatenda menari kar'na Gunung Agung
Gunung Agung menari kar'na Gunung Kelud
Gunung Kelud menari kar'na Anak Krakatau
Anak Krakatau menari kar'na Tambora

Kami gunung-gunung di wilayah Ring of Fire
Di lempengan yang bergoyang bertumbukan
Masih banyak lagi gunung api menari
Senggol sana-sini tak terhindar lagi
Itulah Ring of Fire (4×)


Sangat salut pada Mbak Agita. Terima kasih sudah memilih cerita "Rokatenda Menari" untuk dibuatkan lagu. 


Berikut ini lagunya ya: "Rokatenda Menari"


Buku "Ring of Fire" sendiri adalah buku kumpulan cerita tentang fenomena alam Indonesia terkait dengan letak geografi Indonesia di jajaran cincin api atau ring of fire. Ada 5 cerita tentang; tentang gunung api, gempa, tsunami, awan panas, dan cara penyelamatan diri. 


"Ring of Fire" diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2017. Mudah-mudahan teman-teman sudah membacanya ya. 


***


Pebatuan, 15 Februari 2021

@agnes_bemoe

Friday, 12 February 2021

BUKU ANAK INDONESIA YANG MENGANGKAT BUDAYA TIONGHOA

February 12, 2021 0 Comments

 

Tidak banyak buku cerita anak Indonesia yang mengangkat kehidupan minoritas, terutama minoritas berdasarkan agama atau etnis.


Di Hari Raya Imlek 2021 ini  saya berusaha mencari buku-buku cerita anak yang bercerita tentang masyarakat Tionghoa dan budayanya. Tidak banyak yang saya dapat. Atau, saya yang kurang gigih mencari, mungkin. Namun, inilah buku-buku tersebut.


Oh ya, buku-buku ini bukan buku-buku baru ya. Sudah lama terbit, jadi mungkin sudah agak susah dicari di pasaran. P.S. Saya sudah membaca buku-buku ini. Rekomendasi saya adalah buku-buku ini sangat layak disebarluaskan dan dibaca anak-anak Indonesia.

 

1.       Seri Berbeda Itu Asyik: Bersama-sama di Hari Raya Imlek – Arleen Amidjaja & Mela Hartono




Buku ini bercerita tentang persahabatan antar teman-teman yang berbeda keyakinan. Perbedaan itu tak menghalangi mereka untuk saling membantu. Termasuk juga ketika mereka membantu Feni, yang terpaksa harus merayakan Imlek sendirian.


Buku ini adalah salah satu judul dari seri "Berbeda itu Asyik" yang secara umum menceritakan tentang indahnya kehidupan harmonis dalam perbedaan. 

 

2.       Cap Go Meh – Sofie Dewayani & Eugina Gina




Buku ini bercerita tentang diserapnya budaya Tionghoa, dalam hal ini makanan yaitu Lontong Cap Go Meh, ke dalam budaya Jawa Muslim. Pada akhirnya, penyerapan itu menjadi pemersatu bagi siapa saja yang menikmati lontong Cap Go Meh ini.


Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Litara ini tercatat sebagai salah satu dari enam nominee (shortlist) dalam ajang SingTel Asian Picture Book Award tahun 2013 di Singapura. 

 

3.       Misteri Kota Tua – Yovita Siswati




Novel Anak (MG) ini tidak secara khusus bicara tentang hari raya masyarakat Tionghoa. Namun, di dalamnya kita bisa mengenal kehidupan masyarakat Cina Benteng di kawasa Kampung Sewon, Tangerang. Termasuk juga pembaca bisa mengikuti sejarah tentang orang Tionghoa pada masa pergerakan dan setelah kemerdekaan.

 

Tahun 2016 novel ini dimasukkan ke dalam “Honor List” (Daftar Karya Terpuji) oleh IBBY (Internatonal Board on Book for Young People). Dan memang penghargaan ini layak sekali. Cerita dalam novel ini benar-benar bernas dan juicy.

 

4.       Nino, Si Petualang Cilik: Bakar Tongkang Bagansiapiapi – Agnes Bemoe & InnerChild Studio




Dalam buku “Nino, Si Petualang Cilik” ada cerita tentang tradisi “Bakar Tongkang”. Tradisi ini secara unik hanya dimiliki masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi, Riau.

 




Itu kira-kira, buku yang saya dapati bercerita tentang –secara khusus- etnis Tionghoa. Kalau teman-teman tahu ada judul lain yang belum termuat, tolong infokan ya.

 

Last but not least, Selamat Hari Raya Imlek 2021. Xin Nian Kuai Le. Gong Xi Fat Cai!

 

 ***


Pebatuan, 12 Februari 2021

@agnes_bemoe

Thursday, 11 February 2021

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: SOPHIE DAN KEKUATAN BUAH PIKIR

February 11, 2021 0 Comments

 Buku #7




Dunia Sophie
Jostein Gaarder
(Terjemahan)
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Mizan
Cetakan XII, Oktober 2019


Ini bukan review, mungkin ya, karena isi buku ini jauh di luar kemampuan saya menelaahnya. Namun, saya mengomentari sebagai pembaca saja.


Yang jelas, ini buku yang mengasyikkan. Diceritakan dengan menggunakan tokoh “Sofie” untuk menjelaskan tentang sejarah filsafat.


Menarik sekali mengetahui perkembangan/perjalanan pemikiran yang ada dalam sejarah dunia ini, sejak dari zaman Yunani sampai sekarang. Penulisnya jelas berusaha menyampaikannya dengan seringan dan sesederhana mungkin biarpun saya yakin pemikiran aslinya tidak sesederhana itu. Dan ini sangat membantu pembaca (saya) memahami alam pikir para filsuf yang diceritakan di buku ini.


Menarik juga mengetahui bahwa berpikir pun bisa jadi kekuatan. Nyaris semua buah pikir para filsuf ini menjadi dasar bagi pergerakan seni, budaya, ekonomi, maupun politik. Intinya, dinamika hidup manusia secara global dipengaruhi oleh orang-orang yang mengkhususkan diri pada proses pikir ini.


Buat saya yang awam sekali dengan filsafat, novel setebal 785 halaman ini tidak terasa sulit dipahami (tentu saja ada bagian yang tetap terasa berat tapi secara umum novel ini bisa dipahami).


Bagian yang kurang sreg buat saya adalah bagian pengantar dari penerbit dan beberapa penerjemahannya.


Penerbit mengingatkan bahwa isi buku ini mungkin kurang selaras dengan yang secara umum diketahui mayoritas masyarakat Indonesia. Buat saya ini agak lucu. Seolah-olah kita mengingatkan seekor katak bahwa langit yang dilihatnya tak cocok dengan tempurung kediamannya.


Pengantar penerbit ini terbukti di beberapa bagian penerjemahannya. Alih-alih menerjemahkan secara umum dan obyektif, penerjemah mengambil istilah dari kelompoknya sendiri.


Sangking kesalnya, saya sampai-sampai berpikiran buruk: jangan-jangan beberapa bagian adalah ide selundupan dan bukan tulisan asli penulisnya. Mudah-mudahan tidak ya. Yang jelas, niatan saya hendak membaca seri yang lain saya tunda dulu. Saya tunggu penerjemahan yang lebih obyektif saja.


Namun, novel ini tetap recommended. Banyak hal yang eye-opening yang dituliskan oleh Jostein Gaarder. Dalam konteks ini saya berterima kasih karena ada penerbit yang menerbitkan buku bagus ini.


***


Pebatuan, 12 Februari 2021
@agnes_bemoe