Follow Us @agnes_bemoe

Thursday, 14 November 2019

CERITA RESIDENSI 2019: SISA-SISA KEPERKASAAN NATARA KOKI

November 14, 2019 0 Comments

Ternyata, sepeda motor Bpk. Robert Bumma, bapak yang menjadi guide saya, mengalami masalah. Makanya, sampai sepuluh hari setelah kami mengunjungi Parona Bongu tidak ada kabar dari beliau. Saya pun memutuskan ke rumah Bpk. Robert. Dan persis saya tiba sore itu, barusan saja sepeda motor Pak Robert diperbaiki dan sudah pulih keadaannya. Siipp! Maka, kamipun merencanakan untuk pergi ke tujuan berikutnya: Benteng Natara Koki.

Benteng Natara Koki: sisi Utara


KE BENTENG NATARA KOKI
Benteng Natara Koki terletak di sebelah Utara, sekitar 5 km dari Parona Tossi (Parona Tohikyo). Perjalanan ke sana… ya gitu deh… hehehe… kami melewati jalan aspal tipis berlubang-lubang besar di sana-sini. Sambil terbanting-banting di jok sepeda motor, sama mikir sendiri, seandainya saat ini saya sedang hamil, pasti langsung keguguruan nih! :D

Setelah jalan buruk yang lumayan panjang, kami pun masuk ke jalan raya yang agak halus. Masyarakat setempat biasanya menyebutnya “Jalan Pantura”. Sedikit dapat jalan halus Pantura, eeh, kami masuk lagi ke jalan buruk. Ga tanggung-tanggung, kali ini malah jalan tanah… hahaha… adudah!

Yang penting, tidak lama kemudian sampailah kami di lokasi Benteng Natara Koki. Di luar pengetahuan saya, lokasi benteng ini ternyata persis di sebelah lokasi danau wisata, Danau Weekuri.


SISA-SISA KEPERKASAAN
Yang kami dapati adalah sisa-sisa Benteng Natara Koki. Nyaris tidak tampak lagi bekasnya. Artinya, kalau orang datang ke sana begitu saja, mereka tidak akan tahu bahwa itu adalah sebuah benteng. Secara kasat mata yang terlihat adalah hamparan ladang/kebun dengan beberapa onggokan batu atau sisa tembok batu di sana sini.
Konon, bebatuan dari tembok Natara Koki habis diambili untuk pembangunan, termasuk pembangunan jalan Pantura mulus yang barusan kami lewati tadi. Ini menyebabkan benteng hanya tersisa mungkin sekitar 10% dari keseluruhannya.



Sebenarnya menyedihkan sekali ya, tempat yang begitu tinggi nilai sejarahnya, menjadi hanya seperti itu. Sedih saya….

Tapi, okelah, mudah-mudahan –entah bagaimana caranya- akan ada perhatian khusus dari pemerintah daerah.
Btw, balik lagi ke benteng bersejarah ini, Natara Koki.
Jadi, setelah Rato Loghe Kandua dan Wona Kaka menyerbu Jembatan Bondo Kodi dan menewaskan banyak pasukan Belanda, Belanda membalas dendam. Belanda melakukan bumi hangus. Sekian banyak perkampungan (parona), mulai dari Parona Bondo Kodi di dekat Jembatan Bondo Kodi sampai ke Parona Tossi dibakari oleh Belanda. Harta berharga seperti emas, mamoli, serta benda-benda pusaka dijarah. Karena pembumihangusan ini warga kampung lari mengungsi. Mereka mengungsi ke arah Utara. Di sanalah Wona Kaka menemukan tempat untuk berlindung. Maka dibangunlah sebuah benteng.

Nah, di arah Utara itu, di sebuah lokasi persis di bibir Samudera Hindia, dengan hutannya yang masih tebal dan padat inilah Wona Kaka membangun bentengnya. Karena pada dasarnya untuk tempat mengungsi sekian banyak warga kampung, maka benteng yang dibangun itu luas sekali. Kalau “dikonversikan” dengan jumlah kampung, mungkin bisa memuat 8 – 12 kampung. Saya kurang tahu persis berapa hektar lokasi benteng itu. Yang jelas, luas bangettt! Di dalam benteng yang luas itu, masih dibangun lagi beberapa benteng-benteng yang lebih kecil. Dugaannya, dahulu, satu kampung mendapat 1 benteng kecil (seukurang kampung).

Kalau bicara benteng, jangan dibayangkan seperti benteng-benteng bikinan Portugis atau Belanda. Benteng yang dibangun Wona Kaka adalah seperti benteng di area Keraton Yogyakarta, yakni berupa tembok tebal melingkari sebuah area. Hanya saja, bila yang di Yogyakarta dibangun dari batu bata, yang di Sumba dibangun dari batu karang yang besar-besar.

Kami mendapati di beberapa tempat masih ada sisa-sisa tembok benteng; di sisi Selatan (sisi jalan masuk benteng), sisi Barat, dan Utara. Di sisi Timur sepertinya benteng sudah nyaris habis. Sisi inilah yang persis bersebelahan dengan lokasi danau Wisata Danau Weekuri. Sayangnya, saya tidak bisa menyusuri semua tepian benteng. Selain karena amat sangat luasnya, juga karena semak-semak yang masih cukup tebal.

Dari empat sisi itu, sisi yang paling indah (kalau kita ke sana untuk menikmati pemandangan alam) adalah sisi Utara. Sisi Utara ini langsung berbatasan dengan Samudera Hindia. Tanpa pantai. Jadi di bawah karang-karang terjal (yang sepertinya digunakan oleh Wona Kaka untuk tembok pelindung) langsung laut samudera. Konon, di salah satu bagian di sisi Utara ini ada sebuah gua tempat pasukan Wona Kaka berlindung. Konon lagi, di gua itu masih ada benda-benda bekas peninggalan Wona Kaka. Sayang sekali, hal ini tidak bisa dikonfirmasi atau kami buktikan sendiri. Gua itu letaknya jauh di bawah karang curam. Hanya dengan cara yang profesional dan aman saja orang bisa sampai ke sana. 

Di dalam benteng kami dapati sebuah mata air. Mata air sudah ada sejak zaman Wona Kaka dahulu. Biarpun jalan masuk ke mata air ini menurun dan curam, mata airnya sendiri indah dengan air yang jernih. Di beberapa sisi, di bawah bebatuan karang, tampak ikan-ikan kecil berenang. Indah dan asyik banget kalau misalnya kita niat duduk bengong di mata air itu.

Mata Air Benteng Natara Koki

Selain mata air, kami juga menemukan sisa-sisa tempat aktivitas warga benteng zaman dulu, seperti tugu batu untuk persembahan dan tugu batu tempat menggantungkan hasil panenan. Peringatan: penjelasan setelah ini agak sadis. Bagi yang sensitif, lompati saja paragraph ini ya. “Natara Koki” sendiri artinya “tugu persembahan musuh”. Jadi, pada zaman dahulu, zaman perang suku, suku-suku yang kalah perang akan dipenggal kepalanya di sebuah meja batu. Meja itulah yang disebut sebagai “natara koki”.
Balik lagi ke bentengnya, menurut Bpk. Robert, tempat ini dulunya tidak seterbuka ini. Dulunya adalah hutan yang tebal dan lebat. Dengan hutan yang lebat di sisi Selatan, Timur, dan Barat serta Samudera Hindia di sisi Utara, Natara Koki menjadi benteng yang ideal untuk pertahanan dan persembunyian.

Sayang sekali, setelah pertempuran di Natara Koki, Wona Kaka dan pasukannya harus meninggalkan benteng itu karena dirasa sudah tidak aman lagi.

HARAPAN
Jujur, saya sedih sekali melihat kondisi benteng bersejarah ini. Entah kepada siapa ya saya harus menyampaikan ini. Benteng ini adalah benteng bersejarah. Saksi bisu beratnya perjuangan para pahlawan mempertahankan tanah pusaka. Pembangunan setiap batunya adalah moment berharga yang tidak bisa diulang lagi. Kalau sekarang kita sudah merdeka, lalu kita abaikan tempat bersejarah ini, apakah kita tidak menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih?

Kita bisa menikmati lancarnya pembangungan (termasuk membangun jalan raya dan tempat wisata) berkat kemerdekaan, yang di antaranya diperjuangkan oleh para pahlawan. Lalu, mengapa kita meremehkan peninggalan perjuangan para pahlawan itu? Apa yang kita pertanggungjawabkan kepada anak cucu kelak? Bagaimana mungkin peninggalan nenek moyang mereka ini direnggut dari mereka? Apakah mereka tidak berhak tahu dan ikut memiliki benteng ini?

Di zaman yang serba matre ini orang memang menghitung segala sesuatunya dengan dasar hitungan ekonomis. Yang dianggap tidak bernilai ekonomis, dihancurkan. Sedih sebenarnya ya pemikiran ini. Tapi begini, sebenarnya kita bisa mengambil nilai ekonomis dari benteng ini (kalau saja tidak keburu habis dijarah dan dihancurkan).

Saya pernah ke Monkey Forest di Ubud. Itu sebenarnya area hutan asli tempat monyet hidup. Nah, di hutan itu dibangun semacam jalur untuk pejalan kaki. Para pejalan kaki (pelancong) bisa menikmati hutan asli dengan para monyet sebagai “aktor” utamanya.  Kalau sudah pernah ke Monkey Forest, pasti tahu begitu berjejalnya turis internasional dan domestik menikmati suasana hutan yang sejuk dan asri, serta monyet yang lucu dan nakal itu.

Melihat “Natara Koki” saya langsung terpikir tentang Monkey Forest. Sebenarnya kosep Monkey Forest ini bisa diterapkan untuk Natara Koki; dibangun sebuah jalur menyusuri tembok-tembok benteng ini. Sambil menikmati hutan (yang tentu saja harus dibangun kembali), para pelancong bisa disuguhi tentang sejarah perjuangan Wona Kaka. Tracking ini bisa memanfaatkan sisi Utara yang memang secara alam tampak indah. Area wisata budaya ini pada akhirnya bisa bekerja sama dengan wisata alam Danau Weekuri di sebelahnya. Hanya membangun lokasi wisata Danau Weekuri dan mengabaikan Natara Koki menunjukkan betapa dangkalnya pengetahuan dan penghargaan kita terhadap sejarah bangsa. Saya kurang mengerti, kualitas bangsa yang bagaimana yang hendak dibangun kalau kita mengabaikan sejarah.

Maaf kalau saya agak nyolot. Jujur, sedih, gemas, cenderung geram, melihat begitu minimnya perhatian dan penghargaan terhadap situs sejarah ini. Bagaimana masyarakat luas (dalam hal ini nasional) mau menghargai Wona Kaka, kalau kita sendiri abai terhadap peninggalannya? Mudah-mudahan pemerintah daerah mau lebih berusaha keras untuk menyelamatkan situs sejarah ini.

Baiklah, itulah hasil perjalanan saya hari itu bersama Bpk. Robert Bumma dan Louis (yang menjadi supir ojek saya) ke Benteng Natara Koki. Hari itu kami masih mampir ke rumah Raja Hermanus Rangga Horo (RIP), raja terakhir Kerajaan Kodi. Namun, itu saya ceritakan di artikel tersendiri ya.



***

Homba Karipit, 11 November 2019
@agnes_bemoe






Friday, 8 November 2019

CERITA RESIDENSI 2019: MENYUSUR JEJAK SANG PAHLAWAN

November 08, 2019 0 Comments

29 OKTOBER 2019: MENGUNJUNGI KAMPUNG BONGU, JEMBATAN BONDO KODI, DAN PARONA TOSSI

Di Parona Tossi atau dahulu disebut Parona Tohikyo. Dengan Bapak Rato Marapu. 


Perjalanan hari ini agak panjang karena mengunjungi banyak tempat.

Tujuannya semula adalah Kampung Bongu saja, kampung kelahiran Wona Kaka dan sekaligus tempat beliau disemayamkan. Namun, dalam perjalanan, Bpk. Robert Bammu sebagai penunjuk jalan menyarankan lebih baik dijalani sekaligus Jembatan Bondo Kodi dan Parona Tossi karena relatif dekat.

Kami bertiga (dengan Louis, yang membonceng saya) naik sepeda motor menuju Kampung Bongu, ke arah Selatan Kodi.

Setelah berjalan agak 20 menit, kami meninggalkan jalan aspal (yang sebenarnya juga bukan aspal mulus), menuju ke jalan tanah. Aduh dah, serem jalannya… (buat saya)… hehehe….

Di satu bagian kami harus melewati jalan turun yang agak curam lalu langsung naik lagi dengan kecuraman yang sama. Waktu pulang baru saya ngeh, itu sebenarnya dasar sungai yang kering. Saya menduga seperti itu karena di sebelahnya persis sedang dibangun sebuah jembatan.
Tidak terlalu jauh dari sungai kering itu, setelah sedikit bertanya-tanya (karena kondisi sudah berubah dari terakhir kali Bpk. Robert ke sini), kami pun sampai di Kampung Bongu.

KAMPUNG BONGU

Parona Bongu

Baiklah, inilah Kampung Bongu, kampung kelahiran Wona Kaka, sekaligus tempat Wona Kaka disemayamkan.  
Kampung ini seperti kampung tradisional Sumba lainnya terdiri dari beberapa buah rumah (6 – 12 rumah) yang dibangun berkelliling. Salah satu dari rumah itu adalah rumah tinggal Wona Kaka. Bentuknya sudah sangat tua namun tiang-tiang di dalamnya masih kelihatan kokoh.
Kampung Besar Bongu ini saat ini tidak didiami sehari-hari. Namun, setiap Hari Raya Tahun Baru (Hari Raya Nale (dibaca “Nyale”, sekitar Februari-Maret) kampung besar ini akan didatangi segenap sanak keluarga. Mereka akan berdoa, makan, dan tidur di sana.

Setelah melihat-lihat rumah Wona Kaka, kami jalan turun sedikit, melihat makam Wona Kaka.
Biarpun jauh lebih baik daripada makam Warat Wona, makam pahlawan Perang Kodi ini amat sangat sederhana. Hanya dibeton semen.

Setelah ditangkap oleh Belanda dengan cara licik, Wona Kaka dipindahkan ke beberapa tempat, seperti Kupang, Nusa Kambangan, dan Sawah Lunto. Mengenai meninggalnya Wona Kaka sendiri, ada beberapa versi yang saya dengar.
Pertama, ada yang meyakini Wona Kaka meninggal di dalam tambang batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat. Kedua, Wona Kaka meninggal dalam pembuangan di Nusa Kambangan. Namun, untuk dua versi ini jasad Wona Kaka tidak pernah ditemukan.

Tidak ada catatan kapan persisnya Wona Kaka meninggal. Yang jelas, Wona Kaka tidak pernah kembali lagi ke Kampung Bongu setelah ditangkap Belanda. Keluarganya lalu menguburkan rambut Wona Kaka sebagai ganti seluruh jenazahnya. Bersama rambut Wona Kaka ini dikuburkan pula tulang belulang Warat Wona, istri Wona Kaka.

JEMBATAN BONDO KODI DAN KAMPUNG BESAR BONDO KODI

Parona Bondo Kodi


Nah, karena Pak Robert Bammu memutuskan untuk sekalian meninjau Jembatan Bondo Kodi (dan saya pun setuju), maka dari Kampung Bongu kami menuju ke Selatan lagi, ke lokasi Jembatan Bondo Kodi.

Jembatan Bondo Kodi ini bisa dibilang sama dengan Jembatan Merah-nya Surabaya. Di jembatan inilah pasukan Wona Kaka bertempur mati-matian melawan Belanda. Pertempuran Jembatan Bondo Kodi ini adalah pertempuran pertama Kodi melawan Belanda. Pertempuran ini dipicu oleh kekejaman Belanda terhadap rakyat dan raja Kodi. Belanda memaksa rakyat Kodi untuk bekerja rodi. Tidak hanya rakyat kebanyakan, para bangsawan dan rato yang sedang berkuasa pun dipaksa untuk ikut kerja rodi. Selain itu pasukan Belanda juga melakukan kekejian terhadap perempuan Kodi.

Jembatan Bondo Kodi sendiri melintang di atas Sungai Bondo Kodi, sebuah sungai yang dekat dengan laut sehingga menjadi semacam muara). Sayang sekali, tidak ada catatan persis mengenai tanggal peristiwa Jembatan Bondo Kodi. Yang jelas, Perang Kodi sendiri mulai tahun 1911.
Dari jembatan Bondo Kodi ini kami naik sedikit ke atas. Di sanalah terletak Kampung Besar Bondo Kodi, kampung yang dibakar Belanda sebagai pembalasan atas serangan Wona Kaka ke jembatan Bondo Kodi.

Sama seperti Kampung Besar Bongu, Kampung Besar Bondo Kodi juga tidak didiami sehari-hari. Hanya pada saat hari besar saja para sanak keluarga datang dan menginap di sana.

PARONA TOSSI
Dari Jembatan Bondo Kodi, kamu meluncur lagi menuju ke Parona Tossi. Parona Tossi adalah kediaman Rato Loghe Kandua, raja Kodi yang gigih menentang Belanda dan memilih membela rakyatnya daripada bekerja sama dengan Belanda. Catatan, Parona Tossi ini dulunya disebut Parona Tokihiyo.

Di dekat Parona Tossi –sebelum sampai Parona Tossi- kami melewati padang untuk acara Pasola. Ada dua padang besar yang kami lewati. Semuanya ini terletak tidak jauh dari pantai. Ini karena acara Pasola sendiri selalu diawali dengan kegiatan mencari Nale di pantai serta doa-doa dari Rato Marapu. Padang Pasola itu bernama Bondo Kawango.
Di seberang padang Pasola, di sisi yang menjauhi pantai, terdapat sederetan kampung. Nah, pada zaman perang dengan Belanda dulu, Belanda menerapkan taktik bumi hangus. Jadi sederetan kampung hampir sepanjang 2 – 3  km sampai ke Parona Tossi habis dibakar oleh Belanda.  Ini akibat keputusan Rato Loghe Kandua untuk menolak bekerja sama dengan Belanda dan menjadi kaki tangan Belanda.
Di ujung perkampungan itu terletaklah Parona Tossi.
Parona Tossi secara fisik tidak beda jauh dari kampung besar-kampung besar lain yang sudah saya lihat; terdiri dari beberapa rumah dengan area kosong di tengah untuk upacara dan pemotongan hewan, serta dikelilingi kubur-kubur batu.

Setelah bertemu dengan keluarga yang tinggal di sana kami menunju ke makam Rato Loghe Kandua.
Rato Loghe Kandua sendiri wafat di Mamboro. Setelah ditangkap Belanda, beliau dibawa ke Mamboro. Dikatakan bahwa sepanjang perjalanan Kodi ke Mamboro beliau menerima siksaan yang luar biasa. Sampai di Mamboro, Rato melakukan mogok makan walaupun kondisi beliau sendiri sudah sangat mengenaskan. Beliau bertekad untuk tidak mau makan dan minum karena mengingat penderitaan rakyatnya. Di Mamboro inilah Rato Loghe Kandua wafat.
Setelahnya, -sayangnya tidak ada catatan pasti tentang tanggal dan tahunnya- keluarga memindahkan tulang belulang Rato dan menguburkannya kembali di Parona Tossi. Di samping kubur batu Rato Loghe Kandua diletakkan juga ‘ancik-ancikan’ terbuat dari batu, mirip seperti meja kecil. Benda ini digunakan oleh Rato untuk menaiki kudanya dulu semasa hidupnya.

Saya melakukan semacam ritual yaitu meletakkan sirih pinang dan persembahan dengan didampingi oleh Rato Marapu di kubur Rato Loghe Kandua.
Lalu, dari komplek kubur batu ini kami kembali ke area perumahan. Kami melewati semacam gerbang yang dibuat dari batu-batu alam. Gerbang inilah tempat lewat kuda-kuda yang akan ikut dalam Pasola.
Setelah dari makam, saya (kami) duduk sebentar untuk menerima semacam berkat dari Rato Marapu. Kami didoakan dan diperciki air. Amin deh. Semoga kegiatan penelitian saya berjalan lancar. Semoga tradisi dan budaya di Sumba ini bertahan lebih lama daripada selama-lamanya.
Setelah itu kami pamit pulang.

Suwer, terasa capek juga biarpun hari masih menunjukkan jam 11-an. Mungkin karena berkendara dengan sepeda motor dengan medan yang lumayan. Dan juga mungkin karena matahari Kodi yang ga segan-segan memancarkan panasnya… hehehe….

Tapi percayalah, semua itu tidak sebanding dengan kegembiraan, excitement, dan kekayaan ilmu yang saya dapatkan selama perjalanan hari itu.
Terima kasih semuanya. Terima kasih Tuhan.

***

Homba Karipit, 8 November 2019
@agnes_bemoe


Tuesday, 29 October 2019

CERITA RESIDENSI 2019: KE RUMAH IBU MARTHA D. GABI

October 29, 2019 0 Comments


Sore hari di hari Senin, 28 Oktober 2019, saya mengunjungi Ibu Martha Dada Gabi. Ibu Martha adalah istri mendiang Bpk. Gregorius G. Kaka. Bpk. Gregorius ini adalah seorang pendidik dan budayawan Sumba (beliau lebih sering disebut “Bapak Goris”).

Selain menghabiskan waktunya sebagai pendidik di SMP Katolik Wona Kaka Homba Karipit (beliau adalah kepala sekolah), Bapak Goris juga adalah penulis buku sejarah perjuangan Wona Kaka. Menurut Ibu Martha, Bapak Goris menyusuri kehidupan Wona Kaka ini selama hampir sepuluh tahun. Mendiang benar-benar melakukan napak tilas dan menemui orang-orang yang masih mengingat/mengenal Wona Kaka secara pribadi. Catatan itu dikumpulkan kemudian dibukukan. “Dibukukan” di sini maksudnya adalah diketik manual lalu dijilid. Amat sangat sederhana.
Namun demikian, buku yang amat sangat sederhana itu sebenarnya adalah harta karun yang sangat berharga. Saya rasa, itulah satu-satunya tinggalan tertulis tentang Wona Kaka, pahlawan Perang Kodi.

Mengingat minatnya yang begitu besar terhadap sejarah, saya kira mendiang Bpk. Goris dulunya studi Sejarah. Ternyata, beliau jebolan Padepokan Tari Bagong Kusudiarjo Yogyakarta. Ya, Bapak Goris juga adalah seorang penari yang handal. Tidak hanya itu saja, beliau juga penggubah lagu. “Mars Wona Kaka” adalah salah satu lagu hasil ciptaan beliau. Belum lagi sejumlah lagu rohani. Beliau juga penerjemah Kitab Suci ke dalam Bahasa Kodi.
Dengan segudang prestasinya itu tidak heran kalau beliau dianugerahi gelar “Budayawan Sumba” oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Sayang sekali, beliau berpulang tahun 2005, persis 10 hari setelah beliau berulang tahun ke-60, karena sakit mendadak.

Ketika sedang mencari referensi tentang Warat Wona dan Wona Kaka inilah saya diberitahu tentang nama beliau.
Sore itu saya ditemui oleh istri mendiang, Ibu Martha D. Gabi. Ibu Martha menerima saya dengan baik sekali. Siangnya sebenarnya saya sudah menemui beliau di tempat kerja beliau di SD Katolik Homba Karipit (ya, beliau masih mengajar di usianya yang ke-71. Ini adalah keinginan beliau sendiri karena beliau ingin ada kesibukan). Saya sudah menyampaikan keinginan saya untuk menggali tentang Warat Wona dan Wona Kaka.

Nah, ternyata, beliau sudah mencarikan beberapa topik di buku hasil karya suaminya. Aduh… saya jadi segan sendiri. Ini berarti beliau meluangkan waktu untuk membaca kembali dan mencari informasi yang saya butuhkan. Padahal pikir saya, biar saya cari sendiri saja informasi itu.
Tidak hanya mencarikan, beliau juga dengan baik hatinya bersedia meminjamkan buku hasil karya suaminya itu kepada saya. Yeay!

Ibu Martha sendiri adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan. Suaranya masih jelas dan tegas. Ingatannya masih tajam.  Beliau punya topik pembicaraan yang tak terbatas. Beliau juga adalah seorang penari. Pada kesempatan itu beliau mengajarkan beberapa gerakan tarian Kodi kepada saya. Saya pun minta kalau ada pengajaran tari lagi, saya diajak.

Sore itu saya memutuskan untuk tidak menjadi peneliti… hehehe… saya letakkan bolpen dan notes saya. Saya mau ngobrol saja dengan ibu yang baik ini. Saya senang bertemu dengan sosok yang ramah ini sehingga saya tidak mau merusaknya menjadi semacam waktu pengumpulan data saja.

Setelah mengobrol lama, sambil minum teh dan makan kue, saya mohon pamit. Beliau membawakan saya buah mangga dari kebunnya, pisang, dan kue nagasari.

Dan, ketika pulang, beliau memutuskan untuk mengantarkan saya … sampai di Pastoran! Aduuuh! Mau menolak (karena pasti kesannya saya kurang ajar banget) tapi beliau sepertinya merasa senang berjalan sambil mengantarkan saya.

Jadilah, sore itu adalah sore yang istimewa, dimana saya ditemani dan diantar pulang oleh seorang ibu yang ramah dan baik hati, Ibu Martha D. Gabi. Sehat-sehat selalu ya, Ibu, semoga lain waktu kita bisa bertemu kembali, dan di waktu itu saya sudah bisa memberikan hasil penelitian saya di Kodi ini.

***

Homba Karipit, 28 Oktober 2019
@agnes_bemoe


CERITA RESIDENSI 2019: GALLU KAREWET - PEJUANG YANG SENDIRI

October 29, 2019 0 Comments


Senin, 28 Oktober 2019, saya bersama dengan Bapak Robertus Deta Bammu pergi ke makam Warat Wona di Gallu Karewet.



Desa Gallu Karewet ternyata sangat dekat dengan Pastoran Homba Karipit, tempat saya tinggal. Kata Pak Robert, jaraknya sekitar 1 km. Kami berdua pergi dengan berjalan kaki saja.  Sebenarnya saya agak keder juga mengingat kondisi pinggang saya yang renta ini. Tapi Pak Robert memastikan bahwa kami akan berjalan pelan-pelan, mengikuti kemampuan saya (duhh, malunya, sampai segitunya. :D )

Kami melewati sebuah kampung bernama Gallu Wawi. Ini perkampungan yang separuh asli. Jadi, kampung ini terdiri dari 8 – 12 rumah yang dibangun melingkar. Rumah-rumah ini sebagian terbuat dari bambu dan atap rumbia, sebagian lagi terbuat dari batu. Menurut Pak Robert, seperti inilah bentuk kampung asli orang Sumba, memang dibuat melingkar. Ini supaya kalau ada serangan dari suku lain (ketika masih masa perang suku), warga kampung mudah mengkoordinir.



Di tengah-tengah rumah ini ada lokasi kubur dengan kuburan batu yang besar-besar. Sayangnya, kubur batu yang asli sudah dirubuhkan, diganti dengan kubur dari semen. Menurut saya sayang sih, biarpun sama besarnya.

Nah, setelah kampung Gallu Wawi, kami masuk ke kampung Gallu Karewet.

Oh iya, perjalanan ini biarpun jauh menurut saya, tapi karena pemandangannya hijau dan segar, saya tidak terlalu merasa capek. Sekeliling kami adalah pepohonan besar-besar. Di beberapa tempat ada segerumbulan pohon jambu mete. Kata Pak Robert, jambu mete adalah komoditi andalan warga Kodi.



Sampai di Gallu Karewet, setelah Pak Robert mencari-cari sebentar, akhirnya kami menemukan makam Warat Wona. 

Itu sebuah makam yang amat sangat sederhana. Terlalu sederhana, mengingat beliau adalah pahlawan perjuangan melawan penjajah Belanda (lewat VOC). Makam itu berbentuk semenan beton berkeliling. Diperkirakan Warat Wona meninggal tahun 1912 ketika sedang bergerilya bersama suaminya. Warat Wona wafat ditembak tentara Belanda.

Tahun 2012 tulang belulang Warat Wona sebenarnya sudah diangkat dan dipindahkan ke makam Wona Kaka di desa Bongu. Namun demikian, warga Gallu Karewet masih berkeras bahwa Warat Wona tidak pindah, beliau masih ada di makam di desa tersebut. Makam sederhana itu masih dijaga sampai sekarang.

Ketika Wona Kaka menguburkan istrinya dulu ia berpesan pada seorang warga Gallu Karewet bernama Muda Lewa untuk menjaga makam Warat Wona. Sampai sekarang, keturunan Muda Lewa yang masih setia menjaga makam tersebut.

Kami tidak lama berada di makam Warat Wona, setelah mengambil beberapa foto dan berdoa, kami pulang kembali ke Homba Karipit.

Sambil menikmati pemandangan kampung yang indah dan asri, saya tuh mikir, kenapa ya pemerintah tidak turun tangan dalam hal ini. Ini adalah sosok pejuang yang merelakan nyawanya bagi Indonesia sehingga menjadi seperti sekarang ini.



Jujur, sedih saya melihat kondisi makam itu.

Oh iya, konon, dulunya makam tersebut tidak punya tanda sama sekali. Tidak berbentuk makam, hanya onggokan batu-batu sungai sebagai penanda. Lalu, atas inisiatif SMP Katolik Wona Kaka di Homba Karipit, dibangunlah lingkaran beton untuk menandai makam.  

Kembali lagi, apakah pemerintah tidak merasa perlu merawat dan menjaga makam ini? Paling tidak, itu adalah ucapan terima kasih kita yang sudah menikmati enaknya merdeka dari penjajah Belanda. Kemerdekaan itu minta korban, termasuk salah satunya nyawa Ibu Warat Wona, penjuang perempuan yang tewas di ujung bedil Belanda.

Masih terngiang kata-kata Bpk. Robert Bammu: penjajah yang sama yang dilawan, bangsa yang sama yang dibela, dan sama-sama meregang nyawa karena perjuangan ini, kenapa yang itu pahlawan, yang ini bukan?

Saya tidak tahu harus menjawab apa.

***

Homba Karipit, 28 Oktober 2019
@agnes_bemoe

Sunday, 27 October 2019

CERITA RESIDENSI 2019: BERANGKAT KE KODI

October 27, 2019 0 Comments

Jadi, setelah pembicaraan dengan Romo Christo Ngasi, Pr. dari Kodi, disepakati bahwa saya akan berangkat ke Kodi hari Jumat.

Pastoran Santa Maria Assumpta Homba Karipit, Kodi, Sumba Barat Daya

Oh ya, Romo Christo Ngasi, Pr. adalah yang saya mintai tolong untuk menghubungkan dengan para budayawan/nara sumber di Kodi. Beliau juga seorang penulis. Beliau pernah menerbitkan sebuah novel bertema budaya Loura, Sumba Barat Daya, berjudul Matta Liku. Saya sudah baca novelnya dan ceritanya mencekam… hehehe…. Resensi saya tentang novel ini bisa dibaca di sini.

Jadi, sebelum berpanjang lebar, saya berterima kasih sekali kepada Romo Christo –biasa dipanggil Romo/Pater Isto- atas kesediaannya membantu saya dalam riset tentang Warat Wona dan Wona Kaka ini. Di tengah kesibukannya (saya lihat sendiri Pater Isto 'pontang-panting' karena kesibukannya), Pater Isto bersedia meluangkan waktunya buat saya. Sangat saya hargai hal itu.  

Hari Jumat pagi saya bersiap-siap karena rencananya akan berangkat Pk. 11.00 WITA. Lalu, drama terjadi. 

Keberangkatan molor 1 jam, lalu 1 jam lagi. Haduuuh, bête deh saya. Telat sampai 2 jam tanpa tahu kepastian akan berangkat jam berapa atau malah jadi berangkat atau tidak.

Long story short, akhirnya berangkat juga. Perjalanan hanya makan waktu… 30 menit… hahaha! Ga sebanding dengan nunggunya! Dengan kondisi seperti ini menurut saya biaya sewa mobil di Sumba Barat Daya amat sangat mahal. Bayangkan, kita harus menunggu sampai 2 jam. Perjalanan ke sana juga tidak menggunakan AC padahal udara SBD tuh gerahnya minta ampun. Belum lagi beberapa hal lain yang membuat bingung. Singkatnya, berasa banget kalau saya “numpang”. Nasib dah. Mudah-mudahan selanjutnya saya ga ketemu lagi yang seperti ini.

Namun demikian, semua itu seperti terbayar lunas dengan kondisi di Desa Homba Karipit, Kodi.

Pagi di Homba Karipit


Saya kan menginap di Pastoran Paroki St. Maria Assumpta di Homba Karipit. P.S Saya orang “asing” ketiga yang melakukan penelitian yang menginap di pastoran; pertama seorang dokter yang melakukan penelitian tentang malaria, kedua seorang sutradara yang membuat film pendek tentang Human Trafficking, yang ketiga saya.

Suasananya di sini, di desa Homba Karipit ini bener-bener desa deh! Ga bising, di sekeliling pastoran masih banyak pepohonan dan hewan peliharaan (ayam, anjing, babi). Orang-orangnya ramaaaah banget! Yang terakhir ini yang sudah sangat langka di belahan lain Indonesia. Mudah-mudahan ini bertahan ya.



Saya mendapat sebuah kamar yang cukup besar dengan dua buah tempat tidur, yang satu berkelambu. Saya perhatikan, tidak ada kipas angin. Saya sudah cemas nih. Segini gerahnya (Kodi juga puanaas!), gimana kalo ga ada kipas ya? Eh ternyata, ga gerah-gerah amat. Mungkin karena ada dua buah jendela terbuka lebar, dan jendela itu langsung menghadap kebun belakang yang maha luas. Jadi angin sangat berlimpah ruah. Belum lagi langit-langit yang tinggi membuat udara tersirkulasi dengan baik. Sipp! Ga masalah dah! Dan bener, malamnya, saya tidur dengan super nyenyak di tempat tidur berkelambu saya.

Tomat di Kebun Pastoran


Pagi ini saya bangun dengan disuguhi udara pagi yang sejuk, udara bersih, suasana yang hening, sinar matahari pagi yang perlahan muncul, dan secangkir teh jahe yang lezat.
Puji Tuhan!

Hari ini (sekitar sore) rencananya saya, dengan diantar oleh Romo Isto, akan menemui seorang narasumber. Mudah-mudahan semuanya lancar ya.



***

Homba Karipit, 26 Oktober 2019
@agnes_bemoe

Wednesday, 23 October 2019

CERITA RESIDENSI 2019: KENAPA SUMBA, KENAPA WARAT WONA

October 23, 2019 0 Comments

Kenapa tak memilih residensi di luar negeri? Kenapa kok dalam negeri? Kan enakan di luar negeri.
Trus, kok Sumba? Tanggung “pulang kampung”, mbok sekalian Flores, kampung asli saya.
Tidak banyak sih, tapi ada juga yang bertanya begitu.



Kenapa saya memilih Pulau Sumba?
Jujur sih, sudah lama saya ingin ke pulau ini. Yang mengikuti status-status saya (cieee… sok banget yah, sampe ada yang mengikuti status… wkwkwk… maafkan… >,<) pasti tahu, tidak sekali dua kali saya merengek pada Tuhan YME supaya saya bisa melihat lagi pulau yang satu ini.

Pulau Sumba punya arti tersendiri buat saya, nyaris setara dengan pulau Flores yang adalah tanah nenek moyang saya. Kalau mau lebay, tidak ada satupun spot di luar negeri yang bisa menandingi berartinya Pulau Sumba buat saya.

Nah, tentu saja, residensi bukan untuk alasan sentimental seperti itu, ‘kan?

Maka, alasan berikutnya adalah karena sebelum mendaftar residensi saya membuat satu tulisan tentang pejuang Kodi (Sumba Barat Daya) bernama Wona Kaka. Wona Kaka adalah panglima perang Rato Loghe Kandua, raja Kodi. Wona Kaka dan Perang Kodi (1911-1913) adalah perang besar terakhir sebelum Pulau Sumba jatuh ke tangan VOC. 




Selagi menulis tentang panglima perang kerajaan Kodi ini saya mendapati bahwa ternyata dalam pasukan Wona Kaka ada sebarisan pejuang perempuan. Termasuk di dalamnya yang paling gigih adalah Warat Wona yang kebetulan istri Wona Kaka.

Permasalahan klise penulis adalah riset, ‘kan? Biarpun relatif tersebar di internet, saya merasa sangat membutuhkan informasi yang lebih mendalam tentang Wona Kaka dan Warat Wona ini. Informasi dari internet sangat membantu sih tapi tetap ada hal-hal yang tidak terwakili oleh internet seperti nuansa atau atmosfernya.

Jadi, ketika ada program Residensi Penulis 2019, saya mendaftar, dan yang saya ajukan adalah tentang penjuang perempuan Warat Wona ini. Ini sebenarnya semacam “continuity” dari tulisan saya tentang Wona Kaka. Melalui kesempatan riset di program residensi ini saya berharap bisa menggali lebih dalam dan membuat tulisan yang lebih menyeluruh dibandingkan ketika saya menulis tentang Wona Kaka.

Alasan lainnya adalah, saya menduga, tidak banyak orang tahu tentang peranan pejuang perempuan dalam perang melawan Belanda di pulau Sumba ini. Saya berharap, melalui program residensi ini, saya bisa meneruskan cerita yang mungkin nyaris terputus kalau tidak segera didokumentasikan dan diperkenalkan.  

Puji Tuhan, aplikasi residensi saya diluluskan. Jadilah saya ke Pulau Sumba, pulau impian saya, dan menulis tentang Warat Wona, pejuang perempuan Tanah Sumba.
Doakan semoga residensi saya lancar dan saya bisa membuat tulisan yang bagus nantinya ya. Terima kasih.


***

Waitabula, 23 Oktober 2019
@agnes_bemoe

Baca juga: Cerita Residensi 2019: Pulang Kampung

CERITA RESIDENSI 2019: PULANG KAMPUNG

October 23, 2019 0 Comments


Tanggal 16 Agustus 2019 lalu saya mengetahui kalau saya lolos dalam seleksi Program Residensi Penulis 2019 bersama 33 penulis lainnya. Saya memilih Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur sebagai tempat residensi. Topik yang saya angkat adalah seorang pejuang perempuan Sumba bernama Warat Wona.

Oh ya, sebelum panjang lebar, saya sangat perlu berterima kasih kepada sutradara, novelis, dan sahabat saya, Sergius Sutanto, karena beliaulah yang banyak membantu saya dalam hal ini. Terima kasih ya, Kakak :D

Pemeriksaan Kesehatan sebelum berangkat residensi. Dokternya ternyata mantan murid.

Jadi, tanggal 15 Oktober 2019 kemarin saya berangkat dari Pekanbaru menuju ke Waitabula, ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya. Rencananya saya akan tinggal di Sumba Barat Daya selama 2 bulan. Saya sampai tanggal 16 Oktober 2019 karena tidak ada penerbangan langsung yang sampai hari itu juga. Saya harus transit dua kali, di Jakarta dan Denpasar. Di Cengkareng transit berlangsung 8,5 jam. Sebenarnya saya sudah pesan penginapan tapi melihat keadaan sudah malam sekali dan jarak yang lumayan jauh (menurut saya), saya putuskan untuk tidur di bandara saja.

Bandara ternyata ramai kok. Saya tak menyangka bahwa tetap ada penerbangan di jam-jam 12, 1, dan 2 dini hari (saya tiba di Cengkareng sekitar pukul 9 malam lewat). Paginya saya mandi dan dandan di toilet bandara… xixixii… Asyik juga!

Baiklah, akhirnya saya sampai di Bandara Tambolaka, Waitabula, dijemput oleh Merlyn Nani Boeloe. Merlyn ini saya anggap adik saya sendiri. Dulu keluarga kami bertetangga waktu saya masih tinggal di Waikabubak, Sumba Barat. Selama residensi juga saya tinggal di rumah orangtua Merlyn Nani Boeloe (sayang sekali beliau berdua sudah berpulang).

MINGGU PERTAMA
Oke deh, belum ada yang bisa saya ceritakan sih, di minggu pertama residensi ini.

Saya berkunjung ke rumah orang-orang yang sudah saya anggap saudara sendiri, saya mengunjungi makam Bapa-Mama Nani Boeloe (orangtua Merlyn), dan lain-lain kegiatan yang menyangkut keluarga (iya sih, buat saya, mereka sudah seperti keluarga sendiri, jadi sebenarnya saya ini semacam “pulang kampung” melalui kegiatan residensi ini).

Menyangkut Residensi, hari Jumat tanggal 18 Oktober 2019 saya berkunjung ke SMAN 1 Kota Tambolaka. Diterima baik oleh Bapak Kepala Sekolah dan Ibu Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum, saya menawarkan untuk mengadakan kegiatan literasi di SMAN 1 Kota Tambolaka. Puji Tuhan, tawaran saya ini diterima. Kegiatan akan dilaksanakan di sekitar akhir November 2019. Semoga berjalan lancar ya….

Hari Senin, 21 Oktober 2019 saya mengurus perizinan ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Barat Daya.

Ada satu hal yang mau saya shout out nih. Saya terkesan dengan kualitas pelayanan di sini. Penyambutannya ramah. Ketika dilihat saya masih menunggu, ibu yang bertugas di front office memastikan bahwa saya menunggu dengan nyaman dan meminta saya bersabar. Wiih… ini jarang lho saya alami.

Saya diterima oleh Ibu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Sumba Barat Daya, Dra. Yohana Lingu Lango, M. Si. Beliau menerima dengan ramah dan saya pun menyampaikan maksud kedatangan saya.

Dra. Yohana Lingu Lango, M. Si. 

Nah, sampailah di bagian yang paling saya cemaskan.
Begini, untuk perizinan ini kan kami –peserta residensi- sebenarnya dibekali sebuah surat yang disebut “Surat Kelulusan” (jangan tanya, kenapa istilahnya “kelulusan”). Karena surat ini turunnya agak telat, saya kira saya print saja di Waitabula. Ternyata, mencari tempat rental printer di Waitbula tuh susah… hehehe… saya tidak memperhitungkan hal ini. Nah, daripada mumet tidak dapat printer, saya putuskan untuk pergi saja, mudah-mudahan nanti lancar, begitu pikir saya.

Baiklah, jadi setelah menyampaikan maksud saya, Ibu Kadis tentu saja meminta semacam surat yang menguatkan penyampaikan saya. Saya katakana terus terang permasalahan saya, yaitu, tidak menemukan printer. Saya lalu menawarkan untuk menunjukkan soft copy surat yang dikirim via email panitia.

Suwer, saya deg-degan. Pengalaman saya dengan birokrasi biasanya gitu deh… hehehe….

Eh, di luar dugaan saya, Ibu Kadis bersedia menerima ini dengan catatan saya tetap harus kembali dan menyerahkan hard copy-nya. Aduh, betapa bersyukurnya saya! Saya berjanji akan sesegera mungkin mengupayakan hard copy Surat Kelulusan ini.

Sekali lagi, salut sekali dengan sikap pejabat pemerintahan yang seperti ini. Inilah kebijaksanaan. Inilah kecerdasan. Semoga terus dijaga. Amin.

Oh iya, mengenai keramahan, tidak hanya di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan saja saya diterima dengan ramah. Di SMAN 1 Kota Tambolaka juga para guru piket dan guru-guru lain menerima saya dengan sapaan dan senyum ramah. Weeh, terasa lain lho, kalau kita masuk ke sebuah ruangan yang orang-orangnya tersenyum ramah pada kita. Suwer!

Oke deh, lanjut ya.
Hari Selasa, 22 Oktober 2019, saya ke Rumah Budaya Sumba. Sayangnya, saya tidak ketemu dengan P. Robert Ramone, C.Ss.R, pengelola rumah budaya ini. Baiklah, lain kali saja saya main ke sini lagi.



Tapi, saya bertemu dengan anak-anak kecil yang lucu-lucu dan imut. Mereka juga, lagi-lagi, duluan menyapa saya dengan ramah. Mereka ternyata di RBS untuk belajar baca dan tulis. Saya pun mengajak mereka berfoto. Mereka langsung duduk berjajar dengan manisnya.



Besok rencananya saya akan bertemu dengan P. Christo Ngasi, Pr. untuk membicarakan tentang hal-hal terkait penelitian saya di Kodi (kediaman P. Christo Ngasi, Pr.). Semoga lancar ya….

Oke deh, segini dulu cerita residensi saya. Belum ada cerita sebenarnya sih… hehehe….

Doakan semoga kegiatan residensi saya lancar ya dan saya bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Amin.

***

Waitabula, 23 Oktober 2019

Friday, 4 October 2019

ANAK YANG SERING MELAKUKAN KEGIATAN MEWARNAI AKAN LEBIH CERDAS DAN KREATIF SERTA MUDAH BELAJAR

October 04, 2019 0 Comments

Jangan remehkan kegiatan MEWARNAI. Aktivitas menorehkan manfaat yang dalam dan tahan lama dalam kehidupan seorang anak. Apa saja manfaatnya?

Buku Cerita dan Aktivitas

  1. Melatih Motorik Halus. Anak-anak tidak otomatis bisa memegang benda-benda seperti pensil atau bolpen lalu menuliskan huruf tertentu. Tangan anak perlu dilatih secara bertahap. Nah, kegiatan mewarnai adalah kegiatan untuk melatih tangan anak supaya ia bisa beradaptasi dengan peralatan seperti pensil atau bolpen.
  2. Melatih Koordinasi antara Tangan dengan Mata Aktivitas paling sederhana seperti memegang crayon, menyerut pinsil warna, atau mengenali warna sangat membantu anak untuk belajar. Mewarnai menuntut anak untuk mengenali batas suatu area yang akan diwarnai. Ketrampilan ini membutuhkan koordinasi antara mata dengan tangan.
  3. Melatih Kesabaran dan Membuat Anak Rileks Mewarnai membantu anak-anak untuk belajar sabar. Mewarnai juga membuat mereka rileks dan nyaman. Mereka juga akan merasa puas dan senang atas hasil karya mereka. Ini jelas membangun rasa percaya diri mereka.
  4. Membantu Anak untuk Fokus Kemampuan untuk fokus jelas dibutuhkan oleh anak. Mewarnai telah terbukti menjadi salah satu cara untuk melatih anak menjadi lebih fokus. Anak-anak yang terbiasa mewarnai ditenggarai lebih mampu untuk berkonsentrasi dan fokus. Sambil mewarnai, anak-anak juga belajar bahwa ada batas-batas bagi pewarnaannya. Mengenali batas-batas ini ternyata akan sangat membantu anak nantinya kalau dia akan belajar menulis.
  5. Menambah Pengetahuan Mewarnai membuat anak-anak mengenali obyek yang diwarnainya; garis, warna, lengkung, dan bentuk.
  6. Membangun Rasa Percaya Diri Mewarnai membantu anak untuk percaya pada kemampuannya sendiri. Ketika anak berhasil menyelesaikan suatu pewarnaan, mereka akan merasakan suatu kepuasan tersendiri. Rasa puas ini membantu membentuk rasa menghargai diri sendiri (self-esteem) yang sangat penting untuk pembentukan kepribadiannya.
  7. Merangsang Kreativitas Mewarnai adalah sarana bagi anak untuk menumpahkan kreativitasnya. Seorang anak bisa membangun sebuah dunia khayalan di kepalanya sebelum dan selagi ia mewarnai. Mewarnai bisa memicu anak untuk mencoba kombinasi warna, atau memadukan warna, atau menggunakan warna-warna yang “tidak lazim” tapi menurutnya indah.
  8. Sebagai Sarana untuk Mengungkapkan Diri/Sarana Berkomunikasi Ada anak-anak yang bisa mengungkapkan diri melalui kata-kata, ada lagi yang menggunakan karya seni. Kita bisa menyingkap banyak hal dari seorang anak dengan mengamati gambar dan warna yang ia gunakan.  Perhatikan bila anak lebih sering menggunakan warna-warna gelap dan mewarnai secara “serampangan”. Ada kemungkinan anak tersebut sedang membutuhkan perhatian dan bantuan orang dewasa.  Perhatikan perbedaannya dengan ketika anak menggunakan warna-warna cerah. Ada kemungkinan ia sedang merasa gembira dan puas dengan dirinya.
  9. Mengenali Warna Mewarnai membuat anak mengenali warna. Mereka belajar mengenali perbedaan warna hijau, kuning, merah, merah muda, dan seterusnya. Perbedaan warna ini memicunya untuk mengenali kombinasi warna.
  10. Terapeutik Mewarnai memberikan efek terapeutik pada anak, terutama bila mereka sering melakukannya. Mereka dapat meluahkan segala perasaan, frustrasi, atau kondisi emosi yang lain melalui kegiatan mewarnai.
  11. Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Mewarnai dan kemudian membicarakannya membantu anak mempelajari kata baru dan menyusun kalimat. Anak-anak akan belajar menggunakan kata-kata deskriptif ketika mereka membicarakan hasil pewarnaannya atau melihat hasil karya temannya.
  12. Last but not least: Membangun Quality Time Mewarnai membantu anak untuk menikmati waktu bersama orangtua, atau teman, atau guru. Quality time membantu anak menyadari bahwa dirinya penting di mata orangtua, teman, atau gurunya. Dan perasaan bahwa dirinya penting (I Matter) ini akan sangat membantu menguatkan kepribadiannya.


Bulan September lalu sebuah buku aktivitas yang saya tulis terbit. Judulnya “PAK KETOPRAK KOKI AJAIB”. Ini adalah buku multi-kegiatan, salah satunya adalah mewarnai. Jadi, sambil membaca ceritanya, anak-anak bisa mewarnai. Buku ini bisa jadi jembatan buat anak-anak yang belum terlalu suka membaca cerita panjang-panjang. Mereka bisa “berhenti sebentar” dan melakukan aktivitas mewarnani, lalu lanjut membaca lagi.

Silakan dicari di TB Gramedia ya. Dan saya tunggu kritik dan sarannya. Terima kasih.

***

Pebatuan, 5 Oktober 2019
@agnes_bemoe