Follow Us @agnes_bemoe

Thursday, 21 January 2021

Monday, 18 January 2021

MENULIS CERITA ANAK KRISTIANI: SEBUAH CONTOH

January 18, 2021 0 Comments

 

Kumpulan Kisah Santo Santa, Penerbit Genta, 2013

Bila di tulisan sebelumnya saya menyampaikan apa yang menurut saya penting dalam sebuah cerita anak kristiani, di tulisan ini saya berniat untuk lebih membicarakan hal teknis dan praktis. Tulisan yang sebelumnya dapat dibaca di sini.


Supaya mudah, saya membuatnya dengan contoh tulisan. Tentu saja, ini bukan satu-satunya cara dan bahkan mungkin bukan teknis yang sempurna. Saya hanya berbagi teknik yang cocok buat saya. Teman-teman tentu saja punya lebih banyak cara atau bisa mengeksplorasi lagi dengan cara-cara yang lain.



Kisah Santo Santa dan Binatang, Kanisius, 2015



Nah, taruhlah saya mengambil ide dari Kitab Suci, tepatnya dari ayat-ayatnya yang penuh makna. Maka saya mencari ayat-ayat Kitab Suci yang saya rasa menarik kalau dibuat cerita.


Sudah saya dapatkan, yaitu dari Injil Lukas 10 ayat 27

 “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

 

Saya baca perikopnya secara keseluruhan untuk memahami konteksnya. Perikop ini bercerita tentang orang Samaria yang baik hati. Perumpamaan itu diceritakan Yesus untuk menjelaskan siapa “sesama” itu. Yesus ingin menekankan bahwa sesama adalah siapa saja, tidak terbatas pada suku, kelompok, agama, dll.


Saya menangkap bahwa kata kunci dalam cerita ini adalah orang atau kondisi yang berbeda. Perbedaan. Perbedaan ini untuk menggambarkan bahwa “biarpun berbeda, kita semua sesama”.


Saya mulai mencari hal-hal yang bisa menggambarkan perbedaan; kaya-miskin? besar-kecil? Tua-muda?


Saya memilih besar-kecil karena menurut saya lebih mudah dicarikan contoh fisiknya. Banyak hal menunjukkan perbedaan besar-kecil; singa-tikus? Bunga matahari-bunga melati? Atau… raksasa? Saya memilih raksasa.

Dengan itulah saya mendapatkan karakter cerita.

 




Karena karakternya raksasa, saya merasa lebih tepat kalau setting tempatnya adalah hutan. Nah, saya mendapatkan setting tempat untuk cerita saya, yaitu hutan.

 


Lalu, mengenai ceritanya, jujur, bila mengambil inspirasi dari Kitab Suci, sebenarnya kita sudah sangat terbantu oleh Kitab Suci. Kitab Suci biasanya sudah memberikan gambaran cerita.


Dalam hal ini, orang Samaria yang baik hati mau menolong orang Yahudi yang sedang kesusahan biarpun sehari-harinya orang Yahudi menganggap rendah orang Samaria.


Saya pun mendapatkan dua nilai yang perlu ditonjolkan di sini, yakni “Menolong orang yang selalu menganggap rendah kita” dan “jangan menilai rendah orang lain hanya karena berbeda”. Kedua nilai ini segera saya jadikan dasar konflik cerita.


Saya sudah mendapatkan karakter yang cocok juga konflik cerita. Selanjutnya saya mulai mereka-reka jalan ceritanya. Pada tahapan ini saya tak punya trik khusus. Saya murni mengandalkan kemampuan berkhayal dan memetakan cerita di kepala saya.

 


Selanjutnya adalah proses standar: W-R-R alias Write, Revise, Rewrite. Tulis ceritanya, biarkan mengalir dari hati (dan khayalan… hahaha…), lalu baca ulang. Kali ini gunakan kepala dengan ‘darah dingin’. Perbaiki, tambahkan, kurangkan. Lalu tulis ulang.

 


Cek sekali lagi apakah cerita sudah benar-benar menggambarkan ayat Kitab Suci yang hendak ditonjolkan. Kita harus benar-benar jujur dan hati-hati dalam hal ini.


Bila sudah, ada baiknya meminta orang lain untuk membaca karya kita. Orang lain bisa lebih obyektif dan teliti (terutama karena kita sudah ‘kebal’ dengan tulisan kita sendiri).


Nah, begitulah, kita sudah menyusun satu cerita berdasarkan sebuah ayat Kitab Suci. Oh ya, contoh di atas saya tuangkan dalam cerita Jojo dan Raksasa Mini. Silakan dibaca.

 

Begitulah kira-kira saya menulis cerita anak kristiani. Bila temans punya cara yang berbeda, mari berbagi di kolom komentar.


***


Pebatuan, 19 Januari 2021

@agnes_Bemoe



 

Sunday, 17 January 2021

CERITA ANAK: HAL KECIL YANG BISA KULAKUKAN

January 17, 2021 5 Comments



Saya ingin berbagi sebuah cerita pendek anak karya saya, judulnya "Hal Kecil yang Bisa Kulakukan". Cerpen ini saya tulis tahun 2019, di sela-sela kekeringan ide dan kendala-kendala yang lain. 


Oh ya, tema cerpen ini adalah "kebaikan hati" (kindness). Saya agak miris melihat bahwa kita hidup di dunia yang "kejam" (dalam tanda kutip ya). Orang-orang (dewasa) harus menjadi galak dan jahat kalau tak mau ditindas. Orang-orang dewasa dahulu mendahului dalam hal menjadi egois. Kalau tidak -lagi-lagi- harus puas menjadi yang terinjak. 


Anak-anak, di lain pihak, melihat contoh perilaku - di rumah, di masyarakat- yang kurang tepat ini, nyaris setiap hari dalam kehidupannya. 


Cerita ini bukan solusi (mungkin) tapi saya harapkan bisa menjadi oase bagi siapa saja yang membacanya: kebaikan hati masih ada dan masih bisa menghangatkan hati, paling tidak bagi yang membacanya.


Oke deh, tanpa panjang lebar lagi, silakan klik tautan berikut ini ya: HAL KECIL YANG BISA KULAKUKAN  untuk membacanya. Jangan lupa, berikan tanggapannya. Terima kasih. 


Catatan: link cerita sudah saya hapus ya. Cerita akan saya pindahkan ke link baru. Kalau sudah, nanti saya unggah lagi. 

***


Pebatuan, 18 Januari 2021

@agnes_bemoe


P.S 

Ini buku terbaru saya, "Pak Ketoprak Koki Ajaib". Ini adalah buku multi-aktivitas, berisi cerita, mewarnai, mengenal kata dan angka, TTS, maze, dan resep. Sudah ada di TB Gramedia atau Gramedia.com. Yuuk, dicari!




Saturday, 9 January 2021

MENULIS CERITA ANAK KRISTIANI

January 09, 2021 0 Comments

 

12 Hiasa Pohon Natal, 2016, Grasindo

Seorang teman di facebook menyarankan saya membuka kelas penulisan cerita anak kristiani. Saya bukannya tidak setuju. Masalahnya, saya tidak terlalu piawai mengajar selain juga ilmu yang masih sangat pas-pasan. Mudah-mudahan suatu saat kalau sudah lebih pinter, saya pertimbangkan untuk membuat kelas belajar menulis cerita anak kristiani.

Yang mau saya tuliskan ini bukan pengajaran. Lebih pada apa yang saya pribadi lakukan pada saat menulis buku cerita anak kristiani:

1.       Kisah Santo-Santa, Penerbit Genta (Imprint Penerbit BIP), 2013

2.       Kisah Para Kudus dan Binatang, Penerbit Kanisius, 2015

3.       Priscilla’s Easter Eggs and The Other Easter Stories, Penerbit Andi, 2015

4.       12 Hiasan Pohon Natal, Penerbit Grasindo, 2016

 

Kisah Santo Santa, 2013, Penerbit Genta

Apa syarat cerita anak kristiani?

1.       Menarik. Menurut saya, cerita anak kristiani pertama-tama haruslah menarik. Ingatlah bahwa pembaca target adalah anak-anak. Betapapun relijiusnya seorang anak, bila ia  membaca sesuatu yang membosankan atau membingungkan, ia tak akan tertarik. Lebih parah lagi, ia akan membaca dalam keadaan tertekan (mungkin karena wajib) dan hal ini malah menjauhkan maksud semula yaitu mendekatkan anak dengan relijiusitas.

 

Cerita anak kristiani yang menarik sebaiknya ditulis dengan ringan, sedapat bisa menghindari pengajaran atau bahkan pengkotbahan. Anak akan lebih tertarik pada sebuah cerita bila mereka merasa menjadi “hero” dalam kisah tersebut, dan bukannya “anak kecil” yang dikuliahi (ya, mereka memang masih kecil tapi mereka berhak punya pendapat sendiri). Biarkan anak menikmati, mencari, dan lalu menemukan sendiri makna cerita tersebut.

 

Cerita yang menarik tentu saja dibangun dari unsur-unsur di dalamnya yang disusun sedemikian rupa sehingga mencubit perhatian pembaca: penokohannya, karakternya, konfliknya, plotnya, sampai cara penyelesaian masalahnya. Intinya, secara instrinsik cerita itu mesti dibangun sedemikian rupa sehingga merebut perhatian pembaca.

 

Termasuk yang akan menjadikan cerita menarik adalah idenya. Entah ide tentang temanya, entah ide tentang settingnya, atau  ide tentang tokoh-tokohnya.  Ide tidak selalu berarti sesuatu yang baru yang datang dari ruang hampa. Apa saja yang terasa lebih refreshing bisa dimasukkan menjadi suatu ide menarik.

 

Karena terkait dengan buku/cerita anak, tidak boleh dilupakan unsur yang satu ini, yaitu ilustrasi. Bagi anak, ilustrasi adalah bahasa non-verbal, sarana baginya untuk memahami dan menikmati cerita. Ilustrasi yang bagus sudah pasti membuat buku atau cerita menjadi menarik.


Salah satu cerita anak kristiani karya penulis Indonesia yang saya anggap menarik adalah satu Seri Perumpamaan yang ditulis oleh Yovita Siswati

Perumpamaan tentang Kasih, Pengampunan, dan Pertobatan, Yovita Siswati.


 2.       Berisi pesan/makna kristiani. Pesan kristiani ini bisa tersurat bisa juga tersirat. Cerita-cerita Alkitab, Natal, Paskah, Para Nabi, dll adalah kisah-kisah tersurat tentang kekristenan. 

Priscilla's Easter Eggs and Other Easter Stories, 2015, Penerbit Andi





Saya belum menemukan contoh buku anak kristiani dengan pesan tersirat yang ditulis oleh penulis Indonesia. Namun, contoh dari penulis luar ada banyak.

 



Cerita “A Party to Remember” karya Tim Tebow ini digolongkan ke dalam cerita anak kristiani. Kalau dibaca isinya, sedikitpun tidak menyebutkan kata Christian, atau Jesus, atau apapun yang terkait dengan kekristenan. Namun jelas bahwa makna kisah yang dibawanya adalah kasih pada orang yang berbeda. Dan itu jelas sangat kristiani.

 

Siapa boleh menulis cerita anak kristiani?

Mungkin ada pembatasan untuk menulis cerita anak kristiani. Kalau ada, saya tidak tahu. Namun, menurut hemat saya, siapapun boleh menulis cerita anak kristiani.




Namun demikian, untuk penerbitannya,  dalam aturan  Gereja Katolik ada yang disebut nihil obstat dan imprimatur. Nihil Obstat secara harafiah berarti “tidak ada halangan” dan “imprimatur” berarti “boleh terbit”. Izin ini biasanya diberikan oleh pejabat gereja katolik dalam hal ini Uskup. Ini karena materi yang ditulis diharapkan tidak bertentangan dengan pengajaran Gereja Katolik. Nihil Obstat dan Imprimatur biasanya diperlukan untuk kelompok buku Kitab Suci, Liturgi dan Doa, Katekese, serta Iman dan Moral. Tentang ini bisa dibaca di sini: Tentang Nihil Obstat dan Imprimatur


Sewaktu menulis tentang kisah para kudus (karena para kudus ini tidak unik milik Gereja Katolik. Gereja Orthodoks dan Anglikan juga memiliki para kudusnya) saya berkonsultasi dengan seorang pastor. 

Namun, intinya adalah, silakan menulis tapi jangan lupa berhati-hati dan bertanggung jawab akan isinya.

 

Apa Saja yang Bisa Ditulis?

Sepertinya, buku anak kristiani banyak ditulis untuk pembaca usia TK – SD. Sebenarnya berbagai genre untuk berbagai rentang usia (anak) bisa ditulis dengan tema kristiani:

1.       Wordless Book, usia 0 – 3, tanpa kata, hanya ilustrasi

2.       Picture Book, usia 2 – 8, 200 – 800 kata, dengan ilustrasi di setiap halaman

3.       Picture Story Book, usia 6 – 10, 1000 – 3000 kata, ilustrasi di setiap halaman

4.       Chapter Book, usia 6 – 13, 3000 – 15.000 kata, ilustrasi di beberapa halaman

 

Dari Mana Idenya?

Saya menulis kisah para kudus karena saya suka dengan kisah hidup mereka. Bagi saya, kisah para kudus itu lebih membumi dan dekat dengan sisi kemanusiaan saya (berbanding kisah Nabi, misalnya). Ini tentu pendapat pribadi. Namun, dengan pemikiran seperti itulah saya mendapat ide untuk menuangkan kembali kisah para kudus ke dalam cerita.

Kisah Ssanto Santa dan Binatang, Kanisius, 2015



Untuk kisah Natal dan Paskah, sudah jelas. Itu adalah dua peristiwa terbesar dalam ajaran kristiani. Peristiwa-peristiwa itu bisa mengucurkan ide yang banyak pada para penulis.

Selain itu, tentu Alkitab bisa menjadi sumber ide yang tak ada habisnya.

Bila kita mau meniti cerita dengan makna tersirat, lebih luas lagi ladang ide yang bisa kita garap.




Buku anak kristiani pun tidak selalu harus fiksi. Buku-buku non fiksi, semacam buku aktivitas, buku doa, biografi kecil, atau sejarah terkait tema kristiani bisa disusun oleh penulis.

 

Lalu, Bagaimana Menuliskannya?

Secara teknis proses menuliskan cerita anak kristiani tidak terlalu berbeda dengan menulis cerita anak pada umumnya. Namun demikian untuk cerita anak kristiani proses teknis harus dibarengi dengan sesuatu yang sangat mendasar. Seorang penulis cerita anak kristiani dari USA punya pendapat yang perlu kita simak:

The basic skills needed for writing for Christian children are the same as writing for the secular children’s market. The difference comes in the writer’s motivation, which is to share his or her love for and knowledge of Christ with the reader. This is the overall theme of everything written for Christian children, whether specifically stated or implied. (Kathleen Muldoon)

Perhatikan bahwa kecintaan akan Kristus sendiri hendaknya menjadi motivasi dasar bagi para penulis. Teknik menulis bisa dipelajari tapi satu hal ini, yakni kecitaan akan Kristus, berdasarkan pertemuan akan kasihNya, ini yang secara spesifik hanya dan harus dimiliki oleh para penulis buku anak kristiani.

 

Saya rasa, itulah yang bisa saya bagikan kalau menyangkut penulisan cerita anak kristiani. Semoga bermanfaat (dan, ayo rame-rame menulis cerita anak kristiani!).


Jangan lupa untuk mendukung buku anak kristiani dengan membeli dan membacanya ya.

 

Ilustrasi dalam buku "12 Hiasan Pohon Natal" karya Elisabeth Lisa

Baca juga: MENULIS CERITA ANAK KRISTIANI: SEBUAH CONTOH

 ***

Pebatuan, 10 Januari 2021

@agnes_bemoe

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: MENYELAMATKAN SEORANG VETERAN

January 09, 2021 0 Comments

 Buku #1

4 Januari 2021




Judul: Double Tap (Tembakan Ganda)
Penulis: Steve Martini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2010
Jumlah halaman: 469
Novel Terjemahan

CEO sebuah perusahaan piranti lunak ditemukan tewas di rumahnya dengan dua bekas tembakan di kepala yang dikenal dengan “double tap”. Tembakan jenis ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang terlatih. Emanuel Ruiz, mantan marinir dan mantan pengawal pribadi Maydeline Champman -sang CEO-, langsung diseret sebagai tertuduh.

Sepertinya tak ada ruang bagi Ruiz untuk menyelamatkan dirinya. Tak hanya ia dikenal sebagai penembak jitu, pistol yang tercatat atas namanya ditemukan di tempat kejadian perkara. Ia juga diketahui punya hubungan pribadi dengan Maydeline dan setelah dipecat oleh Maydeline, ia ketahuan menguntit wanita itu. Ruiz punya motif.

Memberesi masalah inilah tugas Paul Madriani, pengacara bagi para veteran.

Selain berkutat pada masalah pembunuhan -tepatnya masalah persidangan- novel ini juga menyinggung tentang PTSD, gangguan stress akut bagi orang-orang yang mengalami trauma. Ruiz ditengarai menderita PTSD akibat perang demi perang yang dijalaninya.

Menegangkan. Ya. Sangat. Tapi tidak mengerikan (jadi, aman untuk yang mudah triggered).
Suasana drama pengadilan yang sedemikian rupa membuat pembacanya ikut tegang.

Penyelesaiannya yang agak tak terduga, terutama karena di sepanjang novel pengarang menceritakan tentang alot dan frustrasinya pertempuran melawan negara, bila menyangkut rahasia negara (melalui kisah Jim Kaprosky).

Namun, tentu saja itu tidak tanpa sebab. Penyelesaian seperti itu menuntun pada kisah lain yang secara samar-samar diselipkan oleh pengarang, yang akhirnya membuka segalanya menjadi terang benderang.

Begitulah. Novel ini asyik dibaca. Menegangkan sekaligus membuat tak ingin berhenti membaca.

Ada flaw? Menurut saya ada. Cerita tentang Paul Madriani diancam oleh “orang-orang tegap dan cepak” saya rasa seperti ditempelkan. Tak ada maknanya karena tak ada kelanjutannya. Kalau dihilangkan mungkin lebih baik. Kecuali kalau pengarang menindaklanjuti pengancaman ini.
Namun demikian, ini novel yang cukup menghibur (dengan ketegangannya) dan asyik dibaca. Kalau Anda suka thriller hukum, mungkin Anda bisa coba novel ini.
3/5***** dari saya.

***

Pebatuan, 9 Januari 2021
@agnes_bemoe

Thursday, 7 January 2021

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Sepotong Kisah yang Tak Biasa

January 07, 2021 0 Comments

 Buku #20

Judul : Kisah Hidup A.J. Fikry

Judul Asli : The Storied Life of A.J. Fikry

Penulis : Gabrielle Zevin

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2017

Jumlah Halaman :  280 halaman

Edisi Terjemahan

New York Times Bestseller

 


Ini juga salah satu buku yang saya tunda-tunda membacanya. Saya ragu melihat covernya yang menurut saya sangat depressing (padahal isinya ternyata sungguh heartwarming). Ada label “New York Times Bestseller” yang tentu saja bisa dipercaya karena basis pembacanya yang bagus. Ada juga teman-teman yang langsung memberikan rekomendasi bagus ketika saya mengunggah buku ini di media sosial. Tapi saya tetap ragu. Itu tadi, covernya yang bernuansa coklat mengirimkan pesan ketertekanan, menurut saya.

Padahal, seperti saya sebutkan sebelumnya, isinya ternyata menyentuh dengan kehangatan ceritanya. Untuk saya pribadi, covernya memberikan berbagai interpretasi, yang dalam konteks ini sayangnya kurang membantu pembaca mengenali isi ceritanya. Seandainya cover berupa pelabuhan kecil berkabut, bernuansa biru, lalu di kejauhan ada sebuah toko buku kecil dengan lampu terang, mungkin saya tidak punya keraguan untuk membacanya.


Baiklah, akhirnya, karena sedang kehabisan bahan bacaan, saya pun memberanikan diri membuka buku ini. Dan lalu saya menyesal, kenapa tak dari dulu-dulu saya baca novel ini… hahaha….


Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang naik turunnya kehidupan A. J. Fikry, seorang pemilik toko buku di sebuah pulau kecil bernama Pulau Alice. Diawali dengan hidup amburadul A. J. sepeninggal istrinya dan pertemuannya dengan Amelia, seorang marketer buku dari kota. Pertemuan yang jauh dari sempurna karena Mr. Fikry menerima tamunya itu dengan ketus dan sinis. Sampai di sini saya menduga bahwa isi selanjutnya adalah dinamika hubungan antara Amelia dan A. J. Tidak sepenuhnya salah tapi tidak sepenuhnya benar juga. Novel ini ternyata bercerita tentang dinamika hubungan A. J. dengan seorang bayi mungil yang cantik dan super cerdas yang ditemukan oleh A. J. suatu pagi di tokonya. Hubungan keduanya ini ternyata menuntun A. J. pada banyak hal tak terduga dalam hidupnya.


Saya suka bahwa kisah hidup itu diceritakan dengan elegan, tanpa dramatisasi yang menyebalkan. Kisah hidup A. J. sebenarnya “biasa” sekali. Yang membuat saya bertahan membaca adalah cara penceritaannya yang sederhana dan bersih. Cerita berjalan halus dan lancar sejak dari halaman pertama, membuat saya merasa ikut dalam peristiwa yang diceritakan.


Tentu saja kisah hidup A. J. bukan benar-benar “biasa”. Bukan datar dan membosankan, maksud saya.  Berbagai kejutan muncul di sepanjang cerita. Kejutan yang membuat kita semakin menyadari: inilah hidup. Saya tak tahu apakah cara penceritaan yang polos dan penuh penguasaan diri penulisnya inilah yang membuat novel ini menjadi best seller. Yang jelas, gelar itu sangat layak disandang oleh novel ini.


Kelemahannya hanya satu, menurut saya. Covernya. Saya bukan ahli desain grafis. Yang saya kemukakan ini kesan saya sebagai pembaca. Covernya bagi saya memberi kesan depressing, yang ternyata sangat jauh dari isi ceritanya sendiri. Namun demikian, bisa jadi hanya saya yang berpendapat seperti itu :D


Akhir kata, label di cover novel ini sudah menunjukkan jelas-jelas, ini buku best seller. Saya tidak menambahkan atau mengurangkan. Hanya saja, saya mau tekankan, untuk novel ini label sesuai dengan isinya. Kalau Anda kebetulan suka tema-tema human interest, ada kemungkinan Anda akan suka dengan novel ini.

***

 

Pebatuan, Desember 2020

@agnes_bemoe

Wednesday, 6 January 2021

Buku Pertama yang Dibaca di Tahun 2021

January 06, 2021 0 Comments

 Double Tap - Steve Martini



Sudah lama punya novel ini -hadiah kuis di grup Syantikara-. Tapi bacanya ditunda-tunda karena -pasti bagus- tapi ga yakin kuat bacanya.


Akhir tahun (eh, awal tahun ding) karena pingin baca dan ga punya bacaan lain maka dibuka-bukakah novel ini. Kalau ga kuwat ya ditinggal, begitu pikir saya.
Eh, ternyata, iya sih, menegangkan tapi pingin terus baca. Bagian dark-nya tak banyak (jauh lebih banyak Sidney Sheldon). Ketegangannya jusru dari plotting-nya. Jadi, saya baca 5 lembar, berhenti, trus 5 lembar lagi... xixixii...

Steve Martini, penulisnya, ternyata mantan pengacara. Pantas adegan di ruang sidang beneran bikin jantung mau copot.

Okok, review yang agak lengkap menyusul ya.
Btw, kalau temans belum baca, baca gih! Recommended!

***

Pebatuan, 4 Januari 2021
@agnes_bemoe

Monday, 4 January 2021

Selamat Natal, Nak

January 04, 2021 0 Comments

 Kamis, 24 Desember 2020





Selamat Natal, Nak.

Engkau tak lagi merayakan Natal.

Tak hanya itu, engkau tak ada lagi berada bersama denganku dan kuyakin, engkau tak ingin berada bersama denganku.

Aku tak bisa menyalahkanmu. Hubungan kita tak pernah baik sejak hari pertama kita bertemu. Aku merasa tak siap menerimamu. Dan terbukti, aku tak siap. Inilah yang kuduga menjadi akar tidak baiknya hubungan kita. 

Awalnya, aku merasa engkau orang yang tak tahu berterima kasih, setelah semua bantuanku buatmu.

Lalu, di suatu saat ketika umurku mencapai limapuluh, aku mendapat penyadaran. Aku seorang yang toxic. Panjang sebabnya. Namun, akibatnya adalah aku meracuni semua hubunganku, termasuk dengan dirimu.

Aku mengecilkanmu; fisik dan mental (dan aku menamainya “pendidikan yang keras namun bermanfaat buat masa depanmu”. Maaf.) Aku ternyata tak mampu mencintaimu. Bukan karena engkau tak pantas dicintai tapi karena aku tak bisa mencintai diriku sendiri.

Aku tumbuh dalam keluarga yang tak punya cinta satu sama lain, tak saling support, dan sebaliknya saling bully on daily basis. Aku membalaskan rasa marahku yang terpendam pada dirimu.

Ketika masih kecil, engkau menerima dengan diam (yang kuartikan sebagai “manis” dan “penurut”). Ketika sudah beranjak dewasa, engkau memutuskan untuk lari menyelamatkan dirimu.

Engkau pergi pada pria yang kau anggap mencintaimu. Pria berbeda agama yang menawarimu cinta asalkan engkau mau ikut agamanya. Bukan cerita pertama buatku. Sejak SMA dan mengenal cinta, sudah banyak kulihat skenario yang sama.

Tak bisa kusalahkan dirimu. Aku yang membangun kondisi sedemikian rupa sehingga engkau memilih lari. Lari pada orang pertama yang menawari cinta.

Kuharap pria itu benar-benar mencintaimu dan bukan memakaimu sebagai salah satu trofi kemenangan pindah agama. (Jujur, bila berganti keyakinan, aku ingin engkau memilih keyakinan yang lebih mencerdaskan dan menghargai kehidupan, kemanusiaan, dan perempuan).

Tapi, ya sudahlah. Itu satu masalah. Ada hal yang lebih penting yang ingin kusampaikan kepadamu di Hari Natal (yang tidak lagi kau percayai magic-nya ini): maafkan saya.

Tak bisa kumaafkan diriku untuk banyak kesalahan yang sudah kulakukan kepadamu. Hanya engkau yang bisa memaafkanku.

Kalau bisa saya ulang lagi, saya ingin mengubah semua pendekatanku kepadamu. Saya ingin lebih sering memelukmu. Membelai rambut hitammu yang lebat. Memuji mata belomu yang cantik. Menemanimu belajar (hal yang sering kutinggalkan dengan alasan kerja), mengajakmu jalan-jalan, masak atau nyanyi bersamamu ... intinya, menunjukkan bahwa engkau penting dan istimewa buatku (karena engkau memang penting dan istimewa).

Di hari Natal ini, saya harap -entah bagaimana- engkau membaca catatan ini. Mungkin engkau belum bisa memaafkanku sekarang. Tak apa-apa.

Yang sangat saya harapkan adalah, karena saya sudah meninggalkan begitu banyak toxin dalam masa kecil dan remajamu, semoga engkau menyadarinya bahwa ada kemungkinan besar engkau juga menjadi pribadi yang toxic. Tidak menyalahkanmu tapi perhatikan baik-baik relasimu dengan orang terdekatmu. Banyak-banyaklah berefleksi dan mohon petunjuk Tuhan. Mohon kesembuhan.

Benar, bukan salahmu. Ini salah saya. Dan sekali lagi, saya minta maaf. Namun, dengan memberi peringatan ini saya harap saya sedikit membantu.

Engkau tak harus memaafkan saya tapi kalau boleh saya mengharuskan: refleksi dan sembuhkan dirimu.

Banggalah pada dirimu. Rawat dirimu. Carilah apa yang membuatmu bahagia. Cintai dirimu supaya engkau bisa mencintai orang di sekelilingmu.

Well, ini catatan Natal yang panjang.

Kalau masih ada rezeki, semoga kita masih bisa bertemu. Kalaupun tidak, maafkan saya, may life treats you kind, semoga kebahagiaan dengan limpahan berkat dan rahmat selalu menyertaimu.

Selamat Natal, Nak.

Mami

Tuesday, 29 September 2020

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: WHERE DO I BEGIN TO TELL THE STORY OF HOW GREAT THE LOVE CAN BE

September 29, 2020 10 Comments

Judul: Kekasih Jepang (The Japanesse Lover)
Penulis: Isabel Allende
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2017



Where do I begin
To tell the story of how great a love can be
The sweet love story that is older than the sea
The simple truth about the love she brings to me
Where do I start....


Entah kenapa, sambil baca novel ini terngiang-ngiang lagu milik Andy William di atas. Lagu itu sepertinya cocok menyarikan kisah cinta Alma Mendel dan Ichimei Fukuda.

Childhood sweetheart. Berpisah gara-gara Perang Dunia II. Bertemu kembali bertahun-tahun setelahnya dengan cinta yang ternyata bukan sekadar cinta monyet. Namun, takdir punya jalannya sendiri. Biarpun masih saling mencinta, mereka tak dapat bersatu. Norma dalam masyarakat saat itu yang tak menerima perkawinan beda ras adalah salah satu penyebabnya. Ketakutan Alma untuk hidup miskin jadi salah duanya.

Kisah cinta semacam ini bisa jatuh menjadi picisan di tangan orang yang tak tepat. Untunglah tidak terjadi di novel ini. Isabel Allende tidak menuliskan cinta untuk memanfaatkannya sebagai bahan dramatisasi. Beliau menuliskan kisah hidup manusia, yang kebetulan cintanya tersandung takdir.

Saya suka gaya bercerita Isabel Allende yang lempeng, tidak mendramatisir suasana atau memperpanjanglebarkan kalimatnya dengan kata-kata "indah". Kematangan semacam ini malah membuat novel ini menarik.

Novel ini sarat konflik moral tapi saya suka beliau tidak menjudge karakter-karakternya. Beliau memberikan konteksnya dan mempersilakan pembaca menilai sendiri. Saya geram waktu Alma ragu-ragu menikah dengan Ichi karena takut kehilangan kemapanan sebagai orang berada. Dalam angan saya cinta itu 'berani' menghadapi apapun. Namun, melihat lagi latar belakang masa kecilnya, saya bisa memahami keputusan Alma. C'est la vie, konon kata orang Perancis. Hidup punya logika sendiri. Tak semua hal selesai dengan cinta. Karena dekatnya dengan kenyataan hidup inilah novel ini jadi punya daya hujam yang luar biasa ke ulu hati pembaca.

Kisah kehidupan Alma dan Ichi dari kecil hingga menua (80 tahun) inilah yang diceritakan di novel ini, lengkap dengan latar belakang sejarah dunianya; serbuan Nazi Jerman ke negara-negara Eropa disusul pembantaian warga Yahudi, serangan Jepang ke Pearl Harbour, kekalahan Nazi oleh front Ukraina & pendaratan sekutu di Normandia.

Tak hanya peristiwa geo-politik saja, pembaca juga disuguhi perubahan norma dan moral masyarakat dari masa ke masa; perkawinan satu ras/kelas sosial menjadi perkawinan antar ras, seksualitas yang heterogen menjadi terbuka pada homogen, perkawinan yang satu dan tak terpisahkan menjadi permisif pada perceraian dan atau berganti pasangan. Norma/moralitas ternyata subyektivitas kolektif, mungkin itu yang mau dikatakan oleh novel ini.

Namun, novel ini tidak hanya bercerita tentang Alma & Ichi saja. Nyaris semua karakternya punya kisah masing-masing yang tak kalah mengejutkannya. Irina Bazili dengan masa kanak-kanaknya yang penuh teror. Nathanael Belasco dengan rahasianya yang paling dalam, atau Samuel Mendel yang hidup kembali. Biarpun 'rame', tidak sampai merebut perhatian pembaca pada Alma & Ichi.

Ah, tentang novel ini rasanya saya hanya menemukan kebaikan dan keasyikan. Di luar cerita, penerjemahannya juga bagus. Penjilidannya kuat, tidak 'bodol' di beberapa tempat.

Yang saya juga sangat suka adalah kavernya. Kavernya sangat sederhana; bunga gardenia berlatar biru. Tanpa mengetahui jalan ceritanya, kaver ini sudah menarik buat saya. Sederhan, anggun, elegan. Apalagi setelah tahu ceritanya. Tahu apa makna bunga gardenia dan warna biru buat Alma dan Ichi. Salut berat buat desainer sampulnya!

Singkat kata, ini novel recommended banget. 5 / ***** dari saya. Saya penggemar baru Señorita Allende.

***

Pebatuan, 29 September 2020

@agnes_bemoe 

Wednesday, 23 September 2020

READ WITH EXPERT dengan RING OF FIRE

September 23, 2020 0 Comments

 



Baru dengar rencananya aja udah seneng. 


Jadi, sebuah komunitas baca yang kebetulan penggeraknya adalah alumna Teknik Geologi ITB akan mengadakan acara "Read with Expert". Mereka akan membacakan salah 1 - 2 cerita di buku RING OF FIRE (GPU) dan setelahnya akan ada penjelasan sederhana tentang fakta ilmiahnya oleh seorang dosen panas bumi. Wih, kebayang serunya penjelasannya nanti! 

Itu yang bikin senang. Ada ahli yang peduli pada kebutuhan anak untuk tahu dan paham tentang kondisi alam Indonesia secara khusus (dan bumi pada umumnya). Kondisi Indonesia yang rawan bencana karena posisi geografisnya ini butuh pengenalan dan pengetahuan yang benar dan mendalam. Dengan itu harapannya anak2 bisa meng-approach bencana dengan lebih baik. 

Harapannya lagi di masa mendatang berkurang jumlah orang dewasa yang selalu menghubungkan bencana alam dengan tulah atas suatu kaum. Lebih parahnya, yang dituduh biasanya kaum yang lebih lemah.Sudah saatnya kita memutus mata rantai ini. 

Oh ya, ngomong-ngomong, Ring of Fire berisi 5 buah cerita:
1. Rokatenda Menari (Ilustrasi oleh Audelia Agustin)
2. Ketika Pak Sinabung Batuk (Ilustrasi oleh Gery Adam)
3. Monster Air (Ilustrasi oleh Dian Ovieta)
4. Kapten Oscar (Ilustrasi oleh InnerChild Std)
5. Wedhus Gembel (Ilustrasi oleh Maman Sulaiman)

Semuanya tentang bencana alam yang kerap menimpa Indonesia terkait posisi Indonesia di jalur Cincin Api (gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan awan panas). 

Oke deh, mudah2an acaranya berlangsung lancar dan buku RING OF FIRE bisa membantu/bermanfaat.
IHS.



Pembatuan, 24 September 2020
@agnes_bemoe