Follow Us @agnes_bemoe

Monday, 25 November 2019

CERITA RESIDENSI 2019: RAMBE MANU YANG GAGAH PERKASA

November 25, 2019 0 Comments

Minggu, 17 November 2019, kami (Bapak Robert Bumma, Louis, dan saya) menuju ke Benteng Rambe Manu. Rambe Manu sebenarnya benteng pertahanan terakhir sebelum Wona Kaka menyerah. Namun, karena beberapa benteng di antara perang di Natara Koki (benteng pertama) dan Rambe Manu belum diketemukan tempatnya, kami mendahulukan Rambe Manu.



PERJALANAN DAN TOILET ALAM
Rambe Manu terletak di sisi Utara Kodi, tepatnya di Kampung Kambappa. Perjalanan ke sana sebenarnya tidak terlalu jauh dari Homba Karipit (tempat saya tinggal) hanya saja, biasa deh, jalannya… neraka! Hahaha….

Kalau saya pernah “mengeluh” karena kondisi jalan sebelumnya, maka yang kali ini saya tidak sempat mengeluh. Saya ketakutan dan kecapekan! Jalannya seperti jalan tanah yang akan diaspal tapi prosesnya baru sampai pada penanaman batu-batu besar. Nah, bukannya diratakan, batu-batu itu dibiarkan menonjol di sana sini begitu saja. Jadi, sepanjang jalan kurang lebih 3-4 kilo sepeda motor harus meliuk-liuk tajam di antara bebatuan yang rapat atau terbanting-banting di atasnya. Sebagai pembonceng, saya mengandalkan tangan saya untuk berpegangan pada jok motor. Dan itu rasanaya puegeeel banget! Saya sampai merasa mual. Bener lho, saya tidak bohong. Seumur hidup, baru sekali ini saya merasa mual naik sepeda motor… Wkwkwk….

Nah, setelah disiksa oleh jalanan cukup lama (eh, tapi, suasana di sisi-sisi jalan sendiri sebenarnya asri lho; suasana pedesaan asli dengan pepohonan yang masih rapat.) sampai juga kami di Dusun Kambappa. Kami singgah di rumah Bapak Kaka yang akan mengantarkan kami ke Benteng Rambe Manu.



Eh, sampai di dusun ini, saya kan kebelet pipis. Jadi, saya minta izin menggunakan kamar mandi. Oleh Asti (putri Bapak Kaka) saya diantar ke kebun belakang. Awalnya pikir saya kamar mandinya jauh dari rumah (ada di kebun). Trus, setelah agak jauh masuk ke dalam kebun, Asti memberhentikan saya di sebuah pohon yang guede banget. Akarnya tinggi sehingga membentuk seperti dinding seukurang setengah meter gitu. Lalu Asti mempersilakan saya buang air di situ.

Wkwkwkwkkkk… saya tuh malah geli bukannya takut atau risih. Seumur-umur, baru sekali ini saya pipis di alam terbuka seperti ini. Seru juga lho! Untung saya terbiasa membawa “peralatan perang” seperti tissue basah, tissue kering, dan sanitizer. Jadi, biarpun tidak ada air, saya tidak kesulitan membersihkan diri. Sambil pipis, saya mikir, kalau kebelet pup, trus gimana ya?

BENTENG BATU YANG GAGAH PERKASA
Oke deh, balik lagi ke Rambe Manu.



Kami berjalan kaki menuju benteng yang lokasinya tidak jauh dari situ. Saya membayangkan, di zaman dahulu, lokasi ini pastilah isinya pepohonan lebat dan liar. Sekarang ada satu dua rumah yang terlihat di sela-sela hutan bambu. Sambil jalan saya membathin dengan pahitnya, pantas benteng ini aman dari jarahan. Lokasinya memang relatif sulit ditembus. Bandingkan dengan Natara Koki yang sagat terbuka.

Kami pun sampai di mulut jalan masuk benteng. Sampai di sini, jujur, bentuk benteng Rambe Manu itu tidak kelihatan. Yang kelihatan adalah jalan menanjak tajam ke atas. Tidak ada anak tangga. Yang ada adalah akar-akaran atau bebatuan di beberapa tempat. Itulah yang akan jadi anak tangganya.

 Oke deh. Bring it on!

Dengan dibantu Asti, saya menaiki jalan masuk itu. Deuh, kesannya sepertinya saya ini suka mengeluh banget ya… hehehe… tapi jujur, medan itu terasa buerattt banget buat saya. Capek banget menaiki jalan masuk yang terjal itu. Beberapa kali saya minta berhenti karena kecapekan. Dan yang bikin “kesel”, saya sudah mau putus napas, e… warga yang mengantar saya tuh masih tenang-tenang aja. Anak-anak malah menaiki tangga dengan melompat-lompat. Aduh, Gusti!  

Setelah “jalan salib” yang lumayan bikin putus napas, sampai jugalah saya di mulut benteng. Benteng ini ternyata adalah bukit karang asli, bukan buatan tangan manusia seperti Natara Koki. Benteng ini hanya punya satu jalan masuk yakni jalan masuk yang baru saja saya naiki tadi. Sementara itu sekelilingnya adalah dinding batu karang yang sulit ditembus.

Pintu masuk ini sebenarnya semacam gua dengan mulut yang agak besar. Di dalamnya ada beberapa liang (gua kecil, mungkin anak kecil bisa masuk ke sana). Konon, dari mulut gua inilah pasukan Wona Kaka dulu menghujani pasukan Belanda dengan batu-batu karang dan balok kayu.

Di gua depan yang sepertinya berfungsi sebagai teras ini ada balai-balai kayu (sebenarnya terdiri dari jajaran batang pohon yang diletakkan di atas dudukan batu). Konon, balai-balai itu berasal dari zaman Wona Kaka. Namun demikian, hal ini tentu harus dibuktikan dulu dengan menyelidiki umur batang pohon tersebut.

Oh ya, nasib Rambe Manu lebih baik daripada Natara Koki. Pemerintah sudah menetapkan situs ini sebagai tempat yang dilindungi. Itu tadi, menurut saya sih sebenarnya, Rambe Manu melindungi dirinya sendiri karena sulitnya dijangkau. Namun, salut juga dengan perhatian pemerintah atas peninggalan sejarah ini. Semoga pemerintah juga mau memperhatikan tempat-tempat yang lain. 

Sedikit melenceng, mumpung lagi ngomongin ini: padang Pahandango Kalulla yang disebut juga Hamati To Danga, tempat pertempuran besar-besaran satu lawan satu antara pasukan Wona Kaka dan Belanda, sudah hilang. Sudah berganti menjadi jalan aspal dan areal perkampungan serta sekolah. Tidak tampak satu tugu atau prasasti apapun yang menandai bahwa itu tempat bersejarah. Kalau bukan orang yang mengerti sejarah, mereka tidak akan tahu bahwa tanah yang mereka lewati bernilai sejarah. Amat sangat sayang sekali.

Oke, balik lagi ke Rambe Manu.
Dari teras depan itu kami masuk ke semacam lorong pendek. Lalu dari situ, mulai lagi perjalanan uji nyali!
Jadi, sebenarnya kami menyisir dinding tebing karang itu. Di bawahnya jurang… hahaha… Tidak ada jalan lain selain jalan itu.

Jujur, saya tidak merasa takut. Entah kenapa. Padahal saya penakut. Hanya saja, ya itu, gerakan saya lambat dan harus dibantu (dipegangi, ditarik, dicengkiwing, dll). Kami menyisiri dinding bukit/benteng sampai ke belakang. Nah, di belakang ini ada “jalan naik” menuju ke pelataran atas. Kata “jalan naik” saya beri tanda kutip karena bukan jalan tapi dinding bukit batu berikutnya ke atas. Melihat kondisinya, saya langsung menyerah. Dinding itu benar-benar 90 derajat dengan permukaan tanah! Tidak kelihatan sedikitpun tonjolan batu yang bisa dijadikan pijakan. Saya menyerah. Ini sudah harus yang professional nih! Kalau ada apa-apa, saya malah merepotkan orang sekampung!
Jadi, saya menyerahkan kamera saya pada Louis. Saya menunggu di pertengahan dinding benteng, di sebuah pelataran yang lumayan besar, cukup untuk berpijak 3 – 4 orang.

Di atas katanya ada semacam pelataran dengan dinding batu. Dari tempat itu jugalah pasukan Wona Kaka menghujani Belanda dengan lembing-lembing tajam. Dari atas, kita bisa melihat dari kejauhan pantai/pelabukan Weekalogho (dibaca: Waikelo). Waktu tinggal di Rambe Manu, Wona Kaka mendapat pasokan mesiu dari orang-orang Ende yang ada di Weekalogho.

Sementara itu, dari pelataran kecil tempat saya menunggu, saya bisa melihat sendiri hutan lebat yang mengelilingi benteng batu karang ini. Tidak kelihatan tanah di bawahnya sehingga tidak tahu berapa jauhnya jurang di dalamnya.
Tidak berapa lama, tim yang naik ke pelataran atas turun. Saya memperhatikan dengan begidig bagaimana mereka menuruni dinding batu yang tegak lurus itu… hehehe… Lalu, kami pun sama-sama turun, melewati jalan yang kami lewati pertama tadi. Maka, dimulai lagi, saya dituntun, ditarik, ditopang, dicengkiwing, segala macem deh… hahaha….

Ketika mau masuk ke mulut lorong gua, HP saya terjatuh (kesalahan saya. Saya kantongi di jaket tanpa memikirkan bahwa saya akan pencilakan). HP itu terbanting di batu karang sehingga layarnya retak. Hikkss…. Namun, masih beruntung karena HP tidak meluncur begitu saja ke jurang.
Kata Bpk. Robert Bumma: itu sambutan dari Wona Kaka. Hehehe… iya deh, bersyukur sudah diterima dengan baik di Rambe Manu.

Setelah duduk-duduk di teras gua buat melepas lelah (terutama saya. P.S. Saya mandi keringat sementara yang lain biasa aja… deuh!) kami pun menuruni benteng.
Naiknya susah, ternyata turun juga ga gampang! Andaikan bisa merosot seperti plurutan begitu, saya memilih memerosotkan diri deh! Jalannya licin, susah banget saya mendapat pijakan batu. Asti yang membantu saya pun jadi kebingungan melihat saya. Untung banget Louis berbaik hati membantu. Dia memberi instruksi: injak yang ini, Mama. Injak itu! Jadi, dengan berpegangan kuat-kuat pada Louis, saya pun “meluncur” sesuai dengan instruksi Louis. Dan selamat sampai di bawah!

Dalam perjalanan kembali ke rumah Asti kami berhenti sebentar untuk… memetik mangga! Sekarang sedang musim mangga. Mangga melimpah ruah di Kodi. Mangga itu kami makan bersama di rumah Asti. Masih ada sekantong besar untuk dibawa bagi para Pater dan Romo di Pastoran Homba Karipit. Sip! Kami pun berpamitan pada keluarga Bpk. Kaka.

PULANG DENGAN SELAMAT
Pulangnya?

Iya, saya sudah stress berat memikirkan perjalanan pulang. Apalagi badan saya capek berat. Ternyata, Bpk. Robert memilih pulang lewat jalan lain. Dan Puji Tuhan, jalan ini jauh lebih baik. Hanya saja, ada sepotong jalan yang belum jadi. Jalan ini masih berupa tanah kapur yang belum dikeraskan, licin,  dan agak curam sehingga agak mengerikan bila dikendarai menurun. Inilah tadi yang dihindari oleh Pak Robert. Namun, di luar jalan kapur itu, jalanan yang kami lewati dalam perjalanan pulang jauuuuuh lebih halus dan rata. Syukurlah! Tak terkira leganya saya.
Hari itu adalah hari yang berat buat fisik saya tapi hati saya gembira dan excited. Oh iya, biarpun tertatih-tatih, saya mendapat pujian dari Bpk. Robert lho. Katanya, saya lebih berani daripada beberapa tamu pria yang datang ke sini. Katanya, ada tamu pria yang takut menyisiri dinding bukit setelah melihat medannya. Saya masih lebih berani, kata Pak Robert. Syukur deh… heheheh….. Btw, Bpk. Robert sampai menjuluki saya “Warat Wona” karena berani ambil bagian menyisiri sampai batasnya (biarpun tentu saja julukan ini berlebihan dan ketinggian… hihihihi…)



Itulah cerita perjalanan saya hari itu ke Benteng nan perkasa, Rambe Manu. Terima kasih pada Bpk. Robert Bumma, Louis, dan tentu saja keluarga Bpk. Kaka.

***

Homba Karipit, 25 November 2019
@agnes_bemoe

Thursday, 14 November 2019

CERITA RESIDENSI 2019: SISA-SISA KEPERKASAAN NATARA KOKI

November 14, 2019 0 Comments

Ternyata, sepeda motor Bpk. Robert Bumma, bapak yang menjadi guide saya, mengalami masalah. Makanya, sampai sepuluh hari setelah kami mengunjungi Parona Bongu tidak ada kabar dari beliau. Saya pun memutuskan ke rumah Bpk. Robert. Dan persis saya tiba sore itu, barusan saja sepeda motor Pak Robert diperbaiki dan sudah pulih keadaannya. Siipp! Maka, kamipun merencanakan untuk pergi ke tujuan berikutnya: Benteng Natara Koki.

Benteng Natara Koki: sisi Utara


KE BENTENG NATARA KOKI
Benteng Natara Koki terletak di sebelah Utara, sekitar 5 km dari Parona Tossi (Parona Tohikyo). Perjalanan ke sana… ya gitu deh… hehehe… kami melewati jalan aspal tipis berlubang-lubang besar di sana-sini. Sambil terbanting-banting di jok sepeda motor, sama mikir sendiri, seandainya saat ini saya sedang hamil, pasti langsung keguguruan nih! :D

Setelah jalan buruk yang lumayan panjang, kami pun masuk ke jalan raya yang agak halus. Masyarakat setempat biasanya menyebutnya “Jalan Pantura”. Sedikit dapat jalan halus Pantura, eeh, kami masuk lagi ke jalan buruk. Ga tanggung-tanggung, kali ini malah jalan tanah… hahaha… adudah!

Yang penting, tidak lama kemudian sampailah kami di lokasi Benteng Natara Koki. Di luar pengetahuan saya, lokasi benteng ini ternyata persis di sebelah lokasi danau wisata, Danau Weekuri.


SISA-SISA KEPERKASAAN
Yang kami dapati adalah sisa-sisa Benteng Natara Koki. Nyaris tidak tampak lagi bekasnya. Artinya, kalau orang datang ke sana begitu saja, mereka tidak akan tahu bahwa itu adalah sebuah benteng. Secara kasat mata yang terlihat adalah hamparan ladang/kebun dengan beberapa onggokan batu atau sisa tembok batu di sana sini.
Konon, bebatuan dari tembok Natara Koki habis diambili untuk pembangunan, termasuk pembangunan jalan Pantura mulus yang barusan kami lewati tadi. Ini menyebabkan benteng hanya tersisa mungkin sekitar 10% dari keseluruhannya.



Sebenarnya menyedihkan sekali ya, tempat yang begitu tinggi nilai sejarahnya, menjadi hanya seperti itu. Sedih saya….

Tapi, okelah, mudah-mudahan –entah bagaimana caranya- akan ada perhatian khusus dari pemerintah daerah.
Btw, balik lagi ke benteng bersejarah ini, Natara Koki.
Jadi, setelah Rato Loghe Kandua dan Wona Kaka menyerbu Jembatan Bondo Kodi dan menewaskan banyak pasukan Belanda, Belanda membalas dendam. Belanda melakukan bumi hangus. Sekian banyak perkampungan (parona), mulai dari Parona Bondo Kodi di dekat Jembatan Bondo Kodi sampai ke Parona Tossi dibakari oleh Belanda. Harta berharga seperti emas, mamoli, serta benda-benda pusaka dijarah. Karena pembumihangusan ini warga kampung lari mengungsi. Mereka mengungsi ke arah Utara. Di sanalah Wona Kaka menemukan tempat untuk berlindung. Maka dibangunlah sebuah benteng.

Nah, di arah Utara itu, di sebuah lokasi persis di bibir Samudera Hindia, dengan hutannya yang masih tebal dan padat inilah Wona Kaka membangun bentengnya. Karena pada dasarnya untuk tempat mengungsi sekian banyak warga kampung, maka benteng yang dibangun itu luas sekali. Kalau “dikonversikan” dengan jumlah kampung, mungkin bisa memuat 8 – 12 kampung. Saya kurang tahu persis berapa hektar lokasi benteng itu. Yang jelas, luas bangettt! Di dalam benteng yang luas itu, masih dibangun lagi beberapa benteng-benteng yang lebih kecil. Dugaannya, dahulu, satu kampung mendapat 1 benteng kecil (seukurang kampung).

Kalau bicara benteng, jangan dibayangkan seperti benteng-benteng bikinan Portugis atau Belanda. Benteng yang dibangun Wona Kaka adalah seperti benteng di area Keraton Yogyakarta, yakni berupa tembok tebal melingkari sebuah area. Hanya saja, bila yang di Yogyakarta dibangun dari batu bata, yang di Sumba dibangun dari batu karang yang besar-besar.

Kami mendapati di beberapa tempat masih ada sisa-sisa tembok benteng; di sisi Selatan (sisi jalan masuk benteng), sisi Barat, dan Utara. Di sisi Timur sepertinya benteng sudah nyaris habis. Sisi inilah yang persis bersebelahan dengan lokasi danau Wisata Danau Weekuri. Sayangnya, saya tidak bisa menyusuri semua tepian benteng. Selain karena amat sangat luasnya, juga karena semak-semak yang masih cukup tebal.

Dari empat sisi itu, sisi yang paling indah (kalau kita ke sana untuk menikmati pemandangan alam) adalah sisi Utara. Sisi Utara ini langsung berbatasan dengan Samudera Hindia. Tanpa pantai. Jadi di bawah karang-karang terjal (yang sepertinya digunakan oleh Wona Kaka untuk tembok pelindung) langsung laut samudera. Konon, di salah satu bagian di sisi Utara ini ada sebuah gua tempat pasukan Wona Kaka berlindung. Konon lagi, di gua itu masih ada benda-benda bekas peninggalan Wona Kaka. Sayang sekali, hal ini tidak bisa dikonfirmasi atau kami buktikan sendiri. Gua itu letaknya jauh di bawah karang curam. Hanya dengan cara yang profesional dan aman saja orang bisa sampai ke sana. 

Di dalam benteng kami dapati sebuah mata air. Mata air sudah ada sejak zaman Wona Kaka dahulu. Biarpun jalan masuk ke mata air ini menurun dan curam, mata airnya sendiri indah dengan air yang jernih. Di beberapa sisi, di bawah bebatuan karang, tampak ikan-ikan kecil berenang. Indah dan asyik banget kalau misalnya kita niat duduk bengong di mata air itu.

Mata Air Benteng Natara Koki

Selain mata air, kami juga menemukan sisa-sisa tempat aktivitas warga benteng zaman dulu, seperti tugu batu untuk persembahan dan tugu batu tempat menggantungkan hasil panenan. Peringatan: penjelasan setelah ini agak sadis. Bagi yang sensitif, lompati saja paragraph ini ya. “Natara Koki” sendiri artinya “tugu persembahan musuh”. Jadi, pada zaman dahulu, zaman perang suku, suku-suku yang kalah perang akan dipenggal kepalanya di sebuah meja batu. Meja itulah yang disebut sebagai “natara koki”.
Balik lagi ke bentengnya, menurut Bpk. Robert, tempat ini dulunya tidak seterbuka ini. Dulunya adalah hutan yang tebal dan lebat. Dengan hutan yang lebat di sisi Selatan, Timur, dan Barat serta Samudera Hindia di sisi Utara, Natara Koki menjadi benteng yang ideal untuk pertahanan dan persembunyian.

Sayang sekali, setelah pertempuran di Natara Koki, Wona Kaka dan pasukannya harus meninggalkan benteng itu karena dirasa sudah tidak aman lagi.

HARAPAN
Jujur, saya sedih sekali melihat kondisi benteng bersejarah ini. Entah kepada siapa ya saya harus menyampaikan ini. Benteng ini adalah benteng bersejarah. Saksi bisu beratnya perjuangan para pahlawan mempertahankan tanah pusaka. Pembangunan setiap batunya adalah moment berharga yang tidak bisa diulang lagi. Kalau sekarang kita sudah merdeka, lalu kita abaikan tempat bersejarah ini, apakah kita tidak menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih?

Kita bisa menikmati lancarnya pembangungan (termasuk membangun jalan raya dan tempat wisata) berkat kemerdekaan, yang di antaranya diperjuangkan oleh para pahlawan. Lalu, mengapa kita meremehkan peninggalan perjuangan para pahlawan itu? Apa yang kita pertanggungjawabkan kepada anak cucu kelak? Bagaimana mungkin peninggalan nenek moyang mereka ini direnggut dari mereka? Apakah mereka tidak berhak tahu dan ikut memiliki benteng ini?

Di zaman yang serba matre ini orang memang menghitung segala sesuatunya dengan dasar hitungan ekonomis. Yang dianggap tidak bernilai ekonomis, dihancurkan. Sedih sebenarnya ya pemikiran ini. Tapi begini, sebenarnya kita bisa mengambil nilai ekonomis dari benteng ini (kalau saja tidak keburu habis dijarah dan dihancurkan).

Saya pernah ke Monkey Forest di Ubud. Itu sebenarnya area hutan asli tempat monyet hidup. Nah, di hutan itu dibangun semacam jalur untuk pejalan kaki. Para pejalan kaki (pelancong) bisa menikmati hutan asli dengan para monyet sebagai “aktor” utamanya.  Kalau sudah pernah ke Monkey Forest, pasti tahu begitu berjejalnya turis internasional dan domestik menikmati suasana hutan yang sejuk dan asri, serta monyet yang lucu dan nakal itu.

Melihat “Natara Koki” saya langsung terpikir tentang Monkey Forest. Sebenarnya kosep Monkey Forest ini bisa diterapkan untuk Natara Koki; dibangun sebuah jalur menyusuri tembok-tembok benteng ini. Sambil menikmati hutan (yang tentu saja harus dibangun kembali), para pelancong bisa disuguhi tentang sejarah perjuangan Wona Kaka. Tracking ini bisa memanfaatkan sisi Utara yang memang secara alam tampak indah. Area wisata budaya ini pada akhirnya bisa bekerja sama dengan wisata alam Danau Weekuri di sebelahnya. Hanya membangun lokasi wisata Danau Weekuri dan mengabaikan Natara Koki menunjukkan betapa dangkalnya pengetahuan dan penghargaan kita terhadap sejarah bangsa. Saya kurang mengerti, kualitas bangsa yang bagaimana yang hendak dibangun kalau kita mengabaikan sejarah.

Maaf kalau saya agak nyolot. Jujur, sedih, gemas, cenderung geram, melihat begitu minimnya perhatian dan penghargaan terhadap situs sejarah ini. Bagaimana masyarakat luas (dalam hal ini nasional) mau menghargai Wona Kaka, kalau kita sendiri abai terhadap peninggalannya? Mudah-mudahan pemerintah daerah mau lebih berusaha keras untuk menyelamatkan situs sejarah ini.

Baiklah, itulah hasil perjalanan saya hari itu bersama Bpk. Robert Bumma dan Louis (yang menjadi supir ojek saya) ke Benteng Natara Koki. Hari itu kami masih mampir ke rumah Raja Hermanus Rangga Horo (RIP), raja terakhir Kerajaan Kodi. Namun, itu saya ceritakan di artikel tersendiri ya.



***

Homba Karipit, 11 November 2019
@agnes_bemoe






Friday, 8 November 2019

CERITA RESIDENSI 2019: MENYUSUR JEJAK SANG PAHLAWAN

November 08, 2019 0 Comments

29 OKTOBER 2019: MENGUNJUNGI KAMPUNG BONGU, JEMBATAN BONDO KODI, DAN PARONA TOSSI

Di Parona Tossi atau dahulu disebut Parona Tohikyo. Dengan Bapak Rato Marapu. 


Perjalanan hari ini agak panjang karena mengunjungi banyak tempat.

Tujuannya semula adalah Kampung Bongu saja, kampung kelahiran Wona Kaka dan sekaligus tempat beliau disemayamkan. Namun, dalam perjalanan, Bpk. Robert Bammu sebagai penunjuk jalan menyarankan lebih baik dijalani sekaligus Jembatan Bondo Kodi dan Parona Tossi karena relatif dekat.

Kami bertiga (dengan Louis, yang membonceng saya) naik sepeda motor menuju Kampung Bongu, ke arah Selatan Kodi.

Setelah berjalan agak 20 menit, kami meninggalkan jalan aspal (yang sebenarnya juga bukan aspal mulus), menuju ke jalan tanah. Aduh dah, serem jalannya… (buat saya)… hehehe….

Di satu bagian kami harus melewati jalan turun yang agak curam lalu langsung naik lagi dengan kecuraman yang sama. Waktu pulang baru saya ngeh, itu sebenarnya dasar sungai yang kering. Saya menduga seperti itu karena di sebelahnya persis sedang dibangun sebuah jembatan.
Tidak terlalu jauh dari sungai kering itu, setelah sedikit bertanya-tanya (karena kondisi sudah berubah dari terakhir kali Bpk. Robert ke sini), kami pun sampai di Kampung Bongu.

KAMPUNG BONGU

Parona Bongu

Baiklah, inilah Kampung Bongu, kampung kelahiran Wona Kaka, sekaligus tempat Wona Kaka disemayamkan.  
Kampung ini seperti kampung tradisional Sumba lainnya terdiri dari beberapa buah rumah (6 – 12 rumah) yang dibangun berkelliling. Salah satu dari rumah itu adalah rumah tinggal Wona Kaka. Bentuknya sudah sangat tua namun tiang-tiang di dalamnya masih kelihatan kokoh.
Kampung Besar Bongu ini saat ini tidak didiami sehari-hari. Namun, setiap Hari Raya Tahun Baru (Hari Raya Nale (dibaca “Nyale”, sekitar Februari-Maret) kampung besar ini akan didatangi segenap sanak keluarga. Mereka akan berdoa, makan, dan tidur di sana.

Setelah melihat-lihat rumah Wona Kaka, kami jalan turun sedikit, melihat makam Wona Kaka.
Biarpun jauh lebih baik daripada makam Warat Wona, makam pahlawan Perang Kodi ini amat sangat sederhana. Hanya dibeton semen.

Setelah ditangkap oleh Belanda dengan cara licik, Wona Kaka dipindahkan ke beberapa tempat, seperti Kupang, Nusa Kambangan, dan Sawah Lunto. Mengenai meninggalnya Wona Kaka sendiri, ada beberapa versi yang saya dengar.
Pertama, ada yang meyakini Wona Kaka meninggal di dalam tambang batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat. Kedua, Wona Kaka meninggal dalam pembuangan di Nusa Kambangan. Namun, untuk dua versi ini jasad Wona Kaka tidak pernah ditemukan.

Tidak ada catatan kapan persisnya Wona Kaka meninggal. Yang jelas, Wona Kaka tidak pernah kembali lagi ke Kampung Bongu setelah ditangkap Belanda. Keluarganya lalu menguburkan rambut Wona Kaka sebagai ganti seluruh jenazahnya. Bersama rambut Wona Kaka ini dikuburkan pula tulang belulang Warat Wona, istri Wona Kaka.

JEMBATAN BONDO KODI DAN KAMPUNG BESAR BONDO KODI

Parona Bondo Kodi


Nah, karena Pak Robert Bammu memutuskan untuk sekalian meninjau Jembatan Bondo Kodi (dan saya pun setuju), maka dari Kampung Bongu kami menuju ke Selatan lagi, ke lokasi Jembatan Bondo Kodi.

Jembatan Bondo Kodi ini bisa dibilang sama dengan Jembatan Merah-nya Surabaya. Di jembatan inilah pasukan Wona Kaka bertempur mati-matian melawan Belanda. Pertempuran Jembatan Bondo Kodi ini adalah pertempuran pertama Kodi melawan Belanda. Pertempuran ini dipicu oleh kekejaman Belanda terhadap rakyat dan raja Kodi. Belanda memaksa rakyat Kodi untuk bekerja rodi. Tidak hanya rakyat kebanyakan, para bangsawan dan rato yang sedang berkuasa pun dipaksa untuk ikut kerja rodi. Selain itu pasukan Belanda juga melakukan kekejian terhadap perempuan Kodi.

Jembatan Bondo Kodi sendiri melintang di atas Sungai Bondo Kodi, sebuah sungai yang dekat dengan laut sehingga menjadi semacam muara). Sayang sekali, tidak ada catatan persis mengenai tanggal peristiwa Jembatan Bondo Kodi. Yang jelas, Perang Kodi sendiri mulai tahun 1911.
Dari jembatan Bondo Kodi ini kami naik sedikit ke atas. Di sanalah terletak Kampung Besar Bondo Kodi, kampung yang dibakar Belanda sebagai pembalasan atas serangan Wona Kaka ke jembatan Bondo Kodi.

Sama seperti Kampung Besar Bongu, Kampung Besar Bondo Kodi juga tidak didiami sehari-hari. Hanya pada saat hari besar saja para sanak keluarga datang dan menginap di sana.

PARONA TOSSI
Dari Jembatan Bondo Kodi, kamu meluncur lagi menuju ke Parona Tossi. Parona Tossi adalah kediaman Rato Loghe Kandua, raja Kodi yang gigih menentang Belanda dan memilih membela rakyatnya daripada bekerja sama dengan Belanda. Catatan, Parona Tossi ini dulunya disebut Parona Tokihiyo.

Di dekat Parona Tossi –sebelum sampai Parona Tossi- kami melewati padang untuk acara Pasola. Ada dua padang besar yang kami lewati. Semuanya ini terletak tidak jauh dari pantai. Ini karena acara Pasola sendiri selalu diawali dengan kegiatan mencari Nale di pantai serta doa-doa dari Rato Marapu. Padang Pasola itu bernama Bondo Kawango.
Di seberang padang Pasola, di sisi yang menjauhi pantai, terdapat sederetan kampung. Nah, pada zaman perang dengan Belanda dulu, Belanda menerapkan taktik bumi hangus. Jadi sederetan kampung hampir sepanjang 2 – 3  km sampai ke Parona Tossi habis dibakar oleh Belanda.  Ini akibat keputusan Rato Loghe Kandua untuk menolak bekerja sama dengan Belanda dan menjadi kaki tangan Belanda.
Di ujung perkampungan itu terletaklah Parona Tossi.
Parona Tossi secara fisik tidak beda jauh dari kampung besar-kampung besar lain yang sudah saya lihat; terdiri dari beberapa rumah dengan area kosong di tengah untuk upacara dan pemotongan hewan, serta dikelilingi kubur-kubur batu.

Setelah bertemu dengan keluarga yang tinggal di sana kami menunju ke makam Rato Loghe Kandua.
Rato Loghe Kandua sendiri wafat di Mamboro. Setelah ditangkap Belanda, beliau dibawa ke Mamboro. Dikatakan bahwa sepanjang perjalanan Kodi ke Mamboro beliau menerima siksaan yang luar biasa. Sampai di Mamboro, Rato melakukan mogok makan walaupun kondisi beliau sendiri sudah sangat mengenaskan. Beliau bertekad untuk tidak mau makan dan minum karena mengingat penderitaan rakyatnya. Di Mamboro inilah Rato Loghe Kandua wafat.
Setelahnya, -sayangnya tidak ada catatan pasti tentang tanggal dan tahunnya- keluarga memindahkan tulang belulang Rato dan menguburkannya kembali di Parona Tossi. Di samping kubur batu Rato Loghe Kandua diletakkan juga ‘ancik-ancikan’ terbuat dari batu, mirip seperti meja kecil. Benda ini digunakan oleh Rato untuk menaiki kudanya dulu semasa hidupnya.

Saya melakukan semacam ritual yaitu meletakkan sirih pinang dan persembahan dengan didampingi oleh Rato Marapu di kubur Rato Loghe Kandua.
Lalu, dari komplek kubur batu ini kami kembali ke area perumahan. Kami melewati semacam gerbang yang dibuat dari batu-batu alam. Gerbang inilah tempat lewat kuda-kuda yang akan ikut dalam Pasola.
Setelah dari makam, saya (kami) duduk sebentar untuk menerima semacam berkat dari Rato Marapu. Kami didoakan dan diperciki air. Amin deh. Semoga kegiatan penelitian saya berjalan lancar. Semoga tradisi dan budaya di Sumba ini bertahan lebih lama daripada selama-lamanya.
Setelah itu kami pamit pulang.

Suwer, terasa capek juga biarpun hari masih menunjukkan jam 11-an. Mungkin karena berkendara dengan sepeda motor dengan medan yang lumayan. Dan juga mungkin karena matahari Kodi yang ga segan-segan memancarkan panasnya… hehehe….

Tapi percayalah, semua itu tidak sebanding dengan kegembiraan, excitement, dan kekayaan ilmu yang saya dapatkan selama perjalanan hari itu.
Terima kasih semuanya. Terima kasih Tuhan.

***

Homba Karipit, 8 November 2019
@agnes_bemoe


Tuesday, 29 October 2019

CERITA RESIDENSI 2019: KE RUMAH IBU MARTHA D. GABI

October 29, 2019 0 Comments


Sore hari di hari Senin, 28 Oktober 2019, saya mengunjungi Ibu Martha Dada Gabi. Ibu Martha adalah istri mendiang Bpk. Gregorius G. Kaka. Bpk. Gregorius ini adalah seorang pendidik dan budayawan Sumba (beliau lebih sering disebut “Bapak Goris”).

Selain menghabiskan waktunya sebagai pendidik di SMP Katolik Wona Kaka Homba Karipit (beliau adalah kepala sekolah), Bapak Goris juga adalah penulis buku sejarah perjuangan Wona Kaka. Menurut Ibu Martha, Bapak Goris menyusuri kehidupan Wona Kaka ini selama hampir sepuluh tahun. Mendiang benar-benar melakukan napak tilas dan menemui orang-orang yang masih mengingat/mengenal Wona Kaka secara pribadi. Catatan itu dikumpulkan kemudian dibukukan. “Dibukukan” di sini maksudnya adalah diketik manual lalu dijilid. Amat sangat sederhana.
Namun demikian, buku yang amat sangat sederhana itu sebenarnya adalah harta karun yang sangat berharga. Saya rasa, itulah satu-satunya tinggalan tertulis tentang Wona Kaka, pahlawan Perang Kodi.

Mengingat minatnya yang begitu besar terhadap sejarah, saya kira mendiang Bpk. Goris dulunya studi Sejarah. Ternyata, beliau jebolan Padepokan Tari Bagong Kusudiarjo Yogyakarta. Ya, Bapak Goris juga adalah seorang penari yang handal. Tidak hanya itu saja, beliau juga penggubah lagu. “Mars Wona Kaka” adalah salah satu lagu hasil ciptaan beliau. Belum lagi sejumlah lagu rohani. Beliau juga penerjemah Kitab Suci ke dalam Bahasa Kodi.
Dengan segudang prestasinya itu tidak heran kalau beliau dianugerahi gelar “Budayawan Sumba” oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Sayang sekali, beliau berpulang tahun 2005, persis 10 hari setelah beliau berulang tahun ke-60, karena sakit mendadak.

Ketika sedang mencari referensi tentang Warat Wona dan Wona Kaka inilah saya diberitahu tentang nama beliau.
Sore itu saya ditemui oleh istri mendiang, Ibu Martha D. Gabi. Ibu Martha menerima saya dengan baik sekali. Siangnya sebenarnya saya sudah menemui beliau di tempat kerja beliau di SD Katolik Homba Karipit (ya, beliau masih mengajar di usianya yang ke-71. Ini adalah keinginan beliau sendiri karena beliau ingin ada kesibukan). Saya sudah menyampaikan keinginan saya untuk menggali tentang Warat Wona dan Wona Kaka.

Nah, ternyata, beliau sudah mencarikan beberapa topik di buku hasil karya suaminya. Aduh… saya jadi segan sendiri. Ini berarti beliau meluangkan waktu untuk membaca kembali dan mencari informasi yang saya butuhkan. Padahal pikir saya, biar saya cari sendiri saja informasi itu.
Tidak hanya mencarikan, beliau juga dengan baik hatinya bersedia meminjamkan buku hasil karya suaminya itu kepada saya. Yeay!

Ibu Martha sendiri adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan. Suaranya masih jelas dan tegas. Ingatannya masih tajam.  Beliau punya topik pembicaraan yang tak terbatas. Beliau juga adalah seorang penari. Pada kesempatan itu beliau mengajarkan beberapa gerakan tarian Kodi kepada saya. Saya pun minta kalau ada pengajaran tari lagi, saya diajak.

Sore itu saya memutuskan untuk tidak menjadi peneliti… hehehe… saya letakkan bolpen dan notes saya. Saya mau ngobrol saja dengan ibu yang baik ini. Saya senang bertemu dengan sosok yang ramah ini sehingga saya tidak mau merusaknya menjadi semacam waktu pengumpulan data saja.

Setelah mengobrol lama, sambil minum teh dan makan kue, saya mohon pamit. Beliau membawakan saya buah mangga dari kebunnya, pisang, dan kue nagasari.

Dan, ketika pulang, beliau memutuskan untuk mengantarkan saya … sampai di Pastoran! Aduuuh! Mau menolak (karena pasti kesannya saya kurang ajar banget) tapi beliau sepertinya merasa senang berjalan sambil mengantarkan saya.

Jadilah, sore itu adalah sore yang istimewa, dimana saya ditemani dan diantar pulang oleh seorang ibu yang ramah dan baik hati, Ibu Martha D. Gabi. Sehat-sehat selalu ya, Ibu, semoga lain waktu kita bisa bertemu kembali, dan di waktu itu saya sudah bisa memberikan hasil penelitian saya di Kodi ini.

***

Homba Karipit, 28 Oktober 2019
@agnes_bemoe


CERITA RESIDENSI 2019: GALLU KAREWET - PEJUANG YANG SENDIRI

October 29, 2019 0 Comments


Senin, 28 Oktober 2019, saya bersama dengan Bapak Robertus Deta Bammu pergi ke makam Warat Wona di Gallu Karewet.



Desa Gallu Karewet ternyata sangat dekat dengan Pastoran Homba Karipit, tempat saya tinggal. Kata Pak Robert, jaraknya sekitar 1 km. Kami berdua pergi dengan berjalan kaki saja.  Sebenarnya saya agak keder juga mengingat kondisi pinggang saya yang renta ini. Tapi Pak Robert memastikan bahwa kami akan berjalan pelan-pelan, mengikuti kemampuan saya (duhh, malunya, sampai segitunya. :D )

Kami melewati sebuah kampung bernama Gallu Wawi. Ini perkampungan yang separuh asli. Jadi, kampung ini terdiri dari 8 – 12 rumah yang dibangun melingkar. Rumah-rumah ini sebagian terbuat dari bambu dan atap rumbia, sebagian lagi terbuat dari batu. Menurut Pak Robert, seperti inilah bentuk kampung asli orang Sumba, memang dibuat melingkar. Ini supaya kalau ada serangan dari suku lain (ketika masih masa perang suku), warga kampung mudah mengkoordinir.



Di tengah-tengah rumah ini ada lokasi kubur dengan kuburan batu yang besar-besar. Sayangnya, kubur batu yang asli sudah dirubuhkan, diganti dengan kubur dari semen. Menurut saya sayang sih, biarpun sama besarnya.

Nah, setelah kampung Gallu Wawi, kami masuk ke kampung Gallu Karewet.

Oh iya, perjalanan ini biarpun jauh menurut saya, tapi karena pemandangannya hijau dan segar, saya tidak terlalu merasa capek. Sekeliling kami adalah pepohonan besar-besar. Di beberapa tempat ada segerumbulan pohon jambu mete. Kata Pak Robert, jambu mete adalah komoditi andalan warga Kodi.



Sampai di Gallu Karewet, setelah Pak Robert mencari-cari sebentar, akhirnya kami menemukan makam Warat Wona. 

Itu sebuah makam yang amat sangat sederhana. Terlalu sederhana, mengingat beliau adalah pahlawan perjuangan melawan penjajah Belanda (lewat VOC). Makam itu berbentuk semenan beton berkeliling. Diperkirakan Warat Wona meninggal tahun 1912 ketika sedang bergerilya bersama suaminya. Warat Wona wafat ditembak tentara Belanda.

Tahun 2012 tulang belulang Warat Wona sebenarnya sudah diangkat dan dipindahkan ke makam Wona Kaka di desa Bongu. Namun demikian, warga Gallu Karewet masih berkeras bahwa Warat Wona tidak pindah, beliau masih ada di makam di desa tersebut. Makam sederhana itu masih dijaga sampai sekarang.

Ketika Wona Kaka menguburkan istrinya dulu ia berpesan pada seorang warga Gallu Karewet bernama Muda Lewa untuk menjaga makam Warat Wona. Sampai sekarang, keturunan Muda Lewa yang masih setia menjaga makam tersebut.

Kami tidak lama berada di makam Warat Wona, setelah mengambil beberapa foto dan berdoa, kami pulang kembali ke Homba Karipit.

Sambil menikmati pemandangan kampung yang indah dan asri, saya tuh mikir, kenapa ya pemerintah tidak turun tangan dalam hal ini. Ini adalah sosok pejuang yang merelakan nyawanya bagi Indonesia sehingga menjadi seperti sekarang ini.



Jujur, sedih saya melihat kondisi makam itu.

Oh iya, konon, dulunya makam tersebut tidak punya tanda sama sekali. Tidak berbentuk makam, hanya onggokan batu-batu sungai sebagai penanda. Lalu, atas inisiatif SMP Katolik Wona Kaka di Homba Karipit, dibangunlah lingkaran beton untuk menandai makam.  

Kembali lagi, apakah pemerintah tidak merasa perlu merawat dan menjaga makam ini? Paling tidak, itu adalah ucapan terima kasih kita yang sudah menikmati enaknya merdeka dari penjajah Belanda. Kemerdekaan itu minta korban, termasuk salah satunya nyawa Ibu Warat Wona, penjuang perempuan yang tewas di ujung bedil Belanda.

Masih terngiang kata-kata Bpk. Robert Bammu: penjajah yang sama yang dilawan, bangsa yang sama yang dibela, dan sama-sama meregang nyawa karena perjuangan ini, kenapa yang itu pahlawan, yang ini bukan?

Saya tidak tahu harus menjawab apa.

***

Homba Karipit, 28 Oktober 2019
@agnes_bemoe

Sunday, 27 October 2019

CERITA RESIDENSI 2019: BERANGKAT KE KODI

October 27, 2019 0 Comments

Jadi, setelah pembicaraan dengan Romo Christo Ngasi, Pr. dari Kodi, disepakati bahwa saya akan berangkat ke Kodi hari Jumat.

Pastoran Santa Maria Assumpta Homba Karipit, Kodi, Sumba Barat Daya

Oh ya, Romo Christo Ngasi, Pr. adalah yang saya mintai tolong untuk menghubungkan dengan para budayawan/nara sumber di Kodi. Beliau juga seorang penulis. Beliau pernah menerbitkan sebuah novel bertema budaya Loura, Sumba Barat Daya, berjudul Matta Liku. Saya sudah baca novelnya dan ceritanya mencekam… hehehe…. Resensi saya tentang novel ini bisa dibaca di sini.

Jadi, sebelum berpanjang lebar, saya berterima kasih sekali kepada Romo Christo –biasa dipanggil Romo/Pater Isto- atas kesediaannya membantu saya dalam riset tentang Warat Wona dan Wona Kaka ini. Di tengah kesibukannya (saya lihat sendiri Pater Isto 'pontang-panting' karena kesibukannya), Pater Isto bersedia meluangkan waktunya buat saya. Sangat saya hargai hal itu.  

Hari Jumat pagi saya bersiap-siap karena rencananya akan berangkat Pk. 11.00 WITA. Lalu, drama terjadi. 

Keberangkatan molor 1 jam, lalu 1 jam lagi. Haduuuh, bête deh saya. Telat sampai 2 jam tanpa tahu kepastian akan berangkat jam berapa atau malah jadi berangkat atau tidak.

Long story short, akhirnya berangkat juga. Perjalanan hanya makan waktu… 30 menit… hahaha! Ga sebanding dengan nunggunya! Dengan kondisi seperti ini menurut saya biaya sewa mobil di Sumba Barat Daya amat sangat mahal. Bayangkan, kita harus menunggu sampai 2 jam. Perjalanan ke sana juga tidak menggunakan AC padahal udara SBD tuh gerahnya minta ampun. Belum lagi beberapa hal lain yang membuat bingung. Singkatnya, berasa banget kalau saya “numpang”. Nasib dah. Mudah-mudahan selanjutnya saya ga ketemu lagi yang seperti ini.

Namun demikian, semua itu seperti terbayar lunas dengan kondisi di Desa Homba Karipit, Kodi.

Pagi di Homba Karipit


Saya kan menginap di Pastoran Paroki St. Maria Assumpta di Homba Karipit. P.S Saya orang “asing” ketiga yang melakukan penelitian yang menginap di pastoran; pertama seorang dokter yang melakukan penelitian tentang malaria, kedua seorang sutradara yang membuat film pendek tentang Human Trafficking, yang ketiga saya.

Suasananya di sini, di desa Homba Karipit ini bener-bener desa deh! Ga bising, di sekeliling pastoran masih banyak pepohonan dan hewan peliharaan (ayam, anjing, babi). Orang-orangnya ramaaaah banget! Yang terakhir ini yang sudah sangat langka di belahan lain Indonesia. Mudah-mudahan ini bertahan ya.



Saya mendapat sebuah kamar yang cukup besar dengan dua buah tempat tidur, yang satu berkelambu. Saya perhatikan, tidak ada kipas angin. Saya sudah cemas nih. Segini gerahnya (Kodi juga puanaas!), gimana kalo ga ada kipas ya? Eh ternyata, ga gerah-gerah amat. Mungkin karena ada dua buah jendela terbuka lebar, dan jendela itu langsung menghadap kebun belakang yang maha luas. Jadi angin sangat berlimpah ruah. Belum lagi langit-langit yang tinggi membuat udara tersirkulasi dengan baik. Sipp! Ga masalah dah! Dan bener, malamnya, saya tidur dengan super nyenyak di tempat tidur berkelambu saya.

Tomat di Kebun Pastoran


Pagi ini saya bangun dengan disuguhi udara pagi yang sejuk, udara bersih, suasana yang hening, sinar matahari pagi yang perlahan muncul, dan secangkir teh jahe yang lezat.
Puji Tuhan!

Hari ini (sekitar sore) rencananya saya, dengan diantar oleh Romo Isto, akan menemui seorang narasumber. Mudah-mudahan semuanya lancar ya.



***

Homba Karipit, 26 Oktober 2019
@agnes_bemoe

Wednesday, 23 October 2019

CERITA RESIDENSI 2019: KENAPA SUMBA, KENAPA WARAT WONA

October 23, 2019 0 Comments

Kenapa tak memilih residensi di luar negeri? Kenapa kok dalam negeri? Kan enakan di luar negeri.
Trus, kok Sumba? Tanggung “pulang kampung”, mbok sekalian Flores, kampung asli saya.
Tidak banyak sih, tapi ada juga yang bertanya begitu.



Kenapa saya memilih Pulau Sumba?
Jujur sih, sudah lama saya ingin ke pulau ini. Yang mengikuti status-status saya (cieee… sok banget yah, sampe ada yang mengikuti status… wkwkwk… maafkan… >,<) pasti tahu, tidak sekali dua kali saya merengek pada Tuhan YME supaya saya bisa melihat lagi pulau yang satu ini.

Pulau Sumba punya arti tersendiri buat saya, nyaris setara dengan pulau Flores yang adalah tanah nenek moyang saya. Kalau mau lebay, tidak ada satupun spot di luar negeri yang bisa menandingi berartinya Pulau Sumba buat saya.

Nah, tentu saja, residensi bukan untuk alasan sentimental seperti itu, ‘kan?

Maka, alasan berikutnya adalah karena sebelum mendaftar residensi saya membuat satu tulisan tentang pejuang Kodi (Sumba Barat Daya) bernama Wona Kaka. Wona Kaka adalah panglima perang Rato Loghe Kandua, raja Kodi. Wona Kaka dan Perang Kodi (1911-1913) adalah perang besar terakhir sebelum Pulau Sumba jatuh ke tangan VOC. 




Selagi menulis tentang panglima perang kerajaan Kodi ini saya mendapati bahwa ternyata dalam pasukan Wona Kaka ada sebarisan pejuang perempuan. Termasuk di dalamnya yang paling gigih adalah Warat Wona yang kebetulan istri Wona Kaka.

Permasalahan klise penulis adalah riset, ‘kan? Biarpun relatif tersebar di internet, saya merasa sangat membutuhkan informasi yang lebih mendalam tentang Wona Kaka dan Warat Wona ini. Informasi dari internet sangat membantu sih tapi tetap ada hal-hal yang tidak terwakili oleh internet seperti nuansa atau atmosfernya.

Jadi, ketika ada program Residensi Penulis 2019, saya mendaftar, dan yang saya ajukan adalah tentang penjuang perempuan Warat Wona ini. Ini sebenarnya semacam “continuity” dari tulisan saya tentang Wona Kaka. Melalui kesempatan riset di program residensi ini saya berharap bisa menggali lebih dalam dan membuat tulisan yang lebih menyeluruh dibandingkan ketika saya menulis tentang Wona Kaka.

Alasan lainnya adalah, saya menduga, tidak banyak orang tahu tentang peranan pejuang perempuan dalam perang melawan Belanda di pulau Sumba ini. Saya berharap, melalui program residensi ini, saya bisa meneruskan cerita yang mungkin nyaris terputus kalau tidak segera didokumentasikan dan diperkenalkan.  

Puji Tuhan, aplikasi residensi saya diluluskan. Jadilah saya ke Pulau Sumba, pulau impian saya, dan menulis tentang Warat Wona, pejuang perempuan Tanah Sumba.
Doakan semoga residensi saya lancar dan saya bisa membuat tulisan yang bagus nantinya ya. Terima kasih.


***

Waitabula, 23 Oktober 2019
@agnes_bemoe

Baca juga: Cerita Residensi 2019: Pulang Kampung