Follow Us @agnes_bemoe

Tuesday, 17 September 2019

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: BELAJAR MENGHARGAI DARI KACAMATA SID

September 17, 2019 0 Comments


Judul                     : The Tree Boy
Pengarang              : Srividhya Venkat
Illustrator              : Nayantara Surendranath
Diproduksi oleh      : Pickle Yolk Books
Tahun Terbit          : 2018
ISBN                      : 978-93-5267-814-3

Dari sejumlah picture book yang saya beli di AFCC 2019 lalu, mungkin ini adalah yang least favorite. Maaf. Saya kesulitan menikmati ceritanya. Kemungkinan besar ada perbedaan selera dan gaya bercerita. Namun demikian, saya mendapati pelajaran yang sangat berguna buat saya melalui buku ini: sebaiknya kita tidak mengecilkan orang lain bagaimanapun kondisi orang itu. Belajarlah untuk berada dalam “sepatunya”. Menghargai orang lain tanpa membeda-bedakan, itulah pelajaran besar yang saya dapat dari buku ini.

Biarpun saya kurang bisa menikmati ceritanya, saya salut dan terkagum-kagum akan ilustrasinya. Ilustrasi inilah saya rasa bagian terbaik dari buku ini. Saya malah membolak-balik buku ini untuk menikmati ilustrasinya dan bukan membaca ceritanya.





***

Pebatuan, 18 September 2019
@agnes_bemoe

Sunday, 15 September 2019

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: MAEVE MELAWAN KANKER

September 15, 2019 0 Comments

Judul                     : Brave Maeve
Pengarang          : Joanne Poon
Illustrator            : Liew Hooi Yin
Penerbit              : Landmark Books Pte Ltd
Tahun Terbit      : 2013
ISBN                      : 978-981-4189-43-9


Tersebutlah kisah seorang gadis kecil bernama Maeve. Dia tidak berbeda dengan teman-temannya. Hanya saja dia mempunyai semacam “batu” di dalam tubuhnya. Batu itu tumbuh dan berkembang membuat Maeve merasa kesakitan. Biarpun batu itu akhirnya dibuang, tumbuh lagi “anak-anak batu” di dalam tubuh Maeve.

Buku ini berkisah tentang perjuangan Maeve memahami, menerima, dan kemudian berusaha melawan penyakit kanker yang ada dalam dirinya. Catatan, kisah Maeve ini berdasarkan kisah nyata, yakni kisah putri penulisnya sendiri.

Lagi-lagi, topik tokoh dengan penyakit berat adalah topik yang tidak mudah. Saya berterima kasih pada penulisnya yang bersedia membagikan cerita tentang puterinya ini. Pasti amat sangat tidak mudah melakukannya. Tidak hanya “sekedar” berbagi, penulis mampu menyajikan cerita yang indah, manis, tidak mendramatisir suasana, dan yang terpenting aura positifnya terasa sekali. Penulis sungguh menghargai dan mencintai tokohnya, yang kebetulan puterinya, dengan penggambaran karakter yang apa adanya namun tabah dan tangguh. Sungguh luar biasa!

Saya juga menghargai pilihan penulis menggunakan “batu” untuk menggambarkan sel-sel kanker. Saya termasuk yang lebih setuju buku-buku semacam ini bukan menjadi buku yang informatif (kognitif) tetapi afektif. Lebih baik pembaca kecil menangkap nuansanya dan mampu menempatkan diri dalam sudut pandang penderita daripada dia hanya tahu dan hafal dengan persis apa itu penyakit kanker tapi gagal ikut merasakan penderitaan temannya.

Penulis juga menggunakan perumpamaan untuk menggambarkan proses kemoterapi, yang mana menurut saya dari sudut pandang membuat cerita ini menjadi segar dan punya jiwa. Auranya yang positif dan optimis adalah hal yang harus digarisbawahi, di-highlight, dan ditebalkan dari buku ini. Itulah kelebihan utama buku ini. Walaupun demikian, secara umum, ini adalah buku yang bagus sekali untuk mulai memperkenalkan anak-anak kita –baik yang terkena kanker ataupun tidak- tentang penyakit yang sekarang semakin ganas menghinggapi manusia ini.  

Untuk ilustrasinya sendiri, menurut selera pribadi saya, good but not great. Saya hargai ilustrator mampu menggambarkan proses-proses medis dengan sederhana dan tepat.

Akhirnya, saya rekomendasikan buku ini untuk orangtua, guru, dan terutama anak-anak untuk membacanya. Semoga pengalaman bersama Maeve yang pemberani ini membuat kita mampu memahami perjuangan kita juga.

***

Pebatuan, 16 September 2019
@agnes_bemoe

PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT REKREASI

September 15, 2019 0 Comments
Saya dan KOPRAL JONO
di depan National Library Building Singapura, AFCC 2019

Pasti di Indonesia juga ada. Saya aja yang ga tau.

Event AFCC Singapura kemarin kan (5-8 September 2019) venue-nya di National Library Building. Saya tuh terheran-heran melihat cairnya suasana perpustakaan ini (ncen ndesit). Kayak mall aja.

Orangtua membawa anak-anaknya ke ruang baca anak-anak. Di sana anak-anak baca buku dengan bebas atau ikut dalam pembacaan cerita. Ortunya dengan sabar nungguin.

Di bagian lain ada sejumlah opa-oma, duduk di depan layar komputer. Mereka baca koran. Konon, mereka rutin ke perpustakaan untuk baca koran digital.

Ada juga pasangan remaja. Biasa deh, duduknya dempetan dan share headset gitu. Tapi masing-masing baca buku.

Dan tentu saja beberapa jenis orang yang random, yang semuanya sepertinya menikmati sekali datang ke perpustakaan baca buku.

Saya intip buku-bukunya (terutama buku anak) memang keren-keren. Buku-buku novel klasik maupun terkini ada semua. Picture book-nya juga asyik-asyik. 


Tempat duduk pun banyak disediakan. Tempat duduknya nyaman berbentuk sofa. Ruang bacanya juga luas.

Dan, kayaknya, petugasnya nyaris tak kelihatan. Selain security di lantai 1, sepertinya minim petugas. Mungkin para pembacanya ini bisa dipercaya dengan buku-buku ini ya? Atau, kamera CCTV? 😃

Di Indonesia, saya sempat menikmati perpustakaan itu di perpustakaan SD (Santa Maria Blitar dan Sang Timur Pasuruan) dan Ruang Baca IKIP Sanata Darma (sekarang univ.). Itulah tempat2 saya ke perpustakaan untuk rekreasi bukan cari referensi.

Perpustakaan paling serem adalah sebuah perpustakaan yang tidak boleh disebutkan namanya. Daftarnya pun harus lewat surat RT/RW! Bah! KTP ga cukup 😃

Lalu, pengunjung tak boleh bawa tas dll. Jadi dompet, laptop, dll harus digotong pakai tangan. Ribet.

Itu belum seberapa dengan buku-buku koleksinya. Mumet saya membaca judul-judulnya! 😃

Mudah2an akan lebih banyak perpustakaan di Indonesia yang bisa jadi tempat rekreasi. Membaca jadi kegiatan rekreatif harian. Amin.


***

Pebatuan, 15 September 2019
@agnes_bemoe

BOOK THROUGH MY EYES: MEMBICARAKAN MASALAH PELECEHAN SEKSUAL DALAM BUKU

September 15, 2019 0 Comments



Judul                     : Jun and the Octopus
Pengarang          : Ekkers
Illustrator            : Lim An-ling
Penerbit              : Singapore Children’s Society
Tahun Terbit      : 2019
ISBN                      : 978-981-14-1502-9

Jun adalah seorang anak laki-laki yang tinggal bersama orangtuanya di sebuah kampung di tepi pantai. Jun ingin sekali bisa berenang seperti teman-temannya. Sayangnya, orangtuanya terlalu sibuk untuk mengajarinya. Saat itulah Paman Mok –orang yang sering membantu keluarganya- menawarkan bantuan untuk mengajari Jun berenang. Tak dinyana pelajaran berenang dengan Paman Mok ternyata berubah menjadi pengalaman paling tidak menyenangkan dalam hidup Jun.

Buku ini menceritakan kekalutan, ketakutan, dan perjuangan Jun menghadapi pengalaman tidak mengenakkan karena perlakuan tidak pantas Paman Jun.

Saya mau membicarakan hal yang “mudah” dulu: ilustrasinya. Bila anda membaca buku ini anda pasti termanja oleh ilustrasinya yang kaya dan dalam. Kelihatan sekali ilustrasi dikerjakan dengan penuh pemikiran dan matang, namun tanpa mengurangi unsur artistiknya. Salut.

Buku ini berbicara tentang topik pelecehan seksual atas anak-anak. Ini topik yang sangat sangat sangat tidak mudah. Tidak mudah dituliskan dan juga tidak mudah dibacakan atau dibicarakan dengan anak. Namun demikian, saya rasa buku ini menjalankan tugasnya dengan baik sebagai semacam pengantar bila orangtua ataupun guru sudah merasa siap berbicara dengan anak-anaknya tentang hal ini.

Oh ya, tentu saja, buku ini lebih tepat kalau dibaca(kan) bersama dengan orang dewasa yang matang dan bijaksana. Dalam catatannya, penyusun buku ini pun tidak berpretensi untuk menjadikan buku ini sebagai jawaban instan buat pembaca kecilnya. Pendampingan orangtua dengan bijaksana sangat dibutuhkan.

Apakah buku ini vulgar? Sama sekali tidak! Penulis menggambarkan hal-hal yang sensitif dan kurang menyenangkan yang dialami Jun dengan halus namun pembaca tetap mendapatkan nuansanya. Menurut saya penulis dengan baik sekali menyeimbangkan antara menyampaikan cerita yang baik dan menarik dengan menyampaikan informasi tentang pelecehan seksual. Lagi-lagi, salut!

Buku ini ternyata diterbitkan oleh Singapore Children’s Society, suatu organisasi sosial oleh masyarakat sipil untuk kepentingan anak-anak. Dan ini juga “salut” yang berikutnya. Bahwa permasalahan pelecehan seksual pada anak dipikirkan dengan begitu matang sehingga dicarilah jalan yang tepat dan berterima untuk anak-anak dalam hubungannya dengan pelecehan seksual pada anak. Salah satu caranya adalah dengan penerbitan buku cerita. Pointnya adalah permasalahan dibicarakan bukan sebaliknya, ditekan untuk tidak dibicarakan dengan alasan tidak pantas. Sangat sangat salut!

Perilaku melecehkan secara seksual jelas perbuatan tidak pantas. Karenanya, hal ini amat sangat perlu diangkat dan dibicarakan karena korbannya sudah mulai merambah pada anak-anak. Pelecehannya tidak pantas tapi membicarakannya adalah hal yang amat sangat layak dan perlu. Bila orang dewasa berhenti membicarakannya, anak-anak akan tumbuh besar tanpa informasi yang benar tentang kejahatan ini. Dan ini amat sangat membahayakan.  
Kalau Anda orangtua, guru, atau siapa saja yang punya keprihatinan khusus akan masalah pelecehan seksual, silakan baca buku ini. Saya pribadi memperoleh inspirasi dan pemahaman tersendiri tentang bagaiamana menulis cerita bertema sensitif (karena saya seorang penulis). Mungkin Anda bisa memetik manfaat sesuai dengan bidang Anda. Namun demikian, tanpa memandang apapun profesi Anda, saya sangat menyarankan Anda ikut membaca dan semoga suatu saat membacakan dan membicarakannya dengan anak-anak/murid Anda.

***

Pebatuan, 15 September 2019
@agnes_bemoe



Saturday, 14 September 2019

BEHIND THE SCENE [BTS]: PAK KETOPRAK KOKI AJAIB

September 14, 2019 0 Comments


Naskah PAK KETOPRAK KOKI AJAIB (PKKA) ini sebenarnya naskah yang sudah lama banget. Saya tulis di tahun 2012!

Waktu itu idenya saya dapat dari nonton Master Chef Australia kesukaan saya. Keseringan nonton acara masak ini, saya terpikir tentang sebuah cerita mengenai chef/koki dan dunia kuliner. Saya tulislah beberapa cerita tentang itu dengan tokoh sentral seorang koki bernama “Koki Kiko”. Koki Kiko ini punya kokimeter yang mampu mendeteksi siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Dalam waktu sekejap ia sudah akan berada di tempat tersebut untuk membuat masakan yang dibutuhkan. Kumpulan cerita ini awalnya saya beri judul “Koki Kiko Koki Ajaib”.

Setelah cerita jadi, naskah ini malah saya simpan. Entahlah, saya merasa kurang pede… hehehe…. Sempat saya coba tawarkan ke sebuah penerbit tapi tidak ada tanggapan. Herannya, saya tak begitu kecewa karena niat saya sebenarnya mau menyimpan dulu, mengendapkan siapa tahu masih bisa diperbagus.

Tahun berlalu, beberapa buku saya terbit sejak saya menuliskan Koki Kiko ini. Jujur, karena beberapa buku lain terbit ini saya jadi agak “lupa” pada Koki Kiko. Sampai di tahun 2015 saya coba tawarkan pada Penerbit Grasindo. Oleh Grasindo naskah ini diterima. Yeay! Maka selanjutnya adalah mencari illustrator.

Saya berhasil mendapatkan seorang illustrator yang gaya ilustrasinya di portofolio saya suka. Sayangnya, kerja sama ternyata tidak bisa berjalan baik sehingga Koki Kiko akhirnya tertunda lagi. Tidak tanggung-tanggung, tertundanya sampai 2 tahun sejak tahun 2016 diilustrasi… hehehe….


Tahun 2018 Koki Kiko “dibangkitkan” lagi. Kali ini oleh penerbit konsepnya diubah, bukan lagi kumpulan cerita tapi buku aktivitas. Tak hanya itu saja, cerita yang tadinya 5 buah, ditambah menjadi 8. Oke deh, singsingkan lengan baju. Saya pun mulai mengotak-atik naskah Koki Kiko ini. Puji Tuhan, naskah berbentuk buku aktivitas jadi.

Lalu… eng ing eng… ilustrasi! Untungnya, kali ini penerbit (Mbak Editor) yang berinisiatif mencari illustrator. Dan, ternyata ilustratornya adalah illustrator yang sudah saya kenal: InnerChild Std. Yeay!

Koki Kiko pun diilustrasikan dan selesai dengan bagus dan lancar. Ketika sudah 98% selesai, judul diubah karena ternyata sudah banyak buku yang menggunakan nama “Koki Kiko”. Setelah putar-putar mencari nama, diketemukanlah nama “Pak Ketoprak” sebagai ganti “Koki Kiko”. Lengkapnya “Pak Ketoprak Koki Ajaib”.



Btw, sebenarnya, selain terinspirasi dari sebuah acara reality show masak-memasak di TV, buku ini juga terinspirasi dari ibu saya sendiri: Fransisca Waldetrudist Parera Bemu. Beliau itu suka dan pintar masak. Seratus delapanpuluh derajat bedanya dengan saya >,< Saya cuma suka posting masakan… hihihi…. Nah, saya tidak pintar masak tapi bisa menulis. Saya tulislah sesuatu yang “close to my mother’s heart”, yaitu buku tentang kuliner ini. Salah satu ceritanya, “Tumpeng untuk Nenek” sebenarnya adalah persembahan khusus saya buat ibu saya itu.

Selain ibu saya sendiri, sosok lain yang saya ingat ketika menuliskan naskah ini adalah Ibu Stephani, guru PKK saya waktu SMA (di SMA Cor Jesu, Malang). Beliau ini mengajarkan ketrampilan “kecil-kecil” yang ternyata sangat bermanfaat. Dua dari delapan resep masakan di buku ini saya contek dari ajaran Ibu Stephani; Rice Omelet (Nasi Goreng dalam Selimut) dan Sweet Ballers (Kejutan Bola-Bola Cokelat). Melalui tulisan ini dan buku ini saya ingin mengucapkan terima kasih pada Ibu Stephani atas kemurahanhatinya membagikan ketrampilannya kepada murid-muridnya.

Lalu, ada apa saja sih di buku PKKA?
Yang jelas ada ceritanya… hehehe… lalu ada berbagai aktivitas seperti mewarnai, bermain kata, bermain maze, atau mengisi TTS. Pokoknya, pembaca kecilnya bakalan ‘sibuk’ deh! Di akhir setiap cerita akan ada resepnya. Jadi, setelah membaca, bisa langsung praktik memasak deh!



September 2019 ini PKKA terbit. Syukur kepada Allah. Tujuh tahun perjalanannya dari naskah ke rak toko buku. Semoga perjalanan selanjutnya dari toko buku ke rumah-rumah pembacanya lancar ya.

Terima kasih kepada Penerbit Grasindo yang memberikan kesempatan kepada naskah ini. Terima kasih kepada Ibu Maria Silabakti yang sudah memoles naskah ini sehingga menjadi lebih baik. Terima kasih kepada InnerChild Std. untuk ilustrasinya yang imut. Terima kasih Tuhan. Terima kasih alam semesta.

Semoga “Pak Ketoprak Koki Ajaib” diterima dengan baik oleh para pembaca kecilnya ya.

***

Pebatuan, 14 September 2019
@agnes_bemoe

Friday, 13 September 2019

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: MEMBANGUN EMPATI PADA PENDERITA PENYAKIT MENTAL MELALUI CERITA

September 13, 2019 0 Comments

Judul              : Grey Bear Days
Pengarang    : Sabrinah Morad
Illustrator      : Wen Dee Tan
Penerbit         : Sabrinah Ahmad Morad
Tahun Terbit : 2016
ISBN               : 978-967-14460-0-3



Little Bee sangat menyayangi Mama. Tentu saja, Mama pun mencintai Little Bee. Mereka berdua sering melakukan kegiatan bersama seperti berkebun atau membuat kue. Namun, kegiatan favorit Little Bee adalah duduk di pangkuan Mama sambil mendengarkan Mama membacakan buku.

Sayangnya, suatu hari seekor beruang abu-abu yang sangat besar datang dan mengganggu kehidupan Mama. Mama tidak lagi bisa berkebun, memasak, dan membacakan cerita untuk Little Bee. Hari-hari dimana Beruang Abu-Abu datang adalah hari-hari menyedihkan bagi Little Bee.

Buku ini bercerita bagaimana Little Bee menghadapi Mama dan Beruang Abu-Abu yang tidak mau beranjak dari Mama.

Topik depresi menurut saya topik yang sangat sensitif dan karenanya tidak mudah untuk dituangkan dalam bentuk cerita (paling tidak, buat saya). Karena itu, saya sangat kagum pada penulis “Grey Bear Days” yang menurut saya mampu mengolah tema ini menjadi cerita yang halus, lembut, namun tepat sasaran.

Pertama-tama, melalui ceritanya penulis menunjukkan empatinya, baik pada Little Bee maupun pada Mama. Penulis tidak mendramatisir atau men-judge (atau bahkan berkotbah dengan dalil agama). Penulis sepenuhnya membiarkan cerita mengalir apa adanya.

Yang kedua, penulis mampu menggambarkan penyakit sesensitif depresi dengan analogi seekor “beruang abu-abu”. Bagi pembaca kanak-kanak, hal ini cukup membuat mereka merangkai asosiasi tentang apa itu depresi (empati) tanpa harus tahu atau menghafalkan definisi (kognisi). Dan itu yang lebih penting.

Salut juga saya berikan untuk ilustratornya. Ilustrasi di buku ini selaras dengan ceritanya; halus, manis, dan lembut namun menohok di beberapa tempat. Jujur, saya sempat terdiam menyaksikan beberapa ilustrasi yang ada di buku ini. Benar juga bahwa gambar/ilustrasi adalah ribuan kata.

Yang berikutnya, apakah tepat mengenalkan penyakit mental seperti depresi pada anak-anak? Menurut saya, tepat sekali. Saya tidak punya data tapi saya yakin tidak sedikit anak yang hidup dengan orang dewasa di sekitarnya yang menderita penyakit mental. Buku ini bisa menjadi “teman” bagi anak-anak itu. Buku ini juga bisa menjadi jembatan bagi anak-anak lain untuk membangun sikap empatik pada teman mereka. Sikap ini bisa memutus rantai judgmental yang biasanya hinggap pada orang dewasa bila mereka berurusan dengan penderita penyakit mental.

Saya sangat menyarankan para orangtua dan guru untuk punya dan membacakan buku ini untuk anak atau para muridnya. Tentu saja jangan biarkan anak-anak membaca sendirian karena anak-anak pasti punya banyak pertanyaan. Namun, dari pertanyaan-pertanyaan itulah kita bisa bersama-sama Little Bee berjuang “melawan si Beruang Abu-Abu”.

***

Pebatuan, 12 September 2019
@agnes_bemoe


PACU JALUR DAN ATUK TENAS EFFENDI

September 13, 2019 0 Comments
Tengku Nasruddin Effendi (Alm)

Mau tidak mau teringat akan Atuk terkasih, Tenas Effendi.

Tahun 2014 kalo tak salah, saya memberikan buku saya, "Nino, Si Petualang Cilik" pada Atuk Tenas Effendi (yang kemudian langsung dibacanya dengan seksama seperti yang terlihat di foto).

Pesan Atuk waktu itu: budaya Riau adalah budaya air; sungai, rawa, laut. Harus menulis tentang itu. Pesan Atuk itu saya jadikan semacam janji buat diri saya sendiri, supaya suatu saat kalau menulis lagi tentang budaya Riau saya akan menulis tentang tradisi berbasis budaya perairan.

Puji Tuhan, semesta menyambut baik.

Tahun 2017 saya terpilih dalam program penulisan tradisi Nusantara oleh Kemdikbud. Dan, saya menulis tentang Pacu Jalur yang adalah tradisi masyarakat di sekitar Sungai Kuantan di Riau. Tahun 2019 ini versi soft copynya sudah bisa diunduh. Silakan unduh di sini. 



Jujur, ada keinginan buat melipir ke Pasir Putih, ke kediaman Atuk untuk "pamer" ( ) Saya yakin, beliau pasti senang sekali. Sayangnya, sudah tak bisa pamer ya... hehehe... Tapi saya yakin, beliau tetap senang.

Mengirim doa yang banyak sekali buat Atuk Tenas Effendi terkasih. Semoga Atuk beristirahat dalam damai. Sudah tunai janji saya sama Atuk ya. Mudah-mudahan lain waktu bisa menulis tradisi berbasis air lainnya lagi.

***

Pebatuan, 13 September 2019
@agnes_bemoe

PACU JALUR KEMERDEKAAN

September 13, 2019 0 Comments
:: Seri Pengenalan Budaya Nusantara


Tahun 2017 lalu saya menjadi salah satu dari dua penulis Riau yang dipilih untuk program Kemdikbud yang disebut "Seri Pengenalan Budaya Nusantara", Program ini mengumpulkan tradisi-tradisi Nusantara dan menuliskannya kembali ke dalam bentuk cerita berinformasi.
Saya menuliskan tentang tradisi PACU JALUR dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kab. Kuantan Singingi terletak persis di perbatasan Provinsi Riau dan Sumbar, jauhnya 3 - 4 jam perjalanan darat dari kota Pekanbaru).

Pacu Jalur adalah tradisi lomba perahu tradisional masyarakat di daerah Kuantan (daerah di tepian Sungai Kuantan). Tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun ini tetap dijalankan sampai sekarang dengan semangat dan kemeriahan yang tidak berkurang.

Jujur, bangga sekali lho saya, yang "Kuantan Sasek" ini ( ), bisa menuliskan tentang tradisi kebanggaan masyarakat Kuntan-Singingi. Semoga melalui buku ini anak-anak Indonesia di mana saja berada bisa mengenal salah satu tradisi unik dan seru ini.

Sekaligus, saya ingin mengucapkan ribuan terima kasih buat Mbak Wigati IsYe yang banyak (sangat banyak) membantu mulai dari awal perencanaan penulisan ini (Ingat ga, Mbak Isye, kita ‘meeting’ awal di Soto Budhe… hahaha…), mendampingi saya mencari data (termasuk hal yang tersulit yaitu menembus para narasumber yang lain), sampai pada proses akhir penulisannya.
Terima kasih juga untuk Bpk. Yaslan Hadi yang bersedia menjadi narasumber. Bapak Yaslan Hadi adalah seorang Pawang Jalur, tokoh penting dalam proses pembuatan dan lomba jalur. Semoga Bapak selalu sehat ya.

Terima kasih juga untuk Bpk. Dedi Erianto, S. Sos., yang pengetahuannya tentang Pacu Jalur luar biasa luasnya. Tidak hanya itu saja, Bpk. Dedi juga dengan murah hati memberikan informasi tentang Kota Kuantan Singingi pada umumnya dan spot-spot budayanya seperti Hutan Kota Pulau Bungin, Desa Wisata, dll.
Terima kasih kepada Bapak Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kuantan Singingi yang menerima kami dengan baik dan ramah, serta menyambut baik rencana penulisan tradisi Pacu Jalur ini.

Terima kasih pada mas Rhomi Ab dan Mas Syafrizal Pangean atas keramahan dan antusiasmenya. Semoga kapan-kapan bisa bertemu lagi.

Tentu saja, saya juga berterima kasih pada Kang Dwi InnerChild Std yang ilustrasinya membuat cerita “Pacu Jalur Kemerdekaan” menjadi lebih seru. Ilustrasinya imut dan detil. Pembacanya pasti dengan mudah mendapat gambaran apa itu jalur, dll.

Last but not least, terima kasih pada Mbak Pradikha Bestari, editor baik hati yang memoles cerita saya menjadi jauh lebih smooth dan enak dibaca. Terima kasiiih, Mbak Dhika.

Terima kasih kepada semua saja yang telah ikut mencurahkan perhatian dan kerjanya untuk cerita “Pacu Jalur Kemerdekaan” ini. Versi soft copy-nya bisa diunduh di tautan ini ya. Silakan baca, ditunggu kritik dan sarannya.

***

Pebatuan, 13 September 2019
@agnes_bemoe

Wednesday, 11 September 2019

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: TEMUKAN CARAMU BERSINAR

September 11, 2019 0 Comments


Judul               : Murphy, See How You Shine! A Story That Celebrates the Gifts within Us
Pengarang       : Chen Wei Teng
Illustrator        : Quek Hong Shin
Penerbit           : Notion Press Singapura
Tahun Terbit    : 2017

Murphy adalah seekor anjing buta yang diadopsi oleh Candy. Candy sangat menyayangi Murphy, demikian juga Murphy terhadap Candy. Candy merawat Murphy dengan penuh kasih sayang, sebaliknya, dengan caranya, Murphy menjaga Candy. Anjing ini ternyata mampu mendeteksi kadar gula yang menurun drastis pada seseorang. Hal ini sangat bermanfaat karena Candy ternyata pengidap Diabetes Tipe 1. Murphy membantu mengingatkan Candy bila kadar gula dalam tubuh Candy menurun.

Dengan hubungan yang saling membutuhkan dan saling memberi ini keduanya tampak tidak mempunyai masalah. Namun demikian, Murphy merasa masih ada yang kurang dalam dirinya. Buku ini lalu menceritakan bagaimana Murphy akhirnya menemukan cara ia dapat bersinar sesuai dengan jati dirinya.

Pertama-tama, salut atas ditulisnya buku ini. Chen Wei Teng, penulisnya, adalah seorang pendidik yang memang menuliskan buku ini bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Buku ini kelihatan sekali ditulis dengan cermat dan sepenuh hati. Bahkan, font pun dipilih yang cocok bagi anak-anak dengan kesulitan belajar.

Kisah Murphy, si anjing buta pendeteksi diabetes, diceritakan dengan sederhana, manis, dan lancar. Saya menghargai bahwa penulis tidak mendramatisir kondisi Murphy biarpun pembaca mampu merasakan kesulitan dan kesedihan Murphy di beberapa tempat.

Berikutnya, yang membuat buku ini tambah menarik adalah minimnya (nyaris tidak ada) uraian panjang lebar tentang apa itu Diabetes Tipe 1. Di beberapa buku, hal ini menyebabkan buku bacaan menjadi kering dan dingin, seperti text book. Buku ini mampu menjaga diri untuk tetap jadi fiksi yang menarik. Yang juga menarik adalah tidak adanya tidak adanya kecenderungan untuk mengkotbahi pembaca ciliknya, misalnya tentang bagaimana memperlakukan penderita diabetes. Hal-hal semacam itu muncul secara alamiah dari atmosfer cerita. Pembaca dapat melihat bagaimana Murphy bersikap terhadap Candy dan sebaliknya.

Buku ini juga nyaman dibaca oleh anak-anak dari beragam agama. Tidak ada ajaran agama tertentu yang ditonjolkan dalam buku ini. Dan ini baik sekali sehingga semua anak –dari golongan apapun- bisa merasa nyaman membaca buku ini dan memetik manfaat darinya.

Last but not least tentu saja adalah ilustrasinya. Ilustrasinya imut, innocent, dan manis. Para pembaca kecil pasti akan langsung jatuh hati pada wajah lucu Murphy.

Sulit saya menemukan kelemahan pada buku ini. Bagi saya, buku ini ten out of ten. Tidak mengherankan kalau buku ini memperoleh Gold Award Moonbeam Children’s Book Awards untuk kategori Picture E-Book di tahun 2018. Buku ini juga memperoleh rating 5 bintang dari Readers’ Favourite di tahun yang sama.  

Bagi orangtua yang memiliki anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, saya menyarankan menggunakan buku ini. Walaupun demikian, buku ini sangat tepat dibaca oleh anak-anak secara umum. Saya jamin, mereka akan menemukan pengalaman tumbuh dan berkembang bersama sahabat atau orang terdekat lewat kisah Murphy ini.  

***

Pebatuan, 10 September 2019
@agnes_bemoe

Sunday, 30 June 2019

1 Juli*)

June 30, 2019 0 Comments
PITA, SI PIPIT KECIL - Buku pertama saya yang saya tulis pertama kali di tanggal 1 Juli 2010



Sejak tahun 2010, 1 Juli bagi saya bukan lagi hari biasa. Saya melihatnya dengan cara berbeda dan saya selalu suka mengenangnya.

Satu Juli 2010, pagi hari, biasanya saya harus mengerjakan banyak hal berhubungan dengan tahun ajaran baru; jadwal pelajaran, guru baru, kegiatan awal tahun ajaran, termasuk laporan keuangan, dll. Biasanya, bila guru-guru lain libur, saya malah pusing dengan setumpuk kerjaan.
Nah, hari itu saya tidak lagi mengerjakan itu semua. Bisa dibayangkan kan, dari gelagapan karena waktu 24 jam sehari biasanya kurang, sekarang saya merasa hanya butuh waktu satu jam untuk mengisi hari. Namun, saya memutuskan untuk tidak mau duduk berpangku tangan. Saya harus melakukan suatu kegiatan. Nothing changed! The sun was still shining there for me. None of their filthiness would stop me (saya mencabut sangkur pada yang memperlakukan saya dengan buruk).

Tidak ada tumpukan jadwal, pembagian tugas guru, dan bahkan laporan keuangan bulanan seperti tahun-tahun sebelumnya, but, you know what, I am more than piles of duty you've dumped to me.



Saya memutuskan untuk MENULIS. Bukan jadi penulis ya, hanya menulis.

'Cuma' menulis yang saya bisa. Maka, saya mengerjakannya dengan penuh determinasi dan kegembiraan.

Biasanya saya menulis puisi, cerpen, atau tulisan refleksi-motivasi. Saya TIDAK PERNAH menulis cerita anak. Hari itu, tanggal 1 Juli 2010, entah bagaimana, saya kedatangan ide cerita berbentuk cerita anak. Jujur, saya tidak mengaturnya supaya jadi cerita anak. Konsep itu datang begitu saja dan tangan saya mengetik begitu saja.

Kisahnya tentang seekor burung pipit kecil bernama Pita yang menghadapi intrik dan kekejian di Istana Raja Kishin. (Sebenarnya, konsep ini tidak datang “begitu saja”… hehehe… ini adalah curhatan saya tentang hal yang saya alami :D )

Hari itu saya menulis, jadi 1 cerita. Langsung saya post di facebook. Besoknya, saya tulis lagi 1 cerita lalu post lagi. Dan seterusnya setiap hari, sampai sekitar 20-an hari lalu saya menyadari bahwa respon yang saya dapatkan ternyata positif. Teman-teman (facebook) suka cerita ini.

Saya pun ge-er. Apalagi ketika seorang editor dari sebuah penerbit mayor menyarankan untuk mengirimkan naskah itu ke penerbitnya untuk di-review. Ge-er-meter saya jebol!




Naskah Pita memang tidak berjodoh di penerbit tersebut. Pita terbit secara indie di LeutikaPrio tanggal 1 Desember 2010.

Ketika terbit, salah seorang mantan murid saya mendoakan: semoga ini menjadi awal bagi judul-judul berikutnya. Doa anak manis tersebut terkabul. Beberapa judul menyusul setelah Pita. April lalu barusan terbit "Ring of Fire" di Gramedia Pustaka Utama. (Ini tulisan lama, dua tahun yll. Tahun 2019 ini buku terakhir saya yang terbit adalah “Kopral Jono” Seri-2, Behind the Scene-nya bisa dibaca di sini – Agnes)

Terbit Maret 2019


Bila melihat sebuah buku saya terbit, mau tak mau saya teringat Pita. Saya tidak pernah merencanakan jadi penulis buku anak. Pita membantu saya melihat panggilan saya yang satu ini, bahkan ketika saya sedang 'buta'. Dan itu semua bermula di suatu pagi di tanggal 1 Juli.

Sejak tahun 2010, 1 Juli bagi saya jelas dan tidak akan pernah jadi hari yang biasa buat saya. Tanggal 1 Juli seolah jadi tanggal “ulang tahun” saya yang lain, sebuah rebirth, kelahiran kembali ke perjalanan saya menjadi seorang penulis buku anak. Dan, lebih daripada sebuah profesi, tanggal 1 Juli adalah sebuah rebirth untuk perjalanan panjang dan berliku, mencari siapa diri saya, apa yang lebih saya butuhkan dalam hidup ini, dan karenanya apa yang seharusnya jadi prioritas saya. Di pagi itu, ketika saya mulai menulis, tidak sedikitpun terlintas bahwa ke sinilah Tuhan akan menuntun saya. Sekarang, setelah sembilan tahun, saya baru melihat sedikit gambaran yang lebih besar dan lengkapnya.



Puji Syukur dan terima kasih saya sampaikan pada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, pada para kudus yang tak hentinya saya mintai jadi perantara: St. Yosef, St. Antonius a Padua, St. Malaikat Gabriel, dan Santa Germaine de Pibrac.

Terima kasih pada para pembaca pertama saya. Di antaranya yang saya ingat karena ketulusan dan supportnya: Fonny Jodikin, Femi Khirana, Bhudi Tjahja, Fidelis R. Situmorang, Christine Thilio Arwan, Mulyani Kurniaty, dkk.



***

Pembatuan, 1 Juli 2019
@agnes_bemoe



*) Tulisan ini aslinya sudah saya post di tahun 2017 lalu. Saya post ulang dengan bebarapa perubahan.