Follow Us @agnes_bemoe

Sunday, 5 April 2020

Terima Kasih, Pastor Yohanes


RIP P. dr. Yohanes Djohan Halim, Pr



Pertengahan Maret lalu saya mendengar kabar mengejutkan: Pastor Yohanes Halim, Pr. meninggal. Pastor Yohanes meninggal dengan tenang di rumah pribadinya di Jalan Veteran, Padang pada tanggal 17 Maret 2020.

Waktu itu pemerintah sudah menyerukan untuk membatasi ruang sosial tapi saya memutuskan ke Padang untuk memberikan penghormatan terakhir. Pastor Yohanes Halim, Pr adalah sosok yang tidak bisa saya tinggalkan begitu saja. Sangat besar hutang budi saya pada beliau. Kalau bukan karena beliau, belum tentu saya bisa menyelesaikan kuliah S-1 saya. 

Tahun 1988, saya baru saja masuk semester kedua kuliah saya di IKIP Yogyakarta ketika saya mendapat kabar yang sangat tidak mengenakkan dari ibu saya: beliau tidak bisa membiayai saya. Saya shocked. Terpukul. Begitu saja. Beliau tidak bisa lagi membiayai saya.

Beliau minta kakak sulung saya yang saat itu sudah punya pekerjaan untuk membiayai tapi kakak saya itu keberatan. Jadi, saya harus menerima bahwa saya akan drop out dari kuliah. Kakak saya yang lain menjanjikan akan mencarikan saya pekerjaan di sebuah money changer.

Okelah. Baiklah. Sebesar keingingan saya menolak kenyataan itu tak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya. Jadi, saya cuma terdiam.

Saat itu ibu saya tinggal di Denpasar. Jadi, saya pulanglah ke Yogya untuk melanjutkan Semester II (karena sudah terlanjur bayar).

Pastor Yohanes bersama mendiang Bapa Uskup Situmorang, OFMCap


Hal pertama yang saya lakukan adalah menemui Sr. Benedicte, CB, suster kepala asrama (Asrama Syantikara Yogyakarta). Bukan, saya bukannya mau minta tolong. Dalam pikiran saya, logisnya tentu saya harus minta izin baik-baik sekaligus minta izin tinggal sampai akhir semester dengan kemungkinan bayar uang asrama dengan super seret. Saya ceritakan kondisi saya pada Sr. Ben (panggilan kami, anak asrama, pada Sr. Benedicte, CB).

Saya ingat waktu itu Sr. Ben tidak berkata apa-apa. Beliau hanya menyuruh saya tetap tabah dan dengan murah hati beliau membolehkan saya tinggal sampai selesai semester II. Saya lega. Saya kembali ke kamar lalu seterusnya diam-diam saya mulai mengepaki barang-barang saya (yang tidak banyak). Teman-teman sekamar saya pada tak tahu saya berkemas-kemas :D

Waktu berlalu.

Bulan Mei 1988 perkumpulan mahasiswa katolik di kampus saya mengadakan ziarah ke Sendang Sriningsih, Klaten. Cerita mengenai itu saya tuliskan di sini. Dengan pemikiran bahwa itu mungkin kumpul-kumpul terakhir saya dengan teman-teman katolik, saya ikutan ziarah. Di depan Ibu Maria Sriningsih pun saya ingat saya malah tak bisa berdoa. Hanya terdiam. Mau dibilang pasrah juga tidak. Tapi berharap juga merasa tak mungkin. Jadi, ga tau deh. Pokoknya blank aja.

Bulan Juni 1988 tiba-tiba Sr. Ben memanggil saya. Beliau mengatakan ada seorang ketua yayasan pendidikan di Riau yang mencari guru untuk sekolahnya. Ketua yayasan itu bersedia membiayai pendidikan guru itu asal kemudian mau berkarya di yayasan. Sr. Ben menanyakan kalau-kalau saya mau menerima tawaran itu. TENTU SAJA SAYA MAU!



Maka, di situlah saya bertemu dengan Pastor dr. Yohanes Johan Halim, Pr. Beliau adalah ketua Yayasan Prayoga Perwakilan Riau, sebuah yayasan pendidikan katolik milik Keuskupan Padang yang membawahi sekolah-sekolah di Riau.

Beliau seorang yang tinggi besar namun berwajah lembut dengan suara yang tak kalah halus. Beliau menanyakan hal yang sama dengan Sr. Ben: apakah bersedia bekerja di yayasan beliau dan nantinya semua biaya kuliah dan biaya hidup akan ditanggung. Saya rasa pembaca sudah tahu apa jawaban saya.

Itulah sebabnya, seumur hidup saya berhutang pada Pastor Yohanes (begitu beliau sering disapa). Beliau bersedia mengulurkan tangan buat saya, orang yang sama sekali tidak dikenalnya, di saat saya sudah putus asa.

Bantuan beliau tidak hanya sebatas biaya kuliah. Setelah lulus sebenarnya beliau mengizinkan saya tinggal di salah satu rumah di pastoran Bagansiapiapi (tempat saya ditugaskan pertama kali) dengan mengajak ibu saya. Saya boleh tinggal tanpa membayar. Namun, ibu saya yang tidak mau tinggal di Sumatera.

Setahun di Bagansiapiapi ternyata saya kurang betah. Kondisi cuaca di Bagansiapiapi membuat saya sakit-sakitan. Saya ceritakan isi hati saya dengan jujur pada Pastor Yohanes. Beliau ternyata mau memahami. Tahun berikutnya saya dipindahkan ke Duri. Duri ternyata lebih cocok buat saya.

Di Duri, di sekitar tahun 1995, saya menjalani operasi pengangkatan tumor di payudara kiri. Biaya operasi waktu itu sebenarnya tak terjangkau buat saya biarpun Yayasan Prayoga Perwakilan Riau memberikan bantuan pembayaran setengahnya. Lagi-lagi, kepada Pastor Yohaneslah saya lari. Saya katakan, saya pinjam uang Pastor, nanti saya ganti dengan mencicil dari gaji. Pastor Yohanes memberikan pinjaman yang saya butuhkan.

Beberapa waktu kemudian saya kembali lagi ke Pekanbaru untuk membayar pinjaman saya pada Pastor Yohanes. Di luar dugaan saya Pastor Yohanes menyuruh saya menyimpan uang saya untuk keperluan lain. Waduh, terkejut saya. Pinjaman saya itu cukup besar (saya juga bisa mengembalikan karena pinjam lagi dari CU sekolah). Rasanya “aneh” ada seseorang yang merelakan jumlah uang yang cukup besar. Pastor Yohanes berkeras. Beliau bahkan mengatakan sambil bergurau: apakah Agnes tidak menghargai uang Pastor? Nah lo. Mau ditolak, bagaimana. Mau diterima, bingung juga. Akhirnya memang saya membawa kembali uang itu. Pastor sama sekali tidak mau dibayar kembali.

Kalau dihitung-hitung, saya hanya membayar jumlah yang keciiil sekali dari keseluruhan biaya operasi saya waktu itu. Dan lagi-lagi, kemurahan Pastor Yohaneslah yang memungkinkannya.

Baiklah, yang saya ceritakan di atas adalah segala kebaikan konkret yang saya alami dengan Pastor Yohanes. Yang lebih penting daripada itu adalah dalam pandangan saya beliau orang baik. Sikap beliau pada saya, setelah semua bantuan yang nyaris luar biasa itu, tetap baik, ramah, dan menghargai. Tak sedikitpun saya merasa beliau arogan pada saya atau mengungkit-ungkit masalah bantuan-bantuan itu.

Uang mungkin sangat mudah didapatkan tapi karakter yang baik jauh lebih berharga, bukan?

Itulah sebabnya saya akan terus berhutang pada beliau seumur hidup saya.

P. dr. Yohanes Djohan Halim, Pr. dimakamkan di Columbarium, Kompleks Keuskupan Padang.


Tahun 1997 beliau tidak lagi menjabat sebagai ketua yayasan. Beliau mendapat tugas belajar ke Amerika. Karenanya sejak tahun itu saya tak pernah lagi bertemu dengan beliau. Apalagi, sejak pulang dari Amerika beliau jatuh sakit. Parkinson menyerangnya di tahun 2000.

Dua tahun terakhir ini –jujur- saya kok kepikiran beliau dan ingin sekali menemui beliau. Belum sempat terkabul keingingan untuk bertemu, beliau sudah berpulang. Rasanya kecewa juga karena tidak sempat bertemu dengan Pastor Yohanes.

Karena “membayar” rasa kecewa itulah, saya bela-belain ke Padang untuk mengantar beliau ke peristirahatannya yang terakhir. Paling tidak, saya merasa, beliau tahu, saya tidak melupakan beliau.

Beristirahatlah dalam damai, Pastor Yohanes yang baik. Saya belum sempat membalas semua kebaikan Pastor. Saya berharap Tuhan membantu saya membalaskannya buat Pastor dengan memberikan tempat yang terbaik di Surga.

Pastor adalah Injil yang hidup buat saya. Pastor membuat saya percaya tangan Tuhan ada di mana-mana. Sekali lagi terima kasih telah memberikan kesempatan sekali seumur hidup buat saya. Doa saya selalu buat Pastor.



***

Pebatuan, 7 April 2020
Agnes Bemoe

No comments:

Post a Comment