Follow Us @agnes_bemoe

Tuesday, 24 September 2019

FIGHTING DEMON INSIDE ME: Preambule


Saya ingin menuliskan masa-masa saya terkena depresi. Untuk dokumentasi saya pribadi dan syukur-syukur bisa jadi semacam “teman” buat siapa saja yang mengalaminya.

Oh ya, ada S&K-nya… hihihi….
Catatan ini tidak runtut menurut kronologi kejadiannya. Inginnya runtut tapi ternyata sulit. Sulit sekali. Percayalah, karena saya sebenarnya tipe penulis yang sangat runut. Jadi, saya tulis saja yang masih atau tiba-tiba teringat oleh saya. Jadi, kalau membingungkan, harap maklum.

Saya didiagnosa oleh seorang psikiater dari RS Santa Maria Pekanbaru bernama dr. Anggraeni Ang. Saya terkena mild depression. Itu di tahun 2014.  Jadi, ini bukan self-diagnose ya. Perlu saya pertegas karena ada saja orang jahat yang sinis terhadap apa yang saya post di facebook (beberapa kali saya post kondisi saya di fb). Biasa, saya dianggap lebay, caper, dan self-diagnose (itu istilah mereka) tentang kondisi saya. 

Sekaligus, ini nih yang mendorong saya untuk menuliskan kisah saya ini. Saya yakin, karena mulut-mulut jahat ini, ada buanyaakkk sekali penderita yang memilih diam. Open up lebih seringnya memancing komentar jahat dari orang-orang yang tidak punya perasaan (yang herannya merasa diri mereka waras 100%)

Enggak takut dikucilkan? Dihindari? Nanti karyanya ga ada yang mau terima lho. Dst, dll. Banyak yang dengan kebaikan hatinya memberi masukan: sebaiknya saya jangan open up.

Begini, duluuu awal-awal, saya pingin langsung menuliskannya dengan maksud sebagai katarsis tapi ternyata TIDAK BISA. Hihihii… maaf nih, pakai huruf kapital. Memang tidak bisa. Seperti macet otak saya dan malah membuat mood saya jadi ambruk. Saya biarkan deh. Nah, terakhir-terakhir ini, saya ingin menuliskannya lagi. Lumayan bisa, tidak bikin mood mendadak sontak berubah ke low vibration. Tapiii ya itu, sulit untuk runtut dan runut.

Belum menjawab pertanyaan ya, kenapa ngeyel dituliskan… hihihi…. Saya “ngeyel” untuk kesehatan pikiran saya sendiri. Dengan menuliskan saya ingin menguraikan apa yang ada di pikiran saya tentang kejadian yang saya alami ini. Jadi, ini sepenuhnya untuk kesehatan mental saya sendiri. Saya berharap pihak-pihak yang bekerja sama dengan saya bisa mengerti dan mau melihat karya saya dari sudut pandang karyanya. Artinya, kalau buku yang saya tulis memang beneran bagus, terima dong… hehehe….

Yang kedua, ya itu tadi, kita hidup di masyarakat yang SAKIT. Orang-orang tidak segan-segan menghajar penderita depresi dengan ejekan, sindiran, sampai tuduhan macam-macam. Karenanya, saya kok yuakinn, ada yang menjalani penderitaannya dalam diam. Karena, lebih “aman dan nyaman” biarpun dalam tanda kutip. Sejatinya, tidak ada kenyamanan dan keamanan kalau seseorang menderita sendirian. Nah, saya mau jadi semacam suara deh. Saya mengalaminya jadi saya sedikit banyak tahu bagaimana rasanya (bukan mereka-reka).

Last but not least, yang paling penting nih, saya menulis ini bukan untuk cari tenar. Please deh, saya merasa sudah cukup tenar lho. Google aja deh nama saya… xixixixi… #Plak Kalau boleh, saya TIDAK “HARUS” menuliskan ini. Lebih enak menulis cerita anak atau novel. Lebih nyaman. Menuliskannya –serius- membuat saya teringat lagi hal-hal yang tidak mengenakkan. Dan itu tidak setara dengan “ketenaran” (kalau emang sensasi yang mau saya cari). Saya tidak post ini di fb. Jadi benar-benar yang “berjodoh” dengan tulisan inilah yang akan membacanya. Long story short, saya tidak cari tenar ya. 

Oh iya, sebelum panjang lebar, ketika kena serangan negeri api pertama kali kata dokter saya kena serangan ringan. Yang mana bikin saya begidig, kalau yang ringan aja begini, gimana yang sudah kronis yah?
Nah, sekarang ini saya rasanya sudah tidak berada di red-zone lagi. Namun, saya merasa belum sepenuhnya pulih. Saya merasa saya ada di orange-zone.



Itu sedikit preambule-nya… hihihi…
Dilanjutkan lain waktu ya.  

***

Pebatuan, 24 September 2019
@agnes_bemoe

No comments:

Post a comment