Follow Us @agnes_bemoe

Friday, 13 September 2019

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: MEMBANGUN EMPATI PADA PENDERITA PENYAKIT MENTAL MELALUI CERITA


Judul              : Grey Bear Days
Pengarang    : Sabrinah Morad
Illustrator      : Wen Dee Tan
Penerbit         : Sabrinah Ahmad Morad
Tahun Terbit : 2016
ISBN               : 978-967-14460-0-3



Little Bee sangat menyayangi Mama. Tentu saja, Mama pun mencintai Little Bee. Mereka berdua sering melakukan kegiatan bersama seperti berkebun atau membuat kue. Namun, kegiatan favorit Little Bee adalah duduk di pangkuan Mama sambil mendengarkan Mama membacakan buku.

Sayangnya, suatu hari seekor beruang abu-abu yang sangat besar datang dan mengganggu kehidupan Mama. Mama tidak lagi bisa berkebun, memasak, dan membacakan cerita untuk Little Bee. Hari-hari dimana Beruang Abu-Abu datang adalah hari-hari menyedihkan bagi Little Bee.

Buku ini bercerita bagaimana Little Bee menghadapi Mama dan Beruang Abu-Abu yang tidak mau beranjak dari Mama.

Topik depresi menurut saya topik yang sangat sensitif dan karenanya tidak mudah untuk dituangkan dalam bentuk cerita (paling tidak, buat saya). Karena itu, saya sangat kagum pada penulis “Grey Bear Days” yang menurut saya mampu mengolah tema ini menjadi cerita yang halus, lembut, namun tepat sasaran.

Pertama-tama, melalui ceritanya penulis menunjukkan empatinya, baik pada Little Bee maupun pada Mama. Penulis tidak mendramatisir atau men-judge (atau bahkan berkotbah dengan dalil agama). Penulis sepenuhnya membiarkan cerita mengalir apa adanya.

Yang kedua, penulis mampu menggambarkan penyakit sesensitif depresi dengan analogi seekor “beruang abu-abu”. Bagi pembaca kanak-kanak, hal ini cukup membuat mereka merangkai asosiasi tentang apa itu depresi (empati) tanpa harus tahu atau menghafalkan definisi (kognisi). Dan itu yang lebih penting.

Salut juga saya berikan untuk ilustratornya. Ilustrasi di buku ini selaras dengan ceritanya; halus, manis, dan lembut namun menohok di beberapa tempat. Jujur, saya sempat terdiam menyaksikan beberapa ilustrasi yang ada di buku ini. Benar juga bahwa gambar/ilustrasi adalah ribuan kata.

Yang berikutnya, apakah tepat mengenalkan penyakit mental seperti depresi pada anak-anak? Menurut saya, tepat sekali. Saya tidak punya data tapi saya yakin tidak sedikit anak yang hidup dengan orang dewasa di sekitarnya yang menderita penyakit mental. Buku ini bisa menjadi “teman” bagi anak-anak itu. Buku ini juga bisa menjadi jembatan bagi anak-anak lain untuk membangun sikap empatik pada teman mereka. Sikap ini bisa memutus rantai judgmental yang biasanya hinggap pada orang dewasa bila mereka berurusan dengan penderita penyakit mental.

Saya sangat menyarankan para orangtua dan guru untuk punya dan membacakan buku ini untuk anak atau para muridnya. Tentu saja jangan biarkan anak-anak membaca sendirian karena anak-anak pasti punya banyak pertanyaan. Namun, dari pertanyaan-pertanyaan itulah kita bisa bersama-sama Little Bee berjuang “melawan si Beruang Abu-Abu”.

***

Pebatuan, 12 September 2019
@agnes_bemoe


No comments:

Post a comment