Follow Us @agnes_bemoe

Friday 27 September 2019

FIGHTING THE DEMON INSIDE ME: KOK TAU KALAU DEPRESI?


Saya tidak tahu.

Bahkan ketika dokter Ang mengatakan saya terkena depressi, saya tidak percaya. Saya menolak dan ngeyel. Saya TIDAK MUNGKIN kena depressi, kata saya. Saya tidak takut dianggap gila. Saya hanya heran karena saya bukan orang yang neko-neko yang potensial terkena depresi. Hihihiiii… kalo saya ingat lagi, kalik dokter Ang sudah pingin ngegaplok saya ya saat itu. Dan, kalau saya ingat lagi juga, betapa minimnya pengetahuan saya saat itu tentang depresi termasuk penyebabnya.

Awalnya sekali, dokter Icap Hosein, dokter yang merawat saya waktu terkena HNP (Herniated Nucleus Pulposus) alias syaraf kejepit, dll yang menduga akan hal ini. Beliau mengatakan dengan halus, mungkin saya ini terkena psikosomatis. Beliau lalu merujuk saya pada dokter Ang.

Dokter Ang lalu menjelaskan banyak hal yang akhirnya membuat saya (dengan terpaksa) menerima bahwa saya terkena depresi. Saya menjalani serangkaian sessi dengan dokter Ang dan Mbak Ratna (psikolog di RS Santa Maria Pekanbaru) selain minum obat-obatan. 

Saat itu juga saya baru tahu bahwa depresi itu masalah klinis. Sama seperti kalau kita pilek, berarti ada virus di hidung dan tenggorokan yang bisa digempur dengan obat-obatan. Nah, bila sedang depresi berarti kondisi kimiawi otak mengalami gangguan. Dalam hal ini obat-obatan tertentu bisa membantu mengembalikan kondisi kimiawi otak itu. DISCLAIMER: ini penangkapan saya yang super sederhana tentang proses pengobatan ini ya. Kalau pembaca ingin tahu lebih jelas TANYAKAN LANGSUNG pada dokter/psikolog.

Saya uraikan di sini hanya untuk meng-counter anggapan bahwa depresi itu lebay dan caper. Depresi tidak bisa dibuat-buat seperti lebay dan caper. Mau ada penonton mau tidak, orang yang terkena depresi akan merasakan gejalanya. Beda dengan orang caper yang menikmati sekali diperhatikan oleh audiens-nya, orang yang depresi (saya sih) malah semakin ketakutan atau kelelahan atau malu dan ga sempat mikir berapa jumlah penonton dan atau pose yang bagaimana seperti orang-orang yang lebay dan caper. (Khusus untuk lebayer dan caperer ini saya perlu tuliskan tersendiri kalik ya. They are killing another person who had suffered a lot dengan tingkah mereka yang tidak bertanggung jawab itu. Kalau beragama maka percayalah, bertingkah seperti itu adalah dosa.)

Btw, kalau ada yang mau tanya-tanya, silakan lho. Itu malah membantu saya menggali lagi peristiwa serangan negeri api ini… hehehe….

Bersambung lagi yaa....



***

Pebatuan, 27 September 2019
@agnes_bemoe


No comments:

Post a Comment