Follow Us @agnes_bemoe

Sunday, 27 October 2019

CERITA RESIDENSI 2019: BERANGKAT KE KODI


Jadi, setelah pembicaraan dengan Romo Christo Ngasi, Pr. dari Kodi, disepakati bahwa saya akan berangkat ke Kodi hari Jumat.

Pastoran Santa Maria Assumpta Homba Karipit, Kodi, Sumba Barat Daya

Oh ya, Romo Christo Ngasi, Pr. adalah yang saya mintai tolong untuk menghubungkan dengan para budayawan/nara sumber di Kodi. Beliau juga seorang penulis. Beliau pernah menerbitkan sebuah novel bertema budaya Loura, Sumba Barat Daya, berjudul Matta Liku. Saya sudah baca novelnya dan ceritanya mencekam… hehehe…. Resensi saya tentang novel ini bisa dibaca di sini.

Jadi, sebelum berpanjang lebar, saya berterima kasih sekali kepada Romo Christo –biasa dipanggil Romo/Pater Isto- atas kesediaannya membantu saya dalam riset tentang Warat Wona dan Wona Kaka ini. Di tengah kesibukannya (saya lihat sendiri Pater Isto 'pontang-panting' karena kesibukannya), Pater Isto bersedia meluangkan waktunya buat saya. Sangat saya hargai hal itu.  

Hari Jumat pagi saya bersiap-siap karena rencananya akan berangkat Pk. 11.00 WITA. Lalu, drama terjadi. 

Keberangkatan molor 1 jam, lalu 1 jam lagi. Haduuuh, bĂȘte deh saya. Telat sampai 2 jam tanpa tahu kepastian akan berangkat jam berapa atau malah jadi berangkat atau tidak.

Long story short, akhirnya berangkat juga. Perjalanan hanya makan waktu… 30 menit… hahaha! Ga sebanding dengan nunggunya! Dengan kondisi seperti ini menurut saya biaya sewa mobil di Sumba Barat Daya amat sangat mahal. Bayangkan, kita harus menunggu sampai 2 jam. Perjalanan ke sana juga tidak menggunakan AC padahal udara SBD tuh gerahnya minta ampun. Belum lagi beberapa hal lain yang membuat bingung. Singkatnya, berasa banget kalau saya “numpang”. Nasib dah. Mudah-mudahan selanjutnya saya ga ketemu lagi yang seperti ini.

Namun demikian, semua itu seperti terbayar lunas dengan kondisi di Desa Homba Karipit, Kodi.

Pagi di Homba Karipit


Saya kan menginap di Pastoran Paroki St. Maria Assumpta di Homba Karipit. P.S Saya orang “asing” ketiga yang melakukan penelitian yang menginap di pastoran; pertama seorang dokter yang melakukan penelitian tentang malaria, kedua seorang sutradara yang membuat film pendek tentang Human Trafficking, yang ketiga saya.

Suasananya di sini, di desa Homba Karipit ini bener-bener desa deh! Ga bising, di sekeliling pastoran masih banyak pepohonan dan hewan peliharaan (ayam, anjing, babi). Orang-orangnya ramaaaah banget! Yang terakhir ini yang sudah sangat langka di belahan lain Indonesia. Mudah-mudahan ini bertahan ya.



Saya mendapat sebuah kamar yang cukup besar dengan dua buah tempat tidur, yang satu berkelambu. Saya perhatikan, tidak ada kipas angin. Saya sudah cemas nih. Segini gerahnya (Kodi juga puanaas!), gimana kalo ga ada kipas ya? Eh ternyata, ga gerah-gerah amat. Mungkin karena ada dua buah jendela terbuka lebar, dan jendela itu langsung menghadap kebun belakang yang maha luas. Jadi angin sangat berlimpah ruah. Belum lagi langit-langit yang tinggi membuat udara tersirkulasi dengan baik. Sipp! Ga masalah dah! Dan bener, malamnya, saya tidur dengan super nyenyak di tempat tidur berkelambu saya.

Tomat di Kebun Pastoran


Pagi ini saya bangun dengan disuguhi udara pagi yang sejuk, udara bersih, suasana yang hening, sinar matahari pagi yang perlahan muncul, dan secangkir teh jahe yang lezat.
Puji Tuhan!

Hari ini (sekitar sore) rencananya saya, dengan diantar oleh Romo Isto, akan menemui seorang narasumber. Mudah-mudahan semuanya lancar ya.



***

Homba Karipit, 26 Oktober 2019
@agnes_bemoe

No comments:

Post a Comment