Follow Us @agnes_bemoe

Saturday, 27 July 2013

[MY THOUGHTS] Penulis Bisa Suka-Suka?

Saya setuju kalau dibilang penulis boleh bereksperimen se"gila-gila"-nya. Penulis memang harus kreatif. Tapi, kalau penulis bisa suka-suka? Saya menghargai kalau ada yang berpikiran seperti itu. Tapi, saya tidak setuju.
Sumber Gambar: http://toonclips.com/600/8776.jpg


Saya berkreasi dengan bebas, tetapi tetap ada batasan yang saya pegang.
  1. Logika: Kalau saya bercerita tentang seorang anak di dunia nyata yang naik sepeda lalu jatuh. Maka yang saya maksud "jatuh" tetap harus ke bawah. Kalaupun saya membuat cerita fantasi dan membuat makna baru dari kata "jatuh" maka di dalam cerita itu saya harus menjelaskan logika baru saya. Bukan karena saya penulis makanya saya bisa suka-suka membuat cerita yang memaksakan logika. Cerita klasik "Alice in the Wonderland" itu hampir semuanya tidak masuk akal. Tetapi logika cerita itu dibangun, dirangkai, disusun sedemikian rupa sehingga kita akhirnya memahami logika dalam konteks cerita itu.
  2. Ilmu Pengetahuan: Sebagai penulis pemula yang memilih menulis cerita anak, saya mendasari tulisan saya dengan ilmu pengetahuan, dalam hal ini Ilmu Pendidikan, sedikit tentang Parenting dan sedikit juga Ilmu Psikologi Anak. Saya akui, saya tidak menguasai. Tetapi, bisa saya katakan, saya tidak mau gegabah membuat sebuah cerita tanpa tahu latar belakang ilmunya. Ini karena pembaca saya adalah (akhirnya) anak-anak, biarpun yang memilihkan bacaan adalah orang tuanya. Sedapat bisa, saya menulis hal-hal yang jangan sampai bertabrakan dengan Ilmu Pendidikan, Psikologi, ataupun Parenting. Tidak terbayang oleh saya bagaimana kalau cerita dibuat tanpa memperhatikan pendidikan dan psikologi anak. Bacaan tidak lagi menjadi sumber pencerahan buat anak.
  3. Nilai-nilai Universal: Sedapat bisa, ketika menulis, saya tidak menabrak nilai-nilai universal; kejujuran, kerja keras, rendah hati, dll. Semaksimal mungkin saya mengusahakan cerita-cerita saya mendukung hal-hal itu. Kalau pun tidak, tidak mensupport hal-hal yang sebaliknya.
  4. Etika dan Moral: Sebagai penulis saya juga harus memikirkan apakah buku saya tidak menggiring anak pada etika dan moral yang keliru. Untuk bagian ini, tolong jangan dikacaukan dengan pesan moral dalam setiap cerita. Saya pendukung berat buku-buku yang mengolah pesan moral sedemikian rupa secara implisit. Untuk membangun konflik tentu saja saya memunculkan karakter yang bermasalah (secara etika), tetapi bukan itu point-nya. Yang penting adalah gambaran besarnya (the whole picture) tidak mendukung hal-hal yang bertentangan dengan etika dan moral.
Kira-kira, itulah yang menjadi batasan saya dalam menulis. Apakah cerita-cerita saya lantas membosankan? Ininya yang "baik-baik" melulu? Tergantung yang membaca sih. Kebetulan saya belum membuat survei untuk itu. Yang jelas saya memang perlu banyak melatih diri untuk menulis. Saya  membaca buku-buku lain yang kelihatan sekali ditulis dengan kesadaran penuh akan pentingnya logika, ilmu pendidikan, ilmu parenting, dll. Dan buku-buku itu tetap menarik!
Oleh karenanya saya tidak mendesain diri saya menjadi "penulis suka-suka" :)

Pekanbaru, 28 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

No comments:

Post a comment