Follow Us @agnes_bemoe

Friday, 26 July 2013

[MY THOUGHTS] Learning How to Learn - untuk Penulis

Sumber Gambar: http://www.altham.com/assets/images/Girl_sitting_writing_.jpg


Tulisan ini berangkat dari beberapa pertanyaan yang terlontar di forum-forum kepenulisan dunia maya, seperti:
  1. Saya mau jadi penulis, bagaimana caranya?
  2. Saya mau menerbitkan buku, bagaimana caranya?
  3. Apa yang harus dipikirkan sebelum menulis?
  4. Tolong beritahukan alamat penerbit/majalah/surat kabar.

Berkali-kali ada teman penulis yang baik hati menjawab, namun, berkali-kali pula pertanyaan seperti itu muncul.

Apa yang salah dengan pertanyaan itu?

Menurut saya, pertanyaan itu tidak perlu muncul kalau saja kita mau sedikit berusaha dan menolong diri kita sendiri. Pertanyaan tersebut cocok bagi bayi yang tidak tahu apa-apa. Buat yang sudah berusia duapuluhan bahkan lebih, rasanya sudah saatnya membangun pertanyaan yang lebih berbobot.

Yang menjadi masalah adalah bukan tidak adanya informasi. Sebaliknya, informasi terserak begitu banyak dan sangat mudah diakses. Kemampuan kita mengenali dan memahami informasilah yang masih sangat minim.

Saya adalah pembelajar (dan selalu menjadi pembelajar). Saya tidak menafikan bahwa menapak dunia kepenulisan seperti berdiri di sebuah “Land of Nowhere”. Namun demikian saya yakin, di setiap tahapannya saya pasti akan bertemu dengan “Land of Nowhere” yang lain. Maka dari itu, modal saya tidak bisa hanya dengan bertanya “pasrah” seperti di atas. Saya harus bisa belajar secara mandiri.

LEARNING HOW TO LEARN
Learning How to Learn adalah salah satu dari Empat Pilar Pendidikan yang ditetapkan oleh UNESCO. Konesp ini diartikan sebagai mengembangkan kemampuan untuk mengingat, berimajinasi, bernalar, memecahkan masalah, dan berpikir kritis dan masuk akal. Saya pernah mempelajari konsep ini ketika saya masih menjadi guru dulu.

Lalu, apa manfaat LHtL ini buat saya sebagai penulis? Konsep ini mengingatkan saya bahwa saya harus mengenali sumber-sumber belajar saya.

Berikut ini adalah beberapa hal yang saya jadikan sumber belajar:
  1. Toko Buku. Saya belajar (memperoleh informasi) tentang buku-buku apa saja yang sedang digemari. Sekaligus saya mengukur diri saya sendiri, saya berminat dan mampu dalam genre yang mana.
  2. Buku dengan genre tertentu. Ketika pelan-pelan saya menemukan genre yang saya minati dan mampu mengerjakannya, saya lalu mulai mempelajari buku-buku dari genre itu. Catatan: tidak ada guru galak yang mengawasi dan ketat memperi pe-er. Saya harus mampu mendisiplinkan diri sendiri.
  3. Majalah dan Surat Kabar. Sama seperti dengan buku, saya juga mulai mempelajari tulisan di majalah atau surat kabar tertentu.
  4. Perpustakaan
  5. Film Kartun
  6. Katalog
  7. Internet
  8. Penulis lain

Apa sih yang saya pelajari? Saya melihat tema-tema apa yang dimuat/diterbitkan. Bagaimana penulis menuliskan judulnya. Bagaimana penulis membuat pengantar cerita, konflik, penutup. Bagaimana penulis menghidupkan karakter.

Ini saja sudah sangat membantu saya. Saya mendapat banyak sekali informasi yang saya perlukan, baik teknis maupun non-teknis dalam menulis.

Contohnya, alih-alih bertanya alamat penerbit, mengapa tidak melihat langsung dari salah satu buku yang ada di toko buku? Ini masalah yang sangat sepele. Kalau sesepele ini pun tidak dapat kita atasi secara mandiri, bagaimana kita bisa melangkah untuk tantangan berikutnya?

MENGAMATI
Watch and learn” bukan perkataan kosong belaka. Belajar bukanlah tindak fisik belaka. Duduk diam dan mengamati adalah proses belajar yang efektif.

Sekarang penulis pemula dimudahkan dengan adanya grup-grup penulis di media sosial. Seringkali penulis lain memberikan masukan, ide, opini, kritik pedas, informasi, dll. Biarpun itu tidak spesifik ditujukan kepada kita, jangan sampai dilewatkan apa pun yang dilontarkan. Jadilah spons yang menyerap sebanyak mungkin informasi.

Tidak hanya ilmu kepenulisan secara khusus, motivasi menulis pun bisa didapat dengan cara mengamati penulis lain. Tidak sedikit penulis yang menceritakan pahit getir perjuangannya menembus penerbit sampai dengan sukses hingga sekarang. Itu adalah mutiara berharga untuk dipelajari. Jangan cengeng. Pandai-pandailah memotivasi diri. Semua orang pernah gagal. Kata Merry Riana, gagal itu satu paket dengan keberhasilan.

Karena ini dunia tulis menulis, saya pribadi suka sekali mengamati bagaimana seseorang menuliskan status atau komen. Saya tidak perlu malu mengakui bahwa saya “mencontek” gaya mereka yang saya anggap pas dengan apa yang ingin saya ungkapkan tapi sulit saya ungkapkan. Banyak hal saya dapatkan dari rumusan “watch and learn” ini.


TRIAL AND ERROR
Banyak yang bertanya karena takut melakukan kesalahan lalu takut menyesal kemudian. Bagi saya, melakukan kesalahan adalah bagian dari belajar. Tidak ada yang rugi, baik uang ataupun waktu, bila saya mau belajar dari hal itu.

Implikasi dari trial dan error adalah saya harus melakukan sesuatu dulu. Saya menulis, ada kemungkinan tulisan saya keliru, dalam hal ini saya bisa mengetahuinya melalui, a) pembaca, b) membandingkannya dengan tulisan lain yang serupa.

Artinya, berkaryalah dulu dan selalu berkarya. Akan sangat kering pertanyaan kita kalau kita tidak mempunyai karya, tapi banyak bertanya.

Alih-alih bertanya “Apa sih tema yang lagi ngetop”, lebih baik kita mengatakan: “Ini cerpen saya, bagaimana menurut Anda, apakah bisa diterima oleh pembaca?”

Bagian dari trial dan error adalah tahan banting. Tahan dicemooh, tahan ditolak, tahan diabaikan.

PERTANYAAN YANG LEBIH BERBOBOT
Apakah berarti kita tidak boleh bertanya? Pertanyaan ini pun adalah pertanyaan “pasrah”. Bertanyalah, namun sekaligus kritislah dengan pertanyaan itu. Apakah aku sudah cukup berusaha untuk menjawab sendiri pertanyaanku? Apa yang sudah aku upayakan untuk memecahkan masalahku ini?

Ini adalah latihan mental yang baik: berlatih mandiri dan mampu memecahkan masalah, mencari dan menghubungkan berbagai informasi. Ini bukan hanya latihan intelektual. Seperti saya katakan, ini lebih pada bina mental. Saya pribadi yakin, dengan mental yang lebih tahan banting, saya akan lebih mudah menapaki dunia tulis menulis.

***


Pekanbaru, 27 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe




No comments:

Post a comment