Follow Us @agnes_bemoe

Monday, 9 May 2011

GA USAH JADI GURU DEH!_Bagian 1. KOK JADI GURU??



Guru adalah cita-cita saya sejak kecil. Kalo’ kawan-kawan menuliskan “insinyur” atau “dokter” untuk kolom cita-citanya, maka saya ingat, saya akan menyebutkan “guru”. Tentu saja, saya tidak tahu, seberapa serius saya saat itu, namun nyatanya, sampai SMA saya tidak pernah mengganti cita-cita saya.

Kakek dari ibu adalah seorang guru, demikian juga ibu saya. Sementara ayah saya seorang jaksa. Mungkin, karena guru jugalah sosok orang dewasa yang pertama yang saya kenal setelah ayah dan ibu saya, makanya saya ingin jadi guru. Orang tua saya sendiri tak pernah risau dengan keinginan saya menjadi guru. Paling tidak, misalnya pun ternyata mereka tidak setuju, mereka tidak pernah mengungkapkannya. Yang sempat membuat mereka agak keberatan adalah ketika saya sempat bilang, saya ingin studi filsafat!

Kesukaan saya pada filsafat berangkat dari kesukaan saya membaca. Saya pembaca segala, termasuk buku-buku berbau filsafat. Ketika saya membaca buku-buku filsafat, kok rasanya begitu mengasyikkan. Makanya saya terpikir untuk studi filsafat.

Ketika saya SMA, Bu Ratna, Guru BP kami, terkejut setengah mati, waktu tahu saya mau studi filsafat. Beliau langsung memanggil saya dan mengajak saya bicara. Maksud beliau tentu sangat baik, yaitu menguji apakah saya benar-benar serius dengan pilihan saya. Beliau khawatir, saya cuma asal pilih saja, trus kemudian nanti kecewa. Rupanya, tidak hanya beliau saja yang terkaget-kaget. Suster Inggrid, OSU, suster asrama saya yang juga guru Agama di sekolah, juga ikut-ikutan kaget. Dan lucunya, pertanyaan mereka hampir sama:
“Mau jadi suster ya….?” Hahahahaha…. Tentu saja tidak. Saya cuman suka filsafat, dan ga ada hubungannya dengan mau jadi biarawati…

Di sekolah “heboh”, ga kalah hebohnya juga di rumah. Seperti yang saya ceritakan, orang tua saya yang biasanya demokratis, kali ini agak sedikit kenceng.
Mereka menunjukkan ketidaksetujuannya, biarpun tidak langsung. Saya ingat, ayah saya yang super demokratis pun dengan hati-hati menjelaskan ketidaksetujuannya atas pilihan saya itu. Negosiasi untuk menentukan pilihan setelah lulus SMA ini berlangsung cukup alot sampai akhirnya kami terpaksa kompromi. Kesepakatan dibuat, untuk jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) jurusannya adalah jurusan yang disetujui oleh orang tua, sedangkan untuk SIPENMARU saya dibebaskan memilih yang saya suka. Di jalur PMDK saya memilih keguruan; bahasa Inggris di pilihan pertama, dan bahasa Jerman di pilihan kedua. Ini sebetulnya hasil pemikiran licik saya; karena menurut saya pasti lebih susah jebol PMDK daripada SIPENMARU. Saya berencana, nanti kalau tidak jebol PMDK, saya akan ambil jurusan Filsafat di SIPENMARU.

Nasib berkata lain: saya lolos PMDK, Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman di IKIP Yogyakarta! Saya kuliah keguruan, dan akhirnya jadilah saya guru, sampai sekarang…
Balik lagi ke masalah pertanyaan “Kok jadi guru?”, saya ingat, dari kecil saya juga sudah menerima pertanyaan itu; maksudnya tentu ada sambungannya, “kok bukan insinyur, atau dokter, atau pilot, de el el…” seperti umumnya anak seusia saya. Tentu saja saya tidak punya jawaban yang pasti untuk itu.

Ketika saya SMA, bahkan seorang guru saya juga menanyakan pada saya:
“Memang serius ya, mau jadi guru …?” demikian guru saya bertanya. Selanjutnya, guru bahasa Inggris saya itu, menunjukkan koleksi ensiklopedi yang dia miliki. Saya ingat, saya sedang main ke rumahnya ketika itu. “Ini semua yang beli ayah saya. Gaji guru gak akan mungkin bisa membeli semua ini…”
Intinya, dengan caranya tersendiri beliau menjelaskan bahwa jadi guru ga akan bisa kaya. Ga bisa beli macem-macem…

Dan, saya waktu itu, tentu saja masih sangat sangat sangat naïf, untuk bisa memahami apa yang guru saya coba katakan. Sama sekali secuil pun tidak pernah terlintas di kepala saya tentang biaya hidup, apalagi gaya hidup, yang semuanya butuh duit. Di pikiran saya hanya satu: menjadi guru.

Bicara tentang mau atau tidak jadi guru, memang tidak semua orang dari sononya pengen jadi guru. Seperti kisah dua orang ibu guru kembar berikut ini. Sri Rosiati (Rosi) dan Sri Irianingsih (Rian), ibu kembar yang terkenal lewat sekolah Kartininya ini juga tidak sengaja masuk ke dalam dunia pendidikan, dan “nyebur” jadi guru. Untuk sekedar ngingetin, ini kisahnya:

Sekitar delapan tahun lalu, Rosi dan Rian berdialog dengan Jamin, salah seorang warga di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Saat itu, Jamin bertugas sebagai keamanan di wilayah tersebut. Rosi dan Rian menitipkan kendaraannya yang saat itu mogok.

"Waktu itu kita ingin memberi imbalan kepada Pak Jamin, tapi ia menolak. la menyarankan agar kami memberikan bantuan kepada warga saja," kata Rosi.
Setelah melihat kondisi wilayah di bawah jembatan layang tersebut, Rosi dan Rian melihat bahwa warga di wilayah itu amat miskin. Kecuali itu, anak anak dari keluarga itu juga banyak yang tidak bersekolah. Karena itu, pasangan kembar kelahiran Februari 1950 itu sengaja membangun sarana pendidikan bagi warga perkampungan kumuh di wilayah Jakarta Utara tersebut.

Selain didasari rasa kemanusiaan sebagai seseorang yang beruntung hidup di atas garis kemiskinan, inisiatif Rosi dan Rian mendirikan sekolah darurat juga atas dasar perhatiannya terhadap masalah pendidikan di Tanah Air.

"Kita melihat banyak anak di sini tidak punya kesempatan sekolah. Bayangkan, anak usia 10 tahun ada yang sudah menjadi pelacur. Nah, kita sebagai seorang yang berada, kenapa nggak mencoba untuk memberikan kesempatan," ujar Rosi.

Rupanya, kehadiran sekolah darurat itu mendapat respons positif masyarakat sekitar. Lima Sekolah Darurat Kartini yang didirikan Ibu Kembar ini, mampu menampung banyak anak miskin. Di Rawa Bebek saja, misalnya, tak kurang dari 350 siswa ditampung di sekolah tersebut.
Sumber: http://www.sampoernafoundation.org/content/view/161/48/lang,id/




Sebelum mengenal sepak terjang kedua ibu kembar yang sangat luar biasa ini, saya pernah mengenal sebuah kegiatan sosial sejenis. Kali ini di Jogjakarta, sekitar tahun 1984 ketika saya masih mahasiswa di Jogja. Di sana ada sekelompok frater-frater (calon pastor, Pen) yang menetap di Kolsani (Kolese Santo Ignatius de Loyola) Jogjakarta, yang punya kegiatan memberikan pengajaran pada anak-anak pemulung di daerah Pingit, Jetis. Para frater ini setiap hari mengunjungi anak-anak pemulung di daerah tersebut. Mereka mengajari anak-anak itu pelajaran-pelajaran SD, seperti membaca, berhitung, dan menulis. Tidak formal-formalan, ruang belajar pun memakai rumah keluarga atau tanah kosong, dengan penerangan lampu strongking. Tidak tahu persis, apa yang membuat mereka mau bersusah-payah menjadi guru, mengajari anak-anak pemulung yang jelas-jelas terbelit dengan seribu satu kesulitan; terutama kesulitan ekonomi dan sosial.

Saya tidak tahu, berapa banyak orang seperti ibu Kembar Rosi dan Rian ataupun para frater di Jogjakarta ini. Tapi, mungkin jumlahnya kalah banyak dengan kelompok yang akan saya sebutkan ini.

Beberapa rekan kerja saya mengaku, bahwa sebetulnya mereka tidak ingin jadi guru. Makanya mereka juga tidak tertarik untuk kuliah di keguruan. Namun, persaingan kerja yang keras dan ketat, serta beberapa sebab yang lain, menggiring mereka kemudian terpaksa dan coba-coba melamar jadi guru… dan ternyata… diterima…

Agak menyedihkan ya… motivasi awal ini… Saya teringat, bahwa beberapa teman kuliah saya juga mengaku, bahwa mereka sebetulnya tidak ingin masuk ke keguruan, tetapi karena tidak jebol di jurusan lain, maka mereka terpaksa pilih keguruan. Whew… Memang selanjutnya tidak sedikit yang akhirnya menemukan kecocokan menjadi guru, dan kemudian berkarya dengan penuh dedikasi.

Lucunya, di lain pihak, tidak sedikit juga teman-teman saya yang kuliah keguruan, eeh… akhirnya malah terus terjun di bidang lain; ada yang jadi Marketing Manajer di sebuah perusahaan pengolahan tuna; ada yang membuka bisnis sendiri; ada yang bekerja di perusahaan penerbitan terkenal, ada juga yang menjadi aktivis di LSM, dan lain-lain…

Maka, “Kok jadi guru?” bisa macam-macam jawabannya…

***

--- bersambung ---

Agnes Bemoe


Sumber Gambar: http://images.google.co.id/imglanding?q=teacher&imgurl

No comments:

Post a comment