Follow Us @agnes_bemoe

Sunday, 5 October 2014

Rumah Sakit (Lagi)_Bagian 3

Saya menjalani tindakan SNRB dua kali. Suntikan pertama tanggal 29 Agustus 2014 kurang berhasil karena masalah di pencernakan. Suntikan kedua dilakukan seminggu setelahnyaa, 5 September 2014 setelah masalah pencernakan dibereskan.

Setelah suntikan kedua, nyeri agak hilang. Namun saya belum bisa duduk dan berdiri. Paling kuat hanya sekitar 3 - 4 menit. Dokter menyarankan untuk tetap tekun latihan duduk dan jalan. Pengobatan pasti perlu waktu, begitu kata dokter.

Tanggal 9 September 2014 saya diperbolehkan pulang. Saya belum bisa duduk, berdiri, dan jalan. Namun, secara umum kondisi saya sudah jauh lebih baik daripada ketika datang.


LALU DATANGLAH MONSTER LAIN
Sepuluh hari di rumah, saya pikir badai sudah berlalu dan saya tinggal menunggu garis pantai kelihatan. Nyatanya....

Pencernakan saya bermasalah lagi. Dua hari saya kesakitan (tapi ngeyel nggak mau ke rumah sakit). Hari ketiga saya nyerah. Soalnya hampir sepanjang malam saya nggak tidur. Kesakitan.

Jumat pagi, 19 September 2014, dijemput ambulance, saya ke rumah sakit.

Here we go... ke RS untuk ketiga kalinya....

Di RS saya pesan kamar VIP dengan pertimbangan tidak lagi tertular penyakit pasien lain. Pertimbangan lain, tidak ada yang bisa menjaga saya, jadi saya butuh perawat full. Sayangnya, kamar VIP penuh. Saya ditempatkan di kamar nifas (kelas 3).

Di kamar kelas 3 ternyata saya tidak bisa tidur. Ribut suara pengunjung, bergantian dengan keributan suara pasien yang mengobrol tiada henti. Kebetulan di dekat saya ada pasien ibu-ibu muda. Sepanjang hari ia ngobrol dengan suaminya. Awalnya cute sih, ngeliat suami istri ngobrol berdua gitu. Tapi kalau sepanjang hari, malam pun sampai jam 2-an pagi, maka it was horribly annoying. Setelah jam 2 suasana sunyi dan baru bisa merem sedikit, tiba-tiba... tzzinggg tzinggg....! Ada alarm bunyi. Jam 3 pagi. Yang punya alarm tidak juga terbangun, sementara kuping saya sudah kesakitan. Dan saya pun kembali nggak bisa tidur.

Lalu, kadang-kadang pengunjung pun tak tahu etika. Antar pasien hanya dipisahkan dengan tirai. Nah, mereka ini tanpa rasa hormat, malah mengintip-intip. Aduh, saya merasa sangat tidak nyaman karena ada bapak-bapak yang sempat-sempatnya menjulurkan kepala ke bagian saya. Biarpun lemes, saya bentak juga bapak itu.

Yang berikutnya mungkin tidak layak saya keluhkan tapi saya memang tidak tahan mendengarnya, yaitu keluhan sampai jerit kesakitan pasien lain. Pada malam kedua ada pasien masuk sekitar jam duabelas. Rupanya ia sangat kesakitan karena ia tak berhenti menangis dan menjerit-jerit. Suwer, saya meras sangat prihatin padanya. Sepertinya ia sudah menahan sakit sejak jam 9. Sudah beberapa kali disuntik sakitnya tidak reda juga. Sambil menangis ia minta dipulangkan. Suaminya pun bingung menenangkannya.

Saya bisa merasakan tidak enaknya. Saya juga pernah kesakitan sampai menangis seperti itu.

Suara pasien ini ditingkahi dengan suara seorang oma yang juga sedang merasa kesakitan dan terus menerus muntah.

Sekali lagi, perlu saya tegaskan, garisbawahi, pertebal SAYA TIDAK MENYALAHKAN SESAMA PASIEN YANG MEMANG SEDANG KESAKITAN. Namun, akumulasi itu semua ternyata berdampak buat saya.

Monster lain sedang mengintip saya....

(lagi-lagi, bersambung)

***

Pembatuan, 6 Oktober 2014
@agnes_bemoe





No comments:

Post a comment