Follow Us @agnes_bemoe

Saturday, 11 October 2014

Antisipasi Konstipasi

Mau ngomongin masalah ga keren nih: konstipasi.
Saya tidak punya masalah pencernakan serius. Paling mules setelah ngembat rujak satu panci... hehehe....
Makanya saya tidak menyadari kalau terkena konstipasi (sembelit). Ketika masuk RS pertama kali di minggu terakhir Agustus, saya sama sekali tidak sadar bahwa sudah beberapa hari saya tidak BAB. Saya juga masih merasa tidak akan ada hal serius waktu perut saya dikuras sampai tiga kali karena konstipasi (tidak BAB menyulitkan tindakan suntik SNRB yang saya jalani).

Psst... ada yang pernah dikuras perutnya ga? Hell, isn't it?

Jadi, ketika kembali dari rumah sakit setelah suntik SNRB saya merasa baik-baik saja dan hanya perlu memulihkan HNP saja. Hari ke-8 saya di rumah, pagi-pagi saya merasa aneh. Kedinginan. Dingiiiin banget, sampai saya butuh selimut beberapa lapis.

Dingin berlalu, diganti dengan perasaan gerah. Sambil itu saya berkeringat sampai kuyub badan saya. Beberapa saat setelahnya saya merasa mules. Saya coba ke kamar mandi tapu tidak berhasil. Berikutnya, saya hanya berputar pada panas-dingin, keringat dingin, mules. Begitu yang saya rasakan sepanjang hari. Besoknya saya coba minum obat pencahar. Hasilnya, setiap dua jam saya malah mules dan kesakitan hebat, dari pagi sampai pagi keesokan harinya! Bahkan obat tidur dan obat penenang dari dokter tidak mampu menahan badan saya dari terbangun karena kesakitan.

Saya sudah nggak tahan lagi! Jumat pagi, 19 September 2014, saya ke RS dengan ambulance. Hwuih, kedengarannya ngeri ya? Saya tidak bisa jalan, perut super sakit dan super mules, dan badan panas dingin tak menentu. Saya bukan orang yang gampang menangis. Tapi pagi itu saya menangis, mohon sama Tuhan untuk berhenti menyiksa saya. Saya juga ketakutan karena teringat penyakit yang diderita almarhum ayah saya. Ayah saya meninggal karena kanker usus besar. Penyakit itu diawali dengan sangat sepele: sakit pencernakan.

Oke deh, akhirnya saya ditangani oleh RS. Enam hari dirawat, saya dinyatakan sembuh. Dokter bilang pencernakan saya bagus. Beliau menengarai kasus saya karena pengaruh obat penenang dan obat pereda nyeri. Obat-obatan tersebut kadang-kadang membuat pencernakan ikut "malas" beraktivitas. Beliau juga menduga ada faktor stress (dan dugaan ini kemudian dibenarkan oleh psikolog saya)

O'oi! Itu lagi! Selalu berawal dari stress.

Akhirnya, untuk sementara pengobatan HNP dikurangi sampai konstipasi saya tertangani. Catatan: pengurangan obat HNP berarti tidak ada yang membantu saya mengurangi rasa nyeri di sepanjang tungkai kanan. Namun, saya harus memilih. Dan saya memilih untuk memerangi dulu konstipasi sialan ini! Saya menurunkan tulisan ini untuk membagi pengalaman saya melawan konstipasi (atau dalam kasus saya sudah masuk tahap obstipasi).

Sejak pulang dari RS menu makan saya berubah: lebih banyak serat dan air. Ini yang saya asup setiap hari:
Beras merah dan ubi cilembu untuk karbohidrat
Tahu kukus, atau goreng setengah matang. Ikan, juga dikukus.
Sayuran hijau: bayam, sawi, brokoli, dll. Semuanya hanya direbus sebentar dengan sedikit garam.
Minum banyak air putih (8 gelas sehari)
Buah: pepaya, mangga, nanas, buah naga, dll. Saya juga makan agar-agar untuk camilan.
Nah, dua yang berikut ini yang saya rasa sangat membantu. Ini info dari teman saya: malam sebelum tidur minum jus lidah buaya. Cara membuatnya: ambil lidah buaya seukuran telapak tangan (catatan: lidah buaya ini saya dapatkan yang berbentuk sudah dibudidayakan dan dijual di pasar swalayan). Cuci bersih lalu potong kecil-kecil. Campurkan dengan buah yang disukai, tambahkan madu atau sirup (karena lidah buaya pahit rasanya). Bisa juga dikucuri perasan lemon. Sudah. Jadilah jus yang segar. Jus ini diminum malam sebelum tidur.
Bergantian dengan jus lidah buaya, saya minum yogurt. Harus yogurt asli. Puji Tuhan, teman saya itu juga sering membuat yogurt sendiri. Jadi dari dialah saya memperoleh yogurt asli. Sama juga dengan lidah buaya, campur saja yogurt dengan buah-buahan yang disukai (untuk saya harus buah-buahan yang tajam, seperti mangga, untuk "mengalahkan" rasa yogurt. Saya bukan penyuka susu dan segala produk turunannya.)

Waktu pulang dari RS, saya dibekali dengan obat pencahar. Obat itu diminum hanya kalau setelah empat hari saya belum juga BAB. Jadi, pembaca, empat hari pertama di rumah adalah empat hari menengangkan buat saya. Bagaimana kalau sayur dan buah alami yang saya konsumsi tidak mampu membantu saya? Masak harus bergantung pada obat?

Saya lupa hari keberapa, jelas bukan hari pertama, setelah seharian makan makanan berserat tinggi, banyak minum, dan menutup hari dengan segelas jus lidah buaya, keesokan paginya... horeee!!! Sumpah, seumur hidup belum pernah saya sebersyukur itu bisa BAB!

Awalnya dua-tiga hari sekali, sekarang setiap pagi saya BAB. Yeay! Obat dokter tidak tersentuh sama sekali. Yess! Seperti yang saya katakan di awal tulisan, saya tidak punya masalah pencernakan. Namun kalau toh saya harus menghadapi, saya sudah punya informasi bagaimana menghadapinya. Saya bagikan, mudah-mudahan ada yang membutuhkan.

***

Pembatuan, 12 Oktober 2014
@agnes_bemoe

No comments:

Post a comment