Follow Us @agnes_bemoe

Monday, 6 October 2014

Berkata Benar Harus Dipelajari

Beberapa waktu yang lalu saya ditegur oleh seorang teman baik atas kata yang saya tuliskan di sebuah status. Saya menggunanakan kata "sakaw" untuk menggambarkan betapa sukanya saya akan sebuah buku (yang mana buku tersebut ditulis oleh kawan baik saya itu). Menurut teman saya, kita harus mempertimbangkan siapa tahu di antara pembaca status ada yang punya saudara, kerabat, sanak, famili yang kecanduan. Kata "sakaw" tentu menjadi hal sensitif buat mereka. Karena dia kawan yang sangat baik, saya langsung nurut. Sebenarnya saya bertanya-tanya juga (dalam hati) apa salahnya sesekali ber-lebay-ria dengan menggunakan istilah tertentu.

Tadi pagi, ketika ngelayap di fb, saya menemukan foto orang yang didandani lucu-lucuan (cenderung norak) dan pengunggah memberi komentar "orang stress" untuk foto itu. Entah kenapa, saya langsung tersentak. Wah, beginikah masyarakat menilai penderita stress? Stress jadi bahan olokan. Dan saya merasa diri saya sedang diolok-olok. Saat itulah saya bisa memahami sudut pandang teman baik saya itu.

Saya mengalami stress. Tidak hanya itu, saya mengalami depresi, anxiety-affect, dan panic attact (ini dianogsa psikiaater dan psikolog saya). Tidak ada penyakit, fisik dan psikis, yang mengenakkan. Saya tidak perlu memerinci betapa tidak enaknya terkena penyakit itu. Okelah, secara pribadi saya harus menguatkan diri menghadapi masyarakat yang belum paham (seperti saya dulu). Namun di sisi lain saya rasa yang saya rasakan dirasakan juga oleh semua penderita lain. Mereka mungkin tidak bisa menyampaikan keberatan dan dasar keberatan. Saya rasa, melalui tulisan ini saya bisa menyampaikannya, mewakili teman-teman yang lain. Tidak spesifik untuk penderita stress saja tapi juga untuk penderita lain, seperti autis, misalnya, yang juga kerap dijadikan bahan olok-olok.

Alangkah baiknya kalau kita menjadi masyarakat yang lebih peka. Menjadi masyarakat yang lebih supportif serta menjadi masyarakat yang lebih peduli. Kepekaan kita mungkin kecil namun itu berdampak besar bagi penderitanya, siapapun itu. Syukur-syukur kalau bisa kita tularkan pada orang lain, seperti yang dilakukan oleh teman baik saya.

Kembali ke saya pribadi sebagai penulis, keinginan saya untuk menghiperbola kata harus saya seimbangkan dengan kebutuhan orang lain untuk merasa nyaman membaca tulisan saya. Jangan sampai pesan yang saya sampaikan salah diterima. Dietrich Bonhöffer, seorang theolog dan pendeta Lutheran, penulis puisi dan novel, dan juga musisi mengatakan bahwa: Berkata benar harus dipelajari. Maknanya, seperti yang saya tuliskan di atas. Jangan sampai menimbulkan distorsi.

Satu dua kata seolah sepele. Namun bisa punya efek yang sangat besar bagi orang-orang yang kebetulan terhubung dengan itu. Saya merasakan dalam kasus kata "stress". Betapa tidak nyamannya membaca bahan olokan seperti itu.

Ini menjadi refleksi saya pagi ini. Dalam menulis pun hendaknya saya memilih dengan cermat kata-kata yang hendak saya tulis. Besar kemungkinan saya akan mengulangi kesalahan yang sama. Untuk itulah saya membutuhkan teman baik, seperti teman yang saya ceritakan di atas, sebagai "editor" yang tidak segan-segan menyampaikan pendapatnya. Bila kita terus menerus melatih hal ini, kita akan mejadi masyarakat yang supportif dan bukan judgmental. Kita menjadi masyarakat yang sehat, bukan sakit.

***



Pembatuan, 7 Oktober 2014
@agnes_bemoe

No comments:

Post a comment