Follow Us @agnes_bemoe

Wednesday, 1 May 2019

BUNDA MARIA NILO




Pulau Flores di Propinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu tujuan wisata rohani di Indonesia. Selain ritual Tuan Ma di Larantuka, Flores Timur, tempat ziarah Maria Bunda Segala Bangsa di kota Maumere, Kabupaten Sikka, merupakan salah satu yang patut dikunjungi.
Terletak sekitar 7 km dari Maumere, tepatnya di Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, patung perunggu yang didirikan mulai tahun 2004 ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah, baik dalam maupun luar negeri.

Pebruari tahun 2008 lalu saya bersama dengan ibu dan paman saya berkesempatan berziarah ke Nilo. Dari kota Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, kami berangkat ke arah Barat Daya dan melakukan perjalanan sekitar 45 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi. Melewati jalan lengang dengan hutan bambu di kiri kanan jalan, akhirnya kami sampai di jalan masuk ke tempat ziarah di bukit Keling-Nilo. Sampai di sini perjalanan jadi menarik. Karena patung Bunda Maria Nilo didirikan tepat di atas bukit maka mulai dari beberapa kilometer dari bawah bukit kita sudah bisa melihat patung Bunda Maria Nilo yang berdiri anggun dari kejauhan. Pertama-tama patung Bunda Maria terlihat sangat kecil, lalu lama kelamaan semakin besar dan semakin besar. Yang uniknya lagi, seolah-olah kita memutari Bunda Maria, atau seolah-olah Bunda Marialah yang memutari kita! Wah, sungguh asik menikmati perubahan pemandangan seperti itu! Apalagi, suasana di sekeliling jalan masih suasana yang sangat alami, hanya ada padang rumput dan pepohonan. Sungguh hijau dan segar! Namun, menurut paman saya, saat itu bukit menghijau karena sedang musim hujan. Bila kita datang pada musim kemarau, maka suasananya akan lain; kering dan kecoklatan. Wah, untung saja saya datang ketika musim sedang indah.



Akhirnya, sampai juga kami di gerbang lokasi patung Bunda Maria Nilo. Di sana kami harus mendaftar dahulu. Karena saat saya datang adalah bulan Pebruari, maka tidak banyak pengunjung yang datang. Namun, ketika melihat buku daftar pengunjung, saya terkejut sendiri: pengunjung ternyata tidak hanya dari Flores, atau bahkan Indonesia saja. Banyak pengunjung dari Jerman, Amerika, dan juga Jepang! Biasanya mereka datang pada bulan-bulan Mei atau Oktober, bulan-bulan yang dikenal sebagai bulan devosi kepada Bunda Maria. Untuk hari itu, nampaknya hanya saya dan rombongan saya saja yang jadi pengunjung. Maka, areal ziarah Bunda Maria Nilo seolah-olah jadi milik pribadi kami.

Dari portal ini kami masih harus berjalan kaki lagi sekitar setengah kilo untuk sampai di lokasi tempat patung berada. Dan akhirnya, sampailah kami di patung Maria Bunda Segala Bangsa. Melihat sendiri patung Bunda Maria Segala Bangsa itu dari dekat sungguh sangat menakjubkan! Patung yang memiliki tinggi sekitar 18 meter untuk patungnya saja, dan 28 meter bersama dengan fondasinya itu tidak hanya sangat besar, namun juga sangat indah, dengan latar belakang langit yang biru dan bersih!
Patung yang merupakan bangunan tertinggi di Kabupaten Sikka itu berdiri di atas ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut, menghadap ke arah utara kota Maumere. Jadi, patung Maria Bunda Segala Bangsa itu mengarah ke laut Flores, dengan kota Maumere persis di bawahnya. Seolah-olah Bunda Maria sendiri yang menjaga dan melindungi kota pantai yang cantik di daratan Flores itu. Dari areal ziarah sendiri kita bisa melihat kota Maumere lengkap dengan pantainya yang biru dan bersih di bawah. Dan konon, dari kota Maumere pun patung Maria Bunda Segala Bangsa ini bisa kelihatan. Saya membayangkan, mungkin persis patung Kristus Raja di Sao Paolo atau di Dilli.



Patung Maria Bunda Segala Bangsa sendiri dibangun di atas pondasi beton berupa tiang empat kaki yang dicat kecoklatan dan dihiasi dengan bermacam-macam motif tenun ikat Sikka. Di atas kepala patung Bunda Maria terdapat bintang, sementara kedua tangannya terbuka. Kedua kakinya berdiri di atas bola dunia yang dilingkari ular sambil memakan buah apel.
Di bawahnya disediakan tempat yang cukup luas untuk berdoa, lengkap dengan lilin dan korek api. Tidak jauh dari situ dibangun juga replika taman Getsemani, lengkap dengan patung Yesus yang sedang berdoa.

Patung yang dibangun oleh Tarekat Pasionis (CP) dengan kerja sama umat ini diberkati dan dibuka secara resmi sebagai tempat ziarah oleh Almarhum Uskup Agung Ende Mgr. Abdon Longinus da Cunha pada 31 Mei 2005, akhir bulan Maria. Tidak lama setelah itu, tepatnya Desember 2005, Keuskupan Maumere kemudian dibentuk dari wilayah Keuskupan Agung Ende. Bagi umat katolik Maumere ini tentu merupakan berkat yang tidak terhingga. Sampai sekarang mereka percaya, campur tangan Bunda Maria lah yang memungkinkan hal itu terjadi.

Patung seberat 6 ton ini juga ternyata tidak luput dari masalah. Pada 21 Januari 2006, hujan lebat dan angin kencang yang selama satu minggu penuh mendera kota Maumere menumbangkan patung Maria itu dari pondasinya. Konon, tangan dan mahkota patung menyentuh tanah tetapi kedua kaki patung masih tegak di atas bola dunia. Patung itu segera diperbaiki dan dibangun kembali.

Setelah itu tercatat sebuah kejadian “aneh” lagi menimpa patung tersebut. Pada tanggal 31 Agustus 2007 pagi hari banyak warga setempat melaporkan bahwa patung Bunda Maria berputar selama beberapa menit. Otoritas Gereja Katolik saat itu yang diwakili oleh P. Frans Fao, Vikjen Keuskupan Maumere menanggapi fenomena ini sebagai momen untuk berefleksi dan tidak ingin larut dalam sensasi yang ditimbulkan. Setelah itu tidak terdengar lagi berita aneh-aneh tentang patung Bunda Maria Nilo.

Bagi saya sendiri, berziarah ke patung Maria, Bunda Segala Bangsa, sungguh memberikan perasaan lain. Perasaan aman, damai, dan tenang. Entahlah, mungkin karena melihat Bunda Maria yang begitu besar, namun anggun dan teduh. Beliau berdiri di atas sebuah bukit hijau. Bila kita menatap wajahnya, wajahnya seolah-olah bercahaya di bawah kilau sinar matahari. Langit biru dan awan putih seolah-olah dekat sekali dengan beliau, dan sesekali sekawanan burung terbang melintasi dan memencar di sekitar beliau. Wah, sungguh saya tidak mau menukar pengalaman ini dengan apa pun!



SEDIKIT TIPS
Bila anda bermaksud berziarah ke Nilo berikut hal-hal yang perlu anda perhatikan. Pertimbangkan untuk membawa makanan sendiri, karena di sekitar tempat ziarah tidak dijual makanan. Ada warung kecil di bawah, dekat gerbang masuk, namun makanan yang dijual di situ baru sebatas kue dan minuman.

Kota Maumere sendiri dapat dijangkau dari Denpasar atau Surabaya dengan pesawat (biasanya Merpati). Jangan lupa langsung memesan tiket pulang, karena biasanya sulit mendapatkan pesawat dari Maumere ke kota lain. Penginapan dan makanan mungkin terhitung lebih mahal daripada kota-kota wisata lain, oleh karenanya siapkan anggaran lebih untuk itu.

Perhatikan bahwa di Maumere tidak ada taxi resmi. Yang ada adalah mobil-mobil pribadi yang ditambangkan. Kita memang harus agak bertarik urat leher untuk menawar mobil semacam ini. Lebih baik lagi kalau anda sudah tahu nama penginapan yang jadi tujuan anda, karena kalau tidak, anda akan sangat kerepotan menghadapi para supir taxi ini. Dari Maumere ke Nilo sendiri sebenarnya ada angkutan umum, namun, bila barang bawaan anda tidak banyak, anda bisa naik ojek, dengan membayar Rp. 10.000,-.

Namun, percayalah, segala chaos di kota Maumere itu terhapus begitu sampai di Nilo! (db)

oleh: Agnes Bemoe



Diposting ulang dari sumber: BUNDA MARIA DARI NILO
Baca versi Bahasa Inggrisnya di sini.

No comments:

Post a comment