Follow Us @agnes_bemoe

Saturday, 9 June 2018

NINO KENA MARAH



NINO berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya dengan kesal. Air mukanya masam dan bibirnya cemberut. Ia menyusuri halaman gereja meninggalkan papa dan mama di belakangnya.
“Biar saja! Aku tak mau lagi ke gereja bersama papa dan mama!” pikir Nino kesal.
Karena asyik dengan pikirannya sendiri, tanpa sadar Nino menabrak seseorang. Ah, ternyata itu Frater Edu.
“Maaf, Frater!” Nino terlonjak kaget.
Frater Edu tertawa.
“Kenapa, Nino? Sampai-sampai tidak lihat jalan…”
Nino langsung cemberut lagi.
“Huh! Aku tadi dimarahi sama mama dan papa! Padahal aku nggak nakal. Aku cuma  ngobrol sama Hans.”
Nino masih melanjutkan omelannya dengan panjang lebar ketika dilihatnya Frater Edu malah asyik bersiul-siul dan bernyanyi-nyanyi sendiri dan bukannya mendengarkannya!
“Ih! Frater! Kok aku dicuekin sih!” Nino bertambah kesal!
Frater Edu menoleh dengan wajah kaget.
“Eh, kamu lagi bercerita ya? Wah, Frater nggak dengar….”
“Ya iya lah! Habis, Frater malah nyanyi sendiri!” sungut Nino.  Frater Edu tertawa.
“Nino, apa yang kamu rasakan tadi waktu Frater tidak mendengarkan kamu bercerita dan malahan asyik bernyanyi sendiri?”
“Ih, Frater! Masih nanya lagi!”
“Kamu pasti jengkel, ‘kan? Tidak enak dicuekin, ‘kan?” Frater Edu terdiam sejenak. “Nah, begitu juga perasaan Tuhan Yesus kalau kamu pergi ke rumahNya dan malah bercerita sendiri dengan temanmu, dan bukannya mendengarkan Ia berbicara…”
“Tapi, Frater, aku tadi ngobrolnya pas misa belum mulai kok….”
“Waktu misa belum mulai itulah saat untuk tenang. Itu namanya saat hening. Kita duduk dengan tenang dan menysukuri berkat dari Tuhan yang sudah kita terima.”
“Ooh… aku kira, karena belum mulai kita masih boleh ngobrol….”
Frater Edu tertawa.
“Tidak. Sebaliknya, kita siapkan hati kita dengan suasana tenang.”
Nino mengangguk-angguk. Sementara Frater Edu melanjutkan.
“Selain sebelum misa, kita juga harus hening sesaat sebelum pernyataan tobat. Kita diam sejenak menyadari dosa dan kesalahan kita. Kalau kita benar-benar hening dan bertobat, kita bisa merasakan betapa baiknya Tuhan Yesus itu kepada kita yang berdosa ini.”
 “Pada saat sebelum doa pembukaan kita juga harus hening. Di sini kita boleh menyampaikan ujud pribadi kita supaya disatukan dengan doa pembukaan misa. Senang kan, kalau doa kita bisa disatukan dengan doa seluruh umat di dalam misa?”
“Aduuh! Aku tak pernah berdoa waktu doa pembukaan!” Nino menepuk jidatnya.
“Nah, sekarang, pergunakanlah kesempatan itu untuk berdoa. Oke?”
Nino mengangguk-angguk.
“Lalu, setelah mendengarkan bacaan pertama, bacaan kedua, dan setelah kotbah dari pastor kita juga harus hening. Kita resapkan dalam hati apa yang tadi Tuhan katakan melalui bacaan-bacaan tadi. Terakhir, setelah menerima komuni kita juga harus hening. Tujuannya adalah untuk bersyukur atas Komuni yang baru saja disambut. Kita juga berdoa untuk membiarkan Tuhan Yesus berbicara dalam hati dan siap melakukan kehendak-Nya.
“Eh, Frater, bukannya setelah komuni biasanya ada nyanyian? Kapan heningnya?”
“Benar. Saat hening ini bisa diganti dengan sebuah madah syukur atau nyanyian pujian. Nah, bisa saja kita hening sesudah ajakan “Marilah berdoa” pada Doa Sesudah Komuni. Jelas, Nino?”
“Ya, ya, ya! Sekarang aku paham. Harus hening dan tak boleh ngobrol!”
Frater Edu tertawa.
***

Pekanbaru, 8 November 2011
Agnes Bemoe

Terinspirasi oleh tulisan Onggo Lukito tentang “SAAT HENING” di http://www.facebook.com/groups/162150777177813/doc/230207130372177/

No comments:

Post a comment