Follow Us @agnes_bemoe

Sunday, 18 November 2018

Secuil dari "Serious About Young Mind"

Innosanto Nagara, Aubrey, dan Saya di UWRF 2018 Oktober lalu

Jadi, Oktober 2018 lalu saya iseng campur nekat ikutan Ubud Readers and Writers Festival. Salah satu sesinya adalah "Serious About Young Mind". Saya ikuti ini, jujur, bukan karena pembicaranya karena saya belum kenal, tapi karena topiknya yang provokatif banget buat saya. Ternyata, salah seorang pembicaranya, Innosanto Nagara, adalah seorang penulis buku anak best seller di Amerika asal Indonesia! (Wah, cupet banget pengetahuan saya). Nah, saya ceritakan dulu kesan pendek saya tentang sesinya.

Sesi “Serious About Young Mind” sukses bikin saya blangkemen. Semua yang dibicarakan di sana saya setuju, nyaris tak ada yang bisa saya tanyakan atau pertanyakan.
Para penulis yang jadi pembicara tampak jelas menitikberatkan bukunya pada apa yang jadi KEBUTUHAN pembaca muda/kecil. Tulisan berangkat dari anak dan bukan apa yang menurut orangtua baik untuk anak. Suara yang dibawa buku itu adalah suara anak biarpun ditulis oleh orang dewasa.

Bandingkan dengan betapa kuatnya kita (di Indonesia) mengisi buku anak dengan HARAPAN ORANGTUA. Buku bacaan jadi semacam ‘buku pelajaran moral’ yang begitu tersurat buat anak. 

Pembicara tadi mengakui bahwa tidak semua anak mengalami masa kecil yang menyenangkan sehingga mereka merasa senang kalau buku yang mereka tulis bisa membuat anak tidak merasa sendirian. Bayangkan bila anak-anak yang sudah lelah dan tersakiti secara mental maupun fisik ini masih harus disuruh membaca ‘buku pelajaran moral’. Mereka tak akan merasa terhubung karena tak terwakili. Lebih buruk lagi, bisa-bisa mereka merasa merekalah pihak jahat dalam cerita ‘bermoral’ itu. Dalam kasus ini buku malah jadi perusak bagi anak.

Penulis yang jadi pembicara juga menulis banyak topik: mulai dari hobby sampai politik. Bandingkan dengan kita yang banyak sekali batasan tentang topik. Topik-topik tentang HIV/AIDS atau pendidikan seksualitas pasti menjadi topik yang lebih baik dihindari karena mempertimbangkan reaksi orangtua/masyarakat. Sebaliknya, topik religius (untuk agama tertentu, tapi) pasti jadi topik yang laris manis.

Padahal, lebih baik anak mengetahui bahwa hal buruk memang terjadi (sakit, kematian, dll) dan mendapat gambaran tentang cara menghadapinya. Itu menurut para pembicara.
Intinya, jauh sekali gap pola pikir antara masyarakat tempat para penulis itu berdomisili dengan masyarakat yang saya kenal. Pola pikir itu menyebabkan mereka welcome dengan buku-buku yang variatif, bahkan menuntut adanya buku-buku dengan topik variatif. Imbasnya, penulis pun terpacu untuk meluahkan kreativitas mereka dengan bebas.

Imbasnya lagi, pemikiran anak (young mind) menjadi tajam dan berkembang, tidak macet pada satu dua topik kotbah yang sedari kecil sudah dicekokkan ke kepala mereka.

Btw, ini foto saya, Pak Innosanto Nagara, dan “Aubrey dan The Three Musketeers”. Sangat senang bisa memperkenalkan Aubrey pada Pak Inno 😍 Aubrey sendiri adalah buku yang bercerita tentang persahabatan anak dengan binatang peliharaan. Aubrey juga bercerita tentang persahabatan dengan anak yang diduga terkena HIV/AIDS. Pak Innosanto Nagara adalah putra aktor Ikranagara. Beliau berdomisili di Amerika dan menulis buku anak best seller "A is For Activist", sebuah buku anak tentang politik. Pak Innosanto sendiri adalah pribadi yang ramah dan rendah hati. Jauh dari kesan sombong atau menyadari dirinya seorang selebriti. Bersyukur saya bisa berkenalan dengan beliau.

***

Pekanbaru, 19 November 2018
@agnes_bemoe

No comments:

Post a comment