Follow Us @agnes_bemoe

Thursday, 31 May 2018

Meet My Tiny but Shiny Fellow Author: Nina Hamdani

Pietra Nina Hamdani (11 th)


Bisa dibilang, saya tidak terlalu setuju dengan penulis berusia anak. Awalnya saya antusias mengetahui ada sekumpulan buku ditulis oleh anak-anak. Wah, hebat! Pikir saya. Saya baca satu dua buku. Di buku ketiga, saya tidak sanggup. Prihatin. Cerita ditulis dengan bahasa yang amburadul yang penuh dengan kesalahan tata bahasa serta tata tulis yang sembrono, konflikya ringan, dengan penyelesaian yang super mudah. Okelah, anak-anak itu masih dalam taraf belajar dan tetap harus dihargai. Saya hargai keinginan mereka untuk menulis. Namun, menurut pendapat saya, menghargai tidak harus dengan jalan membukukan dan mengedarkannya. Buku-buku itu akan dibaca oleh anak-anak lain, dan anak-anak itu akan menganggap itulah standar buku yang baik. Dan ini mencemaskan. Tidak jelas lagi mana yang masih proses belajar mana yang sudah jadi. Hal pertama yang harus ditanamkan kepada penulis, saya rasa adalah tanggung jawab untuk membuat karya yang baik.

Jadi, saya memposisikan diri sebagai orang yang anti buku-buku yang ditulis oleh penulis berusia anak. Sampai saya bertemu dengan seorang gadis kecil berusia 7 tahun (waktu saya pertama kali bertemu), bernama Pietra Nina Hamdani. Nina putri novelis Indonesia, Melly Sutjitro.

Melly Sutjitro


Nina bukan seorang penulis profesional, biarpun ia sudah menerbitkan dua buku yang dipasarkan secara internasional. Namun, ia menulis dengan keterampilan yang bisa membuat saya –yang sering mengaku sebagai penulis profesional ini- iri berat. Ide ceritanya luar biasa, dieksekusi dengan keahlian seseorang yang seolah sudah menulis selama sepuluh tahun terakhir dalam hidupnya. Belum lagi keasyikan diksi yang digunakannya serta ketepatan tata bahasa dan tata tulisnya. Oh ya, mudah-mudahan saya tidak lupa menyebutkan bahwa ia menulis dalam bahasa yang bukan bahasa ibunya. Ia menulis dalam Bahasa Inggris.

Bacalah “Sweaty Yeti”, cerita anak yang ditulis ketika ia masih berusia 6 tahun. Kisah tentang seekor Yeti yang tersesat di kota ini secara elegan sekali menyajikan tentang pertemanan dan bagaimana menemukan win-win solution dalam kehidupan sehari-hari.



Mengungkapkan salut saya yang besar pada prodigy ini, saya menempatkan wawancara dengannya di hari pertama Giveaway yang saya adakan untuk menandai website baru saya. Silakan, dan mohon maaf atas pembukaan yang panjang.

1.      You start writing books in a very early age. When exactly did you start? Who taught you to write?
I started writing stories when I was in 1st grade, so I was around six-year-old. Nobody taught me how to write. I wasn’t enrolled in any writing class like most people thought. My mother introduced books to me and my brother when we were young. She taught us the love of books and be creative.

2.      When it comes to reading, you are ‘monster’. You read faster that you breathe, your Mom said. How many books do you read in one year? 
I didn’t count but I think I read more than fifty books in a year. I also like to reread my favorite books over and over again.

3.      Who is your favorite author? What is your favorite book? 
Rick Riordan is my favorite author. I’m not sure what my favorite book is as I love all Riordan’s books.

4.      If you were elected as President of Republic Indonesia, what would be your first decision?
To provide jobs for everyone, especially the people who are poor and do not have a lot of opportunities, so that everyone gets a chance to use their talents.

5.      Tell me about your latest book. 
I have some ideas about some stories but I haven’t gotten the time to write them yet. I am busy with school and enjoying other things in my free time. I love listening to Hamilton songs and learning about his history at the moment.


Nina sekarang berusia 11 tahun. Ia seorang anak SD yang ceria dan punya segudang kegiatan. Mengenai buku, sampai saat ini Nina sudah menerbitkan dua buku; “Sweaty Yeti” dan “Spoiled Orang Utan” (dimuat dalam antologi “Ugly Hammerhead Shark”). Buku-buku yang ditulis Nina dapat diperoleh di Periplus dan Kinokuya Jakarta.  Saya berharap, suatu saat Nina menerbitkan lagi buku-bukunya. Saya tahu, ada banyak cerita bagus yang telah ditulisnya. ***

Fabel Nusantara, Agnes Bemoe

SELANJUTNYA adalah bagian yang mudah-mudahan tidak kalah menariknya daripada wawancara dengan prodigy berusia 11 tahun di atas: giveaway! Tata cara mengikuti giveaway ini bisa dibaca di sini. 

“Siapakah penulis berusia anak-anak favorit Anda, baik dari dalam maupun luar negeri?”

·         Tuliskan jawabannya di kolom komentar di bawah artikel ini
·         Share artikel ini ke facebook dan atau twitter
·         Mention 3 teman TERMASUK SAYA
·         Saya menghargai sekali kalau Anda juga mau menjadi teman saya di facebook dan follow twitter serta Instagram saya.
·         Akan dipilih SATU pemenang secara acak untuk hari ini
·         Peserta yang mengikuti giveaway hari ini berhak menjadi pemenang untuk kategori umum di akhir periode giveaway
·         Mohon tidak menuliskan hal lain selain jawaban giveaway di kolom komentar dan mohon tidak membuka perdebatan apapun
·         Terima kasih. Let’s have fun! Jangan lupa, buku-buku terbaru saya: FABEL NUSANTARA dan KUMPULAN CERITA RAKYAT NUSANTARA sudah ada di TB Gramedia ya!
 
Kumpulan Cerita Rakyat Nussantara, Agnes Bemoe
1 Juni 2018
Pace e Bene,
Agnes Bemoe

Catatan:
* Foto-foto milik Melly Sutjitro

No comments:

Post a comment