Follow Us @agnes_bemoe

Friday, 19 December 2014

He was Lying Down Beside Me

He was lying down beside me

Hari Rabu lalu, pagi-pagi, saya keluar membeli pulsa. Biasanya saya titip dibelikan. Tapi, hari itu saya lupa titip padahal pulsa sudah nol. Padahal lagi, saya sedang butuh banyak menelpon hari itu.  Entah kenapa, sehabis membeli pulsa saya merasa nyeri. Padahal jarak rumah saya dengan tempat jual pulsa tidak jauh, hanya tujuh atau delapan rumah mungil BTN.

Seharusnya saya bisa langsung baring untuk meredakan kemarahan HNP saya. Namun, hari itu saya ada urusan yang harus saya kerjakan sendiri. Urusan kunci kendaraan saya yang hilamg.

Sebenarnya saya bisa menyuruh anak saya yang mengurusnya. Tapi, waktu urusan terakhir tentang spion, anak saya mengeluh. Kedatangannya tidak dipedulikan oleh petugas di dealer. Tidak mau anak saya dicuekin lagi, saya memutuskan untuk mengurus sendiri. Kalau mereka mengacuhkan saya juga, biar saya bikin "rame" sekalian... hihihi....

Akhirnya saya berangkat dengan disopiri anak saya. Di mobil saya sudah mringis-mringis kesakitan. Urusan di dealer pun selesai, biarpun memakan waktu lumayan lama. Sempat juga judes saya kambuh karena antrian saya diserobot. Dan tentu saja nyeri saya bertambah karena saya harus bolak-balik jalan ke parkiran lalu masuk lagi, lalu jalan lagi. Hwedeww.... Okelah, yang penting selesai dan saya pun pulang.

Di taxi yang kami tumpangi (mobil harus ditinggal) dengan menahan malu saya minta izin untuk berbaring pada pak sopir. Sumpah, sudah nggak kuat lagi!

Bisa diduga, sampai di rumah saya langsung tewas. Hari masih jam 4 sore tapi saya sudah menggeletak di tempat tidur. Untunglah rasa sakit tidak menghalangi saya untuk terlelap. Saya pun tertidur (atau pingsan, saya juga kurang tahu).

Saya melewatkan makan malam, Master Chef Junior Finale, dan Mata Najwa.

Sebelum subuh keesokan harinya saya terbangun. Puji Tuhan, nyeri di pinggang dan tungkai mereda. Hal pertama yang saya lihat ketika bangun adalah segulungan benda hitam di kaki saya. Gabriel Oscar.

Walah, ni anak, numben-numbennya tidur sama maminya, pikir saya. Biasanya dia lebih suka di lantai. Saya menyampaikan ini pada adik saya.

- "Numben si Oscar bobok di sini," kata saya.

Jawaban adik saya membuat saya mencelos.

- "Sejak sore kemarin, sepanjang malam, Oscar nggak beranjak dari sisi Mami."

Saya terdiam. Sering saya baca, anjing bisa merasakan kesakitan tuannya.
Oscar bukan tipe penempel seperti Titil almarhum. Dia juga bukan tipe perhatian seperti Nino. Biasanya dia super cuek. Tapi malam itu, malam waktu saya merasa kesakitan luar biasa, Oscar berbaring di sisi saya. Dia tidak melakukan apa-apa. Hanya berbaring. Tapi, saya sungguh terharu dibuatnya. Saya merasa ditemani.

Baru kemarin saya mendapat berita tentang perlakuan biadab terhadap anjing. Saya prihatin terhadap pelakunya. Jelas ia mendapat informasi yang keliru tentang anjing. Jelas sekali ia belum pernah merasakan kehalusan budi dari makhluk yang terlanjur dibencinya dan dicapnya hina dan najis itu. Saya prihatin atas hatinya yang begitu dingin dan kejam. Saya tidak yakin manusia bisa bahagia kalau hatinya sedingin dan sekejam itu. Mudah-mudahan ada sesuatu yang bisa menyentuh hatinya dan mengembalikan kehangatannya.

Balik lagi ke Oscar. Malam berikutnya dia sudah kembali lagi ke ritual lamanya. Tidur di lantai. Tak sedetikpun dia pedulikan saya. Mentang-mentang Mami nggak sakit ya? Pikir saya jengkel. Saya pingin dia tidur dengan saya lagi.  Soalnya kalau diingat-ingat, enak juga merasakan gulungan bulu yang halus dan hangat di kaki.

***

Pembatuan, 20 Desember 2014
@agnes_bemoe





No comments:

Post a comment