Follow Us @agnes_bemoe

Tuesday, 4 November 2014

Tuhan dan Senyum Doggieku

Kata teman baik saya: mudah bersyukur/bersaksi kalau kita sedang senang. Teman saya ini mengutip Andar Ismail, seorang pendeta dan penulis "Seri Selamat" (buku ini isinya keren banget! Saya baca beberapa contoh kisahnya, sumpah langsung ingin mengkoleksinya!).

Kembali ke perkataan teman baik saya (persisnya perkataan Pdt. Andar Ismail). Saya tidak sedang ingin berkotbah tentang makna "bersyukur". Saya hanya mau curcol soal "bersyukur". Bagi saya, bener banget yang dikatakan oleh Pdt. Andar Ismail. Saya teringat betapa gampangnya saya bilang "Tuhan itu baik!" ketika, misalnya, naskah saya lolos ke penerbit; saya sembuh dari sakit; atau dapat voucher belanja. Dalam suasana hati riang, doa saya makin kenceng. Pokoknya gas puol berterima kasih pada Tuhan.

Lalu, saya sakit. Lumayan berat. Lalu saya mengomel-ngomel pada teman baik saya itu. Lalu, ia menceritakan kisah Pdt. Andar Ismail yang di usia mudanya berjuang dengan kebutaan. Lalu, sampailah pada kalimat "mudah bagi kita untuk bersyukur/bersaksi kalau sedang senang".

Ketika sakit, jangankan bilang "Tuhan, Engkau sungguh baik!", berdoa pun saya tak sanggup. Saya berjuang, jatuh bangun (kebanyakan jatuh) untuk mencari dimana kebaikan Tuhan: secara fisik, badan saya sakit semua; saya hanya bisa tergeletak tak bisa berbuat apa-apa; tabungan saya terkuras, sakitnya saya juga menguras energi mereka yang mengurusi saya. Ini bisa jadi litani maha panjang!

Setengah mati saya berusaha merasakan kehadiran Tuhan. Tuhan, Kamu dimana sih? Kok aku kesakitan, ketakutan kayak gini Kamu nggak juga bertindak? Itu yang saya sampaikan di doa saya, secara harafiah. Saya tulis lagi, tanpa edit.

Yaps, sudah saya bilang, ini bukan tulisan tentang heroine iman. Ini curcol iman saya.

Tentu saja ada saat-saat saya merasa kuat. Harus saya akui, saya kuat ketika BERTEMU dan BERBINCANG dengan orang lain. Teman-teman fb, dokter, psikolog, psikiater, suster (nun), suster (nurse), anak saya, dan termasuk teman baik saya tadi. Catatan: tidak semua orang yang saya temui tersebut seiman dengan saya lho. Di situ saya merasakan PENYERTAAN TUHAN. Tuhan hadir melalui orang-orang yang saya temui.

Apa lalu masalah saya selesai? Buat saya, yang imannya seperseribu biji sesawi ini, masih belum.

Apakah berarti saya tidak boleh bersyukur? Kenapa saya, yang sudah bersyukur, masih juga dihajar dengan kesusahan yang tiada akhir?

Lagi-lagi, saya menemukan tulisan tentang Pdt. Andar Ismail di wall teman saya. Tulisan yang isinya menceritakan tentang pergulatan bathin Pdt. Andar Ismail, seperti yang dulu pernah secara lisan diceritakannya pada saya.  Tulisan ini memancing saya untuk berpikir. Saya mungkin harus mendefinisikan ulang konsep "Tuhan Baik" sebagai pemicu ucapan syukur saya. "Tuhan Baik" kalau saya menerima sesuatu yang enak (secara fisik dan psikis). Tidak heran saya gampang bersyukur kalau menerima rezeki nomplok, misalnya.
Mungkin, mungkin nih, Tuhan juga baik ketika saya "diberi" sakit (lengkap dengan seluruh perasaan tidak enaknya dan krisis ekonomi yang menyertainya). Baiknya dimana? Enaknya dimana?

Waktu kecil jari jemari saya susah sekali menuliskan angka 1. Sekarang, saya bisa menulis sampai pegel. Kalau terbiasa dengan sesuatu yang lebih besar, lebih hebat, lebih luar biasa, yang sederhana jadi terlihat sepele dan tak bermakna (dan karenanya, tak perlu disyukuri).

Saya terbiasa "melesat", punya target lalu dhass dhess... tercapai! Bersyukur. Bikin target baru!
Saya lupa pada hal remeh-temeh yang bisa saya syukuri: pagi-pagi bisa senyum sendiri baca status teman yang lucu; bisa bersin (tanpa meringis), bisa ambil minum sendiri, ngeliat wajah Oscar dan Ocha yang lucu (mereka doggies). Ya, jangankan anda, saya aja heran dengan daftar saya itu. Kalo yang seperti itu sih, semua orang juga punya. Apa hebatnya?

Gak ada hebatnya, buat saya setahun lalu. Sekarang, bisa senyum sendiri dengan perasaan geli, itu mukjizat (banyak hal yang tidak bisa saya ceritakan secara detail tapi percayalah saya tidak sedang lebay).

Intinya, saya sedang belajar mendefinisikan ulang makna "Tuhan Baik" buat saya. Bisa jadi saya keliru berat dengan persepsi ini. Bisa jadi, kalaupun benar, saya akan menghadapi roller-coaster yang lain lagi. Ya, saya butuh banyak belajar lagi.


***

Pembatuan, 5 November 2014
@agnes_bemoe


No comments:

Post a comment