Follow Us @agnes_bemoe

Sunday, 9 November 2014

Lingkaran Pahlawan

Ini hari Pahlawan.
Karena dilahirkan di Kota Pahlawan, saya mau bagikan tentang "pahlawan" yang baru-baru ini lewat dalam hidup saya.

Saya sedang dalam proses pemulihan dari sakit HNP dan depresi. "Lumayan," itu jawaban saya kalau ada teman yang tanya. Sekarang, waktu nulis catatan ini, saya sudah bisa duduk dan berjalan kurang lebih sepuluh menit; sudah bisa mandi sendiri; ambil makanan dan minuman sendiri. Seminggu terakhir ini saya merasakan nyeri di sepanjang kaki kanan berkurang. Kelihatannya sepele ya, but this is huge for me.

Sebulan lalu, sekeluar dari rumah sakit, saya harus bed-rest total. Mandi, makan, minum, semua diladeni, termasuk buang air. Saya menghabiskan sebagian besar waktu sehari itu dengan tidur karena obat-obatan yang saya minum membuat ngantuk. Lalu saya pelan-pelan mencoba duduk atau berjalan. Ketika masih di rumah sakit saya hanya kuat duduk atau berdiri selama kurang lebih dua menit.

Di rumah, ketika pertama kali mencoba berjalan, saya kuat selama tiga sampai lima menit. "Rekor" ini terus menerus terkoreksi sampai hari ini seperti yang  saya ceritakan di awal tulisan. Dan suwer, saya senang banget, biarpun pergerakannnya lambat seperti kura-kura, yang penting ada kemajuan.

Buat saya, kemajuan sekecil apapun adalah prestasi yang patut dirayakan. Saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak berpikir bahwa "saya ambruk", "saya tak berdaya", "semua ini ga berguna", dll, yang intinya negatif melulu (psst, FYI, I am pretty capable of thinking negatively :p).

Sebaliknya, saya terus menerus menyuntikkan pemikiran bahwa "saya sehat", "this is great", "saya hebat", "you can do your best", dll. Saya bersyukur, punya teman -di dunia nyata dan maya- yang tidak henti-hentinya mensupport dengan aura positif mereka. Suwer, kalau nggak ada mereka, saya mungkin sudah memilih cara paling jelek buat mengakhiri hidup (I meant it!).

Ada (banyak) saat-saat dimana saya merasa: "hadiih, kok cuman baring doang yah, ga berguna banget!". Apalagi kalau lihat teman-teman penulis lain menunjukkan buku baru mereka atau melihat teman posting foto travelling mereka. Pada saat-saat seperti itu selalu ada saja yang datang kemudian menyuntikkan kata-kata yang mak nyuss di telinga. Padahal saya nggak curhat lho. Jadi, mereka berbicara tanpa menyadari bahwa perkataan mereka sangat berarti.

Salah satu yang  saya ingat adalah perkataan seorang teman tentang "kemunduran". Tidak ada yang keliru dengan "kemunduran", katanya. Tari "Cha-Cha" yang asyik dan dinamis tidak akan terbentuk tanpa adanya sebuah langkah mundur. Yeay! Kata-kata ini nendang banget!

Ini diperkuat dengan tulisan seorang teman penulis, Femi Khirana, di buku "Biji Sesawi di Rerumputan". Di situ Femi menukiskan antara lain tentang hikmah "kemunduran". Analoginya tentang kisah Thomas yang sedang diperbaiki dalam "Thomas and Friends" benar-benar membuat saya seperti habis dicubit (atau, dikeplak mungkin lebih tepat! :p)

Saya sedang "rusak" dan perlu "perbaikan". Saya perlu "mundur" supaya suatu saat saya bisa "beroperasi" lagi dengan lebih mulus. Saya perlu mengambil suatu langkah mundur supaya bisa menampilkan tarian Cha-Cha yang paling asyik. Oke, sip!

Btw, saya juga nggak tergeletak-tergeletak amat kok. Dalam keadaan "tak berdaya" saya tetap bisa berbuat hal-hal "hebat" (syombyongnya kumat! :p). Saya jadi rajin menulis status. Dan, ada saja yang mengirim inbox, mengatakan bahwa ia suka membaca status-status saya yang lucu (katanya) dan membuat dia tidak merasa sendirian. Saya menulis beberapa puisi galau dan ada saja yang mengatakan diwakili perasaannya oleh puisi saya. Nah, nah, saya tidak setakberguna itu kan? :)

Oke deh, sebelum leher saya patah tak kuat menahan kepala yang membesar, saya mau bilang terima kasih buat orang-orang baik yang Tuhan kirimkan jadi teman saya. Mereka membuat kondisi saya membaik setiap harinya. Yaps, saya tidak (belum) hebat tapi saya membaik di setiap harinya. Saya terbantu karena beberapa "pahlawan" di sekitar saya. Dalam porsi tertentu saya pun jadi semacam "pahlawan" buat orang lain. Saya rasa, lingkaran yang paling indah adalah "lingkaran pahlawan" semacam ini.

Selamat Hari Pahlawan!

***

Pembatuan, 10 November 2014
@agnes_bemoe




No comments:

Post a comment