PITA, SI PIPIT KECIL - Buku pertama saya yang saya tulis pertama kali di tanggal 1 Juli 2010 |
Sejak tahun 2010, 1 Juli bagi saya bukan lagi hari biasa.
Saya melihatnya dengan cara berbeda dan saya selalu suka mengenangnya.
Satu Juli 2010, pagi hari, biasanya saya harus mengerjakan
banyak hal berhubungan dengan tahun ajaran baru; jadwal pelajaran, guru baru,
kegiatan awal tahun ajaran, termasuk laporan keuangan, dll. Biasanya, bila
guru-guru lain libur, saya malah pusing dengan setumpuk kerjaan.
Nah, hari itu saya tidak lagi mengerjakan itu semua. Bisa
dibayangkan kan, dari gelagapan karena waktu 24 jam sehari biasanya kurang,
sekarang saya merasa hanya butuh waktu satu jam untuk mengisi hari. Namun, saya
memutuskan untuk tidak mau duduk berpangku tangan. Saya harus melakukan suatu
kegiatan. Nothing changed! The sun was still shining there for me. None of
their filthiness would stop me (saya mencabut sangkur pada yang memperlakukan
saya dengan buruk).
Tidak ada tumpukan jadwal, pembagian tugas guru, dan bahkan
laporan keuangan bulanan seperti tahun-tahun sebelumnya, but, you know what, I
am more than piles of duty you've dumped to me.
Saya memutuskan untuk MENULIS. Bukan jadi penulis ya, hanya
menulis.
'Cuma' menulis yang saya bisa. Maka, saya mengerjakannya
dengan penuh determinasi dan kegembiraan.
Biasanya saya menulis puisi, cerpen, atau tulisan
refleksi-motivasi. Saya TIDAK PERNAH menulis cerita anak. Hari itu, tanggal 1
Juli 2010, entah bagaimana, saya kedatangan ide cerita berbentuk cerita anak.
Jujur, saya tidak mengaturnya supaya jadi cerita anak. Konsep itu datang begitu
saja dan tangan saya mengetik begitu saja.
Kisahnya tentang seekor burung pipit kecil bernama Pita yang menghadapi intrik dan
kekejian di Istana Raja Kishin.
(Sebenarnya, konsep ini tidak datang “begitu saja”… hehehe… ini adalah curhatan
saya tentang hal yang saya alami :D )
Hari itu saya menulis, jadi 1 cerita. Langsung saya post di facebook. Besoknya, saya tulis
lagi 1 cerita lalu post lagi. Dan seterusnya setiap hari, sampai sekitar 20-an
hari lalu saya menyadari bahwa respon yang saya dapatkan ternyata positif. Teman-teman
(facebook) suka cerita ini.
Saya pun ge-er. Apalagi ketika seorang editor dari sebuah
penerbit mayor menyarankan untuk mengirimkan naskah itu ke penerbitnya untuk
di-review. Ge-er-meter saya jebol!
Naskah Pita memang tidak berjodoh di penerbit tersebut. Pita
terbit secara indie di LeutikaPrio tanggal 1 Desember 2010.
Ketika terbit, salah seorang mantan murid saya mendoakan:
semoga ini menjadi awal bagi judul-judul berikutnya. Doa anak manis tersebut
terkabul. Beberapa judul menyusul setelah Pita. April lalu barusan terbit
"Ring of Fire" di Gramedia Pustaka Utama. (Ini tulisan lama, dua tahun yll. Tahun 2019 ini buku terakhir saya
yang terbit adalah “Kopral Jono” Seri-2, Behind the Scene-nya bisa dibaca di sini – Agnes)
Terbit Maret 2019 |
Bila melihat sebuah buku saya terbit, mau tak mau saya
teringat Pita. Saya tidak pernah
merencanakan jadi penulis buku anak. Pita membantu saya melihat panggilan saya
yang satu ini, bahkan ketika saya sedang 'buta'. Dan itu semua bermula di suatu
pagi di tanggal 1 Juli.
Sejak tahun 2010, 1 Juli bagi saya jelas dan tidak akan
pernah jadi hari yang biasa buat saya. Tanggal 1 Juli seolah jadi tanggal “ulang
tahun” saya yang lain, sebuah rebirth, kelahiran kembali ke perjalanan saya
menjadi seorang penulis buku anak. Dan, lebih daripada sebuah profesi, tanggal
1 Juli adalah sebuah rebirth untuk
perjalanan panjang dan berliku, mencari siapa diri saya, apa yang lebih saya
butuhkan dalam hidup ini, dan karenanya apa yang seharusnya jadi prioritas
saya. Di pagi itu, ketika saya mulai menulis, tidak sedikitpun terlintas bahwa ke
sinilah Tuhan akan menuntun saya. Sekarang, setelah sembilan tahun,
saya baru melihat sedikit gambaran yang lebih besar dan lengkapnya.
Puji Syukur dan terima kasih saya sampaikan pada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, pada para
kudus yang tak hentinya saya mintai jadi perantara: St. Yosef, St. Antonius a Padua, St. Malaikat Gabriel, dan Santa
Germaine de Pibrac.
Terima kasih pada para pembaca pertama saya. Di antaranya
yang saya ingat karena ketulusan dan supportnya: Fonny Jodikin, Femi Khirana, Bhudi Tjahja, Fidelis R. Situmorang,
Christine Thilio Arwan, Mulyani Kurniaty, dkk.
***
Pembatuan, 1 Juli 2019
@agnes_bemoe
*) Tulisan ini aslinya sudah saya post di tahun 2017 lalu.
Saya post ulang dengan bebarapa perubahan.
No comments:
Post a Comment