Follow Us @agnes_bemoe

Friday, 20 March 2015

BEHIND THE SCENE [BTS]: Suatu Hari di Sungai Sey



AWALNYA DARI RASA KESAL
Ya, saya suka kesel kalau murid-murid saya (dulu) alpa minta maaf, atau menyebutkan kata “tolong”, atau bilang “terima kasih”. Ketika sudah tidak lagi menjadi guru dan banyak “bergaul” di media sosial saya juga menjumpai hal yang sama. Parahnya, ini terjadi pada orang-orang yang sudah bukan anak-anak lagi.
Berapa kali saya menemukan seseorang yang bertanya pada saya menghilang begitu saja setelah diberi jawaban (yang biasanya cukup panjang lebar). Atau, bila ada perselisihan, jarang sekali ada yang lebih dulu minta maaf dengan tulus dan berusaha memperbaiki situasi. Kebanyakan saling adu otot untuk membuktikan dirinya benar.
Di dunia nyata sangat sering saya jumpai orang-orang yang enggan antre. Perilaku yang abai dan menyebalkan ini sialnya bukan hanya kasuistis, tapi sudah menyebar, nyaris menjadi karakter bangsa ini. Bener nggak sih? Karenanya, saya prihatin (hadiih, kok kayak Pak Mantan Presiden yah). Jelas sekali, sopan santun tidak dianggap penting.
Kekesalan itulah yang memicu ide membuat kumpulan cerita ini.

SETTING, KARAKTER, DAN “SUNGAI SEY”
Lalu saya mulai menulis. Suwer, relatif gampang karena saya mencontek kejadian yang saya alami atau saya lihat. Awalnya saya menggunakan tokoh-tokoh real. Setelah saya baca lagi, rasanya kurang cute.
Ketika mencari penggantinya, saya langsung terpikir tentang komunitas sungai. Rasanya setting ini belum banyak digunakan. Saya membayangkan sungai-sungai asli Indonesia tempat hewan-hewan seperti kodok, itik, atau buaya tinggal. Dari situlah tokoh Bonnie buaya pink, Edo si kodok oranye, atau Lucy si angsa ungu lahir.
Nama “Sungai Sey” muncul ketika saya kebingungan mencari nama sungai yang berbau Indonesia. Saya lalu teringat, masyarakat Riau menyebut “sungai” sebagai “sei”. Jadi “Sei Siak” adalah “Sungai Siak”. Tara! Kenapa tidak memakai kata “sei” saja. Kebetulan sekali berima dengan kata-kata lainnya, semuanya diawali dengan huruf “S”: Suatu Hari di Sungai Sey.

Bukti terbit


JALAN PANJANG DARI MENULIS SAMPAI TERBIT
Naskah “Sungai Sey” ini sebenarnya naskah lama. Saya tulis awal tahun 2012. Tapi dasar saya, bukannya dikirim ke penerbit, naskah itu malah saya pendam.
Saya lalu mengerjakan naskah lain yang memang direncanakan untuk dikirim ke penerbit. Itulah naskah “Kumpulan Kisah Santo Santa”. Kemudian saya menulis naskah ini dan itu, “Sungai Sey” benar-benar “tenggelam”.
Bulan Maret 2014 saya mendapat tawaran menulis dari Tiga Ananda. Sambil mengumpulkan naskahnya, saya memberanikan diri mengirimkan “Sungai Sey”. Syukurlah, pertengahan Juni 2014 saya mendapat kabar kalau “Sungai Sey” diterima dengan perubahan. Mbak Yenni dari Tiga Serangkai meminta supaya naskah yang tadinya terdiri dari lima cerita terpisah ini dibuat menjadi satu buku.
Agustus 2014 saya diminta memangkas “Sungai Sey”. Revisi belum sempat saya kerjakan, saya malah jatuh sakit. Saya terkena HNP (Herniated Nucleus Pulposus) atau syaraf kejepit untuk kedua kalinya. Selama Agustus – September 2014 saya keluar masuk RS tiga kali. Jangankan mengerjakan naskah, menggerakkan badan pun saya tak bisa. Sekeluar dari RS saya masih harus bed-rest sampai sekitar awal November. Saya sudah pasrah. Kalau Tiga Serangkai tidak jadi menerbitkan “Sungai Sey”, saya bisa mengerti.
Syukurlah, saya diberkati dengan editor yang baik. Mbak Yenni ternyata membantu memangkaskan “Sungai Sey”. Terima kasih, Mbak Yenni! Selanjutnya adalah proses ilustrasi bersama InnerChild Std. Untungnya, ketika mengajukan proposal naskah, saya sudah menyertakan deskripsi ilustrasi per halaman. Jadi, saya bisa sakit dengan “tenang” (Halah! Gimana toh maksudnya :p)
Selama kurun waktu itu pikiran saya terkuras oleh penyakit. Bisa dikatakan saya “lupa” pada “Sungai Sey”, InnerChild Std, dan Mbak Yenni. Maka, sebuah surprise yang amat sangat menyenangkan ketika pada bulan Februari saya diberi tahu kalau “Sungai Sey” sudah terbit. Yeay!

TERIMA KASIH
Karena sakit yang berkepanjangan (dari November 2013), saya kira tahun 2015 ini tidak akan ada buku saya yang terbit. Teman baik saya sudah menghibur, “Tidak apa-apa, yang penting sehat dulu. Nanti kan bisa menulis lagi.” Iya sih, tapi jujur, sedih juga membayangkan tidak ada buku yang terbit.
Ternyata dugaan saya keliru! “Suatu Hari di Sungai Sey” membuat tahun 2015 saya cerah.

Tata, 7 th, asyik baca "Suatu Hari di Sungai Sey"

Karenanya, saya mau berterima kasih pada banyak pihak. Pada Penerbit Tiga Serangkai, Tiga Ananda, dan terutama pada Mbak Yenni Saputri. Terima kasih juga pada InnerChild Std. (ilustrasinya bener-bener cuuuute to the max!).
Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada yang sudah membeli “Suatu Hari di Sungai Sey”. Tidak sedikit di antaranya yang memberikan umpan balik yang positif, seperti “gambarnya khas Indonesia”, “anak saya asyik baca, tidak mau berhenti”, “saya terbantu mengingatkan anak saya lewat ceritanya”, dll. Sangat menyenangkan menerima umpan balik seperti itu.
Harapan saya, buku ini diterima baik oleh anak-anak Indonesia. Harapan saya juga, saya cepat pulih, dan bisa “menumpahkan kekesalan yang lain” lewat cerita… hehehe….

***

Pembatuan, 21 Maret 2015
@agnes_bemoe

Info detail tentang "Suatu Hari di Sugai Sey" bisa dibaca di sini

Tonton video imutnya di sini 

No comments:

Post a comment