Follow Us @agnes_bemoe

Thursday, 4 September 2014

BUTIRAN LUKA




Hujan bisa dilihat sebagai apa saja; peristiwa alam, musim paling seru untuk main air hujan, atau saat paling menyebalkan dengan banjirnya.

Hujan bisa memicu romantisme yang manis. Hujan juga dengan kejamnya mampu melumat hati yang sedang remuk direjam cinta.

Hujan, bisa jadi apa saja.

Lalu, jadi apa hujan di ujung pena FRS?

Romantis? Tentu saja. FRS dikenal sebagai penyair yang mampu mengaduk-aduk pembacanya dengan tulisan romantisnya. Baca saja "Hujan Jatuh dari Tangkainya" sebagai contoh.
         
          ...
          Hujan lepas dari tangkainya
          Ketika kurahasiakan rindu dalam hati
          (Hal. 59)

Pembaca setia buku-buku FRS pasti merasakan konsistensi kepiawaian beliau merebut hati pembacanya dengan tulisan romantisnya, termasuk kali ini dengan butiran hujannya.

Bagi FRS, hujan juga memercikkan rasa kemanusiaan. Kisah ayah yang melindungi anaknya dari dinginnya malam berhujan dalam "Maret" (Hal. 8) mau tak mau membuat pembaca sejenak tercenung. Dan jadi lebih tercekat lagi setelah mengetahui bahwa anak yang setiap malam dikeloninya itu ternyata "hanya" sebuah boneka. Boneka pengganti anaknya yang hilang.

Religius? "Januari" (Hal. 1) seolah menyingkapkan pergulatan bathin setiap pemercaya Tuhan tentang kasih sayangNya.

Romantis, humanis, religius. FRS menyapukan butiran hujan dalam setiap ruang itu.

Namun, setelah membaca lima buku FRS sebelumnya dan kemudian membaca buku keenam ini, saya merasa, membaca FRS yang tepat buat saya adalah membaca yang tidak ia tuliskan.
Membaca FRS adalah membaca kesenyapan di setiap lekuk tulisannya.

Termasuk membaca BBH.

Dan, dari buku kecil berkaver lukisan indah ini saya merasakan cipratan butiran luka. Luka mendalam karena ketidakadilan. Luka karena terabaikan oleh negara. Luka karena kekejaman satu manusia atas manusia lain. Bahkan kekejaman atas anak-anak yang tak akan pernah bisa jadi lawan seimbang.

Luka karena perasaan gagal dan ditinggalkan. Luka karena perasaan kecil berhadapan dengan garangnya hidup. Luka atas banyaknya pertanyaan yang mencekatkan lidah.

Luka seperti ini bukan luka baru. Selalu bisa menganga lagi setiap kali kita jalan menyusuri hidup hari ini.

BBH mengajak saya untuk berdamai dengan luka hari ini. BBH menawarkan untuk membalut luka sebagai "Tuhan sedang melukis satu lagi kebaikan untuk panjenengan." (Uban, hal. 66).

Itu cipratan butiran hujan FRS buat saya. Entah bagi anda.

***

Pekanbaru, 4 September 2014
Agnes Bemoe














No comments:

Post a comment