Follow Us @agnes_bemoe

Saturday, 1 December 2018

Hari Ini Pita Genap Berumur 8 Tahun

December 01, 2018 0 Comments


Tanggal 1 Desember merupakan tanggal istimewa buat saya sebagai penulis cerita anak. Tanggal 1 Desember 2010 buku anak saya yang pertama terbit secara indie. Judulnya "Pita, Si Pipit Kecil".

Buku ini berisi 10 cerita (bilingual) tentang seekor burung kecil yang diusir dari istana gara-gara fitnah. Burung kecil ini, Pita namanya, lalu mengembara hutan Kumalama. Di hutan ternyata si burung kecil bertemu dengan banyak teman yang menyibukkan dirinya dan membuatnya melupakan sakit hatinya karena diusir dari istana.

Pita, Si Pipit Kecil awalnya adalah tulisan-tulisan yang saya unggah di note facebook tanpa niatan menerbitkannya. Mundur sebentar ke bulan Juni 2010. Terhitung mulai tanggal 1 bulan itu saya tidak lagi mengajar. Saya pikir, saya harus melakukan sesuatu untuk mengisi hari yang biasanya penuh. Catatan: biasanya saya berada di sekolah dari pk. 6.00 sampai 18.00.
Saya tak ada ide lain selain menulis.

Nah, entah bagaimana, ide yang datang adalah ide tentang seekor burung kecil yang bijaksana. Saya tuangkanlah ide itu menjadi cerita lalu saya unggah di facebook. Setiap hari satu cerita.

Tak nyana, Pita diam-diam mengumpulkan penggemar. Semakin lama semakin banyak yang baca Pita. Tidak sedikit dari mereka yang menyarankan cerita ini diterbitkan.

Suwer, saat itu saya masih minus sekali pengetahuannya tentang menulis cerita anak dan penerbitan. Jadi, saya hanya bisa mengiyakan tanpa tahu harus bagaimana.

Nah, ndilalah, ada seorang pembaca Pita yang kebetulan editor sebuah penerbit. Beliau menawarkan untuk mereview Pita. Yay! Tentu senang dong! Saya pun mengirim Pita untuk direview.

Sayang disayang, Pita belum beruntung di penerbit itu. Tapi, ini membuat saya berpikir untuk serius menerbitkan Pita.

Waktu itu saya belum kenal penerbit (mayor) satu pun. Saya lebih dulu mengenal penerbit indie. Maka, saya putuskan menerbitkan secara indie. Apalagi biayanya tidak terlalu mahal (waktu itu).

Begitulah akhirnya, "Pita, Si Pipit Kecil" terbit tangal 1 Desember 2010 di Penerbit LeutikaPrio.

Setelah Pita, saya memutuskan untuk lebih serius mendalami tentang menulis cerita anak. Saya ikuti grup-grup kepenulisan dan berkenalan dengan banyak penulis cerita anak terkemuka Indonesia.

Itulah yang kemudian mengantarkan saya pada penerbitan mayor untuk buku-buku selanjutnya.

Sampai saat ini saya sudah punya sekitar 20-an buku cerita anak. Puji Tuhan. Damn semuanya itu berawal dari "Pita, Si Pipit Kecil".

Semoga Pita terbang jauh sejauh dan setinggi yang ia bisa. Terima kasih, Tuhan.

 Pembaca PITA pasti udah pada gede-gede ya 😊

Btw, pembaca yang ini, Natalie Kwok, masih jadi mahasiswa ketika membaca PITA. Sekarang ia seorang ibu dari seorang baby yang cantik😊

---
 "This book changed my perception about life to better ways. Everyone should get one for their children. Seriouly." -Natalia Kwok, Student
---

***

Pekanbaru, 1 Desember 2018
Proud Mom of Pita,
@agnes_bemoe

Thursday, 29 November 2018

November 29, 2018 0 Comments


Hadiah Istimewa untuk Putri
Lia Loeferns Yulia Loekito & Azisa Noor

Semua anak memberikan hadiah untuk Puteri Raja yang berulang tahun. Namun, ada satu hadiah yang menjadi hadiah istimewa. Apa itu? Baju? Sepatu? Permata? Boneka? Tebak terus deh, pasti pembaca tak menyangka hadiah istimewanya apa.

Dalam pandangan saya, buku ini adalah contoh ideal buku untuk anak. Judulnya mengundang pembaca untuk menebak. Bandingkan dengan judul-judul lain yang belum apa-apa sudah menyuapi anak, semacam "Aku Anak Pintar/Rajin/Saleh/dll". Menemukan buku yang masih menghargai kemampuan anak untuk berpikir seperti ini sungguh menyegarkan.

Yang kedua, penyelesaiannya benar-benar kreatif, dengan tetap mengutamakan faktor anak-anak. Sisi "kekanak-kanakan" yang naif dan ceria ini enak sekali dibaca.

Yang ketiga, biarpun membawa pesan untuk menjadi kreatif dan apa adanya (genuine), buku ini tidak berkotbah, apalagi kemudian mengulangi kotbahnya dalam bentuk pesan tertulis di akhir cerita (saya sungguh berharap orangtua berhenti mencari buku kotbah seperti ini).

Keempat, buku ini mewakili anak-anak Indonesia yang beraneka ragam tanpa menonjolkan suatu ajaran tertentu. Sekali lagi, ini sangat menyegarkan.

Kalau saya orangtua, saya akan berikan buku-buku seperti ini buat anak saya. Buku semacam ini membuat anak gembira, terwakili "kekanak-kanaknnya", dan merangsang mereka untuk berpikir dan belajar.

***

Pekanbaru, 30 November 2018
@agnes_bemoe

Tuesday, 27 November 2018

Orang Baik Di Mana-Mana

November 27, 2018 2 Comments


Jadi kan saya pingin ke Sendang Sriningsih. Nak Lanang tersayang lagi kuliah, ga bisa nganter. Gapapa, saya pakai Gocar aja.

Pergilah saya dengan Gocar.

Begitu sudah masuk ke jalan kecil menuju Sendang Sriningsih, pengemudi Gocarnya tanya, saya pulang pakai apa. Saya bilang, pakai Gocar. Dik Gocar itu bilang, ini jalan terpencil sekali lho, Bu. Takutnya sulit dapat Gocar. Barulah saya ngeh. Iya ya, enteng aja saya pake Gocar, tak memperhitungnya terpencilnya area. FYI jalan mau masuk ke Sendang Sriningsih itu jauuuh dari jalan raya Jogja-Solo, dan masuuuuk banget.

Paniklah saya. Saya pikir mau pakai adik ini aja untuk pulang. Tapi, dia mau ga ya. Secara, dia bukan katolik, ngapain nungguin orang berziarah. Yang kedua, kalau mau, saya takut juga ‘ditembak’.

Saya tawarkan ke dik pengemudi kalau dia mau tunggu dan antar kembali saya pulang. Dik Gocarnya mau. Saya bilang lagi, ini ziarah Katolik lho, apa ga keberatan menunggu. Ntar dosa lagi. Adik itu bilang gapapa. Termasuk biayanya juga dia pakai tarif Gocar Sendang Sriningsih - Timoho (jadi seolah dia yang pesan, saya bayar ke dia). Okok, bagus juga pemikiran adik ini. Jadi dia ga nembak. Itu saja sudah bikin saya salut.

Nah, naik ke atasnya ternyata tuinggi dan lumayan jauh. Adik itu bilang, biar dia antarkan dengan mobil (karena sepertinya ada batas pengantaran dengan mobil). “Kulo tangletaken rumiyin nggih, Bu”, maksudnya, dia mau tanyakan apakan mobil bisa naik.

Ternyata,mobil boleh naik. Sip.

Saya diantar sampai batas jalan keras. Setelahnya, jalan tanah, mobil ga bisa masuk. Ya udah, si adik nunggu di mobil. Masih dia berpesan: Ibu ga usah buru-buru. Namanya ziarah, ga boleh buru-buru. Duhh, mak nyess saya. Kok pengertian banget nih bocah. Tadi saya tanyain soalnya, ada kuliah ga, buru-buru ga (si nak sopir ini kuliah di Akprind).

Saya pun berdoa di Sendang Sriningsih. Jujur, hihihi... ada kekhawatiran si adik sopir ini kabur. Hla iya toh, siapa tau dia dapat penumpang? Tapi, saya pasroh aja 😃

Selesai berdoa, si adik sopir ternyata masih ada dan dia sedang tidur. Dia nunggu sampe ketiduran. Aduh, sak ke. Yo wis, kami balik ke Yogya.

Sampai di Yogya, saya berikan uangnya (yang sesuai tarif Gocar Sriningsih-Yogya)dan saya lebihkan sedikit. Bukan pamer, ada maksudnya.

Waktu saya mau masuk kamar penginapan, eh, ada yang manggil-manggil. “Buk! Buk! Uang Ibuk kelebihan!” Ealah, si nak driver Gocar. “Lebihnya banyak buanget!”. Hwuik, ki bocah ngisin2i wae!

Saya bilang, enggak, uangnya udah pas. Ada sekitar 2 menitan kami otot2an antara pas dan kelebihan. Tentu saja saya yang menang 😃

Si bocah driver salim sama saya. Saya pun berterima kasih ga habis-habisnya. Bayangkan, misalnya dia ga peduli saya mau pulang pakai apa, dia juga ga salah. Memang bukan tanggung jawabnya kan? Harusnya saya yang sudah memikirkan matang2 sebelum jalan. Lalu sikapnya yang polos dan jujur, ga mau nembak, tetap membantu dan ga bersikap saya ‘butuh banget’ sama dia, ini yang membuat tip dari saya terasa pas kalo ga bisa dibilang kurang.

Saya selalu senang kalau bertemu dengan orang-orang baik seperti ini. Semoga kuliahnya lancar, cepat lulus, dan jadi orang yang berhasil. Amin.

***

Pekanbaru, 28 November 2018
@agnes_bemoe

Friday, 23 November 2018

[Cerpen]: MAMA

November 23, 2018 0 Comments


Biarpun aku memanggilnya “Mama”, beliau bukan ibu kandungku. Bukan ibu tiri atau hubungan lain yang membuatku harus menyebutnya “Mama”. Dulu sekali, aku sempat menjalin hubungan dengan anaknya. Kalau jodoh tidak bermain curang sebenarnya aku bisa menyebutnya “Mama Mertua”.
Hubunganku dengan anaknya terputus. Bukan, bukan karena pertengkaran atau hal negatif lainnya. Hanya karena LDR yang kejam. Juga, kami masih sama-sama muda sehingga mungkin sama-sama tidak yakin untuk memperjuangkan cinta kami. Mungkin juga bahkan tidak yakin ada “cinta” saat itu... hahaha....
Seharusnya, setelahnya semuanya menjadi mudah.
Nyatanya, tidak. Paling tidak, buatku.
Seperti yang terjadi pada hampir semua orang, facebook mempertemukan orang-orang yang tadinya terpisah jauh sekali, termasuk kami. Jujur nih, awalnya aku enggak berkawan lagi -biarpun hanya di fb- dengannya. Tidak, aku tidak marah atau sakit hati. Hanya enggan saja.
Lalu, ketika kali kesekian ia mengirimkan permintaan pertemanan, aku berpikir, mengapa tidak. Bukannya sudah tidak ada apa-apa lagi di antara kami. Apalagi, dia juga sudah menikah, dan pernikahannya bahagia. Mengapa tidak membangun pertemanan yang baik?
Nyatanya, pertemanan yang baik bullshit.
Aku juga heran pada diriku yang lemah ini. Sekaligus juga agak marah. Aku sudah bertekad menghadapinya seperti kalau menghadapi saudara sendiri: ceria dan ketawa-ketiwi. Namun, shits do happen!
Aku tidak sanggup menganggapnya hanya saudara. Teringat kembali masa ketika kami masih bersama. Teringat kembali setiap detiknya. Dan itu berat rasanya. Buatku.
Apalagi, dia bukan orang yang brengsek. Sebaliknya, dia orang yang lemah lembut yang berbeda sekali dengan aku yang pecicilan. Apalagi, seperti kusebutkan di atas, kami berpisah bukan karena pertengkaran atau ketidakcocokan. Kami berpisah ketika masih sama-sama saling mengasihi.... Tentu saja, kenangan terakhirku tentangnya adalah kenangan yang indah. Jujur, tidak bisa kutemukan hal yang kurang baik tentangnya atau tentang hubungan kami.
Dan di luar dugaanku (jujur nih, aku tidak merencanakannya), cinta yang kusangka sudah punah dan mati, perlahan merayap keluar dari reruntuhan hati.

Bisa diduga, aku cuma bisa menanggapinya dengan air mata. Setiap saat terputar ulang kenangan akannya. Seperti movie marathon di kepalaku. Dan itu mendera hatiku.
Aku protes pada Tuhan (tentu saja). Kenapa, Tuhan. Kenapa Engkau pisahkan. Cinta kami begitu indah, tulus, dan sederhana. Banyak orang yang tak saling cinta ternyata bersatu dalam rumah tangga. Kenapa kami yang jelas-jelas saling mengasihi tak kau izinkan bersama. Lalu, kenapa sekarang Kau pertemukan kami kembali? Tuhan, kalau Engkau berniat menghancurleburkan hatiku, Engkau sukses besar!

Ketika sedang sangat hancur itulah aku “bertemu” Mama. Aku melihat beliau jelas sekali. Beliau hanya berdiri sambil tersenyum. Awalnya, aku merasa itu hanya mimpi biasa. Mungkin karena aku sedang mengingat-ingat masa lalu. Namun, pikiranku berubah ketika kuceritakan mimpiku itu pada adik kekasihku (masih kusebut ‘kekasih’, boleh ya. Hanya karena aku masih menghasihinya saja bukan karena kami kembali menjadi kekasih). Ketika kuceritakan detil baju yang dipakai Mama, adikku itu terkejut. Itu benar-benar baju yang dimiliki dan dipakai Mama. Waduh. Giliran aku yang kaget. Pasti ini bukan sembarang mimpi. Tapi apa maksudnya ya....
Lalu, aku mendapati, biarpun nyaris setiap hari aku teringat akan kekasihku itu (dan menangis dengan jeleknya), ada saat-saat ketika aku sudah merasa sangat tidak kuat, Mama hadir....
Terakhir adalah dua hari yang lalu.
Dua hari yang lalu adalah full moon, ‘kan? Nah, bulan menempati posisi penting dalam kenanganku. Melihat bulan yang cantik di awan aku teringat dia. Teringat kami. Teringat cinta kami. Ambruklah aku.... Rasanya remuk hatiku, melihat cinta yang seharusnya bisa kumiliki ternyata lepas dari jangkauanku. Seperti bulan cantik yang terasa dekat namun jauh di ujung alam semesta.
Lalu, untuk kesekian kalinya Mama datang. Mama mengelus-elus kepalaku. Kepalaku yang sengaja kuletakkan di pangkuannya. Ketika terbangun, tambah deras air mataku. Sulit kugambarkan perasaanku. Mama selalu hadir ketika aku sedang rindu berat pada anaknya. Namun, dalam kehancuran perasaanku, ternyata aku punya Mama yang jauh di sana yang masih mengasihiku seolah-olah aku anaknya sendiri. Untuk itulah aku mengucurkan air mataku.

Beliau bukan ibu kandungku. Bukan orang yang bisa kusebut “Mama” karena hubungan kekerabatan. Beliau ibu orang yang kukasihi. Namun demikian, sulit kukatakan kalau beliau bukan ibuku, entah dalam hubungan apapun. Penyertaan dan kasihnya sepertinya melebihi kasih seorang ibu kandung.
Kudoakan kebahagiaannya di alam sana. Aku berjanji –semoga Tuhan merestui- akan sesegera mungkin menaburkan bunga dan berdoa di makamnya. Aku tak bisa egois hanya memonopoli Mama untuk diriku. Mama juga perlu beristirahat dengan tenang. Tapi, Ma, kalau Mama mau datang lagi, sering-sering juga malah aku lebih senang. I love you, Mama. I love you. 
Sekali lagi, Ma, I love you. Rest in most beautiful peace....


***

Pekanbaru, 25 November 2018
@agnes_bemoe

Teruntuk: Mama CPNB

Baca juga di Wattpad: MAMA

Monday, 19 November 2018

Some Beautiful People I Met during UWRF 2018

November 19, 2018 0 Comments

Saya, di UWRF 2018

Bisa jadi saya akan dianggap seorang “social climber” karena orang-orang yang mau saya tulis ini adalah A-list persons. Biarlah. Kalau perlu saya buat tersurat, saya ingin menuliskan tentang keramahtamahan dan kerendahhatian, terutama dari orang-orang terkenal, dan bukannya mau numpang tenar pada nama-nama besar ini.
Btw, sering kan kita (saya ding) bertemu dengan orang terkenal yang kita harapkan benar momen pertemuannya. Ternyata, setelah bertemu, hehehe... gitu deh. Si orang terkenal bersikap ‘layaknya orang terkenal’... hihihi.... Karenanya, bertemu dengan orang terkenal yang bersikap sebaliknya adalah berkah.
Oktober 2018 lalu saya mengunjungi Ubud Writers and Readers Festival 2018. Tak nyana, di sana saya bertemu dengan sosok-sosok terkenal di dunia kepenulisan, baik nasional maupun internasional. Senang? Tentu iya! Bayangkan, yang biasanya hanya kita lihat di facebook, sekarang bisa kita temui sendiri!
Namun, yang sampai detik ini membuat rasa bungah saya tidak hilang bukan hanya karena mereka orang penting tapi terutama karena KEPRIBADIAN mereka. Mereka itu hangat, ramah, tidak merasa kalau mereka itu sejenis selebritas. Mereka seperti guys next door yang setiap saat bisa kita recoki dengan cerita kita.
Saya akan ceritakan empat sosok di antaranya ya. Saya sebutkan berdasarkan urutan bertemu.

Pertama, saya bertemu dengan Sergius Sutanto Sergius Sutanto on Youtube Sergius Sutanto on facebook. Beliau adalah penulis novel biografi Hatta, Mangun, dan Chairil. Beliau diundang ke UWRF 2018 sebagai salah seorang pembicara. Keren kan?

Saya dan Sergius Sutanto, Novelis dan Film Maker

Sebenarnya, saya sudah kenal dengan Mas Sergie. Kenal di facebook. Di facebook, beliau ramah sih, tetapi ya begitu, sepertinya irit bicara/komen. Dalam gambaran saya, beliau orangnya pendiam (cenderung jutek, begitu).
Di UWRF 2018 saya bertemunya tidak sengaja. Saya janjian bertemu dengan Ibu Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo di Indus Caffee. Tiba di Indus, Ibu Tatty menelefon, mengatakan kalau beliau sudah kembali ke hotel karena ada keperluan mendesak. Hotel tempat Ibu Tatty menginap tidak jauh dari Indus, bisa dijangkau dengan jalan kaki. Jadi, saya keluar dari Indus menuju ke hotel itu. Nah, selagi jalan tulah saya melihat sosok yang sepertinya saya tahu: ya Mas Sergie ini.


HATTA, salah satu novel biografi karya Sergius Sutanto

Saya memberanikan diri menyapa.
Dan, eh, ternyata beliau ini tidak seperti yang saya bayangkan lho. Saya kira beliau akan menanggapi dengan dingin dan jutek (seperti bayangan saya tentang beliau). Ternyata, beliau malah ramah dan rame banget!
Karena beliau baik (hahaha...) saya pun akhirnya memutuskan ikut sessi beliau. Sessi yang bernas banget, tentang penulisan novel biografi. Tidak rugi mengikutinya. Apalagi kemudian saya dapat tanda tangan beliau di buku-bukunya! (Percayalah, saya pernah berusaha mendapatkan tanda tangan beliau di Jakarta tapi gagal. Itulah sebabnya saya menganggap beliau ini somse :p)

Yang kedua adalah Ibu Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo on facebook. Pembaca blog ini pasti tahu Asterix kan? Nah, Ibu Tatty inilah orang yang paling bertanggung jawab atas terpingkal-pingkalnya kita semua ketika membaca Asterix. Ibu Tatty adalah penerjemah Asterix.

Saya dan Ibu Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo

Ada beberapa kali Ibu Tatty selalu menekankan untuk mampir ke rumahnya kalau saya ke Jakarta. Saya tentu saja sangat bersedia dan senang sekali. Sayangnya, belum ada kesempatan ke Jakarta.
Nah, dari postingan saya di facebook, Ibu Tatty tahu saya sedang di Ubud. Kebetulan, beliau pun mengikuti UWRF 2018. Beliau mem-WA saya untuk bertemu di salah satu venue UWRF 2018. Tak terbayangkan senangnya hati saya, akhirnya ada kesempatan bertemu dengan Ibunda Asterix ini!
Setelah bertemu dengan Mas Sergie, saya buru-buru mengejar Ibu Tatty di hotelnya.
Di facebook dan WA Ibu Tatty ini super ramah. Ternyata, begitu bertemu, jauh lebih ramah lagi! Saya seperti bertemu dengan ibu saya sendiri, lengkap dengan omelan-omelannya karena saya ‘tidak patuh’.
Tak jiwit lho kowe!” katanya, waktu saya berkeras membuang sendiri sampah saya dan bukannya membiarkan beliau yang membuangkannya. Wah, pokoknya, di detik pertama saja saya merasa nyaman banget. Energi penerjemah berusia 76 tahun ini positif dan hangat banget! Jujur, saya pingin seharian main ke rumah beliau, sambil rujakan gitu, dan ngobrol ngalor-ngidul, girl to girl dengan beliau :D

Selanjutnya, saya bertemu dengan Shrabani Basu Shrabani Basu on Twitter. Jujur, karena kecupetan pengetahuan saya, saya tidak kenal beliau. Ketika diperkenalkan bahwa beliau penulis novel “Victoria and Abdul” barulah berdering lonceng di kepala saya. Beberapa minggu sebelumnya, tayang film “Victoria and Abdul” di FoxMovie. Saya tak tahu bahwa film itu berdasarkan sebuah novel biografi. Dan tak sangka bisa bertemu dengan penulisnya.
Shrabani Basu juga sebuah pribadi yang hangat. Kita bisa langsung merasakannya!

Saya dan Shrabani Basu

Beliau tidak menolak ketika saya minta berfoto dan tidak menunjukkan wajah kebal waktu saya mengatakan sudah menonton film “Victoria and Abdul” (berapa orang yang pasti mengatakan hal yang sama?). Beliau berbicara seperti berbicara dengan orang yang sudah dikenalnya lama sekali. Suaranya kecil dan bernada riang. Yang jelas, sebuah senyum selalu menghiasi wajahnya.


Victoria & Abdul, salah satu novel biografi karya Shrabani Basu

Nah, ketika berfoto (seseorang berbaik hati memfotokan kami dengan HP saya), entah kenapa, ada sedikit masalah sehingga foto harus diambil berulang kali. Mrs. Shrabani tidak tampak kesal atau merasa harus terburu-buru (padahal yang antri minta tanda tangan beliau buanyakk). Beliau malah tertawa cekikikan seolah-olah tidak ada masalah besar.
Wah, pokoknya menyenangkan banget bertemu dan berkenalan dengan penulis besar yang satu ini!

Yang terakhir adalah Innosanto Nagara Innosanto Nagara on Facebook. Lagi-lagi, karena kecupetan pengetahuan saya, saya tidak mengenal beliau. Disebutkan bahwa beliau putera Ikranagara. Tentu saja saya kenal Ikranagara. Maksud saya, Ikranagara aktor terkenal. Semua orang Indonesia pasti tahu.

Saya dan Innosanto Nagara

Innosanto Nagara ternyata ilustrator dan penulis BUKU ANAK. Sengaja saya tulis dalam huruf kapital untuk menunjukkan betapa bersemangatnya saya tentang ini. Di Indonesia, penulis buku anak dianggap warga negara kelas 10 di republik penulis. Orang tidak membaca dan atau membicarakan buku anak kecuali ditulis oleh seorang sastrawan atau penulis novel terkenal karena mereka dianggap penulis yang lebih serius. (Oke deh, berhenti marah-marahnya :D )
Nah, Mas Inno (kalau boleh saya panggil Mas) ternyata menulis serial novel anak yang tidak hanya memiliki tema yang menarik (yaitu politik) tetapi juga menjadi best-seller di Amerika, yaitu “A is For Activitst”. Ketika berbicara di seminar, Mas Inno sepertinya menyampaikan apa-apa yang menjadi uneg-uneg dalam hati saya selama ini (sebagai penulis anak di Indonesia).


A is for Activist, buku anak bertema politik yang jadi best seller, karya Innosanto Nagara

Karena merasa bertemu dengan sosok yang seide, sehabis seminar saya memberanikan diri bertemu minta berfoto. Saya juga memberikan novel anak saya yang berjudul “Aubrey dan The Three Musketeers” (Behind The Scene: Aubrey dan The Three Musketeers) sambil sedikit menceritakan bahwa tema-teman HIV/AIDS masih dianggap tema yang terlalu sensitif di Indonesia.
Eh, tak sangka lho, beliau menyimak dengan penuh perhatian penjelasan pendek saya, seolah-olah penjelasan itu penting buatnya. Wehh... salut banget dengan kerendahhatian penulis best seller ini!

Sampai detik saya menuliskan tulisan ini, saya masih merasakan senangnya bertemu dengan pribadi-pribadi dengan good and positive vibe tersebut. They all made people the met feeling better. Dan itu jauh lebih “sakti” daripada nama besar, bukan?

Oh ya, tentu saja di kesempatan itu saya juga bertemu dengan banyak orang lain yang sangat baik dan ramah yang tidak akan saya lupakan. Namun, untuk kesempatan ini saya tulisakan dulu empat sosok yang di atas ini ya. 

Pengalaman bertemu ini mengingatkan saya akan pesan Seseorang: Be Kind to One Another.  


***

Pekanbaru, 20 November 2018
@agnes_bemoe

Sunday, 18 November 2018

Secuil dari "Serious About Young Mind"

November 18, 2018 0 Comments
Innosanto Nagara, Aubrey, dan Saya di UWRF 2018 Oktober lalu

Jadi, Oktober 2018 lalu saya iseng campur nekat ikutan Ubud Readers and Writers Festival. Salah satu sesinya adalah "Serious About Young Mind". Saya ikuti ini, jujur, bukan karena pembicaranya karena saya belum kenal, tapi karena topiknya yang provokatif banget buat saya. Ternyata, salah seorang pembicaranya, Innosanto Nagara, adalah seorang penulis buku anak best seller di Amerika asal Indonesia! (Wah, cupet banget pengetahuan saya). Nah, saya ceritakan dulu kesan pendek saya tentang sesinya.

Sesi “Serious About Young Mind” sukses bikin saya blangkemen. Semua yang dibicarakan di sana saya setuju, nyaris tak ada yang bisa saya tanyakan atau pertanyakan.
Para penulis yang jadi pembicara tampak jelas menitikberatkan bukunya pada apa yang jadi KEBUTUHAN pembaca muda/kecil. Tulisan berangkat dari anak dan bukan apa yang menurut orangtua baik untuk anak. Suara yang dibawa buku itu adalah suara anak biarpun ditulis oleh orang dewasa.

Bandingkan dengan betapa kuatnya kita (di Indonesia) mengisi buku anak dengan HARAPAN ORANGTUA. Buku bacaan jadi semacam ‘buku pelajaran moral’ yang begitu tersurat buat anak. 

Pembicara tadi mengakui bahwa tidak semua anak mengalami masa kecil yang menyenangkan sehingga mereka merasa senang kalau buku yang mereka tulis bisa membuat anak tidak merasa sendirian. Bayangkan bila anak-anak yang sudah lelah dan tersakiti secara mental maupun fisik ini masih harus disuruh membaca ‘buku pelajaran moral’. Mereka tak akan merasa terhubung karena tak terwakili. Lebih buruk lagi, bisa-bisa mereka merasa merekalah pihak jahat dalam cerita ‘bermoral’ itu. Dalam kasus ini buku malah jadi perusak bagi anak.

Penulis yang jadi pembicara juga menulis banyak topik: mulai dari hobby sampai politik. Bandingkan dengan kita yang banyak sekali batasan tentang topik. Topik-topik tentang HIV/AIDS atau pendidikan seksualitas pasti menjadi topik yang lebih baik dihindari karena mempertimbangkan reaksi orangtua/masyarakat. Sebaliknya, topik religius (untuk agama tertentu, tapi) pasti jadi topik yang laris manis.

Padahal, lebih baik anak mengetahui bahwa hal buruk memang terjadi (sakit, kematian, dll) dan mendapat gambaran tentang cara menghadapinya. Itu menurut para pembicara.
Intinya, jauh sekali gap pola pikir antara masyarakat tempat para penulis itu berdomisili dengan masyarakat yang saya kenal. Pola pikir itu menyebabkan mereka welcome dengan buku-buku yang variatif, bahkan menuntut adanya buku-buku dengan topik variatif. Imbasnya, penulis pun terpacu untuk meluahkan kreativitas mereka dengan bebas.

Imbasnya lagi, pemikiran anak (young mind) menjadi tajam dan berkembang, tidak macet pada satu dua topik kotbah yang sedari kecil sudah dicekokkan ke kepala mereka.

Btw, ini foto saya, Pak Innosanto Nagara, dan “Aubrey dan The Three Musketeers”. Sangat senang bisa memperkenalkan Aubrey pada Pak Inno 😍 Aubrey sendiri adalah buku yang bercerita tentang persahabatan anak dengan binatang peliharaan. Aubrey juga bercerita tentang persahabatan dengan anak yang diduga terkena HIV/AIDS. Pak Innosanto Nagara adalah putra aktor Ikranagara. Beliau berdomisili di Amerika dan menulis buku anak best seller "A is For Activist", sebuah buku anak tentang politik. Pak Innosanto sendiri adalah pribadi yang ramah dan rendah hati. Jauh dari kesan sombong atau menyadari dirinya seorang selebriti. Bersyukur saya bisa berkenalan dengan beliau.

***

Pekanbaru, 19 November 2018
@agnes_bemoe

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: Manajemen Konflik a la Si Kembar

November 18, 2018 0 Comments
Judul: Si Kembar dan Babon
Penulis: Krismaryana Widyaningsih
Penerbit: Kanisius



Doni dan Andi berniat membuat kandang buat Babon. Apa daya, niat tinggal niat. Yang ada mereka berdua malah berantem sendiri. Akibatnya, kandang tak kunjung jadi dan Babon malah kabur!
Ini buku yang menceritakan dengan manis tentang konflik antar saudara serta ‘manajemen’ penyelesaian konfliknya. Sangat saya hargai bahwa buku ini meletakkan penyelesaiannya pada kedua saudara itu biarpun ada tokoh ayah di situ.

Saya juga suka formatnya yang single bukan bundling. Saya bayangkan anak-anak mudah memegang buku ini (berbanding buku bundling).

Ini buku yang bagus sekali dibacakan untuk anak-anak TK dan SD kelas kecil. Tiga dari 5 bintang dari saya.

***

Pekanbaru, 19 November 2018
@agnes_bemoe

Apa Kata Neko tentang Renny Yaniar? - Menimba Inspirasi dari Penulis Cerita Anak, Renny Yaniar

November 18, 2018 4 Comments

Teman-teman tahu buku saya yang judulnya “Hujan! Hujan! Hujaaan!”? Nah, buku saya itu sebenarnya terinspirasi dari sebuah buku berjudul “9 Dongeng Indah Musim Gugur” karya Renny Yaniar. Silakan baca Behind The Scene "Hujan! Hujan! Hujaaan!"

Nah, saya beruntung berkenalan dengan penulis hebat ini di facebook. Mbak Renny ternyata ramah dan welcome dengan penulis pemula semacam saya. Dalam rangka menyambut website baru saya (iya, seharusnya tulisan ini turun beberapa bulan yll. Namun, permasalahan ini itu termasuk di laptop membuat saya harus menundanya. Maaf beribu maaf.) saya mewawancarai penulis dengan ratusan karya ini, Renny Yaniar. Berikut hasil ‘perbincangan’ kami:



Buku Mbak Renny sudah ratusan. Masih ingat buku yang terbit pertama?
Buku pertama saya adalah lima buku seri lingkungan hidup yang terbit di tahun 2000.
1. Planet Biru yang Bersedih
2. Sepotong Laut & Sepotong Hutan
3. Katak yang Pemberani
4. Tempat Singgah Para Burung
5. Paman Daur Ulang

Dari ratusan buku itu adakah satu yang paling istimewa?
Buku saya ada 150, ditambah ratusan cerpen, dongeng, komik, cergam di berbagai majalah.

Sebenarnya semua saya suka tapi yang berkesan adalah Lautan Susu Coklat, yang terbit tahun 2001 mendapat juara pertama Adikarya IKAPI tahun 2002.



Bagaimana ritual menulis Mbak Renny?
Tidak ada yang khusus. Waktu saya masih bekerja, saya menulis hari Sabtu atau Minggu. Saya resign tahun 2016 karena tidak punya kesempatan menulis buku, padahal itu hobi yang menyenangkan.

Tetapi setelah di rumah saya lebih banyak belajar menggambar dan membaca. Saya malah kurang menulis, kecuali menyelesaikan deadline-deadline yang saya sepakati dengan penerbit.
Dua tahun ini saya cukup pasif, kalaupun ada buku yang dibuat karena ada tawaran.
Tahun ini mudah-mudahan saya bisa menulis lebih banyak.

Dari mana biasanya menggali ide?
Apa pun bisa menjadi ide. Melihat atau mendengar sesuatu jadi ide. Tapi kadang lupa karena terlalu banyak



Seberapa penting seorang penulis memiliki attitude?
Seorang penulis perlu punya sikap yang baik. Saya bicara tentang penulis cerita atau buku anak.
Baik di sini jujur, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain. Jujur artinya dia membuat karya sendiri dengan segala prosesnya. Dia tidak mem-plagiat karya orang lain.
Bertanggung jawab artinya bisa memenuhi deadline yang sudah ditetapkan.
Walaupun biasanya sebagai penulis buku, kita bisa lebih leluasa untuk mengatur deadline, kita perlu terus berkomunikasi dengan editor dan ilustrator tentang perkembangan pekerjaan menulis tersebut.
Ada kalanya saya juga merasa stuck saat menulis, sehingga tidak bisa memenuhi deadline. Saya biasanya menawar waktu deadline dan berusaha menyelesaikan.
Jadi berkomunikasi itu penting.



Ceritakan sedikit tentang “Rumah Riang”
Asal mulanya di tahun 2000. Di tempat terpencil ada guru yang saya kirimi 5 buku pertama saya, kemudian buku itu difotokopi orang sekampung katanya. Dan sejak itu saya menyisihkan penghasilan saya dan menyumbangkan buku-buku ke yang membutuhkan.
Enam tahun kemudian saya membuat Rumah Riang.
Sekarang Rumah Riang sudah berjalan 11 tahun. Walau kadang tersendat, tetap jalan.

Dari tahun 2000 selama 6 tahun saya hanya kirim-kirim buku.

Tahun 2006 menyumbangkan 1000 buku, juga terbitkan buku gratis.
Sekarang buku gratis Rumah Riang atau 13 judul.

Tapi buku yang dikirim bukan cuma buku Rumah Riang. Ada buku yang dibeli, buku sumbangan penulis, dll

Kembali ke bulan November 2006, terpikir memberi nama kegiatan berbagi buku. Yaitu Rumah Riang.


Dari tahun 2000-2006 saya menyisihkan uang untuk membeli buku dan disumbangkan. Buku uang dibeli banyak, dan saya merasa harga buku semakin mahal, maka saya cetak buku gratis pertama. Jadi biar ingat, saya kasih nama kegiatan itu Rumah Riang.

Riang itu nama majalah (majalah pribadi yang saya buat waktu SD, karena saya ingin kerja di majalah anak)

Rumah Riang sudah mengirim buku ke Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTT, NTB, Papua, Maluku. Itu pernah Mbak.
Kadang via saya tahu via FB Rumah Riang. Kadang via teman yang bepergian ke daerah.

Pertanyaan khayalan: seandainya Neko menulis tentang Mbak Renny, kira-kira kisah apa yang akan ia tulis?
Neko sudah menulis tentang saya dibuku Neko-chan.



---
Renny Yaniar, adalah penulis buku anak kelahiran Bandung yang berdomisili di Jakarta. Penulis yang sudah menelurkan ratusan karya ini sehari-harinya juga membuat karya ilustrasi. Selain itu, penyayang kucing ini memiliki sebuah kegiatan sosial yang dinamakan “Rumah Riang”. Rumah Riang aktif memberikan buku untuk para pembaca di daerah terpencil. Simak karya-karya Renny Yaniar di www.rennyyaniar.com

***
Pekanbaru, 19 November 2018
@agnes_bemoe

Monday, 17 September 2018

Hati Iblis Dulu dan Sekarang

September 17, 2018 0 Comments

Buku #16 18 September 2018
La Bete Humaine (Hati Iblis), Emile Zola

Seperti "Brothers" (Yu Hua) yang sebelumnya saya baca, "Hati Iblis" ini sebenarnya bukan tipe bacaan saya, dalam pengertian, saya terlalu penakut untuk buku-buku semacam ini. Tapi, itulah, biarpun dengan deg-degan nyaris tak bisa bernapas, selesai juga saya membacanya... hahaha... Bukan kenapa-kenapa, saya penasaran dengan kelanjutannya. Emile Zola memang 'tukang cerita' yang paten. Biarpun masalah yang diangkatnya sebenarnya sangat umum, yaitu nafsu (dan cinta), kemampuan menggoreng kisah dari masalah yang 'biasa' itulah yang membuat saya menabahkan diri menghabiskan novel ini.

Baru dua novel Emile Zola yang saya baca. Sebelumnya adalah "Therese Raquinn" (Dua novel ini adalah hadiah dari adik saya yang manis: Nana Listyani). Sepintas, saya merasakan kemiripan antara keduanya: nasfu paling purba, disusul rasa bersalah yang tercampur aduk dengan keinginan instingtual untuk mempertahankan diri atau membersihkan diri.

Pada "Hati Iblis", pelakunya lebih banyak, membentuk jaringan yang saling terkait satu sama lain. Jaringan yang seolah mengenal hanya satu rumus dasar: predator dan prey. Orang-orang dengan cinta yang murni dan tulus malah jadi orang "bodoh dan kalah".
Ini novel yang gelap, memang. I told ya!

Tapi, ngomong-ngomong, bukannya masih seperti itu dunia kita yang konon jauh lebih modern sekarang ini? Novel ini bersetting abad 19, ketika Perancis berada di ambang kejatuhan monarkinya. Entah kenapa, sambil membaca ini, saya malah teringat dunia sekarang yang sepertinya juga berada di kejatuhan peradaban karena kepicikan interpretasi agama. "Hati iblis- hati iblis" dipertontonkan di mana-mana di penjuru dunia. Atau, saya aja yang lagi sensi ya?
Btw, balik lagi ke novel ini. Ini novel yang bagus; penceritaannya dan sentilannya untuk kita-kita yang merasa beradab. Novel ini tidak menutup-nutupi fakta paling hitam tentang manusia. Biarpun demikian, kalau disuruh baca lagi, saya mungkin memilih kabur... hahaha... serem!
***

Pekanbaru, 18 September 2018
@agnes_bemoe

Sunday, 22 July 2018

Anak dan Kecerdasan

July 22, 2018 0 Comments

Pembaca buku-buku Daniel Goleman pasti hafal ‘sabdanya’: bukan kecerdasan intelektual yang menentukan keberhasilan anak tapi kecerdasan emosional. Di bukunya, Goleman banyak memberikan bukti berdasarkan penelitian. Namun, secara kasar dalam kehidupan sehari-hari, saya menemukan bukti-bukti sabda Goleman itu. Anak yang memegang ranking tinggi di kelasnya atau nilai rapor mengkilat belum tentu lebih sukses daripada yang biasa-biasa saja.  Atau sebaliknya, yang kemampuan akademisnya biasa-biasa saja, tidak jarang melesat menjadi orang yang lebih berhasil.

Apakah kecerdasan intelektual itu sesuatu yang mubazir? Jelas tidak. Tapi, jangan didewa-dewakan. Kalau anak mendapat ranking bagus, pintar di sekolah, ya disyukuri, tanpa perlu dibroadcast kemana-mana. Kalau anak tergolong biasa saja di kelas, tidak usah malu apalagi sampai menghajar anak; fisik maupun psikis.

Di lain pihak, karena Kecerdasan Emosional terbukti mampu membawa anak pada kesuksesan, kecerdasan ini seharusnya menjadi hak anak.

Anak perlu dilatih mengenali kondisi emosionalnya atau orang lain, anak perlu belajar berempati, punya motivasi, mengenali dan menerima kekuatan dan kelemahannya, serta dilatih bertanggung jawab atas tindakannya. Berbagai rupa ketrampilan emosional inilah yang seharusnya ditanamkan melalui teladan dan pengajaran orangtua.

Kalau kita masih ada pada fase tergila-gila dengan kepintaran semata, kita akan terus menerus mendapat generasi dan masyarakat yang seperti ini. Namun, bila kita mau mendapatkan lapis generasi baru yang lebih sukses, bahagia, dan terdidik, kita perlu mempertimbangkan penerapan pendidikan dengan kecerdasan emosional.

Selamat Hari Anak Nasional 2018
Agnes Bemoe