Follow Us @agnes_bemoe

Monday, 17 September 2018

Hati Iblis Dulu dan Sekarang

September 17, 2018 0 Comments

Buku #16 18 September 2018
La Bete Humaine (Hati Iblis), Emile Zola

Seperti "Brothers" (Yu Hua) yang sebelumnya saya baca, "Hati Iblis" ini sebenarnya bukan tipe bacaan saya, dalam pengertian, saya terlalu penakut untuk buku-buku semacam ini. Tapi, itulah, biarpun dengan deg-degan nyaris tak bisa bernapas, selesai juga saya membacanya... hahaha... Bukan kenapa-kenapa, saya penasaran dengan kelanjutannya. Emile Zola memang 'tukang cerita' yang paten. Biarpun masalah yang diangkatnya sebenarnya sangat umum, yaitu nafsu (dan cinta), kemampuan menggoreng kisah dari masalah yang 'biasa' itulah yang membuat saya menabahkan diri menghabiskan novel ini.

Baru dua novel Emile Zola yang saya baca. Sebelumnya adalah "Therese Raquinn" (Dua novel ini adalah hadiah dari adik saya yang manis: Nana Listyani). Sepintas, saya merasakan kemiripan antara keduanya: nasfu paling purba, disusul rasa bersalah yang tercampur aduk dengan keinginan instingtual untuk mempertahankan diri atau membersihkan diri.

Pada "Hati Iblis", pelakunya lebih banyak, membentuk jaringan yang saling terkait satu sama lain. Jaringan yang seolah mengenal hanya satu rumus dasar: predator dan prey. Orang-orang dengan cinta yang murni dan tulus malah jadi orang "bodoh dan kalah".
Ini novel yang gelap, memang. I told ya!

Tapi, ngomong-ngomong, bukannya masih seperti itu dunia kita yang konon jauh lebih modern sekarang ini? Novel ini bersetting abad 19, ketika Perancis berada di ambang kejatuhan monarkinya. Entah kenapa, sambil membaca ini, saya malah teringat dunia sekarang yang sepertinya juga berada di kejatuhan peradaban karena kepicikan interpretasi agama. "Hati iblis- hati iblis" dipertontonkan di mana-mana di penjuru dunia. Atau, saya aja yang lagi sensi ya?
Btw, balik lagi ke novel ini. Ini novel yang bagus; penceritaannya dan sentilannya untuk kita-kita yang merasa beradab. Novel ini tidak menutup-nutupi fakta paling hitam tentang manusia. Biarpun demikian, kalau disuruh baca lagi, saya mungkin memilih kabur... hahaha... serem!
***

Pekanbaru, 18 September 2018
@agnes_bemoe

Sunday, 22 July 2018

Anak dan Kecerdasan

July 22, 2018 0 Comments

Pembaca buku-buku Daniel Goleman pasti hafal ‘sabdanya’: bukan kecerdasan intelektual yang menentukan keberhasilan anak tapi kecerdasan emosional. Di bukunya, Goleman banyak memberikan bukti berdasarkan penelitian. Namun, secara kasar dalam kehidupan sehari-hari, saya menemukan bukti-bukti sabda Goleman itu. Anak yang memegang ranking tinggi di kelasnya atau nilai rapor mengkilat belum tentu lebih sukses daripada yang biasa-biasa saja.  Atau sebaliknya, yang kemampuan akademisnya biasa-biasa saja, tidak jarang melesat menjadi orang yang lebih berhasil.

Apakah kecerdasan intelektual itu sesuatu yang mubazir? Jelas tidak. Tapi, jangan didewa-dewakan. Kalau anak mendapat ranking bagus, pintar di sekolah, ya disyukuri, tanpa perlu dibroadcast kemana-mana. Kalau anak tergolong biasa saja di kelas, tidak usah malu apalagi sampai menghajar anak; fisik maupun psikis.

Di lain pihak, karena Kecerdasan Emosional terbukti mampu membawa anak pada kesuksesan, kecerdasan ini seharusnya menjadi hak anak.

Anak perlu dilatih mengenali kondisi emosionalnya atau orang lain, anak perlu belajar berempati, punya motivasi, mengenali dan menerima kekuatan dan kelemahannya, serta dilatih bertanggung jawab atas tindakannya. Berbagai rupa ketrampilan emosional inilah yang seharusnya ditanamkan melalui teladan dan pengajaran orangtua.

Kalau kita masih ada pada fase tergila-gila dengan kepintaran semata, kita akan terus menerus mendapat generasi dan masyarakat yang seperti ini. Namun, bila kita mau mendapatkan lapis generasi baru yang lebih sukses, bahagia, dan terdidik, kita perlu mempertimbangkan penerapan pendidikan dengan kecerdasan emosional.

Selamat Hari Anak Nasional 2018
Agnes Bemoe

Wednesday, 13 June 2018

Menik dan Saya; Adik dan Kakak - Penerjemah dan Penulis

June 13, 2018 0 Comments
Krismariana Widyaningsih, tinggal di Yogyakarta.


KRISMARIANA Widyaningsih adalah adik asrama saya di Asrama Syantikara Yogyakarta. Namun, karena jaraknya cukup jauh, saya tidak terlalu mengenalnya. Saya jadi lebih mengenalnya ketika membutuhkan seorang penerjemah untuk cerita yang akan dikirimkan ke AFCC (Asian Festival of Children’s Content) di Singapura tahun 2013.

Waktu itu waktu sudah sangat mepet. Sementara saya sendiri tidak terlalu pede untuk menerjemahkan  cerita biarpun tujuhbelas tahun mengajar Bahasa Inggris. Seorang adik asrama yang lain merekomendasikan nama “Krismaryana Widyaningsih”. Beliau ternyata seorang penerjemah professional yang sudah malang melintang di dunia penerjemahan. Ternyata juga, saya sudah baca buku-buku terjemahannya sebelum kenal dengannya. Saya pun mengontaknya. Syukurlah Menik, nama panggilan Krismariana, bersedia.
 
Hasil karya terjemahan Menik.
Maka, di bawah jadwal yang mepet itulah Menik bekerja. Tidak hanya mepet untuk deadline lomba. Waktu itu adalah bulan Desember. Jadi, itu pasti waktu yang super ribet untuk umat kristiani. Ah, kalau teringat kembali deg-degannya di satu sisi, dan tidak enak hatinya di sisi yang lain….

Puji Tuhan, terjemahan selesai. Naskah bisa dikirim (dengan menggunakan ekspedisi sehari sampai ke Singapura!). Itulah naskah berjudul “Utan for Marcia” yang kemudian menarik hati para juri sehingga ditempatkan sebagai salah satu dari enam judul shortlisted, dari ratusan cerita yang dikirim dari seantero Asia.
 
Hasil Karya Terjemahan Menik.
Kenapa saya ceritakan pajang lebar di sini?

Karena kemudian saya menyadari, -paling tidak buat saya- penerjemah punya peran yang tidak kalah pentingnya dalam kehidupan seorang penulis cerita anak. Selain editor dan illustrator, saya pribadi mau menambahkan satu lagi: penerjemah. Kita tidak tahu kapan karya kita beruntung dipampangkan di mata dunia. Pada saat itulah kita butuh orang yang bisa menginterpretasikan karya kita ke dalam bahasa asing.  
 
Hasil Karya Terjemahan Menik.

Alasan kedua: saya perlu men-shout out karya terjemahan Menik atas cerita saya karena keterampilannya. Begini, tidak jarang tulisan kita diedit, yang hasil editannya adalah sepertinya ‘bukan bahasa/gaya kita’. Iya, enggak? Artinya, ada gap antara kita dengan karya kita setelah diedit/diterjemahkan. Nah, hal itulah yang tidak saya dapatkan di terjemahan karya Menik.


Saya merasa, bahasa yang Menik terakan di terjemahan cerita saya itu ‘saya banget’. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karenanya. Karenanya, tidak terlalu berlebihan kalau saya menganggap Menik berperan dalam karya saya yang masih seuprit ini dan saya tampilkan beliau di tulisan ini. Berikut hasil wawancara saya dengan Krismariana Widyaningsih a k a Menik:
 
Krismariana Widyaningsih, penulis dan penerjemah. 
1.      Menik adalah penerjemah dan penulis buku anak. Mana yang lebih mengasyikkan? 
Susah milihnya.
Tapi kalau diminta memilih, saya pilih menulis buku anak. Saya bisa menciptakan tokoh-tokoh yang selama ini hanya dalam kepala lalu setelah ditulis dan diilustrasi hasilnya bisa di luar dugaan saya.
Menerjemahkan memiliki keasyikkan tersendiri. Saya banyak belajar saat menerjemah. Belajar tentang penokohan, pilihan kata, plot, dll. Selain itu, kalau menerjemahkan buku anak, saya biasanya mendapat bukti terbit. Jadi, enggak perlu beli buku untuk menambah koleksi buku anak. :D

2.      Apa hal tersulit dalam menerjemahkan cerita anak? Apa hal paling menarik?
Kalau menemukan sesuatu atau kata yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Terutama yang berkaitan dengan budaya.
Yang menarik? Saat membuka-buka kamus. Biasanya ketemu saja kata atau frasa “baru”. Baru itu artinya, bisa jadi kata atau frasa itu sudah lama ada, tapi saya baru “ngeh” kalau kata tersebut kaya makna.
 
Hasil Karya Terjemahan
3.      Ada impian khusus ingin menerjemahkan buku tertentu? 
Ng… apa ya? Haha. Rasanya kok nggak ada.
Biasanya begini, kalau lihat picture book bagus, tapi sepertinya buku seperti itu tidak mungkin diterima pasar Indonesia, nah… saat itulah saya biasanya pengin menerjemahkan buku tersebut.
Misalnya, picture book anak yang nonfiksi, jarang kan ada di toko buku? Padahal isinya bagus banget. Penerbit Indonesia pun jarang yang tertarik. Kalaupun tertarik, mungkin susah juga menjualnya. Ribet, ya?
Tapi pengin lebih banyak menerjemahkan buku-buku rohani untuk anak; buku anak nonfiksi yang memuat: cerita sejarah, kepedulian lingkungan; cerita tentang tokoh tertentu; kumpulan cerita sehari-hari tentang anak-anak.   

4.      Apa buku terakhir yang terbit?
Titu dan Tuti. Buku ini hasil workshop dengan Room to Read. Sudah disebar ke beberapa daerah, tapi belum dijual untuk umum.

5.      Pertanyaan khayalan: bila bisa bertemu dengan tokoh/karakter sebuah cerita, siapa dia?
Madita!
Dia salah satu tokoh dalam novel Astrid Lindgren. Terakhir novel itu diterbitkan ulang dan nama Madita diganti dengan Madicken. Menurutku, Madita itu lucu banget. Sifat-sifatnya khas anak perempuan pra remaja. Rasanya dia bakal jadi teman yang asyik buat mengobrol.
 
Buku Anak Karya Menik
Itulah Menik, adik asrama saya, seorang penerjemah profesional. Silakan kontak beliau bila memerlukan jasa terjemahan. Saya rekomendasikan!
 
FABEL NUSANTARA, Grasindo, 2018
Selanjutnya, kita ke… GIVEAWAY! Yeay!

“Adakah cerita anak Indonesia yang ingin Teman-Teman rekomendasikan untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris? Sebutkan judulnya!”

·         Tuliskan jawabannya di kolom komentar di bawah artikel ini
·         Share artikel ini ke facebook dan atau twitter
·         Mention 3 teman TERMASUK SAYA
·         Saya menghargai sekali kalau Anda juga mau menjadi teman saya di facebook dan follow twitter serta Instagram saya.
·         Akan dipilih SATU pemenang secara acak untuk hari ini
·         Peserta yang mengikuti giveaway hari ini berhak menjadi pemenang untuk kategori umum di akhir periode giveaway
·         Mohon tidak menuliskan hal lain selain jawaban giveaway di kolom komentar dan mohon tidak membuka perdebatan apapun
·         Terima kasih. Let’s have fun!
 
KUMPULAN CERITA RAKYAT NUSANTARA, Grasindo, 2018
14 Juni 2018
Pace e Bene,
Agnes Bemoe


Tuesday, 12 June 2018

SANTO ANTONIUS DAN SEEKOR KELEDAI

June 12, 2018 0 Comments

Hari ini, tanggal 13 Juni adalah peringatan Santo Antonius a Padua. Beliau adalah seorang yang saleh, yang mempertobatkan banyak orang dengan kotbah-kotbahnya yang indah.

Berikut ini adalah cerita tentang St. Antonius a Padua yang mempertobatkan orang-orang Rimini melalui... seekor keledai! 

Baca ceritanya di sini ya: SANTO ANTONIUS DAN SEEKOR KELEDAI

Cerita ini pernah diterbitkan di buku "KISAH PARA KUDUS DAN BINATANG". Sudah punya, belum? Kalau belum, segera cari ke toko buku ya. Ada sebelas kisah lain persahabatan para kudus dengan binatang. Ceritanya seru-seru lho!

Pace e Bene
Agnes Bemoe

Sunday, 10 June 2018

MENUJU GERBANG PENERBIT MAYOR

June 10, 2018 0 Comments
Kumpulan Kisah Santo Santa, Penerbit Genta, 2013


Di kesempatan ini saya ingin sharing pengalaman saya pertama kali naskah saya diterima oleh penerbit mayor. Ini bukan pengajaran lho ya. Jadi, jangan kecewa, tidak ada tips ataupun resep ajaib menembus penerbit mayor di tulisan ini. Suwer, ini murni sharing (Dan, iya, saya mengerti kalau anda semua bubar… hahaha!)

Saya pernah mengirim naskah cerita anak ke penerbit mayor. Ditolak. Kirim lagi. Ditolak lagi. Hehehe… ya sudah, saya mundur sambil mengobati sakit hati. Itu jauuuh sebelum saya memutuskan jadi penulis full time dan jauuuh sebelum dunia mengenal media sosial.


Setelah kenal fb, saya ikut beberapa grup kepenulisan dan kenal dengan beberapa penulis cerita anak. Dari grup kepenulisan ini saya belajar bagaimana menyusun naskah cerita anak yang baik. Jujur, PERKENALAN DENGAN PENULIS CERITA ANAK ini signifikan membantu saya belajar menulis cerita anak. Beberapa penulis cerita anak secara pribadi bersedia berbagi ilmu dan atau menjadi proofreader bagi cerita saya. Saya juga mengikuti kelas menulis yang ditaja oleh seorang penulis cerita anak terkemuka Indonesia, Ary Nilandari.

Di situlah saya memahami, kenapa cerita-cerita saya yang dulu itu ditolak melulu… hehehe…. Secara teknis, ada beberapa hal yang perlu diketahui sebelum mengirim naskah ke penerbit. Jumlah kata, misalnya. Cara bercerita juga perlu diasah. Penerbit menerima naskah ribuan (kali ya, kurang tahu persisnya, artinya: banyak!). Penerbit pasti sangat pemilih dalam hal ini. Jadi, pastikan cerita itu dirakit dengan sedemikian rupa sehingga menarik. Belum lagi masalah kerapian tata bahasa dan tata tulis umumnya.

Lalu, bagaimana persisnya saya memasuki gerbang penerbit mayor?

Masih ingat bahwa saya sempat memutuskan untuk tidak mengirimkan naskah dulu ke penerbit mayor? Nah, lalu suatu saat, saya diberi saran oleh seorang penulis cerita anak ternama (karya beliau sudah ratusan dan menyebar di mana-mana) untuk mengirim naskah ke sebuah penerbit mayor. Tidak hanya menyarankan, beliau memperkenalkan saya dengan sebuah penerbit mayor. Saya pun menulis sebuah naskah dan dengan deg-degan mengirimkannya ke penerbit tersebut. Mungkin (pasti) faktor nama besar penulis ini ya, naskah saya diterima. Jadilah naskah saya diterbitkan di penerbit mayor itu.
 
Bo dkk di Peternakan Kakek Ars, BIP Gramedia, 2014
Selamanya saya akan berterima kasih pada penulis buku anak terkenal tersebut. Biarpun kemudian saya membayar dengan mahal sekali, tidak mengurangi sedikitpun rasa terima kasih saya.

Kelihatannya kok mudah ya, asal “kenal orang dalam”, selesai masalah. Percayalah, tidak sesederhana itu. Saya yakin, penulis terkenal yang saya ceritakan di atas pasti tidak ngawur dalam memilih orang karena berkaitan juga dengan nama baiknya dan kemudian berkaitan dengan nama baik penerbit. Kalau yang diperkenalkan adalah sebarang orang, tentu hasilnya akan memalukan.
 
Aubrey dan The Three Musketeers, Kiddo, 2013
Ada proses yang tidak pendek sebelum pengiriman  naskah itu. Proses itu berawal dari PERTEMANAN. Ya, murni pertemanan. Saya pribadi tidak bermaksud berteman dengan seseorang supaya bisa mengambil manfaat dari orang itu. TIDAK. Murni, saya ingin berteman dan belajar. Bahwa pertemanan yang diisi dengan saling belajar itu kemudian membawa saya yang newbie ini ke pintu penerbitan mayor, itu sama sekali di luar rencana.

Lalu, bagaimana kalau kita kebetulan tidak kenal dengan siapa-siapa di dalam dunia penerbitan?
 
Hujan! Hujan! Hujaaan! Gramedia Pustaka Utama, 2014
Dengan segala kerendahan hati, saya hanya bisa memberikan saran:
1.      Terus belajar dan mengasah diri serta karya kita. Kalau punya dana berlebih, ikuti pelatihan menulis dari penulis yang sudah terbukti karyanya (P.S. Saya merekomendasikan nama Ary Nilandari. Kalau ada pelatihan menulis dari beliau, samber aja!)
2.      Bagian dari belajar adalah jangan ragu-ragu bertanya pada yang sudah lebih dahulu menerbitkan karya di penerbit mayor. Jangan malu tapi juga jangan sok tahu… hehehe….
3.      Sekarang zaman media sosial. Jangan ragu-ragu untuk menampilkan karya di media sosial. Tidak sedikit penulis yang dilirik penerbit karena karyanya di media sosial.
 
12 Hiasan Pohon Natal, Grasindo, 2016
Setelah tembus pertama kali di penerbit mayor yang saya ceritakan di atas, saya mencoba peruntungan ke penerbit mayor lain. Kali ini, saya mengirim sendiri, dan bukannya disarankan oleh siapapun.  Naskah ini adalah naskah hasil pelatihan menulis, jadi sudah bolak-balik ‘dibabakbelurin’ oleh pemberi pelatihan. Namun demikian, kekawatiran tentu ada. Saya tak punya nama dan bukan siapa-siapa dalam dunia kepenulisan. Baru pertama kali itu mengirim ke penerbit besar tersebut. Kemungkinan ditolak masih sangat besar. Dengan deg-degan, saya kirimlah naskah saya itu.

Persis tiga bulan setelahnya, saya menerima kabar kalau naskah saya diterima! Yeay!

Setelah itu, jalan menuju penerbit mayor terasa sedikit lebih ringan dan lancar buat saya. Syukurlah! Satu fase sudah dilewati.

Saya tuliskan bukan untuk menyombongkan diri karena faktanya tidak ada yang bisa disombongkan. Hanya saja, siapa tahu kisah saya ini bisa jadi gambaran buat yang membutuhkan.
 
Dkisah Dseru dari Dinoland, Gramedia Pustaka Utama, 2017
 Selanjutnya, kita ke… GIVEAWAY yuuk!

“Sudah pernah baca buku-buku saya? Manakah menurut teman-teman buku yang paling menarik di antara buku-buku saya?”
 
FABEL NUSANTARA, Grasindo. Dapatkan di TB Gramedia.
·         Tuliskan jawabannya di kolom komentar di bawah artikel ini
·         Share artikel ini ke facebook dan atau twitter
·         Mention 3 teman TERMASUK SAYA
·         Saya menghargai sekali kalau Anda juga mau menjadi teman saya di facebook dan follow twitter serta Instagram saya.
·         Akan dipilih SATU pemenang secara acak untuk hari ini
·         Peserta yang mengikuti giveaway hari ini berhak menjadi pemenang untuk kategori umum di akhir periode giveaway
·         Mohon tidak menuliskan hal lain selain jawaban giveaway di kolom komentar dan mohon tidak membuka perdebatan apapun
·         Terima kasih. Let’s have fun!
 
KUMPULAN CERITA RAKYAT NUSANTARA, Grasindo. Dapatkan di TB Gramedia.
11 Juni 2018
Pace e Bene,
Agnes Bemoe







Saturday, 9 June 2018

SAYA DAN ILUSTRATOR

June 09, 2018 0 Comments

Di kesempatan peluncuran website baru saya ini saya mau shout out para ilustrator yang pernah bekerja sama dengan saya. Sangat perlu bagi saya untuk berterima kasih pada para illustrator ini. Tidak terbayangkan kalau tidak ada ilustrator. Cerita-cerita yang saya tulis mungkin tidak akan seindah seperti yang diterima oleh anak-anak pembacanya.

1.      Fanny Wen
Fanny Wen adalah illustrator pertama yang bekerja sama dengan saya. Fanny menggarap buku pertama saya yang tembus penerbit mayor, sebuah buku anak kristiani berjudul “Kumpulan Kisah Santo Santa”. Saya suka cara kerja Fanny yang terstruktur dan tentu saja hasilnya yang cute. Perwarnaannya juga berani, menjadikan gambar terlihat kaya dan segar.
 
Santo Andreas Kim Tae Gon. Ilustrasi karya Fanny Wen
2.      InnerChild Std.
InnerChild Std. mungkin illustrator yang paling banyak saya mintai bantuan untuk buku saya. Beberapa buku saya adalah hasil tangan dingin InnerChild Std. Sebut saja “Bo dkk di Peternakan Kakek Ars”, “Nino, Si Petualang Cilik”, "Suatu Hari di Sungai Sey", dan “Telur Paskah Priscilla”. InnerChild Std. juga ikut serta dalam tim ilustrsi untuk “Hujan! Hujan! Hujaaan!” dalam cerita “Tarian Hujan” serta “Ring of Fire” dalam cerita “Kapten Oscar”. Buku terbaru saya, “Fabel Nusantara” dan “Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara” semuanya diilustrasikan oleh InnerChild Std.
 
Bo dkk di Peternakan Kakek Ars. InnerChild Std. 
Saya suka bekerja sama dengan InnerChild Std. Ngobrolnya enak. InnerChild Std. bisa menerjemahkan keinginan di kepala saya (yang seringnya kacau balau) ke dalam ilustrasi yang rapi, imut, dan ceria.
Suatu Hari di Sungai Sey. InnerChild Std.

3.      Clay Illustration
Clay Illustration bekerja sama dengan saya di cerita “Lila Mencari Tetes Air Hujan” di buku “Hujan! Hujan! Hujaaan!”. Dengan sangat sedih dan menyesal saya menyampaikan bahwa tanggal 28 Mei 2018 lalu, Mas Budi Clay Illustration telah berpulang karena sakit.
Semoga beliau beristirahat dalam damai.


Lila Mencari Tetes Air Hujan. Clay Illustration.

4.      Andhika Wijaya
Andhika Wijaya mengilustrasikan cerita “Orkestra Sawah” di buku “Hujan! Hujan! Hujaaan!”. Sangat enak bekerja sama dengan Andhika Wijaya. Saya, sebagai penulis, nyaris ongkang-ongkang. Andhika tipe illustrator yang mampu menerjemahkan cerita tanpa perlu diperinci lagi oleh penulis. Andhika punya opini sendiri.
Saya suka banget hasil ilustrasi Andhika. Jujur, kalau saya punya rumah sendiri yang bisa saya gambari, temboknya akan saya lukis dengan ilustrasi Andhika untuk cerita “Orkestra Sawah” ini.
 
Orkestra Sawah. Andhika Wijaya.
5.      Lily Zhai
Lily Zhai juga ikut menggarap buku “Hujan! Hujan! Hujaaan!”, tepatnya di cerita “Peri Hujan Terlambat Bangun”. Saya suka sekali gaya gambar Lily Zhai yang super imut. Dan, saya berterima kasih sekali pada Lily yang mampu menerjemahkan tokoh peri dalam cerita itu menjadi peri yang mengindonesia dengan kain batik dan selendangnya.
 
Peri Hujan Terlambat Bangun. Lily Zhai.
6.      Tjio Benson
Cerita “Hujan? Oh, Tidak!” dalam “Hujan! Hujan! Hujaaan!” diilustrasikan oleh Tjio Benson. Jujur, cerita ini yang paling ribet di masalah menerjemahkan cerita menjadi gambar. Syukurlah, Tjio Benson mampu memindahkan narasi menjadi ilustrasi yang imut dan bercerita.
 
Hujan? Oh, Tidak! Tjio Benson
7.      Elisabeth Lisa
Elisabeth Lisa mengilustrasi buku cerita Natal saya yang berjudul “12 Hiasan Pohon Natal”. Perjalanan pengilustrasian yang seperti roller coaster, terutama karena saat menggarap naskah itu saya dalam keadaan sakit. Saya bersyukur Elisabeth Lisa sangat sabar dan sangat mengerti keadaan. I am forever thankful for that, Lisa!
Untuk ilustrasinya sendiri, wah, setiap gambar yang dibuatnya adalah persis seperti yang saya bayangkan. Bahkan lebih meriah dan indah!
 
12 Hiasan Pohon Natal. Elisabeth Lisa.
8.      Anastasia Fransiska
Karakter Davii dan Dmitri yang lucu dalam “Dkisah Dseru dari Dinoland” adalah buah karya Anastasia Fransiska. Saya suka bekerja sama dengan Anastasia Fransiska karena cara kerjanya yang terstruktur, tepat waktu, dan yang paling penting, punya opini tentang cerita. Ada bagian-bagian yang merupakan hasil pemikiran Siska sendiri yang setelah saya lihat, jauh lebih baik daripada  usulan ilustrasi yang saya berikan. Saya menghargai sekali yang seperti ini.
 
Dkisah Dseru dari Dinoland. Anastasia Fransiska.
9.      Audelia Agustin
Ilustrasi cat air tentang Gunung Rokatenda, Gunung Agung dan gunung-gunung yang lain di jalur Ring of Fire adalah buah tangan Audelia Agustin. Tentu saja termasuk karakter Rupak yang anak NTT. Wah, saya pribadi bisa mengamati ilustrasi-ilustrasi ini seharian! Keren betul soalnya. Karyanya ada pada cerita “Rokatenda Menari” di buku “Ring of Fire”.
Audelia Agustin sendiri bekerja dengan teliti dan hati-hati. Hasilnya memang luar biasa.
 
Rokatenda Menari. Audelia Agustin
10.  Gery Adams
Masih di buku “Ring of Fire”, Gery Adams mengilustrasikan “Ketika Sinabung Batuk”. Kerjanya cepat dan hasilnya imuuut sekali!
 
Ketika Sinabung Batuk. Gery Adams
11.  Dian Ovieta
Sudah lihat karakter tsunami yang imut di cerita “Monster Air” di buku “Ring of Fire”? Itu adalah hasil karya Dian Ovieta. Saya memang minta tolong supaya tsunami tidak digambarkan dengan mengerikan. Biar bagaimanapun ini adalah untuk anak-anak. Nah, Dian mampu menerjemahkannya dengan baik sekali.  


12.  Maman Mantox
Maman Mantox mengerjakan ilustrasi “Wedhus Gembel” dalam buku “Ring of Fire”. Saya sebenarnya suka karakter wedhus yang dibuat Mas Maman di sampel. Ilustrasi cat air itu keren sekali. Sayang sekali, gaya itu tidak disetujui oleh penerbit. Namun, yang kemudian muncul di buku tidak kalah imutnya.
 
Wedhus Gembel. Maman Mantox
13.  Indra Bayu
Sudah baca KOPRAL JONO, ‘kan? Nah, novel detektif itu ilustrasinya dikerjakan oleh Indra Bayu. Kerjanya cepat dan hasilnya bagus. Ilustrasinya punya ‘emosi’.
KOPRAL JONO. Indra Bayu.

Selain keduabelas ilustrator ini, ada lagi buku-buku saya yang ditangani oleh illustrator lain. Sayangnya, saya tidak langsung bekerja sama dengan mereka jadi saya kurang memahami dinamika kerjasamanya. Yang jelas, hasilnya sangat bagus dan saya puas banget. Contohnya adalah ilustrasi untuk Seri Bacaan Pertamaku yang dikerjakan oleh Adlina Aidid (diterbitkan oleh Tiga Ananda, 2017).


Seri Cerita Pertamaku. Adlina Aidid. 

Nah, itulah illustrator yang pernah bekerja sama dengan saya. Semoga kerja sama ini tidak berhenti sampai di sini saja ya. Selanjutnya, kita ke… GIVEAWAY!
FABEL NUSANTARA. Dapatkan di TB Gramedia.

“Manakah di antara ilustrasi di atas yang menurut teman-teman paling menarik?”

·         Tuliskan jawabannya di kolom komentar di bawah artikel ini
·         Share artikel ini ke facebook dan atau twitter
·         Mention 3 teman TERMASUK SAYA
·         Saya menghargai sekali kalau Anda juga mau menjadi teman saya di facebook dan follow twitter serta Instagram saya.
·         Akan dipilih SATU pemenang secara acak untuk hari ini
·         Peserta yang mengikuti giveaway hari ini berhak menjadi pemenang untuk kategori umum di akhir periode giveaway
·         Mohon tidak menuliskan hal lain selain jawaban giveaway di kolom komentar dan mohon tidak membuka perdebatan apapun
·         Terima kasih. Let’s have fun!
KUMPULAN CERITA RAKYAT NUSANTARA. Dapatkan di TB Gramedia

10 Juni 2018
Pace e Bene,
Agnes Bemoe