Follow Us @agnes_bemoe

Thursday, 14 November 2019

CERITA RESIDENSI 2019: SISA-SISA KEPERKASAAN NATARA KOKI


Ternyata, sepeda motor Bpk. Robert Bumma, bapak yang menjadi guide saya, mengalami masalah. Makanya, sampai sepuluh hari setelah kami mengunjungi Parona Bongu tidak ada kabar dari beliau. Saya pun memutuskan ke rumah Bpk. Robert. Dan persis saya tiba sore itu, barusan saja sepeda motor Pak Robert diperbaiki dan sudah pulih keadaannya. Siipp! Maka, kamipun merencanakan untuk pergi ke tujuan berikutnya: Benteng Natara Koki.

Benteng Natara Koki: sisi Utara


KE BENTENG NATARA KOKI
Benteng Natara Koki terletak di sebelah Utara, sekitar 5 km dari Parona Tossi (Parona Tohikyo). Perjalanan ke sana… ya gitu deh… hehehe… kami melewati jalan aspal tipis berlubang-lubang besar di sana-sini. Sambil terbanting-banting di jok sepeda motor, sama mikir sendiri, seandainya saat ini saya sedang hamil, pasti langsung keguguruan nih! :D

Setelah jalan buruk yang lumayan panjang, kami pun masuk ke jalan raya yang agak halus. Masyarakat setempat biasanya menyebutnya “Jalan Pantura”. Sedikit dapat jalan halus Pantura, eeh, kami masuk lagi ke jalan buruk. Ga tanggung-tanggung, kali ini malah jalan tanah… hahaha… adudah!

Yang penting, tidak lama kemudian sampailah kami di lokasi Benteng Natara Koki. Di luar pengetahuan saya, lokasi benteng ini ternyata persis di sebelah lokasi danau wisata, Danau Weekuri.


SISA-SISA KEPERKASAAN
Yang kami dapati adalah sisa-sisa Benteng Natara Koki. Nyaris tidak tampak lagi bekasnya. Artinya, kalau orang datang ke sana begitu saja, mereka tidak akan tahu bahwa itu adalah sebuah benteng. Secara kasat mata yang terlihat adalah hamparan ladang/kebun dengan beberapa onggokan batu atau sisa tembok batu di sana sini.
Konon, bebatuan dari tembok Natara Koki habis diambili untuk pembangunan, termasuk pembangunan jalan Pantura mulus yang barusan kami lewati tadi. Ini menyebabkan benteng hanya tersisa mungkin sekitar 10% dari keseluruhannya.



Sebenarnya menyedihkan sekali ya, tempat yang begitu tinggi nilai sejarahnya, menjadi hanya seperti itu. Sedih saya….

Tapi, okelah, mudah-mudahan –entah bagaimana caranya- akan ada perhatian khusus dari pemerintah daerah.
Btw, balik lagi ke benteng bersejarah ini, Natara Koki.
Jadi, setelah Rato Loghe Kandua dan Wona Kaka menyerbu Jembatan Bondo Kodi dan menewaskan banyak pasukan Belanda, Belanda membalas dendam. Belanda melakukan bumi hangus. Sekian banyak perkampungan (parona), mulai dari Parona Bondo Kodi di dekat Jembatan Bondo Kodi sampai ke Parona Tossi dibakari oleh Belanda. Harta berharga seperti emas, mamoli, serta benda-benda pusaka dijarah. Karena pembumihangusan ini warga kampung lari mengungsi. Mereka mengungsi ke arah Utara. Di sanalah Wona Kaka menemukan tempat untuk berlindung. Maka dibangunlah sebuah benteng.

Nah, di arah Utara itu, di sebuah lokasi persis di bibir Samudera Hindia, dengan hutannya yang masih tebal dan padat inilah Wona Kaka membangun bentengnya. Karena pada dasarnya untuk tempat mengungsi sekian banyak warga kampung, maka benteng yang dibangun itu luas sekali. Kalau “dikonversikan” dengan jumlah kampung, mungkin bisa memuat 8 – 12 kampung. Saya kurang tahu persis berapa hektar lokasi benteng itu. Yang jelas, luas bangettt! Di dalam benteng yang luas itu, masih dibangun lagi beberapa benteng-benteng yang lebih kecil. Dugaannya, dahulu, satu kampung mendapat 1 benteng kecil (seukurang kampung).

Kalau bicara benteng, jangan dibayangkan seperti benteng-benteng bikinan Portugis atau Belanda. Benteng yang dibangun Wona Kaka adalah seperti benteng di area Keraton Yogyakarta, yakni berupa tembok tebal melingkari sebuah area. Hanya saja, bila yang di Yogyakarta dibangun dari batu bata, yang di Sumba dibangun dari batu karang yang besar-besar.

Kami mendapati di beberapa tempat masih ada sisa-sisa tembok benteng; di sisi Selatan (sisi jalan masuk benteng), sisi Barat, dan Utara. Di sisi Timur sepertinya benteng sudah nyaris habis. Sisi inilah yang persis bersebelahan dengan lokasi danau Wisata Danau Weekuri. Sayangnya, saya tidak bisa menyusuri semua tepian benteng. Selain karena amat sangat luasnya, juga karena semak-semak yang masih cukup tebal.

Dari empat sisi itu, sisi yang paling indah (kalau kita ke sana untuk menikmati pemandangan alam) adalah sisi Utara. Sisi Utara ini langsung berbatasan dengan Samudera Hindia. Tanpa pantai. Jadi di bawah karang-karang terjal (yang sepertinya digunakan oleh Wona Kaka untuk tembok pelindung) langsung laut samudera. Konon, di salah satu bagian di sisi Utara ini ada sebuah gua tempat pasukan Wona Kaka berlindung. Konon lagi, di gua itu masih ada benda-benda bekas peninggalan Wona Kaka. Sayang sekali, hal ini tidak bisa dikonfirmasi atau kami buktikan sendiri. Gua itu letaknya jauh di bawah karang curam. Hanya dengan cara yang profesional dan aman saja orang bisa sampai ke sana. 

Di dalam benteng kami dapati sebuah mata air. Mata air sudah ada sejak zaman Wona Kaka dahulu. Biarpun jalan masuk ke mata air ini menurun dan curam, mata airnya sendiri indah dengan air yang jernih. Di beberapa sisi, di bawah bebatuan karang, tampak ikan-ikan kecil berenang. Indah dan asyik banget kalau misalnya kita niat duduk bengong di mata air itu.

Mata Air Benteng Natara Koki

Selain mata air, kami juga menemukan sisa-sisa tempat aktivitas warga benteng zaman dulu, seperti tugu batu untuk persembahan dan tugu batu tempat menggantungkan hasil panenan. Peringatan: penjelasan setelah ini agak sadis. Bagi yang sensitif, lompati saja paragraph ini ya. “Natara Koki” sendiri artinya “tugu persembahan musuh”. Jadi, pada zaman dahulu, zaman perang suku, suku-suku yang kalah perang akan dipenggal kepalanya di sebuah meja batu. Meja itulah yang disebut sebagai “natara koki”.
Balik lagi ke bentengnya, menurut Bpk. Robert, tempat ini dulunya tidak seterbuka ini. Dulunya adalah hutan yang tebal dan lebat. Dengan hutan yang lebat di sisi Selatan, Timur, dan Barat serta Samudera Hindia di sisi Utara, Natara Koki menjadi benteng yang ideal untuk pertahanan dan persembunyian.

Sayang sekali, setelah pertempuran di Natara Koki, Wona Kaka dan pasukannya harus meninggalkan benteng itu karena dirasa sudah tidak aman lagi.

HARAPAN
Jujur, saya sedih sekali melihat kondisi benteng bersejarah ini. Entah kepada siapa ya saya harus menyampaikan ini. Benteng ini adalah benteng bersejarah. Saksi bisu beratnya perjuangan para pahlawan mempertahankan tanah pusaka. Pembangunan setiap batunya adalah moment berharga yang tidak bisa diulang lagi. Kalau sekarang kita sudah merdeka, lalu kita abaikan tempat bersejarah ini, apakah kita tidak menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih?

Kita bisa menikmati lancarnya pembangungan (termasuk membangun jalan raya dan tempat wisata) berkat kemerdekaan, yang di antaranya diperjuangkan oleh para pahlawan. Lalu, mengapa kita meremehkan peninggalan perjuangan para pahlawan itu? Apa yang kita pertanggungjawabkan kepada anak cucu kelak? Bagaimana mungkin peninggalan nenek moyang mereka ini direnggut dari mereka? Apakah mereka tidak berhak tahu dan ikut memiliki benteng ini?

Di zaman yang serba matre ini orang memang menghitung segala sesuatunya dengan dasar hitungan ekonomis. Yang dianggap tidak bernilai ekonomis, dihancurkan. Sedih sebenarnya ya pemikiran ini. Tapi begini, sebenarnya kita bisa mengambil nilai ekonomis dari benteng ini (kalau saja tidak keburu habis dijarah dan dihancurkan).

Saya pernah ke Monkey Forest di Ubud. Itu sebenarnya area hutan asli tempat monyet hidup. Nah, di hutan itu dibangun semacam jalur untuk pejalan kaki. Para pejalan kaki (pelancong) bisa menikmati hutan asli dengan para monyet sebagai “aktor” utamanya.  Kalau sudah pernah ke Monkey Forest, pasti tahu begitu berjejalnya turis internasional dan domestik menikmati suasana hutan yang sejuk dan asri, serta monyet yang lucu dan nakal itu.

Melihat “Natara Koki” saya langsung terpikir tentang Monkey Forest. Sebenarnya kosep Monkey Forest ini bisa diterapkan untuk Natara Koki; dibangun sebuah jalur menyusuri tembok-tembok benteng ini. Sambil menikmati hutan (yang tentu saja harus dibangun kembali), para pelancong bisa disuguhi tentang sejarah perjuangan Wona Kaka. Tracking ini bisa memanfaatkan sisi Utara yang memang secara alam tampak indah. Area wisata budaya ini pada akhirnya bisa bekerja sama dengan wisata alam Danau Weekuri di sebelahnya. Hanya membangun lokasi wisata Danau Weekuri dan mengabaikan Natara Koki menunjukkan betapa dangkalnya pengetahuan dan penghargaan kita terhadap sejarah bangsa. Saya kurang mengerti, kualitas bangsa yang bagaimana yang hendak dibangun kalau kita mengabaikan sejarah.

Maaf kalau saya agak nyolot. Jujur, sedih, gemas, cenderung geram, melihat begitu minimnya perhatian dan penghargaan terhadap situs sejarah ini. Bagaimana masyarakat luas (dalam hal ini nasional) mau menghargai Wona Kaka, kalau kita sendiri abai terhadap peninggalannya? Mudah-mudahan pemerintah daerah mau lebih berusaha keras untuk menyelamatkan situs sejarah ini.

Baiklah, itulah hasil perjalanan saya hari itu bersama Bpk. Robert Bumma dan Louis (yang menjadi supir ojek saya) ke Benteng Natara Koki. Hari itu kami masih mampir ke rumah Raja Hermanus Rangga Horo (RIP), raja terakhir Kerajaan Kodi. Namun, itu saya ceritakan di artikel tersendiri ya.



***

Homba Karipit, 11 November 2019
@agnes_bemoe






No comments:

Post a Comment