Follow Us @agnes_bemoe

Thursday, 12 December 2013

I SHOULD NOT COMPLAIN

Selamat pagi :)

Saya bukan orang yang suka mengeluh. Paling tidak, sebisa mungkin tidak mengeluh (apalagi di depan umum).

Tapi, ada kalanya mengeluh adalah pelepasan yang paling melegakan. Ada kalanya muncul rasa nelangsa, cemas, kawatir, menyesal, dan perasaan-perasaan negatif lainnya,

Tapi (lagi), sebanyak saya mulai mengeluh, sebanyak itu juga Tuhan sepertinya mengingatkan: you shouldn't complain.

Ini beberapa peristiwa yang menggugah saya. (Catatan: mudah-mudahan saya bisa menyampaikannya dengan baik sehingga tidak menimbulkan kesan "Untuuuuung gue ga sampai segitunya! Masih enak gue dong!". Rasa "syukur" yang arogan karena didapatkan dari penderitaan orang lain. Saya ingin menyampaikan bahwa "dalam hal ini saya tidak sendiri. Banyak teman saya dan saya pun bisa jadi teman mereka")

Awal-awal ketika saya belum rutin ke rumah sakit, saya sudah merasa bosan dan cemas, dll, karena sepanjang hari hanya bisa tergeletak di tempat tidur. Biasa deh, keluhan sekelas "kenapa terjadi pada saya" blah blah blah menari-nari di kepala saya. Lalu, saya menonton berita tentang badai Haiyan di Filipina. Badai datang tiba-tiba, menghancurkan siapa saja dan apa saja. Menyaksikan tayangan itu hati saya teriris. Bencana dahsyat datang tanpa mereka sempat berpikir. Sangat mengenaskan melihat anak-anak lari ketakutan di tengah guyuran hujan. Aduh, Tuhan.... Saya malu sempat mengeluh, biarpun hanya dalam hati.


Ketika sudah rutin ke rumah sakit, saya sempat terpikir betapa repotnya diri saya: "menyeret diri" (karena memang tidak bisa berdiri/berjalan lama), harus tergantung pada driver, dll.
Suatu hari saya mendengar percakapan pasien di sebelah saya. Catatan: ruang perawatan hanya dibatasi oleh tirai jadi semua percakapan terdengar.
Pasien ini berasal dari Perawang (jauh banget dari Pekanbaru). Di Perawang tidak ada fasilitas fisio terapi. Satu-satunya yang ada hanya Pekanbaru. Dari Perawang ke Pekanbaru mereka harus ganti kendaraan empat kali! Untuk berobat, suami pasien harus tidak bekerja hari itu (saya menangkap kesan suaminya adalah buruh harian atau sejenisnya, pokoknya yang dibayar berdasarkan kehadiran setiap hari). Aduh mak! Terbayang di mata saya perjuangan suami istri ini dari Perawang ke Pekanbaru demi kesembuhan....

Masih di rumah sakit.
Rupanya banyak juga pasien fisio terapi yang masih anak-anak. Suatu hari, pasien penuh sementara suster jaga hanya satu orang. Biasanya tiga orang tapi yang dua orang lagi sedang visit pasien yang rawat inap.
Nah, ada pasien anak yang tidak berhenti menangis. Rupanya, dia tidak hanya sudah kesakitan tetapi juga juga bosan karena belum juga ditangani.
Rasanya saya bisa mengerti kalau si anak ini tidak berhenti menangis. Suasananya memang amat sangat tidak menyenangkan, apalagi buat seorang anak. Saya juga jadi berpikir, kenapa ya saya masih juga berpikir "why me?" Ada seorang anak kecil yang sebenarnya sedang senang-senangnya berlari dan bermain tapi harus melewatkan waktunya di rumah sakit yang tidak menyenangkan. Mengapa saya tidak mencoba jadi "the grown up" dan berhenti "menangis".

Beberapa peristiwa lagi seolah mencubit kesadaran saya. Complaining is the last thing I need to do. Jadi, terima kasih untuk orang-orang di sekitar saya. Saya berdoa juga untuk kesembuhan mereka. Semoga Tuhan tetap memberikan kekuatan dan penghiburan. Amin.

***

Pekanbaru, 14 Desember 2013
@agnesbemoe


No comments:

Post a comment