Follow Us @agnes_bemoe

Thursday, 21 October 2010

Uskup Padang: "Jangan Jadi Virus!"

Penulis: Christina Widyarianti, S.S.

Demikian himbauan Uskup Padang Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap. kepada segenap yang hadir di Misa Syukur pemberkatan gedung baru SMA Santa Maria Pekanbaru bertempat di lapangan sekolah, Rabu pekan silam. Himbauan ini disampaikan melalui kotbahnya dalam misa yang dihadiri oleh kurang lebih 700 hadirin yang terdiri dari Pembina, Pengawas dan Pengurus Yayasan Prayoga Riau (YPR); pendidik dan tenaga kependidikan sekolah-sekolah Santa Maria di Pekanbaru; serta para siswa SMA Santa Maria.

Mendasarkan kotbahnya pada bacaan yang diambil dari Injil Matius 7:24-27 Uskup Padang yang sekaligus Ketua Dewan Pembina YPR ini menegaskan bahwa orang katolik hendaknya berlaku bijaksana, seperti orang yang membangun di atas wadas dan bukannya di atas pasir. Orang yang membangun rumahnya di atas pasir adalah orang yang hanya gegap gempita di atas kemilaunya dunia. Orang-orang seperti ini tidak membangun rumahnya berdasarkan perutusan, kasih, dan ketaatan pada Tuhan.

Masih dalam kotbahnya, Bapa Uskup yang juga Ketua KWI ini menekankan pentingnya menjauhi sifat manipulatif, yakni sifat bermegah diri karena hasil kerja atau keberhasilan orang lain. Jangan melakukan sesuatu untuk menyombongkan diri serta memperkaya diri sendiri.
“Kalau kita bersikap seperti itu, maka kita adalah virus-virus di masyarakat yang akan merusak tatanan kehidupan,” tegas Bapa Uskup.
Selain meminta kepada yang hadir untuk tidak menjadi virus, Bapa Uskup juga secara jelas menekankan perlunya sikap peduli apabila ada virus-virus di sekitar mereka.
“Kita harus bertindak sebagai pemain yang selalu peka terhadap lingkungan kita, sehingga virus-virus tersebut tidak semakin merebak ke mana-mana. Janganlah kita mau hanya sebagai onderdil alias pelengkap dalam kehidupan ini. Tuhan mengharapkan kita memegang peranan inti dalam kehidupa demi kemuliaan Tuhan.” demikian Bapa Uskup.

Kepada para pendidik Bapa Uskup mengingatkan untuk mendidik anak-anak mejadi anak-anak yang bukan saja cerdas secara intelektual, tetapi lebih-lebih menjadi manusia yang dapat memberi arti kepada hidup dan imannya. Mendidik manusia yang tidak egois dengan ilmu dan kemampuan serta hartanya; mendidik manusia yang tidak hampa moralitasnya, hampa keadilan, dan hampa kasih. Selain itu, pendidik hendaknya menjauhkan anak didik mereka dari kesombongan, sikap manipulatif dan kemunafikan.
Di lain pihak, para pendidik adalah keluarga yang harus saling mengajar, menghargai, dan menegur, supaya lahan yang digarap dapat tumbuh dengan subur dan makmur, dan bukannya gugur dan hancur.

“Tugas sebagai pendidik bukanlah tugas yang diberikan oleh yayasan, melainkan Tuhan sendiri mempercayakan tugas-tugas tersebut kepada kita, sehingga bukan pada tempatnya kalau kita ingin mencari keuntungan pribadi ataupun kelompok tertentu.” tegas Bapa Uskup.

Di akhir homilinya Bapa Uskup menghimbau kepada pengurus yayasan, pendidik dan tenaga kependidikan agar dapat membangun karya di atas wadas dan hidup di atas keringat sendiri. Dengan itu, Tuhan pasti akan selalu memberi berkat dan rahmat, bantuan, dan anugerahNya.

Misa yang diadakan persis sehari setelah perayaan Kemerdekaan RI ini sendiri berlangsung dengan meriah namun tertib. Misa tidak hanya diramaikan dengan orgen dan panduan suara, namun juga dengan band yang dibawakan oleh siswa-siswa SMA Santa Maria Pekanbaru. Sebelum misa dimulai Bapa Uskup disambut dengan tari-tarian Melayu, Minang, dan Batak Toba oleh sejumlah penari yang adalah siswa-siswi SMA Santa Maria Pekanbaru. Beliau kemudian memimpin misa dengan didampingi oleh P. Antonius Konseng, Pr., M. Sc., P. Emilius Sakoikoi, Pr., dan P. Immanuel Nardelo, S.X. sebagai konselebran.

Misa Syukur kemudian dilanjutkan dengan acara penandatanganan prasasti oleh Bapa Uskup. Prasasti tersebut menandakan telah resmi digunakannya bangunan baru bagi SMA Santa Maria. Bangunan ini sendiri sebenarnya adalah tambahan bagi bangunan yang sudah ada. Bangunan baru ini adalah bangunan tiga lantai yang digunakan sebagai ruang kelas, laboratorium, perpustakaan , dan ruang majelis guru. Dalam dua tahun terakhir ini SMA Santa Maria memang mengalami peningkatan pesat dalam jumlah murid. Tidak heran kalau sekolah ini membutuhkan tambahan gedung. Berbanding dengan dua-tiga tahun lalu tercatat ada kenaikan jumlah murid sebanyak 30%. Kini sekolah ini mengasuh sekitar … siswa dengan 51 pendidik dan tenaga kependidikan.

Dalam kesempatan itu H. Sihombing, S. E., Kepala SMA Santa Maria Pekanbaru menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pembina, Pengawas, dan Pengurus Yayasan Prayoga Riau yang memperhatikan kebutuhan sarana pendidikan di SMA Santa Maria Pekanbaru. Menurut kepala sekolah yang banyak membawa perubahan positif bagi SMA Santa Maria ini, penambahan gedung ini memberi motivasi baru bagi peserta didik dan para pendidik.

Bagi segenap pendidik dan tenaga kependidikan SMA Santa Maria sendiri, tambahan gedung baru ini merupakan apresiasi atas prestasi-prestasi yang diperoleh belakangan ini. Tidak hanya pertambahan jumlah murid yang merupakan indikator naiknya tingkat kepercayaan masyarakat, namun beberapa prestasi lainnya juga cukup membanggakan, misalnya dalam hal kelulusan. Sudah dua tahun terakhir ini sekolah yang baru-baru ini menyabet gelar Honorable Mansion dalam Olimpiade Sains bidang Fisika Tingkat Asia ini mencatat kelulusan 100% bagi para siswanya. Akreditasi sekolah juga meningkat, dari predikat B mejadi predikat A. Ini belum lagi prestasi-prestasi yang diperoleh siswa baik dalam bidang akademik dan non akademik seperti Juara Umum dua kali berturut-turut dalam Lomba Akuntansi tingkat Propinsi Riau, Juara I DBL 2009 tingkat Propinsi Riau untuk tim putri dan Juara I DBL 2008 tingkat Propinsi Riau untuk tim putra, serta Juara III Tingkat Nasional OSN Bidang Komputer.


Pekanbaru, 21 Agustus 2010
Christina Widyarianti, S. S.
Guru Bahasa Inggris SMA Santa Maria Pekanbaru


Tulisan ini dimuat di Majalah HIDUP, Edisi September 2010 dan Majalah EDUCARE, Edisi Oktober 2010

No comments:

Post a comment