Follow Us @agnes_bemoe

Friday, 9 February 2018

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: MEMAHAMI TRAGEDI BERSAMA JAMIE

Judul: My Sister Lives On The Mantelpiece
Penulis: Annabel Pitcher
Penerbit: Little, Brown and Company
Tahun Terbit: 2012 (Terbitan Kedua. Terbit pertama 2011 oleh Orion Publishing Group)
Jumlah Halaman: 211 halaman




Jamie dipaksa hidup bersama 'hantu' Rose, kakaknya yang tewas kena bom London. Peristiwa tewasnya Rose itu begitu dalam menikam keluarga Jamie sehingga ayahnya menjadi pemabuk dan pembenci muslim. Selain itu, ayahnya juga terobsesi pads Rose dan tidak rela melepaskan anaknya, yang sisa-sisa jenazahnya dikremasi dan disimpan dalam tempat abu jenazah itu. Ibunya memilih lari dengan pria lain karena tak tahan dengan sikap ayahnya. Tinggallah Jamie dengan Jasmine, saudara kembar Rose, berjuang untuk hidup sebagai anak 'normal', mencoba mengembalikan ibunya, mencoba bertahan terhadap bully-an di sekolahnya, dan yang terpenting, mencoba melepaskan diri dari 'hantu' Rose.

Tidak heran kalau novel ini menuai banyak pujian. "Compelling and belivable... by turns heartbreaking and histerically funny." Itu kata School Library Journal. "In this powerfully honest, quirkily humorous debut novel... Pitcher tackles grief, prejudice, religion, bullying, and familial instability." - Publishers Weekly.

Tema yang diangkat dan cara penulisnya bercerita membuat novel ini luar biasa menarik. Selain itu, ini adalah novel yang sangat dibutuhkan di masa kini, tidak hanya oleh London, tapi juga oleh dunia termasuk Indonesia. Dunia sedang dirasuki oleh kekejaman atas nama agama. Dalam situasi itu, kebencian dan balas dendam mudah tersulut. Dan itu yang terjadi pada ayah Jamie. Ia punya alasan yang sangat manusiawi untuk membenci kaum muslim: anaknya luluh lantak diledakkan bom. Alih-alih bersikap lebay sebagai korban, novel ini menawarkan sesuatu yang berbeda di dalamnya.

Ditulis dengan sudut pandang Jamie, pembaca bisa merasakan hancurnya hati si ayah, namun juga memahami ketidakmengertian Jamie akan kehilangan. Ia masih balita waktu peristiwa itu terjadi. Menjembatani ketidakmengertian ini, novel ini tidak berkotbah, juga tidak menghakimi. Inilah yang membuatnya luar biasa. Gaya bercerita yang lucu dan polos menyebabkan pembaca tidak sadar bahwa yang dibacanya adalah sebuah tragedi. Namun, jangan salah, kocak bukan berarti meremehkan. Melalui penceritaannya yang terkesan kocak, Pitcher menunjukkan pemahamannya akan luka yang dialami keluarga Jamie.

Saya pribadi berpikir, ini novel yang berani. Bayangkan, bom mengoyak London, dan penulis ini memilih untuk tetap berdamai (bukan dengan teroris, tetapi dengan manusia yang kebetulan muslim)? Bila posisinya dibalik, apakah mungkin tercipta novel yang setara (khususnya untuk konteks Indonesia)?

Sulit saya menemukan cacat novel ini. Bahkan, bahasa yang digunakan pun ringan dan mudah. Terbukti, saya yang pengguna Bahasa Inggris pasif mampu memahaminya.

Mungkin terkesan ikut-ikutan, tapi jujur, saya sangat berharap novel ini bisa diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia. Tidak ada saat yang paling tepat untuk membaca dan memahami novel ini kecuali sekarang ini. Dan alangkah indahnya kalau novel ini sudah dibaca oleh anak-anak sedini mungkin. Bagi para guru, sangat saya sarankan agar mengajak para siswanya membaca dan membahas novel ini. 5/5 ☆☆☆☆☆ dari saya.

***

Pebatuan, 9 Februari 2018
@agnes_bemoe

No comments:

Post a comment