Follow Us @agnes_bemoe

Saturday, 15 October 2016

BOOK THROUGH MY EYES [BTME]: TEMAN DALAM DERITA

Judul Buku                  : Why Me, Lord – Bulir-Bulir Derita sebagai Mutiara Hidup
Penulis                         : Dedeh Supantini
Penerbit                       : Penerbit Obor, Jakarta

Why Me, Lord - Dedeh Supantini


Tidak ada satu manusiapun yang tidak pernah mengalami penderitaan. Intensitasnya bisa sangat subyektif dan variatif. Respons manusia terhadap penderitaan pun bisa bermacam ragam. Namun, satu hal yang layak kita sadari adalah tidak satu orang pun dari kita yang kebal terhadap penderitaan.
Buku kecil bertajuk “Why Me, Lord – Bulir-Bulir Derita sebagai Mutiara Hidup” ini memaparkan pengalaman penulisnya, Dedeh Supantini, sebagai seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Dalam kesehariannya, dr. Dedeh bertemu dengan banyak sekali pasien yang bergumul dengan penderitaan mereka. Pertemuan dengan pasien dan penderitaan mereka itulah yang “dikunyah” oleh dr. Dedeh dan kemudian disampaikan kembali kepada para pembaca.
Saya menghindari membaca buku-buku sejenis dengan beberapa alasan yang sangat pribadi. Pertama, buku-buku tersebut terlalu berat buat saya sekarang ini yang sedang “terlalu peka radarnya terhadap cerita/berita penderitaan”. Kedua, beberapa buku (tulisan) yang saya coba baca biasanya berhenti pada kegiatan mendramatisir penderitaan; mengemas penderitaan menjadi semacam hiburan. Karenanya, itu menjadi tulisan yang tidak hanya tidak menarik, tetapi juga kejam dan kering.
Puji Tuhan, saya menemukan hal yang berbeda. Buku ini sangat empatik memandang orang-orang yang sedang menderita. Empati, inilah kelebihan buku ini. Inilah yang dibutuhkan oleh para pembaca. Dan, penulis sangat memahaminya. Terbukti, pemaparan dan penjelasannya sangat empatik dan jauh sekali dari kesan menghakimi.
Buku ini juga tidak meremehkan para penderita. Tidak menggampangkan. Buku ini memandang kita, para pembacanya, dengan pengertian dalam akan apa yang kita alami. Berapa banyak dari kita yang bertemu dengan orang-orang yang mudah saja bilang: “ah, itu karena kurang iman!”, “berdoa sajalah, beres!”, dan kalimat-kalimat sejenis. Biarpun menghiasi tulisannya dengan banyak doa dan kutipan kitab suci, dr. Dedeh tidak sepatah kata pun menggiring pembaca ke pemikiran bahwa “berdoa sajalah, beres!”. Terkadang, seseorang yang sedang menghadapi situasi sulit “hanya” butuh teman. Buku ini hadir sebagai teman tersebut.
Ketiga, buku ini memposisikan dirinya sebagai teman bagi pembacanya. Penulis membagi-bagi “proses penderitaan” (ini istilah saya) ke dalam beberapa tahapan. Setiap tahapan diolah, dibicarakan, dan direnungkan tersendiri. Dalam sudut pandang saya sebagai pembaca, seolah-olah pembaca ditemani dengan sabar dan perlahan-lahan untuk menjalani dan memahami apa yang sedang berlangsung dalam dirinya. Dalam posisi sebagai teman itulah buku ini kemudian memberi kekuatan ekstra (empowering) bagi pembacanya. Saya rasa, elemen inilah yang sering hilang dari buku-buku motivasi (yang best seller sekalipun).
Buku-buku seperti ini bisa jadi sangat bagus isinya tapi membosankan pemaparannya. Syukurlah, hal itu tidak terjadi dalam buku kecil bersampul biru ini. Penulis menyelipkan puisi-puisi, kutipan kitab suci, dan doa yang mencairkan tulisan. Bahasa yang digunakan oleh penulis juga ringan dan lancar. Biarpun topiknya berat, pembaca tidak akan merasa berat membacanya.
Satu-satunya keberatan saya atas buku ini adalah pada bagian pembukaannya. Ada banyak sekali kata pengantar, pendahuluan, serta endorsement yang menurut saya menjadi sedikit terlalu banyak. Ibarat sebuah three courses meal yang kebanyakan appetizer-nya. Biarpun appetizer itu semuanya lezat rasanya, pembaca bisa jadi “kekenyangan” sebelum masuk ke main course.
Namun, selain itu, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk siapapun, dalam segala umurnya (remaja atau dewasa). Saya bahkan berharap setiap rumah tangga mau mengkoleksi buku ini seperti mereka mengkoleksi buku pintar atau ensiklopedi. Buku ini bisa jadi panduan dan panutan sepanjang masa. Saya juga berharap sekolah-sekolah (minimal menengah atas) mau mengkoleksi buku ini di perputakaannya dan mengadaptasikan isinya ke dalam bimbingan atau retret di sekolahnya. Setiap kita tidak kebal dari penderitaan, maka, bersyukur sekali kita punya “teman” yang mengerti dan memahami kita menjalaninya. Buku ini adalah salah satunya.

Pekanbaru, 16 Oktober 2016

Agnes Bemoe

No comments:

Post a comment