Follow Us @agnes_bemoe

Monday, 7 October 2013

BEHIND THE SCENE [BTS]: SEPERTI TERPERANGKAP DI ROLLER-COASTER RUSAK!

Itulah yang aku rasakan tentang proses penulisan novel anak "Aubrey dan The Three Musketeers"!



IDE AWAL

Padahal, ide ceritanya aku dapatkan dengan relatif mudah lho. 

Pembaca pasti tahu lagu "Aubrey" yang dinyanyikan oleh Bread itu kan? 
Suatu siang, lagu itu seperti terus mengiang-ngiang di telingaku. Maka, seharian aku memutar lagu itu lewat Youtube. 

Sambil mendengarkan lagu ini, entah bagaimana, terbayang seorang tokoh anak perempuan bernama Aubrey. Lalu, entah bagaimana juga, sepertinya ada potongan-potongan cerita yang mendesak di kepalaku, minta ditulis.

Maka, menulislah aku. Jadi, sebuah cerpen anak. Tokohnya Aubrey, penderita sakit AIDS. Dia bersahabat dengan tokoh "aku" yang bernama Dian. Dian berusaha menemani Aubrey dalam sakitnya. Diantaranya, Dian menjadi pemasok cerita buat Aubrey, lalu Aubrey yang menggambar cerita itu. Di akhir cerita, Aubrey meninggal. Sebelum meninggal ia meninggalkan sebuah gambar untuk Dian. 

Suwer, waktu menulisnya, aku sering merasa tercekat-cekat kerongkonganku (hehehe... lebay yah...).

Setelah cerpen jadi, aku merasa lega. Tapi, hanya sebentar. Karena si Aubrey seperti belum mau pergi dari pikiranku!

HAMPIR DI-DO DI KELAS MENULIS



By the way, aku menulis cerpen itu pada November 2012. Biarpun ada desakan untuk menulis lagi, tapi kuabaikan. Aku belum tahu mau ditulis seperti apa. 

Awal tahun 2013 aku diberi tahu oleh Dian Kristiani (penulis cerita anak, penulis cerita gokil, penulis buku psikologi populer) bahwa ibu Ary Nilandari akan mengadakan kelas menulis, salah satunya kelas penulisan novel anak. Dian menyarankan aku untuk ikut.

Merasa punya materi tapi tidak tahu cara mengembangkannya, aku pun mendaftar.

Aku mendaftar untuk 2 kelas, sebenarnya: penulisan novel anak dan penulisan pictorial-book. Sadar tidak terampil dalam multi-tasking, aku sengaja menyelesaikan dulu tugas-tugas pictorial book. Pertimbanganku, setelah itu selesai, aku bisa konsentrasi di novel anak. 

Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Selesai dengan pictorial-book, aku menerima kabar bahwa ibuku sakit. Catatan: ibuku tinggal di Maumere, Flores. Karena tidak ada anak dan menantunya yang bisa mengurusi ibu yang sedang kritis, aku memutuskan untuk pulang kampung.

Urusan menulis novel dengan pasrah kutinggalkan. Aku menyampaikan pada bu Ary Nilandari tentang hal ini.

Hampir sebulan aku di Maumere. Ketika kembali, aku melihat teman-teman sekelas sudah jauh sampai bab-bab akhir. Beberapa malah sudah selesai. Oh no! Waktunya sudah mepet. Biarpun aku menulis secepat Lucky Luck menembak pun pasti tidak akan bisa mengejar batas akhir waktu belajar. 

Ternyata, bu Ary Nilandari bersedia membantu. Biarpun waktu belajar sudah habis, beliau bersedia memeriksan dan mengoreksi naskahku. Hore! Semangatku timbul lagi!




DILAMAR
Tidak berapa lama setelah itu, Dian Kristiani menawarkan, kalau-kalau aku mau menawarkan novelku untuk Penerbit Kiddo. Mereka sedang membuat proyek novel anak bertemakan hewan peliharaan. Wow! Pengin, tapi, bisa ga ya... hehehe...

Aku pun mengirimkan bagian pertama dari novelku ke Penerbit Kiddo. Ternyata, diterima! Yeay!

Eh, tapi jangan girang dulu. Diterima dengan sekian banyak catatan. 

Karena proyeknya tentang hewal peliharaan, aku harus memasukkan hewan peliharaan dalam cerita. Kemudian, novel ini nantinya akan dibuat semacam illustrated-novel begitu. Jadi, isinya mesti benar-benar cair dan bisa diilustrasikan.

Untuk yang pertama, aku tidak keberatan. Seperti kata Dian waktu menawarkan ini, aku adalah penggila anjing. Pasti aku punya banyak cerita tentang anjing. Oke, jadi yang pertama, tentang hewan peliharaan, checked!

Yang membuatku pingsan adalah yang kedua: mengubah gaya bercerita!

DISELAMATKAN OLEH KOCI
Begini, biarpun ada kesan aku ini orang yang 'ramai', tapi sejujurnya, I'm not! Banyak yang tidak percaya. Kedengarannya aku hanya mendramatisir suasana, biar gimanaaa gitu... hehehe....

Nah, jadi, sewaktu diminta untuk membuat gaya tulisan yang rada-rada gokil lengkap dengan ilustrasi yang "lebay" aku pingsan.... Itu adalah area tak nyamanku!

Pertama, novel Aubrey sendiri awalnya ingin kutulis dengan gaya bercerita yang "dull", suram, dingin. Itu karena topik yang aku angkat juga "serem", yakni tentang anak pengidap HIV/AIDS. Kedua, menulis dengan gaya-gaya "dingin", "dull", itu sepertinya aku banget. 

Okelah, karena aku sudah setuju, aku berusaha memprogram ulang diriku. 




Aku beli buku-buku serial Wimpy. Tujuanku supaya aku bisa meresapkan "kegilaan"-nya. Berhasil? Tidak! Berulang kali naskahku dikembalikan oleh mbak editor yang baik hati. Beberapa karena aku harus mengurangi porsi tentang penyakit dan memperbanyak porsi tentang hewan. Beberapa lagi karena gaya berceritaku yang masih terlalu kaku. 

Awalnya, aku pe-de berat bisa menyelesaikan novel ini dengan cepat. Faktanya? Aku tewas dengan sukses!  Sampai akhirnya, mbak editor (yang sudah sangat bersabar dengan kelambananku)  menyodorkan sebuah naskah cerita. 

Kubaca naskah itu langsung saat itu juga. Dan, heran, sambil membaca, seolah-olah katup-katup yang menyumbat otakku berloncatan keluar. Mengalirlah gambaran tentang ceritaku sendiri!

Maka, mulailah aku menulis lagi! Heran! Beberapa buku terjemahan tidak mampu menggetarkan otakku. Tapi, satu naskah asli dalam negeri malah langsung membuat kepalaku bergoyang dombret... hehehe...

Naskah apakah yang jadi malaikat penolongku? Tidak lain dan tidak bukan adalah naskah "Koci, My Frienemy" tulisan Dian Kristiani!

***

(bersambung ke sini)

Pekanbaru, 8 Oktober 2013
@agnesbemoe


No comments:

Post a comment