Follow Us @agnes_bemoe

Wednesday, 26 September 2012

TAWURAN PERTAMAKU

Tawuran (lagi) ya? 
Hmm… jadi teringat jaman dulu. Tahun1999-an kalo nggak salah. Aku kepsek di suatu SMA swasta kecil di Dumai. Sekolah baru, baru 2 taun umurnya. 

Waktu itu guru-guru pada kasak-kusuk. Ternyata mereka dilapori sama anak-anak bahwa Si A, B, C, D, dan E udah ngajak teman-temannya untuk menghadang anak dari SMK “Pujaan Hati” (nama samaran, pokoknya ini SMK Negeri pualing ngetop se-Dumai). 

Awalnya guru-guru cuman ngomongin aja, lalu lama-lama kok jadi tambah serius. Menurut info, gara-garanya ada anak putri SMA kami yang diganguin sama cowok-cowok SMK PH. Konon, mengamuklah cowok-cowok sekolah kami, ngerasa harga dirinya tercabik-cabik. Balas dendam adalah jawabannya. Deuh! 

Alkisah, pembicaraan guru-guru makin lama makin hot sehingga bikin aku takut sendiri. Iya kalo cuman gossip, kalo benar? Akhirnya, aku suruh Wakasek Kesiswaan untuk panggil anak-anak yang dicurigai punya rencana tawuran tadi. Mereka tentu aja nggak ngaku. Awalnya. Tapi, berkat tang dan rante (hihihi… nggak deeng!), pokoknya akhirnya mereka mengaku juga. Masalah itu sudah masalah lama. Awalnya ejek-ejekan kalau ketemu di jalan. Trus nambah nambah nambah… akhirnya, masalah cewek disuitin pun jadi masuk ke ranah harga diri… 

Nah, sekarang, apa yang harus kubuat? Kulirik jam, sudah nyaris jam pulang. Wes, aku mutuskan: anak-anak dan guru TIDAK BOLEH PULANG! *pake mlintir kumis nih… Aku sendiri cabut ke SMK PH, nemuin kepseknya. 

Kepseknya bapak-bapak, orangnya ferlente en masih terhitung muda. Ah, syukurlah. Pikirku, kalo sama yang masih agak mudaan lebih enak ngomongnya. Aku menceritakan bahwa ada kabar kalau anak-anak akan tawuran. Aku nanyakan, enaknya gimana, supaya tawuran ini bisa dicegah. Pokoknya sumthin’ like that lah… Tapi, apa yang terjadi? 

Pak Ferlente (begitu aja ya kita sebut namanya, soalnya aku udah lupa :D) malah ngamuk-ngamuk.  

Pak Ferlente: Ibu jangan macam-macam! (cam… cam… cam… *echo di kupingku sangking kerasnya suaranya). Sekolah ini bukan baru satu dua tahun kayak sekolah ibu! (bu… bu… bu…). Dan selama itu tidak, sekali lagi TIDAK ada perkelahian apalagi tawuran!  

Aku: Tapi, Pak….  

Pak Ferlente: Yang masuk sekolah ini semua, sekali lagi semua dites! Bukan seperti sekolah ibu, asal masuk saja!  

Aku: (Langsung tutup kuping, berharap bapak ini meledak saat itu juga dan dia broken into pieces! 

Emangnya dia pikir anak-anaknya itu anak-anak malaikat yang fresh from heaven ya?!) Akhirnya, setelah menyelesaikan pidatonya, Pak Ferlente bilang: Kalau ada masalah di sekolah ibu, tangani sendiri. Jangan libatkan sekolah kami! 

Okelah, aku pulang dengan gondok, malu, marah, jengkel, ….. semua! 

Sampe di sekolah, aku tetep tahan anak. Untungnya, mereka nggak tergantung jemputan, dan mereka bukan tipe anak-anak yang akan dicari oleh ortu, jadi aku nggak perlu okol sama ortu. Di sekolah, interogasi tetap berlanjut. Mereka (anak-anak yang diduga mau memulai tawuran itu) sampe nyembah-nyembah, bilang: enggak bu, kami nggak akan kelahi. Enggak buuuuk… Aku gak peduli! *kejem! Sorenya, setelah beberapa orang guru kusuruh memastikan keadaan jalan raya yang biasanya dilalui anak-anak sudah aman (nggak ada anak sekolahan), barulah anak-anak kulepas pulang. 

***

Beberapa waktu setelah itu (1 – 2 bulan setelahnya, kalo aku nggak salah), terjadi tawuran pertama di Kota Dumai! (Maksudku karena status ‘kota’ untuk Dumai juga baru, jadi apa-apa yang terjadi dianggap yang pertama, ya kan? :D) Iiih… jadi juga anak SMA-mu tawuran? Pasti begitu kata anda yang mbaca. Yee… BUKAAAN! :p 

Yang tawuran adalah anak-anak dari SMK PH dan sebuah sekolah swasta di Dumai! Xixixi… anak-anak malaikatnya yang lulus tes ini itu ternyata mengukir prestasi ya Pak. Pembuka rekor tawuran… :p :p :p 

Pengen rasanya ngeliat kumis tipis Pak Ferlente saat itu. Pasti pada njegrig!  

Pekanbaru, 26 September 
2012 2:05 
Agnes Bemoe

No comments:

Post a comment