Follow Us @agnes_bemoe

Wednesday, 16 March 2011

SUKSES


Seorang guru Bahasa Indonesia sedang mengajarkan tentang topik “Menulis”, ketika seorang anak murid menyela.

“Bu, saya mau tanya,” kata si murid.
“Silahkan, apa pertanyaanmu?”
“Ibu sudah pernah menulis buku?”
“Belum, Nak,”
“Ada artikel ibu yang diterbitkan di majalah atau surat kabar?”
“Tidak ada, Nak,”
“Hm… menulis makalah, mungkin?”
“Sekali dua kali pernah…”

Si murid itu tambah gencar mencecar gurunya. Tetapi, tetap jawaban si ibu guru itu adalah ia tidak memiliki hasil karya tulis yang membanggakan.
“Lalu, kalau tidak ada satu pun karya tulis yang bisa ibu tunjukkan pada kami, apa gunanya ibu mengajarkan pelajaran Menulis ini?” katanya dengan angkuh.
Si Guru Bahasa Indonesia itu terdiam sejenak. Kemudian, ia mengambil laptopnya, dan membukanya.
“Benar, tidak ada satu pun buku atau artikel pun yang ibu tulis. Ibu menulis makalah juga hanya sekali dalam empat tahun, mengikuti ketentuan kenaikan pangkat. Tapi, ibu punya beberapa catatan berikut ini,” ibu guru itu terdiam sejenak, dan mulai membaca dari laptop-nya.

“Ibu, saya mau bilang terima kasih. Saya sedang stress berat, karena skripsi saya selalu dikritik tata bahasanya tanpa diberi pembetulan. Akhirnya, saya gunakan catatan yang dulu ibu berikan. Dan, tahu nggak, bu, catatan itu memudahkan saya melihat kesalahan dalam penulisan skripsi saya…”

“Ibu, saya nggak nyangka, jadi hakim juga harus berurusan dengan dunia tulis menulis. Saya jadi ingat ibu dan pengajaran yang ibu berikan. Untunglah saya mengalami semua itu, karena terbukti sangat berguna buat saya…”

“Ibu, terima kasih buat pengajaran Bahasa Indonesia yang ibu berikan. Saya dulunya benci Bahasa Indonesia, tapi semenjak belajar dengan ibu, saya jadi suka. Bahkan sekarang, saya menjadi dosen Bahasa Indonesia di University of Brisbane….”

“Hai, Ibu, novel saya yang terbaru sudah terbit! Ibu pasti akan saya kirimi! Jangan kawatir bu, pasti free, hitung-hitung untuk membayar kenakalan saya pada waktu belajar Bahasa Indonesia dulu….”

Dan, ibu guru tua itu masih melanjutkan dengan beberapa catatan lagi, yang rupanya ia terima dari mantan muridnya. Catatan-catatan itu diketiknya rapi-rapi di laptopnya. Dan rupanya, catatan itu berupa daftar yang lumayan panjang. Tidak hanya itu saja, semakin catatan-catatan itu dibacakan, terlihat kepala si murid sombong itu semakin tertunduk.

“Nah, anakku, bila ukurannya adalah jumlah tulisan yang sudah ibu buat, maka ibu bukanlah guru yang baik buatmu. Namun, buat ibu sendiri, ibu sangat senang dan bangga bila berhasil membuat orang lain menulis dengan benar dan tepat. Di situlah ibu menjalankan fungsi sebagai guru…”

Pekanbaru, 17 Maret 2011
Agnes Bemoe


Sumber Gambar: http://3.bp.blogspot.com/_5Xo8e2eDWxU/TSl-R2FLEdI/AAAAAAAAAA0/3l6mSHT58ik/s1600/05_teaching_1024.jpg

No comments:

Post a comment