Follow Us @agnes_bemoe

Wednesday, 16 June 2010

Penilai yang Kejam_Sebuah Catatan Pribadi


Dua hari yang lalu bapak Pengawas Sekolah kami datang ke sekolah untuk urusan persiapan akreditasi sekolah. Saat itu, masing-masing seksi dari Tim Akreditasi harus mempresentasikan hasil kerja dan bapak tersebut akan memberikan penilaiannya.

Teman-teman merasa sangat cemas dengan proses penilaian ini. Apalagi, bapak pengawas menekankan betul bahwa beliau akan memeberikan “penilaian yang kejam” atas hasil kerja kami. Aku sendiri, biarpun aku mencoba ketawa-ketiwi, tapi dalam hati aku juga ketar-ketir… bagaimana kalau hasil kerja kami mengecewakan… wah, pokoknya perasaan-perasaan seperti itu rame mondar-mandir di kepalaku…

Hampir tiga setengah jam kami diperiksa. Dan, hasilnya beragam; ada yang sudah bagus, ada yang masih rata-rata, dan ada juga yang … hm… mengecewakan…

Memang, rasanya tidak enak kalau sedang dalam posisi “dinilai” (apalagi dengan kejam!). Apalagi, kalau kita merasa sudah bekerja mati-matian untuk itu.
Namun, saat itu, aku malah bersyukur, kami mendapat seorang penilai yang “kejam”. Bapak pengawas semata-mata hanya melihat hasil kerja yang kami tunjukkan, dan tidak mau tahu dengan segala macam excuse. Bapak itu tidak peduli dengan alasan:
“Ada di laptop, Pak”
“Di loker saya, Pak”
“Sedang dipinjam, Pak”
Dan segudang alasan lain… Pokoknya, apa yang bisa kita tunjukkan saat itu, itu yang beliau nilai.
Dan hasilnya memang benar-benar obyektif. Teman-teman yang bekerja keras memang memperoleh nilai yang baik, sementara yang acuh tak acuh memang mendapat nilai yang mengecewakan…

Entah mengapa, sejenak aku terdiam. Seandainya, bapak pengawas kami ini tidak pernah terjun langsung untuk memeriksa kerja kami, seandainya bapak pengawas ini hanya menerima laporan dari salah seorang ketua seksi. Laporannya pun bukannya laporan yang jujur dan obyektif, tapi sebaliknya, laporan yang penuh fitnah; menutupi kemalasannya sendiri dalam bekerja dengan menjelek-jelekkan seksi yang lain. Dan seandainya, bapak pengawas percaya begitu saja pada laporan itu, dan sama sekali tidak pernah melakukan konfirmasi kepada seksi yang lain...
Seandainya itu semua yang terjadi, pasti hasil akhir penilaian kami akan jadi seratus delapan puluh derajat berbeda! Bapak A yang sudah kerja mati-matian dan seharusnya mendapat apresiasi malah ditendang, sedangkan Bapak B yang kenyataanya tidak pernah bekerja dengan baik dan hanya pandai membuat laporan ke atas malah mendapat promosi!

Bukan juga promosi atau sanksi yang krusial di sini. Seandainya itu benar terjadi, bagaimana nasib akreditasi sekolah kami. Kami akan maju dengan persepsi keliru tentang diri kami sendiri; kami merasa sudah baik, padahal kenyataannya keropos. Dan sebaliknya, potensi-potensi baik malah dimatikan… Artinya, ada kepentingan yang lebih besar yang terkorbankan di sini, akibat penilaian yang keliru… bukan kepentingan satu dua orang yang mendapat promosi atau terkena sanksi, tapi kepentingan institusi…

Sejenak aku menghela nafas. Untung saja, penilai kami adalah penilai yang “kejam”. Aku merasa aku perlu berterima kasih pada Bapak Penilai itu, karena bukan “kekejamannya” yang kurasakan, tapi OBYEKTIVITASnya. Obyektivitas ini memberikan peta yang sangat jujur tentang hasil kerja kami. Dan rasanya, peta yang jujur itulah yang kami butuhkan untuk KEBERHASILAN kami...

Pekanbaru, 17 Juni 2010
Agnes Bemoe



Sumber gambar: http://www.google.co.id/imglanding?q=kaca pembesar lup&imgurl

No comments:

Post a comment