Follow Us @agnes_bemoe

Wednesday, 19 April 2017

KEMANA KE KUANSING? #1

Sekaligus mengambil data untuk kepentingan penulisan, saya menyempatkan diri melihat-lihat kemolekan Kuansing (singkatan dari Kuantan dan Singingi, dua sungai besar di kabupaten ini). Berbatasan di Utara dengan Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan, di Timur dengan Kabupaten Indragiri Hulu, di Selatan dengan Provinsi Jambi, dan di Barat dengan Provinsi Sumatera Barat, Kuansing adalah sebuah kabupaten hasil pemekaran dari Kab. Indragiri Hulu di tahun 2000.

PACU JALUR
Sebuah kelompok pacu jalur sedang latihan (17/4). Foto milik Wigati Isye

Primadona pariwisata kabupaten ini tentu saja Pacu Jalur. Itu semacam lomba dayung perahu tradisional (masyarakat menamainya "jalur") yang hanya ada pada masyarakat Kuantan (sering disebut "Rantau Kuantan"). Sayang sekali, kedatangan saya tidak bersamaan dengan event Pacu Jalur. Pacu Jalur biasanya diadakan setahun sekali di bulan Agustus sempena Hari Kemerdekaan. Penyelenggaraannya biasanya dilakukan di bagian sungai Kuantan yang dinamakan Tepian Narosa. Daerah ini berada tepat di pusat kota. Di dekatnya didirikan taman yang disebut Taman Jalur. Di tengah Taman Jalur ada sebuah tugu, disebut Tugu Jalur. Pada bagian bawah atau dasar tugu tersebut terdapat relief yang menggambarkan proses pembuatan jalur.

Tidak bisa menyaksikan Pacu Jalur, bukan berarti saya tidak bisa menikmati Kota Jalur ini.

CAGAR BUDAYA KANAGORIAN TALUK KUANTAN
Dengan ditemani oleh Ibu Wigati Isye dan Bpk. Dedi Erianto, S. Sos. kami menuju ke Cagar Budaya Kanagorian Taluk Kuantan. Letaknya tidak jauh dari pusat kota. Di sana ada kompleks bangunan yang merupakan tiruan rumah adat masyarakat Kuantan.
Cagar Budaya Kanagorian Taluk Kuantan

Sepintas, bangunannya mirip rumah asli masyarakat Melayu pada umumnya; berbentuk rumah panggung yang panjang (melintang) dengan ukiran-ukiran khas Melayu pada atap dan dinding terasnya. Bedanya, tiruan rumah adat ini dibuat dari beton dan bukan kayu seperti rumah aslinya.

Di dalam komplek cagar budaya itu terdapat beberapa rumah. Lalu, di ujungnya terdapat semacam aula (tapi tanpa dinding). Menurut Bpk. Dedi, biasanya dalam suatu kampung, satu rumah diisi oleh satu suku/marga. Ada 4 suku dalam Kanagorian Taluk Kuantan yang diistilahkan dengan Suku Babilang. Mereka adalah Suku Tigo, Suku Ompek, Suku Limo, dan Suku Onam.

Secara berkala suku-suku tersebut berkumpul di "aula" di ujung kampung untuk membicarakan kemaslahatan kampung.

Dari lokasi cagar budaya, kami menuju ke Hutan Kota Pulau Bungin. Tempatnya juga tidak jauh dari pusat kota. Kekayaan sejati hutan kota ini adalah pepohonan (dan hewan) di dalamnya. Semuanya adalah pohon asli sisa hutan hujan tropis Sumatera!
Hutan Kota Pulau Bungin

Sangat bersyukur masih bisa melihat dengan mata kepala sendiri hutan asli Sumatera ini. Sambil berjalan menikmati pohon-pohon raksasa kita bisa mendengar suara burung (atau kelelawar?) bersahut-sahutan. Hutan kota ini punya jalur berpaving-block yang mengelilinginya, yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk lari pagi atau sore.

Selain Hutan Kota, Kuansing memiliki tempat lain yang dijadikan  kawasan hutan wisata, yaitu Bukit Rimbang dan Bukit Baling di Kec. Singingi. Di kawasan ini hutannya konon benar-benar hutan perawan.

Kami mengakhiri acara keliling Kuantan untuk hari itu karena hari sudah gelap (kami mulai berkeliling sudah sore). Besok, kami akan jalan lagi.

--- Bersambung ke sini ---

Rantau Kuantan, 17 April 2017
@agnes_bemoe

No comments:

Post a comment