Follow Us @agnes_bemoe

Monday, 10 February 2014

SHORT STORY [SS]: CUPU MANIK AJAIB

Hari ini Putri Candrika berulang tahun ke-sepuluh. Rakyat kerajaan Medang Kemulan berlomba-lomba menyenangkan hati sang putri. Mereka memberikan bermacam-macam hadiah. Putri Candrika tentu saja senang menerimanya. Namun, ada satu hadiah yang langsung menarik perhatiannya. Itu adalah cupu manik Ratri Ayu. 

Cupu manik ini berbentuk sebuah kotak kecil berhiaskan permata. Namun, bukan permata itu yang menarik hati Putri Candrika. 

Cupu manik ini adalah sebuah kotak sakti. Kalau dibuka, kotak itu bisa menampilkan tempat mana saja di dunia ini! Hebat kan? 

Contohnya begini: kalau Putri Candrika menyebutkan "Sriwijaya" maka akan muncul negeri Sriwijaya yang hijau dengan sungai-sungainya yang bersih mengular. Tidak hanya itu saja, melalui cupu ini, Putri Candrika bisa bertemu dengan siapa saja di belahan dunia mana saja! Wow! 

Tidak heran kalau Putri Candrika langsung asyik bermain dengan cupu manik Ratri Ayu. 

Sehari dua hari, seminggu dua minggu, tidak terasa sudah sampai hitungan dua bulan Putri Candrika tenggelam dalam permainan barunya. Hal ini meresahkan Ratu Kanjeng Puspita, ibunda Putri Candrika. Bagaimana tidak, sepanjang hari sang putri hanya duduk di kamarnya untuk bermain cupu manik. Putri tidak lagi bermain lompat tali ataupun masak-masakan dengan teman-temannya. Putri bahkan memutuskan untuk menghentikan latihan menarinya. 

Berulang kali Ratu Kanjeng Puspita menegur Putri Candrika. Namun, Putri Candrika tidak sepenuhnya patuh pada teguran ibunya. Sebentar saja ia bermain dengan teman-temannya, lalu ia buru-buru pulang untuk kembali duduk dan memainkan cupu maniknya. 

Suatu hari, Putri Candrika bermaksud memainkan cupu manik ajaibnya. Seperti biasa ia menuju ke meja kecil di kamarnya lalu menarik kursi untuk duduk. Tiba-tiba... 
"AWW!" Putri Candrika menjerit kesakitan. Ada yang menusuk-nusuk pinggang dan pantatnya. Putri Candrika langsung terlompat. Namun... 
"AWW! AWW!" Putri Candrika menjerit lebih keras lagi. Ada yang menusuk-nusuk kakinya. Para dayang-dayang segera membaringkan sang putri. Putri Candrika tidak bisa berdiri. Ia juga tidak bisa duduk. Putri Candrika sedih sekali. Ia tidak bisa lagi memainkan cupu manik Ratri Ayu yang ajaib.... 

Raja Ramatungga segera memanggil tabib terkenal di seluruh negeri. Sayang sekali semuanya angkat tangan. Raja sudah hampir berputus asa ketika tiba-tiba datang seorang tabib dari negeri Tiongkok. Sang tabib, Lu Pan, namanya, bersedia menyembuhkan sang putri. Syaratnya sang putri harus menyerahkan cupu manik ajaibnya. 

"Tidak, ayah! Cupu manik itu sangat menyenangkan. Aku tidak bisa melepaskannya! Aku... AWW! AWW!" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Putri Candrika merasakan kembali tusukan di kakinya. Putri Candrika sampai menangis dibuatnya. Ya, tusukan itu begitu menyakitkan! 
"Ba... Baiklah ayah, berikan cup... cupu itu pada tabib Lu Pan. Aku mau sembuh." 

Tabib Lu Pan akhirnya berhasil menyembuhkan sang putri. Putri Candrika bisa berdiri, duduk, dan berjalan seperti biasa. 
"Penyakit tuan Putri ini karena terlalu banyak duduk, Paduka." Tabib Lu Pan menjelaskan bahwa duduk terlalu lama membuat syaraf terjepit dan meradang. Itulah yang menumbulkan rasa sakit yang luar biasa. "Kalau tuan putri tidak ingin penyakitnya kambuh, ia harus meneruskan lagi latihan menari dan permainan lompat tali atau permainan lainnya." 
Raja dan Ratu berterima kasih atas bantuan Tabib Lu Pan. 
"Kerajaan ini adalah rumahmu juga. Datanglah kembali suatu saat kelak." kata Raja. 
"Dengan senang hati, Paduka Raja." Lu Pan membungkuk. "Oh ya, ini cupu manik milik Tuan Puteri. Saya kembalikan karena Tuan Puteri sudah sembuh." 
Puteri Candrika berdiri dan menerima cupu manik itu. Lalu, ia menyodorkan kembali pada Tabib Lu Pan. 
"Terimalah sebagai kenang-kenangan dariku." 

Sejak saat itu Putri Candrika kembali pada aktivitas lamanya yaitu latihan menari, bermain lompat tali atau permainan yang lain. Ia menjadi lebih sehat daripada sebelumnya. (db) 

*** 

Pekanbaru, 5 Februari 2014 
17:02 

No comments:

Post a Comment