Follow Us @agnes_bemoe

Monday, 22 July 2013

[CERITA ANAK] Boneka Rasa Jus Jeruk

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL 2013. Ini hari terakhir, aku unggah cerita yang pernah dimuat di Harian Kompas, Minggu, 17 Maret 2013. Dengan banyak doa untuk anak-anak Indonesia, terutama yang ada di daerah konflik (Sampang, Ketapang Lombok, Poso, dll), di daerah bencana (Lapindo, Aceh), anak-anak yang dipekerjakan, anak-anak yang diajari untuk membenci kelompok yang berbeda, anak-anak korban kekerasan, juga, anak-anak korban kemanjaan orang tua. Tuhan memberkati anak Indonesia!

=================================== 


Noni melap keringatnya. Matahari bertambah panas. Suaranya juga habis karena berteriak-teriak dari tadi. Diliriknya tempat jus jeruknya. Masih terisi penuh. Huh, Noni mengeluh dalam hati. Dari tadi baru dua gelas yang terjual. Ternyata sulit sekali berjualan jus jeruk. Apakah ini berarti boneka beruang impianku tidak bisa kudapatkan ya…

Noni bukan penjual jus jeruk. Ia berjualan jus jeruk karena ia ingin punya uang. Dengan uang itu ia ingin membeli sebuah boneka beruang yang dilihatnya di mall. Bila minta dibelikan, pasti mama tidak akan setuju. Papa dan mama hanya akan membelikan buku atau peralatan sekolah. Ketika itulah muncul ide di kepala Noni untuk berjualan jus jeruk.

Mama dan papa memang tidak melarang tapi mereka sempat mengingatkan bahwa berjualan itu tidak mudah.
“Papa dan mama tidak keberatan, Noni. Tetapi, berjualan itu tidak mudah lho. Kamu harus menyiapkan jus jeruknya. Kamu juga harus memperhitungkan baik-baik harganya berapa, supaya kamu tidak merugi.”
“Harus siap mental juga, karena tidak selalu jualan kita langsung laris…” sambung mama.
Noni teringat perkataan papa dan mamanya itu. Ternyata, perkataan papa dan mama benar. Sudah sesiangan Noni menyiapkan jualannya. Sesiangan pula ia sibuk menjajakan jus jeruknya. Ternyata, hanya laku dua gelas.

Noni terduduk dengan lemas. Huh! Ternyata berjualan itu memang tidak mudah, keluhnya. Terbayang kembali boneka beruang yang besar dan lucu. Boneka itu nampak semakin jauh dari angan-angannya….

“Hai, Noni! Kamu berjualan apa?” tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Noni. Ternyata itu adalah suara Tante Ningsih, yang rumahnya tidak jauh dari rumah Noni.
“Jus jeruk, Tante. Enak, segar, dan murah!” Noni jadi bersemangat. “Gulanya gula asli, Tante. Pasti manis dan sehat!”
“Wah, wah, wah, pintar benar kamu berpromosi!” Tante Ningsih tertawa. “Tante coba satu gelas deh…”

Dengan sigap Noni melayani menuangkan satu gelas jus jeruk.
“Hm… segar!” Tante Ningsih meneguk jus jeruknya sampai habis. “Apakah bisa dibungkus? Tante mau membelikan untuk Tommy dan Heidi.”
“Bisa, Tante!” Kembali, dengan sigap Noni membungkuskan jus jeruk pesanan Tante Ningsih.
Tante Ningsih membayar pesananannya kemudian berlalu. Sementara itu, Noni menyimpan baik-baik uang dari Tante Ningsih di sebuah kotak plastik. Sejenak, timbul kembali semangatnya. Ia berteriak-teriak, menjajakan dagangannya.

Sampai sore, jus jeruk Noni ternyata belum habis. Dengan kecewa, Noni mengemasi jualannya. Benar kata papa, berjualan itu tidak mudah, pikir Noni masygul.
“Bagaimana hasilnya, Noni?” Tanya mama.
Noni menghela napas.
“Tidak habis terjual Ma, walaupun ada beberapa pembeli hari ini…”
“Wah, hebat itu! Kamu kan baru pertama berjualan. Orang-orang kan belum banyak yang tahu bahwa ada yang berjualan jus jeruk di sini…” Mama menghibur Noni.
Noni mengangkat bahu.

“Atau, kelihatannya kamu mau berhenti saja, tidak jadi berjualan jus jeruk lagi?” tantang mama.
Noni terperanjat. Ia memang kecewa, tetapi berhenti? Tentu tidak!
“Tidaklah Ma! Aku kan belum mulai, kok mau berhenti!”
Mama tertawa mendengarnya.

Tiba-tiba terdengar suara telepon bordering. Mama bergegas menuju meja telepon untuk menjawabnya.
Noni pun segera beranjak untuk mencuci gelas-gelas yang tadi terpakai. Tiba-tiba terdengar suara mama di belakangnya.
“Kejutan, Noni!”
Noni mengangkat kepalanya.
“Tadi Tante Ningsih ikut membeli jus jerukmu ya?”
“Iya, Ma. Kenapa?”
“Tante Ningsih mau pesan 30 gelas untuk besok sore. Kamu siap mengerjakannya?”
Noni terbelalak senang.
“Siaaaapp boosss!!!” serunya.

Sampai beberapa hari Noni masih melanjutkan jualannya. Terkadang banyak pesanan, terkadang tidak ada. Tetapi Noni tetap semangat. Lama kelamaan uangnya sudah cukup untuk membeli boneka beruang yang besar dan lucu itu.

“Ayo, papa antarkan membeli boneka,” ajak papa.
Noni menggeleng.
“Tidak papa. Terasa sulitnya mencari uang, bahkan untuk lima ratus rupiah sekalipun. Aku tak mau membeli boneka. Uangnya mau kusimpan saja…”
Mendengar ini, papa tertawa. Mama memeluk Noni sambil mengusap kepalanya.

***

Pekanbaru, 23 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

2 comments:

  1. Hmmm... benar mbak. Banyak anak yang menjadi korban kemanjaan ortu, mungkin termasuk anakku. Nice story mbak. Thank you :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya, sudah berkunjung :)

      Delete