Follow Us @agnes_bemoe

Wednesday, 31 July 2013

SKEMA KERJA SAMA DENGAN ILUSTRATOR dalam kaitannya dengan ROYALTI

July 31, 2013 0 Comments
Soul mate penulis buku anak adalah ilustrator. Tanpa ilustrator, cerita anak sebagus apa pun terasa timpang. Setuju kan?
Gambar Favorit Saya dari buku "Kumpulan Kisah Santo Santa". Ilustrator: Fanny Liem


Saya sedang mempelajari bagaimana bekerja sama dengan ilustrator, khususnya dalam hal skema honorarium. Saya bermaksud membagikannya dengan harapan tulisan ini membantu penulis cerita anak (yang serius).

HONORARIUM ILUSTRATOR
Honorarium untuk ilustrator bervariasi. Setahu saya mulai dari Rp. 50.000,- per lembar single sampai dengan Rp. 500.000,- per lembar single. Harga lembar spread-nya biasanya dikalikan dua dari single.

Oh iya, sebelumnya, "single" adalah bentuk halaman sejumlah satu halaman, sedangkan lembaran "spread" adalah lembaran yang berjumlah dua halaman yang digabungkan.
Contoh Halaman Spread. Ilustrasi oleh InnerChild Studio

Untuk tahu lebih jelas tentang honorarium masing-masing ilustrator, silakan berhubungan langsung dengan ilustrator ya. Selain tidak etis, saya juga takut keliru :)

SKEMA KERJA SAMA
Kerja sama dengan ilustrator ini sangat terkait dengan kebijakan penerbit. Ketika penerbit setuju menerbitkan naskah kita, penerbit menjelaskan tentang royaltinya. 
Skemanya bisa dibuat dalam bentuk:
  1. Penulis mendapat 50% dari royalti, sedangkan ilustrator dibayar putus oleh penerbit. Skema ini, sejauh pengalaman saya, adalah skema yang paling menguntungkan untuk semua pihak; penulis maupun ilustrator. 
  2. Penulis mendapat 100% royalti. Honorarium dibayar putus oleh penulis. Saya pribadi tidak akan sanggup menjalankan skema ini. Honorarium ilustrator adalah biaya yang besar untuk saya tanggung secara pribadi.
  3. Share royalti:  penulis mendapat 50% dari royalti yang diterima, ilustrator juga mendapat 50% dari royalti. Catatan: biasanya sedikit sekali ilustrator yang bersedia menjalin kerja sama dengan skema seperti ini. Hal ini dapat dimengerti, apalagi bila penjualan buku terhitung lambat. 
  4. Penulis menerima 60% - 75% dari royalti. Honorarium ditanggung oleh penerbit. Biasanya, skema ini digunakan oleh penerbit yang mempunyai ilustrator sendiri. 
Seandainya ada skema lainnya, saya akan senang sekali kalau pembaca bersedia menambahkan.

Jadi ternyata, tugas penulis tidak cukup hanya menulis. Penulis juga harus:
  1. Mengenal banyak penerbit, dalam artian tahu kebijakannya terkait dengan honorarium ilustrator. 
  2. Mengenal banyak ilustrator. Sebelum meminta sampel naskah, pastikan dulu bahwa ilustrator yang bersangkutan setuju dengan skema yang disanggupi oleh penerbit.
Akhirnya, semoga mendapatkan soul mate yang terbaik! :)

***

Pekanbaru, 31 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Tuesday, 30 July 2013

RUPA-RUPA [RR]: Hadiah Istimewa di Bulan Juli 2013

July 30, 2013 1 Comments
Ini hari terakhir bulan Juli 2013. 
Banyak hal istimewa di bulan ini, salah satunya: saya menangin banyak quiz berhadiah buku. Saya bilang "banyak" karena sebelum-sebelumnya saya jarang, nyaris tidak pernah, menang quiz... hehehe...

Not Quite a Mermaid - Linda Chapman

  1. Dua Novel Anak Serial "Not Quite a Mermaid", hadiah dari quiz di Forum Peduli Bacaan Anak (FPBA) oleh ibu Ary Nilandari. Resensinya ada di sini. 
  2. Novel "Finding You" karangan Yudith Fabiola. Saya menang quiz di grup "Curhat Calon Penulis Beken". Resensi novel ini sila berkunjung ke siniya...
  3. Satu buah novel anak "Bunga Kain untuk Khayla" karangan Aniek Wijaya. Saya menang quiz di FPBA. Bukunya belum sampai. Tapi, pasti keren deh!
  4. Terakhir, kemarin resensi saya atas novel "Mantra Dies Irae" - Clara Ng, menjadi resensi pilihan di akun twitter @gramdia. Hadiahnya adalah buku terbitan GPU dengan judul bebas. Horee!! Sila baca resensinya di sini ya...
Finding You, Yudith Fabiola
 Buku-buku di atas berharga buanget buat saya yang masih belajar menulis ini. Saya "mengintip" ide dan gaya menulis pengarangnya. Mudah-mudahan suatu saat saya juga bisa membuat buku yang keren seperti itu. Amiiiin!
Terima kasih, bulan Juli. Terima kasih, Tuhan. 

***

Pekanbaru, 31 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Sunday, 28 July 2013

BOOKS THROUGH MY EYES [BTME] Cinta Tanpa Batas untuk Si Usil

July 28, 2013 2 Comments
Judul Buku    : Not Quite a Mermaid - Mermaid Party
                       Not Quite a Mermaid - Mermaid Tricks
Penulis          : Linda Champman
Ilustrator       : Dawn Apperley
Penerbit        : Penguin Group
Genre            : Fiksi Anak
Jumlah Halaman    : 89 dan 87 halaman


Not Quite a Mermaid - Mermaid Party - Linda Chapman

Electra jelas bukan tipe anak manis kesayangan bunda. Dia usil, sok tahu, keras kepala, dan tidak mudah diatur. Gambaran sempurna untuk "anak nakal".

Dalam cerita Mermaid Party, kesoktahuan Electra menyebabkan rusaknya pesta Tahun Baru keluarga Merpeople. Di cerita Mermaid Tricks, Electra yang usil menyebabkan teman-temannya hampir celaka. Ia juga menyebabkan Splash, lumba-lumba kesayangannya, cemburu.

Biarpun tokohnya bukan tokoh teladan, saya tak berhenti membaca kedua buku ini. Cerita-ceritanya mungkin dibangun atas dasar kenakalan Electra. Tetapi, atmosfer yang saya rasakan sebagai pembaca malah sebaliknya. Saya merasakan hasrat seorang anak untuk mengeksplorasi lingkungannya. Saya merasakan keinginannya untuk berbuat baik dan menjadi baik tanpa menjadi orang lain atau tanpa memanipulasi diri sedemikian rupa sehingga hanya terlihat baik.

Dan yang membuat saya tersentuh adalah tokoh Maris, ibu Electra. Dia pun jauh dari gambaran tokoh ibu-ibu penuh "kelembutan dan kebijaksanaan". Dia pengomel. Dia marah besar pada Electra yang nakal. Namun, at the end of the day, dia menyayangi Electra. Dia menerima Electra sebagai Electra. Dia mengakui bahwa Electra adalah hadiah terbesar yang diterimanya selama delapan tahun ini.

Not Quite a Mermaid - Mermaid Party - Linda Chapman


Akhirnya, novel-novel ini memang bukan tentang putri duyung dan dunia wonderland-nya saja. Ini cerita yang indah tentang anak. Anak sebagai anak. Serta ibu. Ibu sebagai ibu. Tidak sempurna. Namun, dalam ketidaksempurnaan itu kita diajari untuk mengolah hidup.

***

Pekanbaru, 28 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Saturday, 27 July 2013

[BOOKS THROUGH MY EYES - BTME] KLISE YANG MENYENANGKAN

July 27, 2013 6 Comments
Judul Buku    : Mantra Dies Irae
Penulis          : Clara Ng

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama
Genre            : Novel Semi Fantasi
Jumlah Halaman    : 348 halaman

Mantra Dies Irae - Clara Ng


Membaca buku ini saya teringat tentang salah satu twit penulisnya yang menyebutkan bahwa menulis hal klise tidaklah haram. Kreativitas tidak hanya keliahatan pada kemampuan membuat sesuatu yang baru. Kreativitas ditantang dengan membuat hal yang klise menjadi menarik.

Sepertinya Clara Ng membuktikan ucapannya dalam novel bersampul kuning muda ini.

Cerita besarnya sebenarnya sangat sangat sangat klise. Cinta. Cinta bersegi-segi yang ditawarkan di novel ini pun sebenarnya bukan hal aneh. Nuna mencintai Xander, Xander mencintai Oryza. Oryza disukai Pax. Pax disukai Strawberry. Pax juga disukai Lavender. Padahal Chao tergila-gila pada Lavender. Melengkapi segi ini adalah Tsungta, raja pulau Varaiya, tergila-gila pada Nuna. Nah!

Tidak hanya itu saja. Akhir dari cinta segi-rumit ini pun sebenarnya sudah bisa ditebak. Tapi, sejujurnya, saya sebagai pembaca, tidak sempat berpikir untuk menebak. Pikiran saya langsung diserbu oleh keasyikan-keasyikan yang dimunculkan oleh penulis, sampai tahu-tahu... tamat!

Clara Ng benar-benar menunjukkan kalibernya sebagai seorang penulis. Taktiknya untuk membagi cerita menjadi kisah-kisah pendek yang (seolah-olah) tak berujung pangkal membuat pembaca terus menerus penasaran.

Dengan gaya menulis seperti ini, awalnya, cerita memang terasa membingungkan dan sama sekali tidak menarik. Saya hampir putus asa dan merasa novel ini bukan untuk saya. Namun, syukurlah saya memaksakan untuk terus membaca.

Yang juga unik adalah penulis memakai dunia paralel yang disandingkan dengan manis dengan dunia nyata. Jadi, kesemua tokohnya itu sebenarnya adalah penyihir. Namun, mereka hidup dan tinggal di Jakarta. Ya, Jakarta sebagai kota Jakarta yang kita kenal. Jadi, dapat dibayangkan akan ada logika-logika yang bertabrakan antara dunia para tokoh sebagai penyihir dan logika manusia biasa. Yang luar biasa, yang bertabrakan ini tidak lalu jatuh dalam jebakan "penyelesaian mudah" namun menjadi kelucuan tersendiri. Kelucuannya ini malah kemudian jadi point yang menarik.

Menyinggung tentang lucu, saya tak menduga Clara Ng sangat humoris. Terus terang, Mantra Dies Irae yang saya kira seram dan kelam, malah membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Apakah ini novel gokil? Tidak. Kelucuannya dibangun dari konteks ceritanya bukan dari perilaku gokil karakter-karakernya.

Satu hal lagi yang membuat saya tidak menyadari ke-klise-an novel ini adalah cara Clara Ng membangun karakter tokoh-tokonya. Kita mengenali tokoh Pax dari cara Pax berdialog, dari komentar Nuna, dari ejekan Xander, dan seterusnya. Sehingga akhirnya, dalam kepala kita terbangun bagaimana si Pax ini. Dan yang lebih akhirnya lagi, kita tidak peduli bagaiman si Pax. Kita ikut-ikutan menerima dia. Sama seperti Nuna.

Masih mengenai karakter, Clara Ng juga teliti sekali dalam menciptakan tokoh-tokohnya. Satu gesture kecil pasti diselipkan pada masing-masing tokoh. Ini membuat setiap tokoh menjadi unik. Perhatikan tokoh Chao dengan "man"-nya, Strawberry yang selalu menyebut dirinya sebagai orang pertama sebagai "Strawberry" dan bukan "aku" atau "gue".

Trik-trik Clara Ng inilah yang menyebabkan tema klise yang diangkatnya berubah menjadi luar biasa menarik!

Saya sulit menemukan kekurangannya, bukan karena merasa segan (karena penulisnya hebat dan seterusnya), tetapi memang, setelah susah payah saya mencari celahnya tidak juga saya ketemukan.

Sebagai pembaca pada umumnya, saya merasa terhibur sekali dengan novel ini. Sebagai penulis, saya melihat banyak contoh bagus dari novel yang merupakan salah satu dari Trilogi "Jampi-Jampi Varaiya" ini.

Mudah-mudahan pembaca lain juga merasakan hal yang sama.

***

Pekanbaru, 28 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

=========

Kemarin, 30 Juli 2013, saya dapat tweet dari @Gramedia. Resensi "Klise yang Menyenangkan" ini ternyata terpilih jadi Resensi Pilihan Minggu Ini. Howaa! Senangnya! :)

[MY THOUGHTS] Penulis Bisa Suka-Suka?

July 27, 2013 0 Comments
Saya setuju kalau dibilang penulis boleh bereksperimen se"gila-gila"-nya. Penulis memang harus kreatif. Tapi, kalau penulis bisa suka-suka? Saya menghargai kalau ada yang berpikiran seperti itu. Tapi, saya tidak setuju.
Sumber Gambar: http://toonclips.com/600/8776.jpg


Saya berkreasi dengan bebas, tetapi tetap ada batasan yang saya pegang.
  1. Logika: Kalau saya bercerita tentang seorang anak di dunia nyata yang naik sepeda lalu jatuh. Maka yang saya maksud "jatuh" tetap harus ke bawah. Kalaupun saya membuat cerita fantasi dan membuat makna baru dari kata "jatuh" maka di dalam cerita itu saya harus menjelaskan logika baru saya. Bukan karena saya penulis makanya saya bisa suka-suka membuat cerita yang memaksakan logika. Cerita klasik "Alice in the Wonderland" itu hampir semuanya tidak masuk akal. Tetapi logika cerita itu dibangun, dirangkai, disusun sedemikian rupa sehingga kita akhirnya memahami logika dalam konteks cerita itu.
  2. Ilmu Pengetahuan: Sebagai penulis pemula yang memilih menulis cerita anak, saya mendasari tulisan saya dengan ilmu pengetahuan, dalam hal ini Ilmu Pendidikan, sedikit tentang Parenting dan sedikit juga Ilmu Psikologi Anak. Saya akui, saya tidak menguasai. Tetapi, bisa saya katakan, saya tidak mau gegabah membuat sebuah cerita tanpa tahu latar belakang ilmunya. Ini karena pembaca saya adalah (akhirnya) anak-anak, biarpun yang memilihkan bacaan adalah orang tuanya. Sedapat bisa, saya menulis hal-hal yang jangan sampai bertabrakan dengan Ilmu Pendidikan, Psikologi, ataupun Parenting. Tidak terbayang oleh saya bagaimana kalau cerita dibuat tanpa memperhatikan pendidikan dan psikologi anak. Bacaan tidak lagi menjadi sumber pencerahan buat anak.
  3. Nilai-nilai Universal: Sedapat bisa, ketika menulis, saya tidak menabrak nilai-nilai universal; kejujuran, kerja keras, rendah hati, dll. Semaksimal mungkin saya mengusahakan cerita-cerita saya mendukung hal-hal itu. Kalau pun tidak, tidak mensupport hal-hal yang sebaliknya.
  4. Etika dan Moral: Sebagai penulis saya juga harus memikirkan apakah buku saya tidak menggiring anak pada etika dan moral yang keliru. Untuk bagian ini, tolong jangan dikacaukan dengan pesan moral dalam setiap cerita. Saya pendukung berat buku-buku yang mengolah pesan moral sedemikian rupa secara implisit. Untuk membangun konflik tentu saja saya memunculkan karakter yang bermasalah (secara etika), tetapi bukan itu point-nya. Yang penting adalah gambaran besarnya (the whole picture) tidak mendukung hal-hal yang bertentangan dengan etika dan moral.
Kira-kira, itulah yang menjadi batasan saya dalam menulis. Apakah cerita-cerita saya lantas membosankan? Ininya yang "baik-baik" melulu? Tergantung yang membaca sih. Kebetulan saya belum membuat survei untuk itu. Yang jelas saya memang perlu banyak melatih diri untuk menulis. Saya  membaca buku-buku lain yang kelihatan sekali ditulis dengan kesadaran penuh akan pentingnya logika, ilmu pendidikan, ilmu parenting, dll. Dan buku-buku itu tetap menarik!
Oleh karenanya saya tidak mendesain diri saya menjadi "penulis suka-suka" :)

Pekanbaru, 28 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Friday, 26 July 2013

[MY THOUGHTS] Learning How to Learn - untuk Penulis

July 26, 2013 0 Comments
Sumber Gambar: http://www.altham.com/assets/images/Girl_sitting_writing_.jpg


Tulisan ini berangkat dari beberapa pertanyaan yang terlontar di forum-forum kepenulisan dunia maya, seperti:
  1. Saya mau jadi penulis, bagaimana caranya?
  2. Saya mau menerbitkan buku, bagaimana caranya?
  3. Apa yang harus dipikirkan sebelum menulis?
  4. Tolong beritahukan alamat penerbit/majalah/surat kabar.

Berkali-kali ada teman penulis yang baik hati menjawab, namun, berkali-kali pula pertanyaan seperti itu muncul.

Apa yang salah dengan pertanyaan itu?

Menurut saya, pertanyaan itu tidak perlu muncul kalau saja kita mau sedikit berusaha dan menolong diri kita sendiri. Pertanyaan tersebut cocok bagi bayi yang tidak tahu apa-apa. Buat yang sudah berusia duapuluhan bahkan lebih, rasanya sudah saatnya membangun pertanyaan yang lebih berbobot.

Yang menjadi masalah adalah bukan tidak adanya informasi. Sebaliknya, informasi terserak begitu banyak dan sangat mudah diakses. Kemampuan kita mengenali dan memahami informasilah yang masih sangat minim.

Saya adalah pembelajar (dan selalu menjadi pembelajar). Saya tidak menafikan bahwa menapak dunia kepenulisan seperti berdiri di sebuah “Land of Nowhere”. Namun demikian saya yakin, di setiap tahapannya saya pasti akan bertemu dengan “Land of Nowhere” yang lain. Maka dari itu, modal saya tidak bisa hanya dengan bertanya “pasrah” seperti di atas. Saya harus bisa belajar secara mandiri.

LEARNING HOW TO LEARN
Learning How to Learn adalah salah satu dari Empat Pilar Pendidikan yang ditetapkan oleh UNESCO. Konesp ini diartikan sebagai mengembangkan kemampuan untuk mengingat, berimajinasi, bernalar, memecahkan masalah, dan berpikir kritis dan masuk akal. Saya pernah mempelajari konsep ini ketika saya masih menjadi guru dulu.

Lalu, apa manfaat LHtL ini buat saya sebagai penulis? Konsep ini mengingatkan saya bahwa saya harus mengenali sumber-sumber belajar saya.

Berikut ini adalah beberapa hal yang saya jadikan sumber belajar:
  1. Toko Buku. Saya belajar (memperoleh informasi) tentang buku-buku apa saja yang sedang digemari. Sekaligus saya mengukur diri saya sendiri, saya berminat dan mampu dalam genre yang mana.
  2. Buku dengan genre tertentu. Ketika pelan-pelan saya menemukan genre yang saya minati dan mampu mengerjakannya, saya lalu mulai mempelajari buku-buku dari genre itu. Catatan: tidak ada guru galak yang mengawasi dan ketat memperi pe-er. Saya harus mampu mendisiplinkan diri sendiri.
  3. Majalah dan Surat Kabar. Sama seperti dengan buku, saya juga mulai mempelajari tulisan di majalah atau surat kabar tertentu.
  4. Perpustakaan
  5. Film Kartun
  6. Katalog
  7. Internet
  8. Penulis lain

Apa sih yang saya pelajari? Saya melihat tema-tema apa yang dimuat/diterbitkan. Bagaimana penulis menuliskan judulnya. Bagaimana penulis membuat pengantar cerita, konflik, penutup. Bagaimana penulis menghidupkan karakter.

Ini saja sudah sangat membantu saya. Saya mendapat banyak sekali informasi yang saya perlukan, baik teknis maupun non-teknis dalam menulis.

Contohnya, alih-alih bertanya alamat penerbit, mengapa tidak melihat langsung dari salah satu buku yang ada di toko buku? Ini masalah yang sangat sepele. Kalau sesepele ini pun tidak dapat kita atasi secara mandiri, bagaimana kita bisa melangkah untuk tantangan berikutnya?

MENGAMATI
Watch and learn” bukan perkataan kosong belaka. Belajar bukanlah tindak fisik belaka. Duduk diam dan mengamati adalah proses belajar yang efektif.

Sekarang penulis pemula dimudahkan dengan adanya grup-grup penulis di media sosial. Seringkali penulis lain memberikan masukan, ide, opini, kritik pedas, informasi, dll. Biarpun itu tidak spesifik ditujukan kepada kita, jangan sampai dilewatkan apa pun yang dilontarkan. Jadilah spons yang menyerap sebanyak mungkin informasi.

Tidak hanya ilmu kepenulisan secara khusus, motivasi menulis pun bisa didapat dengan cara mengamati penulis lain. Tidak sedikit penulis yang menceritakan pahit getir perjuangannya menembus penerbit sampai dengan sukses hingga sekarang. Itu adalah mutiara berharga untuk dipelajari. Jangan cengeng. Pandai-pandailah memotivasi diri. Semua orang pernah gagal. Kata Merry Riana, gagal itu satu paket dengan keberhasilan.

Karena ini dunia tulis menulis, saya pribadi suka sekali mengamati bagaimana seseorang menuliskan status atau komen. Saya tidak perlu malu mengakui bahwa saya “mencontek” gaya mereka yang saya anggap pas dengan apa yang ingin saya ungkapkan tapi sulit saya ungkapkan. Banyak hal saya dapatkan dari rumusan “watch and learn” ini.


TRIAL AND ERROR
Banyak yang bertanya karena takut melakukan kesalahan lalu takut menyesal kemudian. Bagi saya, melakukan kesalahan adalah bagian dari belajar. Tidak ada yang rugi, baik uang ataupun waktu, bila saya mau belajar dari hal itu.

Implikasi dari trial dan error adalah saya harus melakukan sesuatu dulu. Saya menulis, ada kemungkinan tulisan saya keliru, dalam hal ini saya bisa mengetahuinya melalui, a) pembaca, b) membandingkannya dengan tulisan lain yang serupa.

Artinya, berkaryalah dulu dan selalu berkarya. Akan sangat kering pertanyaan kita kalau kita tidak mempunyai karya, tapi banyak bertanya.

Alih-alih bertanya “Apa sih tema yang lagi ngetop”, lebih baik kita mengatakan: “Ini cerpen saya, bagaimana menurut Anda, apakah bisa diterima oleh pembaca?”

Bagian dari trial dan error adalah tahan banting. Tahan dicemooh, tahan ditolak, tahan diabaikan.

PERTANYAAN YANG LEBIH BERBOBOT
Apakah berarti kita tidak boleh bertanya? Pertanyaan ini pun adalah pertanyaan “pasrah”. Bertanyalah, namun sekaligus kritislah dengan pertanyaan itu. Apakah aku sudah cukup berusaha untuk menjawab sendiri pertanyaanku? Apa yang sudah aku upayakan untuk memecahkan masalahku ini?

Ini adalah latihan mental yang baik: berlatih mandiri dan mampu memecahkan masalah, mencari dan menghubungkan berbagai informasi. Ini bukan hanya latihan intelektual. Seperti saya katakan, ini lebih pada bina mental. Saya pribadi yakin, dengan mental yang lebih tahan banting, saya akan lebih mudah menapaki dunia tulis menulis.

***


Pekanbaru, 27 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe




[RUPA-RUPA] Contoh Proposal Naskah

July 26, 2013 2 Comments
Sejujurnya, saya enggan meladeni pertanyaan teknis seperti penerbit apa yang menerima naskah anak, alamat penerbit, persyarata, dll. Yang bertanya selalu meng-excuse diri sebagai penulis pemula. Saya pribadi menganggap itu pertanyaan penulis pemalas.
 Saya juga tidak pernah mengunggah informasi tentang teknis penulisan di blog. Untuk yang satu ini saya melakukan kompromi. Mengapa? Berbeda dengan nama penerbit, alamat, dll yang sudah sangat jelas di depan mata, proposal tidak kasat mata. Baru kita (baca: saya) ketahui setelah beberapa waktu berkomunikasi intens dengan seorang penulis. Jadi, saya membagikannya, dengan harapan yang benar-benar niat menulis bisa sedikit terbantu. 


----------------------------------------------------------------

Berikut ini adalah contoh proposal. Sila pelajari kemudian sesuaikan dengan naskah sendiri. Artinya, bentuk ini bukan harga mati.


Sumber Gambar: http://cetusanhati.com/wp-content/uploads/2011/05/cartoon-picture-of-girl-writing.jpg


PROPOSAL NASKAH [JUDUL]
Judul Utama         : XXX
Judul per Cerita    : XXX

  1. XXX
  2. XXX
  3. dst...  
Penulis    : XXX
Genre    : Fiksi (Fabel), atau
Tema    : Cinta Alam (misalnya)
Target Usia Pembaca    : Anak usia 6 – 12 tahun
Bahasa    : Indonesia dan Inggris (bilingual)
Gambar    : Illustrated Book
Jumlah Halaman per buku    : 160 halaman, termasuk kaver depan, editorial, dan kaver belakang
Ukuran buku    : 24 X 21 cm

Latar Belakang    :
(Jelaskan mengapa kumpulan cerita bertema Cinta Alam ini penting dibaca oleh anak. Jelaskan mengapa kita merasa perlu menuliskannya)


Gambaran Sekilas Tokoh dan Setting:
(Ini mungkin relevan kalau ada tokoh sentral untuk setiap cerita. Bila tidak ada, tidak usah)


Sinopsis  per cerita    :
(Dipaparkan satu per satu isi ringkas cerita. Harap dibedakan antara sinopsis dan blurb. Dalam sinopsis ending sudah diceritakan)

Blurb:
Isinya adalah daya penarik supaya pembeli mengetahui sekilas isi buku dan tertarik membelinya. 


Susunan Isi per Buku    :
1.    Kaver Depan: Judul, Nama Penulis, Nama Illustrator, serta Nama dan Logo Penerbit
2.    Redaksional, Buku Ini Milik / This Book belongs to: _____________________
3.    Halaman 3 – 18 : Judul 1
Halaman 19 : (kata bijak)
Halaman 20 : Lembar Kegiatan 1
Halaman 21 : Lembar Kegiatan 2

dan seterusnya sampai...

160.     Kaver Belakang: Sinopsis

Biodata Penulis    :


Naskah    : (terlampir) --> Ini isinya sudah naskah lengkap
Data Diri dan Foto    : (terlampir)


Nama kota, tanggal bulan tahun kirim
Nama Penulis


-------------------------------------------------------------

Perlu saya ingatkan, ini bukan format kaku. Sila sesuaikan dengan spesifikasi naskah masing-masing. 

Perlu juga mungkin saya bagikan pengalaman saya tentang proposal: naskah pertama saya yang lolos di penerbit mayor malah tanpa proposal. Maksud saya, melakukan sesuatu karena tidak tahu (yang lalu kita belajar). Namun demikian janganlah itu jadi halangan buat kita untuk mengirim naskah karena yang penting, penting, dan penting tetap isi naskah. Setuju?

***


Pekanbaru, 27 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Thursday, 25 July 2013

[MY BOOK] Santo Christophorus, Pelindung Orang yang Sedang Bepergian

July 25, 2013 0 Comments
 
Reprobus ketika menggendong Anak Kecil yang beratnya minta ampun! Ilustrasi oleh Fanny Liem


Nama asli beliau adalah Reprobus. Dinamakan "Christophorus" karena orang kudus ini menggendong Kristus dan menyeberangkanNya.

Santo Christophorus mengajarkan kita bahwa bila kita sungguh-sungguh mencari Kristus, Ia akan hadir dalam karya pelayanan kita.

Btw, kisah lengkap tentang Santo Christophorus ada di buku "Kumpulan Kisah Santo Santa". Sila jemput di Gramedia ya...


Info detail tentang buku ada di sini: http://duniabukuagnesbemoe.blogspot.com/2013/02/kumpulan-kisah-santo-santa.html

Ilustrasi: Fanny Liem

*Tuiti Nika*


***

Pekanbaru, 26 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Monday, 22 July 2013

[CERITA ANAK] Boneka Rasa Jus Jeruk

July 22, 2013 2 Comments
SELAMAT HARI ANAK NASIONAL 2013. Ini hari terakhir, aku unggah cerita yang pernah dimuat di Harian Kompas, Minggu, 17 Maret 2013. Dengan banyak doa untuk anak-anak Indonesia, terutama yang ada di daerah konflik (Sampang, Ketapang Lombok, Poso, dll), di daerah bencana (Lapindo, Aceh), anak-anak yang dipekerjakan, anak-anak yang diajari untuk membenci kelompok yang berbeda, anak-anak korban kekerasan, juga, anak-anak korban kemanjaan orang tua. Tuhan memberkati anak Indonesia!

=================================== 


Noni melap keringatnya. Matahari bertambah panas. Suaranya juga habis karena berteriak-teriak dari tadi. Diliriknya tempat jus jeruknya. Masih terisi penuh. Huh, Noni mengeluh dalam hati. Dari tadi baru dua gelas yang terjual. Ternyata sulit sekali berjualan jus jeruk. Apakah ini berarti boneka beruang impianku tidak bisa kudapatkan ya…

Noni bukan penjual jus jeruk. Ia berjualan jus jeruk karena ia ingin punya uang. Dengan uang itu ia ingin membeli sebuah boneka beruang yang dilihatnya di mall. Bila minta dibelikan, pasti mama tidak akan setuju. Papa dan mama hanya akan membelikan buku atau peralatan sekolah. Ketika itulah muncul ide di kepala Noni untuk berjualan jus jeruk.

Mama dan papa memang tidak melarang tapi mereka sempat mengingatkan bahwa berjualan itu tidak mudah.
“Papa dan mama tidak keberatan, Noni. Tetapi, berjualan itu tidak mudah lho. Kamu harus menyiapkan jus jeruknya. Kamu juga harus memperhitungkan baik-baik harganya berapa, supaya kamu tidak merugi.”
“Harus siap mental juga, karena tidak selalu jualan kita langsung laris…” sambung mama.
Noni teringat perkataan papa dan mamanya itu. Ternyata, perkataan papa dan mama benar. Sudah sesiangan Noni menyiapkan jualannya. Sesiangan pula ia sibuk menjajakan jus jeruknya. Ternyata, hanya laku dua gelas.

Noni terduduk dengan lemas. Huh! Ternyata berjualan itu memang tidak mudah, keluhnya. Terbayang kembali boneka beruang yang besar dan lucu. Boneka itu nampak semakin jauh dari angan-angannya….

“Hai, Noni! Kamu berjualan apa?” tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Noni. Ternyata itu adalah suara Tante Ningsih, yang rumahnya tidak jauh dari rumah Noni.
“Jus jeruk, Tante. Enak, segar, dan murah!” Noni jadi bersemangat. “Gulanya gula asli, Tante. Pasti manis dan sehat!”
“Wah, wah, wah, pintar benar kamu berpromosi!” Tante Ningsih tertawa. “Tante coba satu gelas deh…”

Dengan sigap Noni melayani menuangkan satu gelas jus jeruk.
“Hm… segar!” Tante Ningsih meneguk jus jeruknya sampai habis. “Apakah bisa dibungkus? Tante mau membelikan untuk Tommy dan Heidi.”
“Bisa, Tante!” Kembali, dengan sigap Noni membungkuskan jus jeruk pesanan Tante Ningsih.
Tante Ningsih membayar pesananannya kemudian berlalu. Sementara itu, Noni menyimpan baik-baik uang dari Tante Ningsih di sebuah kotak plastik. Sejenak, timbul kembali semangatnya. Ia berteriak-teriak, menjajakan dagangannya.

Sampai sore, jus jeruk Noni ternyata belum habis. Dengan kecewa, Noni mengemasi jualannya. Benar kata papa, berjualan itu tidak mudah, pikir Noni masygul.
“Bagaimana hasilnya, Noni?” Tanya mama.
Noni menghela napas.
“Tidak habis terjual Ma, walaupun ada beberapa pembeli hari ini…”
“Wah, hebat itu! Kamu kan baru pertama berjualan. Orang-orang kan belum banyak yang tahu bahwa ada yang berjualan jus jeruk di sini…” Mama menghibur Noni.
Noni mengangkat bahu.

“Atau, kelihatannya kamu mau berhenti saja, tidak jadi berjualan jus jeruk lagi?” tantang mama.
Noni terperanjat. Ia memang kecewa, tetapi berhenti? Tentu tidak!
“Tidaklah Ma! Aku kan belum mulai, kok mau berhenti!”
Mama tertawa mendengarnya.

Tiba-tiba terdengar suara telepon bordering. Mama bergegas menuju meja telepon untuk menjawabnya.
Noni pun segera beranjak untuk mencuci gelas-gelas yang tadi terpakai. Tiba-tiba terdengar suara mama di belakangnya.
“Kejutan, Noni!”
Noni mengangkat kepalanya.
“Tadi Tante Ningsih ikut membeli jus jerukmu ya?”
“Iya, Ma. Kenapa?”
“Tante Ningsih mau pesan 30 gelas untuk besok sore. Kamu siap mengerjakannya?”
Noni terbelalak senang.
“Siaaaapp boosss!!!” serunya.

Sampai beberapa hari Noni masih melanjutkan jualannya. Terkadang banyak pesanan, terkadang tidak ada. Tetapi Noni tetap semangat. Lama kelamaan uangnya sudah cukup untuk membeli boneka beruang yang besar dan lucu itu.

“Ayo, papa antarkan membeli boneka,” ajak papa.
Noni menggeleng.
“Tidak papa. Terasa sulitnya mencari uang, bahkan untuk lima ratus rupiah sekalipun. Aku tak mau membeli boneka. Uangnya mau kusimpan saja…”
Mendengar ini, papa tertawa. Mama memeluk Noni sambil mengusap kepalanya.

***

Pekanbaru, 23 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Sunday, 21 July 2013

[CERITA PENDEK] Obat Mujarab!

July 21, 2013 0 Comments
 Ini hari ke 10 di Pekan Cerita Anak. Event ini aku buat-buat sendiri untuk mengenang anakku dan menyambut hari Anak Nasional. Dari tanggal 13 Juli 2013 sampai besok, 23 Juli 2013 aku mengunggah satu cerita anak. Enjoy this one ya... 

==============================================

Sumber Gambar: http://freevectorfinder.com/images/thums/african_animals_cartoon_58937.jpg


“Satu! Dua! Satu! Dua!”

Terdengar teriakan Onci Marmut memimpin teman-temannya. Di belakangnya tampak teman-temannya mengikut gerakanya. Ada Lily Angsa, Rudi Kucing, Edo Keledai, Uwie Kelelawar, Olie Burung Hantu, Patty Kelinci, dan Jojo Badak. Mereka semua melakukan senam ringan bersama. Semua? Tidak! Diam-diam Jojo, si badak kecil ini menyelinap dan mencari tempat yang aman. Sampai di sebuah pohon yang rindang Jojo duduk dan mulai membuka bekal yang tadi dibawanya. Ada burger, biskuit, pizza, kentang goreng, dan masih banyak lagi!

“Hai, Jojo! Mengapa engkau tidak ikut bersama kami?” Teriak Onci. Ia mendekati Jojo yang sedang asyik mengunyah burgernya. Jojo mengangkat kepalanya dengan malas.
“Huaaah… aku lapar. Aku mau makan dulu…” Belum habis burger di mulutnya, Jojo sudah mengambil sebuah biskuit dan mengunyahnya.

“Jojo, Jojo…! Makanlah pelan-pelan, nanti perutmu bisa sakit!”
“Aduh, Onci… jangan mengomel. Engkau membuat aku tambah lapar!” jawab Jojo sambil menguap lebar. Lalu, ia mencomot segenggam kentang goreng, dan memasukkannya ke mulutnya. Onci menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Jojo.

“Ayolah, ikuti aku! Kita jalan-jalan keliling danau, yuk! Dari tadi engkau belum bergerak!”
“Hoaaah! Tidak mau! Aku ngantuk dan lapar!” Jojo menolak. Lagi-lagi mulutnya penuh dengan makanan. Kali ini ia sedang mengunyah sepotong pizza.

“Okelah. Tapi, kalau engkau berubah pikiran, aku dan teman-teman ada di dekat danau ya…” Lalu Onci berlalu dan melanjutkan senam paginya.
Belum jauh Onci pergi, tiba-tiba terdengar suara Jojo.
“Aduuh!”

Onci segera berbalik arah, kembali ke tempat Jojo berada. Di sana, Jojo sedang mengerang-ngerang sambil memegangi perutnya.
“Aduuh, sakiiiit! Sakiiit!”
“Tenang, Jojo. Tenang!” Onci membantu Jojo berbaring untuk meredakan sakit di perut Jojo. Agak lama baru Jojo merasa baikan.

“Aku sudah merasa baikan, Onci. Sekarang, aku merasa lapar…” kata Jojo sambil berusaha meraih sepotong pizza.
 “Apa? Pizza lagi? Tidak, Jojo!” Onci segera menahan tangan Jojo. “Engkau sakit perut karena terlalu banyak makan makanan ini!”
“Ah, Onci, sedikiiiit saja…” pinta Jojo.

“Kalau engkau bisa bangun dan mau ikut lari pagi bersama kami, bolehlah engkau ambil satu potong pizza.”
“Aah, jangankan lari pagi, berenang di danau pun aku sang… AAW!!” belum sempat Jojo menyelesaikan kalimatnya ia malah jatuh terduduk! Jangankan lari pagi, bangun dari tempat duduknya pun Jojo tidak sanggup!

Jojo terduduk dengan wajah memelas.
“A… aku tidak bisa bangun, Onci…” rengeknya.
“Nah, itulah kalau makan terlalu banyak!”
Jojo terdiam mendengar perkataan Onci.

“Jojo, engkau kenapa?” tiba-tiba terdengar suara Lily. Satu persatu kawan-kawan Jojo bermunculan. Mereka mendengar teriakan Jojo tadi.
“Aku sakit perut…” jawab Jojo lemah.
“Ooh, tenang! Kami punya obatnya!” seru Patty. Ia lalu lari mengambil bekalnya. Sesaat kemudian Patty datang lagi dengan sebotol yogurt.
“Nah, makanlah ini!”

Pelan-pelan Jojo memakannya. Wajah Jojo berkerut. Yogurt itu rasanya aneh! Lama-lama Jojo merasakan sesuatu di perutnya. Ya! Perutnya terasa ringan! Tidak sesakit tadi.
“Aah… enaaaak!” seru Jojo. Aku mau pizz… eh, bukan, yogurt!” seru Jojo sambil menyuapkan sesendok besar yogurt. Teman-temannya tertawa mendengarnya.

***

Pekanbaru, 22 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Saturday, 20 July 2013

[CERITA ANAK] Perkawinan di Kana

July 20, 2013 0 Comments
Hari ke-9 Pekan Cerita Anak (13 - 23 Juli 2013), tepat hari Minggu. Aku postingkan cerita tentang Mujizat Yesus, tapi dalam bentuk rima. :)

===========================================
Sumer Gambar:

Di Kana, Galilea, ada perkawinan meriah. Tamu-tamu berdatangan tumpah ruah.
Yesus dan para murid juga tiba. Tak ketinggalan, Bunda Maria, ibunya.


Para tamu makan, minum, dan berpesta pora. Semua bergembira.
Tiba-tiba, terdengarlah oleh Bunda Maria. Pelayan memberi kabar pada Tuan Pesta.
“Tuan! Tuan! Anggurnya! Kita kehabisan!”
Tuan Pesta pusing tujuh keliling! Anggur adalah minuman penting.


Mendengar ini Bunda Maria berbisik pada Yesus. “Tolonglah mereka, supaya pesta berjalan mulus.”
“Ibu, saatku belum tiba.” Yesus menolak secara halus.


Namun demikian, Bunda Maria berkata pada para pelayan, “Lakukan apa yang Ia katakan.”


Di situ ada enam tempayan. Isinya adalah air untuk pembasuhan.
Yesus berkata pada para pelayan. “Isi penuh semua tempayan!” Para pelayan pun melaksanakan.


“Sekarang, cedoklah, dan bawalah pada Tuan Pesta,” Yesus berkata.
Tuan Pesta mengecap. Lidahnya berdecap-decap. Matanya mengerjap-ngerjap.
Hmm… ANGGUR yang sungguh sedap!


Ia lalu memanggil mempelai pria. “Orang menghidangkan anggur yang enak di awal pesta. Tapi, engkau menyimpan anggur enak, dan baru sekarang menghidangkannya.”


Semua orang bergembira. Lebih gembira daripada sebelumnya. 


Itulah mujizat Yesus yang pertama. 
Dibuat dengan perantaraan Bunda Maria, ibunya.
Dan, dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaanNya sehinga para murid pun percaya.


Semuanya itu bermula di sebuah pesta perkawinan di Kana, Galilea.

***

Pekanbaru, 21 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Friday, 19 July 2013

[PUISI ANAK] FLY, CANARY, FLY!

July 19, 2013 0 Comments
Di hari ke-8 Pekan Cerita Anak (13 - 23 Juli 2-13) ini aku mencoba menulis puisi anak. Kemarin di grup FPBA (Forum Penulis Bacaan Anak) Ali Muakhir, ketuanya, berharap ada yang menulis puisi anak. Aku ingat pernah membuat puisi anak. Setelah bongkar-bongkar, ketemulah ini:

-------------------------------------------------

 
Sumber Gambar: http://www.birdsgallery.net/gallery/canary/canary_2.jpg


Fly away, Canary
Fly over blue sky

Fly, fly away, Canary
Go find your scenery

For rainbow is only for those
Who make their dreams close

So, fly away Canary
Fly to eternity


***


Ditulis di Pekanbaru, July 7, 2010

Pekanbaru, 20 Juli 2013
Agnes Bemoe

@agnesbemoe

[CERITA ANAK] Aw! Digigit Semut!

July 19, 2013 4 Comments
Aku suka kesal melihat orang tua/orang dewasa membuang sampah seenaknya. Mereka sepertinya tidak sadar bahwa mereka diteladani anak-anak. Dari kekesalanku itu, timbul ide cerita ini.

Ini cerita ke-7 dalam Pekan Cerita Anak, 13 - 23 Juli 2013 memperingati satu tahun berangkatnya anakku dan menyongsong Hari Anak Nasional. Selamat membaca!

==========================================

Pagi itu sangat cerah di Hutan Aramba. Matahari memancarkan sinarnya yang hangat. Langit biru membentang di langit.

Nala Zebra sedang piknik bersama kawan-kawannya, sesama zebra. Mereka berbaris, berjalan menyusuri jalanan kecil di Hutan Aramba sambil bernyanyi-nyanyi. Jeri yang memimpin di depan. Di belakangnya menyusul Pedro, Chiko, Beri, Monty, Jojo, Rino, dan kemudian Bubu.

“Ayo jalan!” seru Jeri dengan penuh semangat.
“Ayo jalan!” teman-temannya mengikuti.
“Dengan riang!”
“Dengan riang!”
“Satu Dua!”
“Satu Dua!”

Nala mengiringi teman-temannya dari belakang.

Di suatu tempat, mereka berhenti untuk beristirahat. Chiko dan Jojo membentangkan tikar. Masing-masing lalu duduk dan membuka bekal yang dibawanya. Rino membawa pisang yang lezat. Pedro membawa nasi goreng buatan mamanya. Sedangkan Beri membawa rambutan dan apel. Mereka lalu makan bekal mereka masing-masing.

Selagi asyik makan, tiba-tiba melayang sebuah kulit pisang. Tak lama kemudian, melayang lagi kulit rambutan! Lalu bungkus kacang! Semuanya berasal dari satu arah: Bubu!
Bubu asyik makan tanpa memperdulikan tatapan teman-temannya. Sekali lagi melayang segenggam biji rambutan!

“Hei, Bubu! Jangan buang sembarangan dong!” tegur Nala.
Bubu kelihatan terkejut. Tapi ia melanjutkan makannya dengan tak peduli.
“Ah, ini kan tempat umum! Banyak kok orang yang buang sampah di tempat umum. Nanti juga ada petugas yang membersihkannya, ya kan?”
“Ck… ck… ck… Dari mana engkau dapat pemikiran seperti itu? Tempat umum itu maksudnya tempat kita masing-masing. Kan kita yang pakai, jadi kitalah yang bertanggung jawab untuk kebersihannya!” sahut Jojo.
“Ngapain kita yang susah payah? Lagian, tempat ini memang sudah kotor kok…” kata Bubu tak mau kalah.
“Hei, kalau sudah kotor, ya jangan ditambah kotornya!” seru Monty.
“Ah, kalian ini sok bersih deh!” Bubu bersungut-sungut. “Mamaku aja nggak melarang-larang aku!”
Teman-temannya jadi terdiam mendengar perkataan Bubu barusan.

“Bubu dan teman-teman semua,” Nala memecahkan keheningan. “Begini saja, menurut Bubu tempat ini adalah tempat umum kan, jadi boleh saja kita membuang sampah di sini. Oke, coba deh, kita buang semua sampah kita di lingkaran yang aku buat ini!” Nala mengambil sebatang ranting dan membuat lingkaran mengelilingi teman-temanya. “Kalian harus duduk di dalam lingkaran ini. Ayo, kita buang sampah kita di lingkaran ini!”

Walaupun tidak mengerti maksud Nala, teman-temannya mulai melempari sampah ke dalam lingkaran. Mereka sendiri duduk di dalam lingkaran itu. Ada sisa apel. Ada bungkus permen, potongan roti, kulit jeruk, kulit kacang, dan masih banyak lagi!

Tiba-tiba, selagi mereka melempar-lempar sampah itu, terdengar suara teriakan Bubu.
“Aaw!!” Bubu meringis sambil mengusap-usap pahanya. “Aku digigiti semut! Aaw! Aaw! Ayo kita pindah! Banyak semut!” Bubu berteriak-teriak sambil melompat-lompat. Di dekat kakinya sekumpulan semut sedang mengerubungi sampah yang tadi terlempat ke sana.

“Kenapa mesti pindah, Bubu? Menurutmu kan membuang sampah tidak akan merugikan siapa-siapa?” tanya Nala sambil tersenyum.
Wajah Bubu memerah. Ia segera memahami maksud Nala.

“Maaf, Nala. Maaf, teman-teman. Ternyata, tempat umum juga harus dijaga kebersihannya ya. Kalau tidak…. AW!” kembali Bubu berteriak. Rupanya seekor semut merah menggigit pahanya kembali.

Nala dan teman-temannya segera mengangkat tikar dan membersihkan sampah-sampah mereka.
“Kalau kita meninggalkan sampah, mungkin sampah itu tidak langsung merugikan kita. Tapi, pasti suatu saat kita akan dirugikan oleh sampah yang dibuang oleh orang lain. Makanya, lebih baik saling menjaga diri dengan menjaga kebersihan.” Kata Nala kepada Bubu, sambil mengoleskan minyak kayu putih ke paha zebra kecil itu.

***

Pekanbaru, 19 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Wednesday, 17 July 2013

[CERITA ANAK] Rahasia Titi

July 17, 2013 0 Comments
 Dua tahun lalu aku diberi kesempatan bekerja bersama seorang tuna netra. Yang aku pelajari adalah temanku ini amat peka terhadap perlakuan yang memandang mereka sebagai obyek yang perlu dikasihani. Berdasarkan pengalamanku itulah aku menulis cerita ini. Dan sekarang aku unggah sebagai cerita ke-6 untuk Pekan Cerita Anak (13 - 23 Juli 2013) sebagai peringatan akan satu tahun berangkatnya anakku dan menyambut Hari Anak Nasional. Enjoy ya!

===============================================

“Ti, nanti sore aku ke rumah ya…”
“Eh, Rina, kalau nanti sore, tidak bisa…”
“Hmm… selalu gitu deh! Kamu sombong sekarang!” Rina mulai merajuk. Betapa tidak, sudah tiga kali Titi tidak mau lagi diajak main oleh Rina. Kalau ditanya, Titi selalu mengelak untuk menjelaskan.

“Aku sudah berjanji sama seseorang untuk tidak menceritakan pada siapa-siapa…” begitu selalu alasan Titi.
“Aku kan sahabatmu! Aku bukan orang lain!” protes Rina.
Titi hanya bisa menunduk.
“Betul sih, tapi… aku takut, kalau aku ingkar janji, nanti dia tidak percaya lagi sama aku…”
“Siapa siiih???” Rina berteriak jengkel. Titi hanya menggeleng.
“Huh! Ya sudah, kalau kamu nggak mau lagi berkawan sama aku!” Rina lalu menaiki sepedanya dan buru-buru berlalu. Ia jengkel benar pada Titi. Titi sombong sekali!

Sorenya, Rina mendapat ide! Ya, dia akan membuntuti Titi! Pasti Titi tidak pergi jauh-jauh. Maka, sore itu, Rina sudah siap dengan sepedanya, tidak jauh dari rumah Titi. Benar saja, Rina melihat Titi mengeluarkan sepedanya. Pelan, Rina mengikutinya dari belakang. Rina berusaha keras supaya ia tidak terlihat oleh Titi, sekaligus, tidak kehilangan jejak Titi.

Yang jadi tujuan Titi ternyata lumayan jauh. Apalagi, agak masuk ke gang-gang kecil. Beberapa kali Rina melihat Titi harus turun dari sepedanya, karena banyak sekali anak-anak di gang itu. Rina pun terpaksa harus melakukan hal yang sama.

Di suatu gang, tanpa sadar Rina menjerit. Ia hampir saja menabrak seorang anak kecil yang tiba-tiba menyeberang.
“Eh, Rina! Kok kamu ada di sini?” Tiba-tiba Rina sudah mendengar suara Titi. Aduuh… penyamarannya terbongkar.

“Aku, eh, aku…”
“Hmm… kamu memang keras kepala! Kamu pasti mau tahu aku pergi ke mana ya. Ya sudah, sini ikut sajalah…” Titi menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka lalu menuntun sepeda mereka. Rina mengikuti Titi tanpa bersuara. Mereka lalu sampai di sebuah rumah kopel.

Titi mengetuk pintu rumah. Seorang ibu membukakan pintu buat mereka.
“Eh, Titi. Masuklah. Nuri sedang ganti baju….”
Tidak lama, seorang gadis kecil yang namanya Nuri keluar menuju ruang tamu. Rina terkejut melihat gadis ini. Nuri ternyata buta.

Sore itu Rina melihat Titi membacakan cerita untuk Nuri. Tidak hanya cerita, Titi juga membacakan sebuah buku pelajaran IPA. Nuri kelihatannya senang. Ia banyak bertanya.  Rina hanya bisa ternganga melihat kegiatan Titi.

“Nuri, ini sahabatku, namanya Rina.” Rina meraih tangan Nuri dan menjabatnya. “Dia ingin sekali jadi temanmu…”
“Kak Rina teman sekelas Kak Titi?” tanya Nuri.
“Iya dik… Ngg… Nuri nggak papa kalau kakak ke sini?”
“Nggak papa, Kak. Nuri cuma sukan jengah kalau ada yang datang, tapi cuma datang doang… Nuri kan bukan tontonan…”

Rina teringat perkataan Titi yang mengatakan bahwa teman barunya tidak ingin diberi tahu keberadaannya.
“Ngg… kakak juga mau memacakan cerita kok. Boleh kan?”
“Wah, dengan senang hati Kak….”
Rina meraih buku IPA dari tangan Titi. Hmm… jadi ini rupanya rahasia Titi.

***

Pekanbaru, 18 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Tuesday, 16 July 2013

[CERITA ANAK] Tongkat Ajaib Onixa

July 16, 2013 0 Comments
Sejak tanggal 13 Juli 2013 sampai nanti 23 Juli 2013, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, aku memposting satu cerita anak satu hari.
Di hari yang ke-5 ini aku postingkan cerita mini yang tahun lalu menjadi Juara I Lomba Fiksi Mini 200 Kata dalam rangka Ultah ke-2 Forum Peduli Bacaan Anak (FPBA). Enjoy! And, let's respect the kids ya... :)

--------------------------------------------------------

“Brindilinkilingzin! Jadilah lautan sirup!”
Onixa mengayunkan tongkatnya. Triilliingg! Dalam sekejap Danau Belux di depannya berubah menjadi sirup berwarna pink! Onixa terbelalak. Teman-temannya juga sampai melongo melihat air Danau Belux.


“Buat lagi, Onixa! Buat lagi!” seru teman-temannya.
Onixa tertawa gembira. Hari itu untuk pertama kalinya ia diperbolehkan mempergunakan tongkat Gurdurix, tongkat ajaib warisan Kakek Monc. Sampai matahari terbenam barulah Onixa dan teman-temannya berhenti bermain. Onixa pulang ke perkemahan.

Sesampainya di perkemahan, Onixa kaget bukan kepalang! Kemah, rumput, batu, semuanya berwarna pink! 

Sekonyong-konyong didengarnya sebuah suara berteriak.
“Onixa!!!” Seperti suara papa, pikir Onixa.


Papa muncul. Astaga! Papa juga berwarna pink! Rambut papa, janggut papa, kulit papa!
“Apa yang engkau lakukan dengan tongkat Gurdurix!? Kan papa sudah bilang, lakukan untuk kebaikan, bukan untuk bermain-main! Inilah akibatnya!” suara papa menggelegar.


Onixa tertunduk. Sekarang, baru ia ingat pesan papa….
“Maafkan aku, papa…”


Papa berkacak pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
 “Ucapkan mantra ini tiga kali: DIMBRILIKINILI SRIMPICIKIXI!”


Pelan, Onixa mengucapkan mantra itu. Sekejap, tenda-tenda, rumput, batu, dan semuanya kembali ke warna asalnya. Papa juga sudah berubah, tidak lagi berwarna pink.


Onixa menarik napas lega. Dengan takut-takut dilihatnya wajah papa.
“Papa, aku akan menggunakan tongkat Gurdurix baik-baik,” kata Onixa lirih.
Papa tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Onixa.

***
(Dibuat diPekanbaru, 12 Mei 2012)



Pekanbaru, 17 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe
 

Monday, 15 July 2013

[CERITA ANAK] Harta Karun Kakek

July 15, 2013 0 Comments
Sekarang, kita jalan-jalan ke Bengkalis, Riau, yuk! Cerita ke-4 dalam Pekan Cerita Anak (13 - 23 Juli 2013) kali ini adalah tentang harta karun Pulau Bengkalis, Riau. Apa itu? Sila, baca cerita miniku yang satu ini ya...

===============================

Ikan Terubuk, sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/d/de/Ikan_terubuk.jpg

Ini hari ketiga aku berlibur di rumah kakek. Kakekku tinggal di Pulau Bengkalis di Propinsi Riau.
Hari ini kakek mengajakku melihat harta karunnya. Aku senang luar biasa! Kakek punya harta karun? Wow!

“Dimana harta karunnya, Kek?”

Kakek terkekeh.
“Ayo, kita pergi!”


Ternyata kakek mengajakku ke pantai. Apakah kakek akan berenang?
Ternyata tidak! Kakek mendekati beberapa nelayan di tepi pantai.
Apakah kakek akan melaut? Aku semakin penasaran.


Lagi-lagi tebakanku salah.
Kakek menyapa bapak-bapak nelayan dan berbicang dengan mereka. Beliau lalu mengambil seekor ikan dari dalam jala bapak nelayan.
“Nah, inilah harta karun kakek”


Aku melongo. Ikan?
“Ini bukan sembarang ikan,” kata kakek. “Karena adanya hanya di sini, di pulau Bengkalis ini. Namanya Ikan Terubuk. Tahukah engkau, telur ikan terubuk ini lezat sekali!”


Kami membawa pulang beberapa ekor ikan Terubuk. Sampai di rumah, nenek memasak telurnya menjadi gulai. Gulai telur ikan terubuk buatan nenek tampak menggiurkan. Ketika kucicipi, benar! Telur ikan Terubuk memang benar-benar lezat!


Aku berbisik dalam hati. Hmm, kurasa itu harta karunku juga.

***

Catatan:
Mengenai Ikan Terubut, sila baca di sini ya...

Pekanbaru, 16 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Sunday, 14 July 2013

[CERITA ANAK] Raja Hutan dan Sahabatnya

July 14, 2013 0 Comments
 Cerita ke-3 dalam Pekan Cerita Anak (13 Juli - 23 Juli 2013) untuk memperingati 1 tahun perginya anakku dan merayakan Hari Anak Nasional.
Kali ini aku pilihkan cerita yang diikutkan di antologi cerita anak "50 Cerita Binatang dan Tokoh Lain yang Inspiratif". Enjoy!

====================================


Di sebuah rimba raya, tersebutlah seorang raja yang gagah perkasa namun kejam dan lalim. Raja Koshen namanya. Suatu hari tersiar kabar bahwa Raja Koshen berkenan menjadi sahabat Richardo, seekor tikus clurut. Seluruh rimba tentu gempar mendengar berita ini; Raja Koshen yang begitu gagah mau bersahabat dengan seekor tikus got yang kotor dan bau.

Richardo, si tikus clurut, pun tak kalah kagetnya mendengar bahwa Sang Raja mau menjadi sahabatnya. Pertama-tama ia tak percaya, tapi setelah beberapa kali Raja Koshen mengundangnya ke istana untuk jamuan makan, lama kelamaan tumbuhlah rasa percaya dirinya. Rupanya, Sang Raja hendak memberinya tugas, yaitu menjadi mata-mata di antara penghuni rimba. Bila ada warga rimba yang hendak melawan Raja, maka Richardo harus segera melaporkannya. Richardo tentu saja merasa senang akan tugas barunya ini.
Dengan cepat ia melaporkan orang-orang yang dianggap membahayakan bagi Raja. Orang tersebut pasti akan langsung dihukum tanpa diadili.

Demikianlah, karena kelicikannya, Richardo makin disukai oleh Raja sebaliknya ia semakin dibenci oleh para  penduduk. Apalagi, perilaku Richardo makin lama juga makin sombong. Ia yang biasanya berjalan dengan kepala menyuruk, langkah kecil yang terburu-buru, serta sorot mata ketakutan,  sekarang berjalan dengan dagu terangkat dan dada membusung. Ia menyadari bahwa sekarang semua orang menyingkir memberi jalan untuknya, karena orang-orang tahu, ia sahabat raja. Tidak hanya itu saja, sekarang ia mempunyai kekuasaan untuk menuduh orang bersalah atau tidak. Yang macam-macam dengannya, akan langsung dilaporkannya pada Raja, dan pasti akan langsung mendapat hukuman dari Raja!
   
Pagi itu, Richardo, si tikus clurut, sengaja berjalan-jalan di tengah kota. Seperti biasa, orang-orang menepikan diri, memberi jalan kepadanya. Namun, Sisi, sapi betina, yang sedang membeli tomat tidak menyingkir karena ia tidak tahu Richardo akan lewat. Melihat itu Richardo dengan pongahnya membentak Sisi yang sudah tua itu.

    “He! Orang tua tak tahu diri! Minggir ya kalau saya lewat!!” bentaknya pada Sisi, si sapi betina, yang jadi terkaget-kaget karenanya.

Orang-orang hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan Richardo. Namun, mereka tidak berani menegur, karena tahu Richardo suka memberikan laporan palsu pada Raja dan Raja sangat percaya padanya. Sementara Richardo malah tertawa terbahak-bahak melihat orang-orang di sekitarnya terdiam ketakutan. Begitulah, Richardo terus bersikap semena-mena pada para penghuni rimba.

Suatu hari, timbul pergolakan di istana. Raja Koshen dan seluruh keluarganya terusir dari istananya. Rakyat gempar, tetapi, mereka senang, karena akhirnya mereka terbebas dari penindasan raja yang lalim dan kejam.
Richardo, si tikus clurut, mendengar juga akan kudeta itu. Namun, ia sama sekali tidak menduga akan akibatnya untuk dirinya. Hari itu seperti biasa Richardo berjalan-jalan di tengah keramaian pasar. Seperti biasa juga, ia ingin menikmati bagaimana orang-orang menyingkir memberinya jalan.

Namun, ternyata, pagi itu orang-orang di pasar tidak mengacuhkannya. Mereka tak lagi memberinya jalan, walaupun Richardo membentak-bentak dengan suara cericitnya. Richardo jadi marah dan gusar dibuatnya.
Tak jauh dari situ, dilihatnya ada seekor kambing tua sedang mengelus-elus jenggotnya. Tergopoh-gopoh Richardo menemui Hugo, si kambing tua itu.

“Hugo, cepat katakan padaku, mengapa orang-orang ini bersikap tak sopan padaku!”
Hugo dengan tenang menjawab.
“Anak muda, selama ini, bila orang-orang menyingkir, memberi jalan kepadamu, apakah itu karena dirimu sendiri, ataukah karena engkau terkenal sebagai sahabat Raja? Mereka takut kepadamu ataukah kepada Raja yang menjadi temanmu?”
Richardo tertunduk mendengar pertanyaan ini. Benar juga, selama ini orang-orang takut padanya, karena ia dekat dengan Raja Koshen.
“Nah, nampaknya engkau mengerti maksud pertanyaanku. Raja Koshen tadi malam telah diusir pergi meninggalkan kerajaan. Jadi, sahabatmu sudah tidak ada. Maka, inilah sekarang “sahabat-sahabat”mu…” Hugo berkata, masih dengan suara tenang, sambil melayangkan pandangan ke sekeliling pasar.

Richardo mengikuti tatapan mata Hugo, dan seketika raut wajahnya berubah kecut. Sekumpulan sapi, kerbau, kuda, ayam, dan lain-lain yang selama ini ia perlakukan semena-mena telah berdiri mengelilingi dirinya dengan tatapan marah.

“Mooo… engkau minta kami minggir, Richardo?” geram Ernesto, si sapi jantan.
“Atau engkau mau melaporkan kami pada Raja?!” Kodi, si kuda juga tak mau kalah.
Richardo langsung mengerutkan badannya dengan gemetar. Dengan wajah pucat pasi ia memohon:
“Kkaalian kkawannkku…, mmmaaffkan akkku…”

Hugo tertawa mendengar rengekan Richardo.
“Makanya, jangan merasa sombong hanya karena menjadi sahabat orang ternama. Lebih baik membangun persahabatan sejati dengan orang-orang biasa di sekelilingmu. Sekarang, pergilah! Jadikan ini sebagai pelajaran buatmu.”
Tanpa disuruh dua kali, Richardo segera memacu kakinya pergi dari tempat itu…

***
Informasi detail tentang buku "50 Cerita Binatang dan Tokoh Lain yang Inspiratif" bisa dibaca di sini.

Pekanbaru, 15 Juli 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

PENULIS LOKAL KE AJANG INTERNASIONAL

July 14, 2013 2 Comments
Bulan April 2013 lalu saya menerima kabar gembira. dari National Book Development Council of Singapore (NBDCS) yang menjadi penyelenggara Asian Festival of Children’s Content (AFCC) . Isinya, manuskrip cerita anak tulisan saya yang berjudul “Utan for Marcia” menjadi salah satu shortlisted (nominee) untuk ajang Singtel Asian Picture Book Award 2013. Karenanya, saya diundang ke Singapura untuk acara pengumuman pemenang.
Bersama Ibu Ary Nilandari dan Ibu Sofie Dewayani

AFCC adalah ajang tahunan yang ditaja oleh NBDCS. Acaranya terdiri dari kongres guru, forum orang tua, seminar umum, konferensi penulis-ilustrator, temu media, dan master classes. Bersamaan dengan itu diadakan juga bazaar buku, launching buku, galeri ilustrasi, dan temu media massa.  Kegiatan ini diikuti oleh guru, orang tua, kreator buku, penerbit, dan lain-lain dari seluruh penjuru dunia, bukan hanya dari Asia.

Setiap tahunnya AFCC menggelar kompetisi internasional dwitahunan yakni SingTel Award untuk cerita dan ilustrasi picbook dan Scholastic Asian Book Award (SABA) untuk novel young adult.

Jadi, pada tanggal 27 Mei 2013 saya berangkat ke Singapura. Tak nyana partisipan dari Indonesia banyak juga. Selain saya ada ibu Sofie Dewayani yang juga masuk dalam shortlisted untuk manuskrip picbook, Eugina Gina (ilustrasi), ibu Ary Nilandari dan ibu Eva Nukman yang bersama ibu Sofie menjadi pembicara dalam salah satu sesi seminar. Selain itu ada beberapa illustrator buku anak yang ikut serta.

Seperti disebut di atas, berbagai acara digelar mulai dari hari pertama. Ada malam kesenian Malaysian Night, Indian Night, dan Peranakan Night. Kesemuanya disertai dengan sejumlah seminar pada pagi sampai sore hari. Yang menarik perhatian saya tentu saja bazaar bukunya! Buku-buku anak yang isinya luar biasa dijual di sana!
Buku-buku yang saya beli di Bazaar Buku

Tanggal 28 Mei 2013 barulah diadakan Award Presentation. Dari kami perserta Indonesia, satu orang yang mendapatkan juara. Beliau adalah Evi Shelvia untuk Sketch Competition. Wah, senangnya! Sementara kami yang lainnya sampai ke tahap shortlisted saja. Kami puas dan bangga.  Buat saya yang penulis pemula dan penulis lokal, menjadi nominee adalah lompatan tak terkira. Sedangkan kata ibu Sofie Dewayani, “We’re winners already.”

Banyak sekali yang saya dapatkan dari AFCC ini. Pertama-tama tentu ilmu. Ini adalah kesempatan emas untuk menyerap ilmu tentang dunia kepenulisan internasional. Yang kedua, yang tidak saya sadari dari awal, dari ajang ini ternyata saya mendapatkan teman baru. Artinya, saya menambahkan orang-orang baru dalam jejaring saya. Saya bertemu dengan pengarang dan illustrator tingkat dunia yang sudah bertungkus lumus di bidangnya. Saya bertemu dan berkenalan dengan Claudia Kaiser. Beliau adalah ketua Frankfurter Buchmesse (Frankfurt Bookfair), bazaar buku paling bergengsi di dunia.


Bersama Frau Claudia Kaiser dan Ibu Zakiah Mohd. Isa

Dari awal saya sudah menduga it’s big! Tapi, saya masih juga terkaget-kaget, karena ternyata it’s huge! It’s enormously huge!

Tetap saja, saya menganggap ini adalah awal. Saya ingin menambahkan makna dari pengalaman ini dengan jalan terus berkarya, entah lokal, entah internasional. Suai?

***
Pekanbaru, 14 Juli 2013
Agnes Bemoe

Saturday, 13 July 2013

[CERITA ANAK] NINO KENA MARAH

July 13, 2013 0 Comments
 Untuk memeperingati satu tahun berangkatnya anakku, Centilia Maya, 13 Juli 2013 dan memeriahkan Hari Anak Nasional 23 Juli 2013, dari kemarin sampai dengan tanggal 23 Juli 2013 nanti aku akan mem-posting cerita-cerita anak tulisanku. 
------------------------------------------------------------------

Geresa Santa Maria Pertapaan Rawaseneng

Nino berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya dengan kesal. Air mukanya masam dan bibirnya cemberut. Ia berjalan menyusuri halaman gereja, membiarkan papa dan mama di belakangnya.
“Biar saja! Aku tak mau lagi ke gereja bersama papa dan mama!” pikir Nino kesal.

Karena asyik dengan pikirannya sendiri, tanpa sadar Nino menabrak seseorang. Ah, ternyata Frater Edu. Frater Edu sering berkunjung ke lingkungan Nino dan memimpin doa di sana.

“Maaf, Frater!” Nino terlonjak kaget.
Frater Edu tertawa.
“Kenapa engkau, Nino, sampai-sampai tidak lihat jalan…”

Nino langsung cemberut lagi.
“Huh! Aku jengkel pada mama dan papa!”
“Lho! Kok jengkel?”
Frater Edu mengajak Nino duduk di sebuah bangku beton di halaman gereja.
“Kenapa jengkel pada orang tuamu, Nino?” Tanya Frater Edu lagi.
“Frater tau nggak, mama dan papa ‘tu nyebelin!” Nino masih menumpahkan kekesalan hatinya.
“Nyebelin? Kenapa?”
“Masak aku tadi dimarahi sama mama dan papa! Padahal aku nggak nakal. Aku cuma  ngobrol aja sama Hans. Masak seperti itu aja mama marah! Huh! Cuma ngobrol aja, masak nggak boleh! ‘Emang kita patung!”

Nino masih melanjutkan omelannya dengan panjang lebar, ketika dilihatnya Frater Edu malah asyik bersiul-siul dan bernyanyi-nyanyi sendiri dan bukannya mendengarkannya! Nino jadi bertambah kesal!
“Ih! Frater! Kok aku dicuekin sih!” Nino berteriak marah. “Frater mau ndengerin aku nggak?” Nino mulai merajuk.

Frater Edu langsung menoleh dengan wajah kaget.
“Eh, kamu lagi bercerita ya? Wah, Frater nggak dengar…”
“Ya iya lah! Habis, Frater malah nyanyi sendiri!” sungut Nino dengan pandangan menuntut.
Frater Edu tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Nino.

“Nino, apa yang kamu rasakan tadi, waktu Frater tidak mendengarkan kamu bercerita dan malahan asyik bernyanyi sendiri?”
“Ih, Frater! Pake nanyak lagi!”
“Kamu pasti jengkel kan? Kamu pasti marah kan?” Frater Edu terdiam sejenak. Lalu dengan lemah lembut Frater Edu melanjutkan. “Nah, begitu jugalah perasaan Tuhan Yesus kalau engkau pergi ke rumahNya dan malah bercerita sendiri dengan temanmu, dan bukannya mendengarkan Ia berbicara…”

Nino terdiam sejenak. Barusan tadi ia hendak marah-marah pada Frater Edu. Tetapi, perkataan Frater Edu barusan membuatnya berpikir.
“Ooh, jadi, kalau aku bicara sendiri, aku mengabaikan Tuhan Yesus ya, Frater…”
“Benar sekali! Engkau merasakan sendiri kan, betapa tidak enaknya diabaikan…”
Nino mengangguk-angguk tanda mulai paham.

“Tapi, Frater, aku tadi ngobrolnya pas misa belum mulai kok…”
“Nah, ketika misa belum mulai itulah saat untuk tenang. Itu namanya saat hening. Kita duduk dengan tenang dan menysukuri berkat dari Tuhan yang sudah kita terima.”
“Ooh… aku kira, karena belum mulai kita masih boleh ngobrol….”
Frater Edu tertawa.
“Tidak. Sebaliknya, kita siapkan hati kita dengan suasana tenang.”
Nino mengangguk-angguk.

“Frater, kalau selama misa ada lagi, nggak, saat hening yang lainnya?”
“Oh, ada. Selain sebelum misa, kita juga harus hening sesaat sebelum pernyataan tobat. Kita diam sejenak menyadari dosa dan kesalahan kita. Kalau kita benar-benar hening dan bertobat, kita bisa merasakan betapa baiknya Tuhan Yesus itu kepada kita yang berdosa ini.”

Lalu, seakan tahu bahwa Nino masih akan menanyakan pertanyaan yang sama, Frater Edu melanjutkan penjelasannya. “Pada saat sebelum doa pembukaan kita juga harus hening. Di sini kita boleh menyampaikan ujud pribadi kita supaya disatukan dengan doa pembukaan misa. Senang kan, kalau doa kita bisa disatukan dengan doa seluruh umat di dalam misa?”
“Aduuh! Aku tak pernah berdoa waktu doa pembukaan!” Nino menutup mukanya dengan malu.

Kembali Frater Edu menepuk-nepuk bahunya.
“Nah, sekarang, pergunakanlah kesempatan itu untuk berdoa. Oke?”
Nino kembali mengangguk-angguk.
“Lalu, setelah mendengarkan bacaan pertama, bacaan kedua, dan setelah kotbah dari pastor kita juga harus hening. Kita resapkan dalam hati apa yang tadi Tuhan katakan melalui bacaan-bacaan tadi. Terakhir, setelah menerima komuni kita juga harus hening. Tujuannya adalah untuk bersyukur atas Komuni yang baru saja disambut, juga doa untuk membiarkan Tuhan Yesus berbicara dalam hati dan siap melakukan kehendak-Nya.”

“Eh, Frater, bukannya setelah komuni biasanya ada nyanyian? Kapan heningnya?” Tanya Nino sambil mengernyitkan alis.
“Benar. Saat hening ini bisa diganti dengan sebuah madah syukur atau nyanyian pujian. Nah, kalau cara ini yang dipakai, hening sejenak tetap dilakukan sesudah ajakan “Marilah berdoa” pada Doa Sesudah Komuni. Jelas, Nino?”
“Ya, ya, ya! Sekarang aku paham. Pantas mama dan papa marah ya… Hehehe… yang aku lakukan salah sih…”
“Nah, mulai sekarang, jangan ngobrol lagi di gereja ya, …”
“Siiip, Frater!” Nino tersenyum lebar.

***

Pekanbaru, 8 November 2011

Terinspirasi oleh tulisan Onggo Lukito tentang “SAAT HENING” di http://www.facebook.com/groups/162150777177813/doc/230207130372177/




Diposting tanggal 14 Juli 2013
Agnes Bemoe