Follow Us @agnes_bemoe

Sunday, 30 June 2013

MEMBANGUN JEJARING DI BIDANG KEPENULISAN (BAGIAN 1)

Berhenti sebagai guru saya menyangka beberapa ilmu yang saya pelajari tidak akan terpakai lagi, contohnya Manajemen Persekolahan, khususnya membangun jejaring. Ternyata saya keliru.
Saya baru tiga tahun menjadi penulis. Dalam rentang itu saya menyadari bahwa ternyata sebagai seorang penulis saya pun perlu membangun jejaring.

Berikut sedikit refleksi saya mengenai perlunya jejaring buat penulis (baca: saya). Catatan: mungkin langkah ini tidak terlalu berguna buat yang lain, namun, terbukti sangat membantu buat saya.





DARI MANA DAN KEPADA SIAPA
Penulis tidak mungkin bisa sendirian dalam proses menulis dan kemudian menerbitkan bukunya. Sebaliknya, penulis butuh banyak pihak untuk membantunya. Bagan berikut ini merupakan rekaan saya tentang kepada siapa saja penulis harus membangun jejaringnya.

1.    PENULIS LAIN
Penulis lain, entah penulis lama ataupun baru, merupakan sumber belajar bagi penulis. Dari penulis lama, kita mendapatkan pengalamannya yang mungkin bisa sangat unik dan spesifik. Dari penulis baru kita belajar ide, semangat, cara pandang baru yang dibawanya.

Kita bisa mengenal penulis lain secara perseorangan. Namun, di zaman media sosial seperti sekarang ini kita bisa mengikuti grup-grup kepenulisan.

2.    EDITOR
Sebaiknya tetap membangun hubungan baik dengan editor, entah naskah kita ditolak, atau diterima. Jangan sampai menjadikannya sesuatu yang personal bila naskah yang kita kirimkan belum diterima oleh editor. Memelihara hubungan baik dengan editor jauh lebih sehat daripada mengelus ego kita sendiri.

Lebih baik juga kalau hubungan dengan editor tidak bersifat “one night stand” (maaf, apa ya istilah yang patut?). Maksud saya, jangan mentang-mentang naskah sudah terbit lalu tidak lagi ada tegur sapa, atau bahkan ucapan terima kasih.

3.    PENERBIT
Penerbit biasanya tampil dalam bentuk editor. Tetapi ada juga penerbit yang menerapkan pola  “one man show” (tentunya ini adalah hasil pemikiran matang, dengan meliat situasi dan kondisi penerbit), pemiliknya bertindak sebagai head-editor sekaligus penghubung dengan penulis.

Bicara penerbit, bisa juga berarti penerbit indie. Banyak yang meragukan kualitas penerbit indie. Saya tidak akan membahas masalah itu. Namun, menurut saya pribadi, membangun relasi dengan penerbit indie merupakan suatu langkah yang positif.

4.    ILUSTRATOR
Tidak semua buku membutuhkan illustrator. Kebetulan, saya sendiri menulis buku anak yang pasti membutuhkan ilustrasi yang bagus. Mengenal illustrator dan menjalin silaturahmi dengan mereka terbukti membuat buku saya kelihatan lebih indah daripada yang saya bisa bayangkan.

5.    PEMBACA POTENSIAL
Pembaca potensial adalah orang-orang yang saya anggap akan membeli dan membaca buku saya: teman lama, kenalan baru, saudara, anggota grup tertentu, dll.

6.    CALON PEMBACA POTENSIAL
Saya menemukan calon pembaca potensial dari jejaring sosial. Mereka bukan teman lama, bukan kenalan baru, bukan saudara, atau bukan anggota grup, tetapi tahu-tahu saya menemukan komentar mereka tentang buku saya di Twitter, misalnya.

7.    LAIN-LAIN
Enam yang pertama adalah yang sudah saya jalani dan alami dalam pengalaman saya yang masih seumur jagung ini. Saya yakin, masih banyak pihak yang perlu dikenal oleh penulis. Katakanlah misalnya, production house. Mungkin belum, dalam tahapan saya. Tapi saya mengikuti pengalaman seorang penulis yang naskahnya diangkat ke layar perak melalui sebuah production house.

Yang lain, yang bisa saya pikirkan, adalah para akademisi (pakar) dalam bidang kepenulisan. Ilmu yang didapat dari para akademisi saya yakin memperkaya dan memperdalam seorang penulis.

Yang satu ini adalah tambahan dari seorang kawan penulis, ibu Naqiyyah Sam, ketika tulisan ini saya posting di suatu grup kepenulisan di fb. Menurut beliau Media Massa Lokal adalah pihak yang perlu digandeng. Bila mempunyai buku yang baru terbit, jangan segan membuat press release-nya dan mengirimkannya ke media massa lokal. Terima kasih Bu Naqiyyah!

***
(Bersambung)

Ini adalah tulisan yang menginspirasi saya membuat artikel ini: Membangun Jejaring di Bidang Pendidikan

Pekanbaru, 1 Juli 2013
Agnes Bemoe

11 comments:

  1. Setuju banget mbaa..ditunggu lanjutannyaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah, ada Mbak Dedew... bagi pengalamannya, Mbak...hehehe...

      Btw, monggo diintin lanjutan tulisan gaje-nya di sini: http://abemoe.blogspot.com/2013/06/membangun-jejaring-di-bidang_30.html

      Delete
  2. thanks tulisannya.. very inspiring :)

    ReplyDelete
  3. Asyik, nambah ilmu lagi, makasih Mbak Agnes

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Ety, lama nggak ketemu... waah, ketemu lagi di sini... hehehe... :)

      Sama-sama, mudah-mudahan pengalaman yang ndak seberapa ini berguna juga buat yang lain :)

      Delete
  4. keren mbak agnes.... jadi semangat pengen jadi penulis..

    ReplyDelete
  5. Padat, singkat, mujarab (buat memberi inspirasi). Thanks. @IndriaSalim

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mbak Indria... hahaha... mujarab kayak salep :D

      Mbak Indria juga bisa berbagi pengalmaan nih... :)

      Delete
  6. wah, guru apa dulu mbk< aku baru memulai resgin nih, pengen totalitas menulis:) sip deh ilmunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mbak Naqiyyah... aku dulu ngajar Bahasa Inggris, di SMP dan SMA (gantian).
      Semangat, Mbak, semangaat... hehehe... :)

      Eh, iya, terima kasih atas tambahan dari Mbak Naqiyyah (y)

      Delete