Follow Us @agnes_bemoe

Friday, 13 December 2013

My Writer's Block Moment

December 13, 2013 2 Comments
Selamat pagi :)

Saya bukan orang yang percaya sama "writer's block". Saya suka geregeten kalau ada yang membesar-besarkan masalah ini.

Tapiiii.....

Begini, sudah terhitung beberapa bulan ini otak saya buntu. Buntu. Hasrat untuk mengetikkan sesuatu seperti raib begitu saja. Saya pikir saya pasti jenuh dengan tulisan fiksi. Saya pun mencoba menulis naskah non-fiksi.

Ternyata, setengah mati saya berusaha mencambuk diri saya untuk menulis, tapi rasanya tetap mampat! Yang paling membuat sedih adalah naskah tersebut bukan naskah saya sendiri, tapi naskah seorang teman baik saya. Jadi, alih-alih membantu teman, saya malah lebih merepotkannya lagi. Sungguh, tidak ada yang bisa menggantikan kekacauan yang sudah saya buat. I felt terribly bad.

Walaupun demikian, saya masih juga berkeras. Setiap pagi membuka komputer dan mulai mengetik kata-kata pertama yang terpikir. Berhasil? Tidak.

Saya mencoba berkelana ke media sosial. Cerita beberapa teman tentang refreshing dengan bantuan media sosial layak saya coba. Bagi saya cara ini ternyata belum membuahkan hasil. Otak saya masih juga buntu.

Sampai ketika saya tidak bisa lagi duduk dan terpaksa berbaring seharian di tempat tidur.

Kerjaan saya hanya membaca novel dan nonton tv. Tambahan, satu lagi pekerjaan saya adalah menatap langit-langit kamar saya... hehehe..... Sama sekali saya tidak  membuka komputer karena memang tidak bisa.

Lalu entah kapan mulainya. Tiba-tiba saya merasa memikirkan suatu cerita di kepala saya. Awalnya hanyalah lontaran potongan cerita. Lalu lama-lama membentuh suatu cerita utuh. Anda tahu kan? Saya dapat ide menulis!!

Berbulan-bulan saya berkeras tidak mau melepaskan diri saya dari komputer dan berusaha memaksa ide di kepala saya. Ternyata cara itu tidak berhasil untuk saya. Sebaliknya berbaring "tak berdaya" di bawah langit-langit kamar ternyata mengundang si ide untuk datang!

FYI saya dapat ide dua buah cerpen dan dua buah konsep novel. Not bad kan?

Nah, balik lagi di "writer's block", okelah, saya mengakui ternyata hal itu terjadi pada saya... hehehe... Tapi, tetap, saya tidak mau membesar-besarkannya. 

Mungkin lain kali saya mendapat cara lain lagi, saya tidak tahu. Yang penting work it out, not just talk about it. Setuja kan?

***

Pekanbaru, 14 Desember 2013
@agnesbemoe

Thursday, 12 December 2013

I SHOULD NOT COMPLAIN

December 12, 2013 0 Comments
Selamat pagi :)

Saya bukan orang yang suka mengeluh. Paling tidak, sebisa mungkin tidak mengeluh (apalagi di depan umum).

Tapi, ada kalanya mengeluh adalah pelepasan yang paling melegakan. Ada kalanya muncul rasa nelangsa, cemas, kawatir, menyesal, dan perasaan-perasaan negatif lainnya,

Tapi (lagi), sebanyak saya mulai mengeluh, sebanyak itu juga Tuhan sepertinya mengingatkan: you shouldn't complain.

Ini beberapa peristiwa yang menggugah saya. (Catatan: mudah-mudahan saya bisa menyampaikannya dengan baik sehingga tidak menimbulkan kesan "Untuuuuung gue ga sampai segitunya! Masih enak gue dong!". Rasa "syukur" yang arogan karena didapatkan dari penderitaan orang lain. Saya ingin menyampaikan bahwa "dalam hal ini saya tidak sendiri. Banyak teman saya dan saya pun bisa jadi teman mereka")

Awal-awal ketika saya belum rutin ke rumah sakit, saya sudah merasa bosan dan cemas, dll, karena sepanjang hari hanya bisa tergeletak di tempat tidur. Biasa deh, keluhan sekelas "kenapa terjadi pada saya" blah blah blah menari-nari di kepala saya. Lalu, saya menonton berita tentang badai Haiyan di Filipina. Badai datang tiba-tiba, menghancurkan siapa saja dan apa saja. Menyaksikan tayangan itu hati saya teriris. Bencana dahsyat datang tanpa mereka sempat berpikir. Sangat mengenaskan melihat anak-anak lari ketakutan di tengah guyuran hujan. Aduh, Tuhan.... Saya malu sempat mengeluh, biarpun hanya dalam hati.


Ketika sudah rutin ke rumah sakit, saya sempat terpikir betapa repotnya diri saya: "menyeret diri" (karena memang tidak bisa berdiri/berjalan lama), harus tergantung pada driver, dll.
Suatu hari saya mendengar percakapan pasien di sebelah saya. Catatan: ruang perawatan hanya dibatasi oleh tirai jadi semua percakapan terdengar.
Pasien ini berasal dari Perawang (jauh banget dari Pekanbaru). Di Perawang tidak ada fasilitas fisio terapi. Satu-satunya yang ada hanya Pekanbaru. Dari Perawang ke Pekanbaru mereka harus ganti kendaraan empat kali! Untuk berobat, suami pasien harus tidak bekerja hari itu (saya menangkap kesan suaminya adalah buruh harian atau sejenisnya, pokoknya yang dibayar berdasarkan kehadiran setiap hari). Aduh mak! Terbayang di mata saya perjuangan suami istri ini dari Perawang ke Pekanbaru demi kesembuhan....

Masih di rumah sakit.
Rupanya banyak juga pasien fisio terapi yang masih anak-anak. Suatu hari, pasien penuh sementara suster jaga hanya satu orang. Biasanya tiga orang tapi yang dua orang lagi sedang visit pasien yang rawat inap.
Nah, ada pasien anak yang tidak berhenti menangis. Rupanya, dia tidak hanya sudah kesakitan tetapi juga juga bosan karena belum juga ditangani.
Rasanya saya bisa mengerti kalau si anak ini tidak berhenti menangis. Suasananya memang amat sangat tidak menyenangkan, apalagi buat seorang anak. Saya juga jadi berpikir, kenapa ya saya masih juga berpikir "why me?" Ada seorang anak kecil yang sebenarnya sedang senang-senangnya berlari dan bermain tapi harus melewatkan waktunya di rumah sakit yang tidak menyenangkan. Mengapa saya tidak mencoba jadi "the grown up" dan berhenti "menangis".

Beberapa peristiwa lagi seolah mencubit kesadaran saya. Complaining is the last thing I need to do. Jadi, terima kasih untuk orang-orang di sekitar saya. Saya berdoa juga untuk kesembuhan mereka. Semoga Tuhan tetap memberikan kekuatan dan penghiburan. Amin.

***

Pekanbaru, 14 Desember 2013
@agnesbemoe


Akhirnya, Ke Therapist

December 12, 2013 0 Comments
Tulisan saya sebelumnya jelas tulisan yang ke-pede-an :D 

Saya menyangka sudah terlewat dari masalah dan bisa melanjutkan hidup. Nyatanya, sakitnya hanya reda sebentar kemudian muncul lagi. Begitu seterusnya setiap hari sampai saya putus asa. Akhirnya, saya pun menyetujui usulan untuk pergi ke therapist.

Ya, awalnya saya berkeras penyakit ini akan reda sendiri. Saya tunggu satu hari, dua hari, satu minggu, dua minggu, tidak juga reda. Sampai sudah satu bulan!

Saya melihat, satu bulan itu banyak sekali yang terbengkalai.

Lulu, Xenia saya yang cantik, jadi tidak terurus. Padahal pada saat yang sama ada masalah dengan ban-nya. Bodynya juga sudah kotor sekali. Sedih melihatnya.

Pekerjaan utama saya sebagai supir tidak dapat saya kerjakan, berarti orang-orang yang biasa saya antar jemput harus jumpalitan mencari jalan keluar.

Beberapa ide menulis tidak bisa saya eksekusi dengan perasaan puas.

Dan yang terpenting, dua orang doggie saya tidak bisa lari pagi. Ini sangat menyedihkan buat saya. Mereka butuh lari pagi untuk melepaskan frustrasi dan stress. Rumah saya terlalu kecil untuk jadi tempat mereka lari-lari. Melepas mereka keluar tanpa pengawasan sama saja menyerahkan mereka ke tangan para jagal....

Akhirnya, dengan segala pertimbangan itu, saya ke therapist (fisio terapi) 2 Desember 2013 lalu.

***

@agnesbemoe
Pekanbaru, 13 Desember 2013

Thursday, 14 November 2013

Ga Bisa Duduk! AAWW!!

November 14, 2013 2 Comments
Sudah seminggu ini, sejak tanggal 6 November, saya tergeletak di tempat tidur, tidak bisa duduk.

Setiap kali mau duduk, saya pasti menjerit-jerit kesakitan. Rasa sakit itu menusuk di daerah pantat, menjalar sampai paha belakang, belakang lutut, lalu betis.

Apa pasal?

Kursi!

Ya, inilah kebodohan tingkat internasional saya. Karena tidak memprioritaskan kursi, saya menanggung akibatnya.

Ceritanya begini.

Beberapa bulan lalu kursi untuk mengetik (semacam kursi kantor sederhana) milik saya rusak. Alih-alih mengganti dengan kursi sejenis saya malah menggunakan kursi plastik yang biasanya untuk teras. Supaya agak tinggi, saya sumpal dengan bantal.

Kursi semacam itu ternyata memang bukan untuk bekerja. Sumpalan bantal bukannya membantu, malah memperparah (kata sumber internet yang saya baca). Berat badan saya tidak tersangga dengan merata. Akibatnya ada otot yang bekerja lebih berat dari seharusnya.

Ini diperparah dengan "jam kerja" (eh, jam main deng...) yang mulai gila-gilaan. Dulu, saya menetapkan jam 8 - 15 untuk mengetik, dengan selingan makan siang. Lalu, karena saya merasa bisa meneruskannya sampai jam 18.00, saya tarik lagi jam main saya sampai jam itu.

Nah, jadi setiap hari hampir 10 jam saya duduk di kursi yang sebenarnya tidak sehat.

Hasilnya? Seperti yang saya ceritakan di atas. Saya tidak bisa lagi duduk.

Tentu saja tidak langsung parah. Sebelum-sebelumnya saya sudah merasakan 'cekot-cekot' di daerah pinggang bawah. Tapi, bila saya bawa baring sebentar, pasti hilang. Karenanya, saya tidak menganggap serius. Sampai itu tadi, tidak bisa duduk sama sekali.

Hari pertama, kedua, dan ketiga pun saya belum menganggap serius rasa sakit ini. Paginya hari pertama saya masih lari pagi dengan doggies saya lalu jalan-jalan kecil. Saya masih nyupir biarpun terasa sakit sekali kalau mau duduk. Pikir saya, kalau saya gosok dengan krem pereda rasa sakit, pasti hilang juga sakitnya.

Akhirnya, karena rasa sakitnya tidak juga berkurang, dan bukan hanya tidak berkurang, malah semakin parah, saya memutuskan untuk mengalah. Yang saya katakan semakin parah adalah saya tidak tahan berdiri lebih dari 15 menit, tidak bisa duduk sama sekali termasuk kalau mau ke belakang. Saya kesulitan memakai pakaian dalam. Saya tidak bisa mencondongkan tubuh saya untuk meraih sesuatu (bisa, tapi harus pelan-pelan sambil meringis-meringis).

Bersamaan dengan itu saya kena flu dan batuk. Setiap kali bersin atau batuk, saya seperti dicambuk. Sakitnya terasa di otot pantat!

Saya menyerah.

Hari Minggu saya tidak kemana-mana. Total baring di tempat tidur. Makan di tempat tidur. Minum di sana.

Pesan dari otot saya terima: "I meant it!" he said. Ya udah... I surrender...

(bersambung)

Pekanbaru, 15 November 2013
@agnesbemoe

Wednesday, 13 November 2013

REVIEW Atas NINO

November 13, 2013 0 Comments


Hari Minggu (10/11) Kompas Minggu memuat review buku "Nino, Si Petualang Cilik". Wow! Senangnya! 
Review ditulis oleh Astri Damayanti. Terima kasih ya, mbak Astri.

Terasa lebih bangga karena dimuatnya persis di Hari Pahlawan!

Hari Pahlawan mengingatkan kita pada perjuangan arek-arek Suroboyo untuk mempertahankan Indonesia. Indonesia yang bagaimana? Indonesia yang dari Sabang sampai Merauke, beragam suku, budaya, AGAMA, bahasa, dan lain-lain.

Biarpun yang berjuang saat itu arek-arek Suroboyo, tapi sampai detik ini mereka tidak pernah mengklaim perjuangan itu hanya untuk Surabaya. Mereka berjuang untuk Indonesia.

Sedihnya, sekarang ini semakin banyak orang yang menganggap bahwa Indonesia yang beragam itu tidak ada. Yang ada adalah Indonesia yang seragam. Perjuangan di masa lalu dinafikan, atau diklaim sebagai perjuangan sekelompok orang saja. 

Entah apa yang bisa membuka kembali pikiran orang-orang picik ini....

"Nino, Si Petualang Cilik" berisi tentang keragaman Indonesia. Fakta yang coba disangkal. Kondisi yang sedang diseragamkan. Merujuk pada perjuangan arek-arek Suroboyo di masa lalu, semoga si kecil Nino mampu melawan arus pembodohan melalui penyeragaman yang sekarang sedang hot-hotnya terjadi di Indonesia ini.

Separuh hati pesimis. Separuh lagi masih memupuk asa. Semoga Tuhan menyertai Bangsa Indonesia, menjauhkannya dari bencana dan kesulitan. Juga, semoga Tuhan memberikan istirahat yang kekal untuk para pejuang kemerdekaan, terutama para pejuang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Pekanbaru, 14 November 2013
@agnesbemoe

Friday, 25 October 2013

Wednesday, 23 October 2013

COBER OCTOBER: BUY 2 GET 3!

October 23, 2013 2 Comments


Karena ada beberapa teman yang pingin beli "Nino, Si Petualang Cilik" dan "Aubrey" sekaligus, maka saya tergerak untuk sekalian membuat promo COBER OCTOBER untuk 10 (SEPULUH) teman yang berminat.




  • 1 exp. "Nino, Si Petualang Cilik" berharga Rp. 77.000,-
  • 1 exp. "Aubrey dan The Three Musketeers" berharga Rp. 32.000,-
  • Beli sekaligus dua buku di atas, teman-teman mendapatkan GRATIS 1 buku "Pita, Si Pipit Kecil / Pita, The Little Sparrow) senilai Rp. 35.000,-
  • Ongkos kirim via TIKI ditanggung oleh pembeli ya...



Teman-teman yang berminat, hubungi saya di message fb www.facebook.com/agnes.bemoe. Saya tunggu ya...



Info detail tentang buku-buku di atas ada di sini:

Salam,
Pekanbaru, 24 Oktober 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Tuesday, 8 October 2013

Aubrey dan The Three Musketeers

October 08, 2013 0 Comments


CINTA PADA BINATANG PELIHARAAN BISA MEMBAWA KEAJAIBAN DALAM HIDUPMU!

Dian super kaget. Ia mendengar desas-desus bahwa Aubrey, teman sebangkunya, sakit AIDS! Astaga! Kalau ketularan, bagaimana?

Tapi, masa sih Aubrey betulan sakit AIDS? Dan, aduh! Dian ditunjuk menjenguk Aubrey.
Tapi, ternyata mereka malah asyik mengobrol tentang anjing. Aubrey pemilik anak anjing imut bernama Imot. Dian memiliki anjing cacat bernama Three-Pot.

Hmm… apakah Imot dan Three-Pot membawa keajaiban untuk Dian dan Aubrey. Kisah keempatnya lucu dan mengharukan!


Seperti seri Pet-0-Love-Gic lainnya, buku ini dilengkapi tips memelihara anjing dan ilustrasi unik pada setiap halamannya.


=====

Sudah baca "Koci, My Frienemy" dan "Gecho, Gecko Macho" tulisan Dian Kristiani kan?

Nah, "Aubrey dan The Three Musketeers" ini adalah buku ketiga dari serial Pet-0-Lov-Gic. Sama seperti Koci dan Gecho, Aubrey juga menceritakan tentang persahabatan. Aubrey, Dian, Imot, dan Three-Pot masing-masing berbeda sekali. Tetapi, persahabatan yang tulus ternyata menyatukan mereka. 








***

Pekanbaru, 8 Oktober 2013
@agnesbemoe

BEHIND THE SCENE [BTS]: SEPERTI TERPERANGKAP DI ROLLER-COASTER RUSAK! (Bagian ke-2)

October 08, 2013 0 Comments
Sambungan dari tulisan ini.

Seperti habis mendapatkan wahyu, aku pun menulis ulang "Aubrey". Nyaris seperti kesetanan. Aku ingat, jari-jariku sampai kaku! (Lagi-lagi: lebay! :D)


Tidak percuma, naskahku akhirnya diterima. Ada revisi sih, tapi sedikit sekali. Syukurlah!




MASIH MAIN ROLLER COASTER, RUPANYA!

Naskh selesai, lanjut dengan ilustrasi. Sambil naskah diilustrasi, aku leyeh-leyeh. Lega rasanya bisa menyelesaikan sesuatu yang aku kira aku tak bisa mengerjakannya.

Lalu, ada berita, ada masalah dengan proses ilustrasi. Perasaanku waktu itu: tenang. Aku pikir, biasa sih, kalau ada masalah di salah satu bagian prosesnya. Aku hanya berharap bisa segera diselesaikan. Terus terang, aku malah kasihan sama mbak editornya, kalau sampai ilustrasi bermasalah sama sekali.

Syukurlah, akhirnya masalah terselesaikan. Fiuh! Ikut lega juga. Berarti tinggal membuat kaver kemudian naik cetak. 

Lalu, datanglah swing terakhir dari permainan roller coaster ini. 

Berdasarkan beberapa pertimbangan point-point tentang HIV/AIDS harus diubah. 

Kali ini aku tidak berhasil untuk tetap tenang. Rasanya seperti di-embrug-i awan cumulus.

Oke deh, kalau diubah, ya diubah. Semalaman aku mengotak-atik naskahnya karena sudah dikejar target terbit. Untunglah, mbak editor membantu dengan menyuplai banyak ide. Pagi-pagi buta, sekiar jam 2 mungkin, naskah kukirim. Sempat down, kalau revisi tidak diterima dan tidak jadi terbit, ya sudah lah... 


Keesokan harinya, dalam kondisi masuk angin berat (maklum, sudah tidak pernah lagi begadang), aku dikabari bahwa revisi diterima. Syukurlah! Tidak sanggup membayangkan bagaimana kalau ternyata masih harus diubah lagi....





HAPPY ENDING

Buku cerita dan novel yang kutulis masih sangat sedikit. Baru 2 kumpulan cerita dan 1 novel anak, yakni "Aubrey" ini. 

Dari yang sedikit itu, proses penulisan novel "Aubrey" inilah yang paling "rruarr biasa"! Mulai dari penulisan awal sampai dengan detik-detik terakhir, sepertinya ada saja halang rintangnya.

Tapi, aku suka banget sama prosesnya ini. Kenapa? 1) Prosesnya cepat. Dari April, Oktober sudah terbit. 2) Ini nih yang paling aku suka. Aku suka sama mbak editornya! Beliau itu sabar dan kreatif sekali. Lalu komunikatif juga. Jadi, aku sebagai penulis merasa dibimbing banget. 

Jadi, seberapapun perutku terasa "mual" karena "roller-coaster" ini, aku tetap senang! Happy Ending untuk cerita proses penulisan novel "Aubrey" ini.

Lalu, novelnya sendiri, happy-ending, tidak? Idih! Baca bukunya dong.... :D


***

Selesai


Pekanbaru, 8 Oktober 2013
@agnesbemoe

Monday, 7 October 2013

BEHIND THE SCENE [BTS]: SEPERTI TERPERANGKAP DI ROLLER-COASTER RUSAK!

October 07, 2013 0 Comments
Itulah yang aku rasakan tentang proses penulisan novel anak "Aubrey dan The Three Musketeers"!



IDE AWAL

Padahal, ide ceritanya aku dapatkan dengan relatif mudah lho. 

Pembaca pasti tahu lagu "Aubrey" yang dinyanyikan oleh Bread itu kan? 
Suatu siang, lagu itu seperti terus mengiang-ngiang di telingaku. Maka, seharian aku memutar lagu itu lewat Youtube. 

Sambil mendengarkan lagu ini, entah bagaimana, terbayang seorang tokoh anak perempuan bernama Aubrey. Lalu, entah bagaimana juga, sepertinya ada potongan-potongan cerita yang mendesak di kepalaku, minta ditulis.

Maka, menulislah aku. Jadi, sebuah cerpen anak. Tokohnya Aubrey, penderita sakit AIDS. Dia bersahabat dengan tokoh "aku" yang bernama Dian. Dian berusaha menemani Aubrey dalam sakitnya. Diantaranya, Dian menjadi pemasok cerita buat Aubrey, lalu Aubrey yang menggambar cerita itu. Di akhir cerita, Aubrey meninggal. Sebelum meninggal ia meninggalkan sebuah gambar untuk Dian. 

Suwer, waktu menulisnya, aku sering merasa tercekat-cekat kerongkonganku (hehehe... lebay yah...).

Setelah cerpen jadi, aku merasa lega. Tapi, hanya sebentar. Karena si Aubrey seperti belum mau pergi dari pikiranku!

HAMPIR DI-DO DI KELAS MENULIS



By the way, aku menulis cerpen itu pada November 2012. Biarpun ada desakan untuk menulis lagi, tapi kuabaikan. Aku belum tahu mau ditulis seperti apa. 

Awal tahun 2013 aku diberi tahu oleh Dian Kristiani (penulis cerita anak, penulis cerita gokil, penulis buku psikologi populer) bahwa ibu Ary Nilandari akan mengadakan kelas menulis, salah satunya kelas penulisan novel anak. Dian menyarankan aku untuk ikut.

Merasa punya materi tapi tidak tahu cara mengembangkannya, aku pun mendaftar.

Aku mendaftar untuk 2 kelas, sebenarnya: penulisan novel anak dan penulisan pictorial-book. Sadar tidak terampil dalam multi-tasking, aku sengaja menyelesaikan dulu tugas-tugas pictorial book. Pertimbanganku, setelah itu selesai, aku bisa konsentrasi di novel anak. 

Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Selesai dengan pictorial-book, aku menerima kabar bahwa ibuku sakit. Catatan: ibuku tinggal di Maumere, Flores. Karena tidak ada anak dan menantunya yang bisa mengurusi ibu yang sedang kritis, aku memutuskan untuk pulang kampung.

Urusan menulis novel dengan pasrah kutinggalkan. Aku menyampaikan pada bu Ary Nilandari tentang hal ini.

Hampir sebulan aku di Maumere. Ketika kembali, aku melihat teman-teman sekelas sudah jauh sampai bab-bab akhir. Beberapa malah sudah selesai. Oh no! Waktunya sudah mepet. Biarpun aku menulis secepat Lucky Luck menembak pun pasti tidak akan bisa mengejar batas akhir waktu belajar. 

Ternyata, bu Ary Nilandari bersedia membantu. Biarpun waktu belajar sudah habis, beliau bersedia memeriksan dan mengoreksi naskahku. Hore! Semangatku timbul lagi!




DILAMAR
Tidak berapa lama setelah itu, Dian Kristiani menawarkan, kalau-kalau aku mau menawarkan novelku untuk Penerbit Kiddo. Mereka sedang membuat proyek novel anak bertemakan hewan peliharaan. Wow! Pengin, tapi, bisa ga ya... hehehe...

Aku pun mengirimkan bagian pertama dari novelku ke Penerbit Kiddo. Ternyata, diterima! Yeay!

Eh, tapi jangan girang dulu. Diterima dengan sekian banyak catatan. 

Karena proyeknya tentang hewal peliharaan, aku harus memasukkan hewan peliharaan dalam cerita. Kemudian, novel ini nantinya akan dibuat semacam illustrated-novel begitu. Jadi, isinya mesti benar-benar cair dan bisa diilustrasikan.

Untuk yang pertama, aku tidak keberatan. Seperti kata Dian waktu menawarkan ini, aku adalah penggila anjing. Pasti aku punya banyak cerita tentang anjing. Oke, jadi yang pertama, tentang hewan peliharaan, checked!

Yang membuatku pingsan adalah yang kedua: mengubah gaya bercerita!

DISELAMATKAN OLEH KOCI
Begini, biarpun ada kesan aku ini orang yang 'ramai', tapi sejujurnya, I'm not! Banyak yang tidak percaya. Kedengarannya aku hanya mendramatisir suasana, biar gimanaaa gitu... hehehe....

Nah, jadi, sewaktu diminta untuk membuat gaya tulisan yang rada-rada gokil lengkap dengan ilustrasi yang "lebay" aku pingsan.... Itu adalah area tak nyamanku!

Pertama, novel Aubrey sendiri awalnya ingin kutulis dengan gaya bercerita yang "dull", suram, dingin. Itu karena topik yang aku angkat juga "serem", yakni tentang anak pengidap HIV/AIDS. Kedua, menulis dengan gaya-gaya "dingin", "dull", itu sepertinya aku banget. 

Okelah, karena aku sudah setuju, aku berusaha memprogram ulang diriku. 




Aku beli buku-buku serial Wimpy. Tujuanku supaya aku bisa meresapkan "kegilaan"-nya. Berhasil? Tidak! Berulang kali naskahku dikembalikan oleh mbak editor yang baik hati. Beberapa karena aku harus mengurangi porsi tentang penyakit dan memperbanyak porsi tentang hewan. Beberapa lagi karena gaya berceritaku yang masih terlalu kaku. 

Awalnya, aku pe-de berat bisa menyelesaikan novel ini dengan cepat. Faktanya? Aku tewas dengan sukses!  Sampai akhirnya, mbak editor (yang sudah sangat bersabar dengan kelambananku)  menyodorkan sebuah naskah cerita. 

Kubaca naskah itu langsung saat itu juga. Dan, heran, sambil membaca, seolah-olah katup-katup yang menyumbat otakku berloncatan keluar. Mengalirlah gambaran tentang ceritaku sendiri!

Maka, mulailah aku menulis lagi! Heran! Beberapa buku terjemahan tidak mampu menggetarkan otakku. Tapi, satu naskah asli dalam negeri malah langsung membuat kepalaku bergoyang dombret... hehehe...

Naskah apakah yang jadi malaikat penolongku? Tidak lain dan tidak bukan adalah naskah "Koci, My Frienemy" tulisan Dian Kristiani!

***

(bersambung ke sini)

Pekanbaru, 8 Oktober 2013
@agnesbemoe


Saturday, 14 September 2013

JUST SAYING [JS]: "VICKYSISASI" DALAM DIRI KITA!

September 14, 2013 0 Comments
Gaya bahasa H alias VP yang bertabur istilah bahasa Inggris marsamburetan bikin heboh Indonesia.

Saya sendiri terpingkal-pingkal sakit perut waktu mendengar pertama kali dan masih suka terpingkal-pingkal kalau mendengarnya lagi. Jujur, lucu banget!

Tadi pagi saya berkelana dari grup ke grup di sebuah media sosial. Saya tertarik pada komentar, postingan, ataupun status beberapa orang. Tertarik, karena merasa menemukan VP yang lain. Bedanya, VP dengan "lugunya" mengumbar segala istilah yang ia ketahui dalam satu percakapan. Sementara, sebagian dari kita lebih hati-hati dan menahan diri dan memakainya. Tapi, bolehkah saya menyimpulkan: dorongannya sama. 

Sama-sama ingin terkesan lebih dengan menggunakan kata-kata yang dianggap lebih keren. Hasilnya sama: inflasi makna kata. Eh, kalau pada saudara VP mungkin sudah bisa dibilang penyimpangan makna kata kali ya, karena jauh banget dari arti sebenarnya :p

Berikut ini beberapa kata yang menurut saya penggunaannya kurang tepat. 
  1. "Pencerahan" yang digunakan untuk maksud "informasi". Sering saya mendengar komentar: "Terima kasih atas pencerahannya". Padahal yang dimaksud hanya sebuah informasi tentang alamat, misalnya. Atau, "Mohon pencerahan tentang jumlah halaman untuk sebuah novel". Terus terang, saya suka gregeten kalau ada yang memakai kata "pencerahan" untuk makna "informasi". Menurut saya sih, pencerahan itu jauh lebih dalam, lebih spiritual dari pada sekedar tahu tentang sesuatu.
  2. "Alibi" yang digunakan untuk makna "alasan". Entah sejak kapan alibi bermakna alasan. Alibi adalah "tidak berada di suatu tempat pada suatu kejadian". Ini tidak serta merta sama artinya dengan alasan. Banyak penulis menggunakan kata "alibi" untuk makna "alasan". Banyak juga penerbit (editor, dalam hal ini) yang meloloskan kata "alibi" untuk makna "alasan".
  3. "Diksi" yang digunakan untuk makna "kata". Menurut saya diksi jauh lebih kompleks daripada kata. Lagi-lagi, banyak penulis yang menggunakan "diksi" untuk pengertian yang maksudnya "kata".
  4. "Jibaku" untuk arti "berjuang". Untuk hal ini, saya mendapat penegasan dari artikel yang ditulis oleh alm. Veven Sp. Wardana di majalah Tempo. "Jibaku" artinya "mengorbankan diri" dan tidak serta merta berarti "berjuang".
  5. "Diva" untuk arti "penyanyi terkenal". Kalau saya tidak salah "diva" maknanya adalah penyanyi sopran utama. Kalau digunakan sebagai nama grup atau merk, saya rasa masih bisa diterima. Tapi lalu, beberapa penyanyi yang "sedikit" terkenal langsung dijuluki "diva"? Wah!
  6. Kasus: saya menemukan seseorang memberikan komen sebagai berikut: "Ini merupakan pemaparan eksperimentasi yang hebat." Saya sempat terhenti di kata "eksperimentasi". Benarkah kata eksperimen di sini masih butuh akhiran -asi lagi?
  7. Kasus lain: ada yang menggunakan kata "idealisme" ternyata maksudnya hanyalah untuk makna "cita-cita". Lagi-lagi, menurut saya idealisme itu lebih dalam daripada sekedar cita-cita. Kalau ditanya apa idealisme saya sebagai penulis, saya mungkin harus berpikir panjang untuk merumuskannya. Yang jelas, saya tidak akan menjawab: saya akan menjadi penulis buku anak. "Penulis Buku Anak" masih dalam daerah cita-cita saya.
Apa lagi ya? Itu mungkin yang sempat terekam oleh saya. 

Intinya, kita masih merasa kurang nyaman kalau belum memakai istilah asing (entah bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Jepang, dll), padahal padanannya ada dalam Bahasa Indonesia. Tidak sekedar kurang nyaman, kita lalu memakainya dengan membabi buta. Hasilnya adalah "prostitusi verbal" ---> Hoaaa... kalau istilah terakhir ini saya comot dari komentar salah seorang di media sosial atas video VP!

***

Pekanbaru, 14 September 2013
@agnesbemoe

Thursday, 12 September 2013

NINO dan NINO

September 12, 2013 2 Comments

Nino dan Mariano (Nino)

MARIANO was apple of my eyes. Lahir di Dumai, 31 Agustus 2001, pk. 23.00, kami memanggilnya NINO.

Sebagai puppy, ia tergolong puppy yang baik. Tidak merusak barang seperti puppy pada umumnya. "Kenakalannya" yang paling hebat adalah mengejar stock pel kalau kami mengepel lantai.

Nino jadi usil malah setelah remaja. Mungkin, karena rumahku kecil (waktu sudah pindah ke Pekanbaru) dan aku jarang (baca: tidak pernah) mengajak dia jalan. Frustrasi karena energi tidak tersalurkan membuatnya nakal. Korbannya adalah segala perabotan rumah, CD, remote, sampai dengan Nokia limited edition-ku dan kamera Olympic! Yo wes, that was my fault after all.

Tapi, Nino tidak seluruhnya nakal. Aku selalu tersentak menerima sifat penuh pengertiannya. Duluuu, aku pernah begitu bingung sampai diam-diam menangis. Satu rumah tidak ada yang tahu kalau aku menangis. Yang tahu hanya: Nino. Dia tiba-tiba bangun, menghampiri aku dan mencium-cium, seolah-olah bilang: "It's okay, Mami, everything is gonna be allright!"

Dulu, waktu aku masih jadi guru, kadang-kadang kan ada kegiatan (seminar, rapat, dll) sampai malam. Nino tidak akan masuk rumah sebelum aku datang. Dia tungguin aku di gerbang samping. Biarpun dibujuk-bujuk untuk masuk, dia tidak mau. Kalau aku pergi ke luar kota, setiap hari aku harus telpon. Telpon itu didekatkan di telinganya. Katanya, begitu dia dengar suaraku, baru dia mau masuk rumah. Sulit dipercaya ya, tapi itu yang terjadi....

Waktu hari-hari pertama aku sudah tidak mengajar lagi, Nino itu mendekati aku, dengan wajah seolah-olah bertanya: Kok mami di rumah? Mami nggak ke sekolah? Trus dia duduk di samping kursiku selagi aku ngetik. Satu rumah dengan empat ekor anjing (waktu itu) hanya Nino yang sadar there were something different going on in this house (mudah-mudahan bahasa Inggrisku betul nih :p)

Biarpun badannya super besar dan super berat, Nino patuh kalau diperintah. Padahal kalau dia melawan, aku juga tidak bisa melawan balik... hehehe... Memandikannya tidak susah. Kalau dia nakal, kemudian ditegur, dia pasti tunduk. Kadang-kadang lucu melihat kepatuhan di balik muka sangarnya itu.

Buanyak sekali hal-hal luar biasa yang aku alami bersama pangeran kecilku itu. Makanya, rasanya devastated banget waktu dia pergi....

Tidak tahu kenapa, waktu aku cari tokoh anak laki-laki untuk kumcer tentang backpacker, aku langsung teringat nama NINO. Sama sekali tidak ada alternatif lain yang terpikir! Dan aku bersyukur memilih nama itu. Nino, yang pergi 26 April 2013 kemarin, seolah "hidup lagi" (biarpun aku tahu, ia tetap tidak tergantikan).

Aku bangga, bisa mengabadikan Nino dalam buku tulisanku. Aku bangga Nino melanglang ke seluruh pelosok Indonesia. Nino wasn't apple of my eyes anymore. He IS always apple of my eyes!

***

Baca juga Behind the Scene (BTS) Nino, Si Petualang Cilik
Informasi detail tentang buku Nino, Si Petualang Cilik ada di sini.

Pekanbaru, 13 September 2013
Yang menyayangimu: Mami
@agnesbemoe

Saturday, 7 September 2013

BEHIND THE SCENE [BTS]: NINO, SI PETUALANG CILIK

September 07, 2013 2 Comments


Ada cerita yang harus dicari-cari idenya. Ada yang idenya datang sendiri, bahkan seperti "maksa" masuk ke kepala.

Cerita "Nino, Si Petualang Cilik" ini salah satu contohnya.

Waktu itu (setahun yang lalu) saya sedang sibuk membantu teman menyusun ensiklopedi populer untuk anak. Selagi stress-stressnya, entah kenapa, muncul ide untuk menulis tentang Pasola (Catatan: Pasola adalah tradisi adu lempar lembing sambil mengendarai kuda di Sumba, NTT). Karena saya sedang dihantui deadline, maka ide itu saya tinggalkan.

Setelah kelar tulisan ensiklopedi, saya masih mengerjakan sebuah tulisan lagi. Tulisan yang ini tidak bisa saya tinggalkan karena sudah janji dengan seseorang. Terpaksa ide tentang Pasola Sumba tadi saya kesampingkan dulu. 

Nah, pada bulan Juli tahun lalu, ketika sudah benar-benar lowong, saya mulai menulis-nulis (P.S: saya bukan tipe multitasker, jadi kesulitan kalau mengerjakan lebih dari satu tulisan bersamaan.)


Biarpun si ide yang datang sendiri bukan berarti eksekusinya selancar main plurutan. Awalnya saya ingin tokohnya adalah hewan khas dari Indonesia. Maksud saya sekalian promosi hewan khas Indonesia. Awalnya saya pilih komodo, lalu ganti dengan kuda Sumba, lalu ganti lagi dengan anoa. Tetapi kemudian semuanya saya batalkan. Saya tidak jadi menggunakan karakter hewan karena mereka tidak seluwes karakter manusia. Terakhir, karakter yang saya pilih adalah manusia.

Untuk nama tokoh, otak saya langsung tersangkut pada nama NINO. Nino artinya anak laki-laki. Nino juga nama "anak" kesayangan saya, seekor border collie yang usil sekaligus lembut hati. Waktu cerita ini ditulis Nino masih hidup. Nino meninggal 26 April 2013 lalu. Buku ini adalah tribute buat Nino.


Setelah jadi satu cerita, timbul ide lain: mengapa tidak sekalian bikin kumpulan cerita. Maka saya pun hunting tradisi-tradisi unik di Indonesia. Terus terang, saya sengaja mencari tradisi di luar Pulau Jawa. Maaf ya Pulau Jawa. Pertimbangan saya, Indonesia Barat, khususnya Pulau Jawa sudah terlalu sering di-ekspose. Kali ini, gantian deh dengan Indonesia Timur.

Setelah mengumpulkan sekian banyak tradisi, saya pilih sepuluh di antaranya. Tidak mudah, karena tradisi di Indonesia bukan main uniknya! Rasanya semuanya bagus untuk diceritakan. 

Nah, saya lalu mulai menulis. Rasanya asyik lho! Seolah-olah saya benar-benar ke tempat yang saya ceritakan: surfing di Nias, melihat kubur batu di Tana Toraja, atau makan jagung bakar dengan kawasan api abadi di Madura! Saya sampai terpikir, kalau punya rezeki, pingin keliling-keliling Indonesia!


Oh ya, dalam proses menulis ini saya banyak dibantu oleh kawan atau saudara yang kebetulan tinggal di tempat tersebut. Mereka mensuplai informasi yang tidak bisa saya temukan di internet. Untungnya, teman dan saudara saya agak tersebar di seluruh Indonesia... hehehe... (berkat media sosial).

Akhirnya, tanggal 24 September 2012 aku memberanikan diri mengirimkan naskah ini ke Penerbit BIP. Ternyata, tanggal 5 Oktober berikutnya, naskah Nino, the Little Backpacer (judul awalnya) diterima! Hurray!

Proses mencari ilustrasi dan proses ilustrasinya juga lancar. Enak sekali bekerja sama dengan Mbak Maya dan Mas Dwi dari Innerchild Studio. Ketika melihat ilustrasi dari Innerchild, saya sampai gemas sendiri. Cuteeee banget! Terasa sekali semangat si Nino sedang berselancar kek, atau sedang main sikoko, atau sedang nonton lomba kerbau rawa.


Yang lama malah antri terbit... hehehe... setelah semuanya beres, ternyata antri terbitnya lama. Saya sempat galau. Suwer. Galau. Terbit kah? Tidak kah? Sampai akhirnya saya memutuskan untuk melupakan....

Tak dinyana, tadi pagi, ketika mengintip BB saya lihat ada kiriman foto dari Mbak Stella Ernes. Eh, ternyata foto "Nino, Si Petualang Cilik" yang SUDAH nangkring di rak toko buku! Syukurlah!

Akhirnya, mudah-mudahan "Nino, Si Petualang Cilik" diterima oleh para pembaca cilik di seluruh Nusantara.

***

Informasi detail buku lihat di sini ya.... 

Pekanbaru, 8 September 2013
@agnesbemoe


Friday, 6 September 2013

AGENSI NASKAH ATAU BERJUANG SENDIRI YA....?

September 06, 2013 0 Comments
Buku Pertama saya: Pita, Si Pipit Kecil
Sebelumnya saya ingatkan bahwa tulisan ini berlaku pada diri saya sendiri. Saya tidak bermaksud menggeneralisasikan.

Pertama kali mencoba menerbitkan buku di penerbit mayor, saya diberi kuesioner yang terus terang membuat saya cegukan. Selain pertanyaan standar tentang kelebihan naskah, quesioner itu menanyakan apakah saya punya komunitas, pembicara di seminar, dll (yang intinya punya pasar).

Quesioner itu membuat saya begidik. Saya nekad mengirimkan naskah dan memang tidak diterima. Belakangan, setelah saya baca lagi naskah saya itu, saya sangat bisa mengerti mengapa penerbit menolak. Naskah saya memang masih mentah sekali (kecuali kalau saya punya pasar sekian ribu orang yang bisa saya paksa untuk membeli buku saya).

Lalu, saya berkenalan dengan agensi naskah. Ada yang terang-terangan menyebut dirinya agensi naskah, ada yang tidak. Hanya dua agensi naskah yang saya ikuti. Biarpun hanya dua, saya mendapat pengalaman yang banyak sekali.

Dari agensi naskah ini pertama kali saya belajar tentang outline naskah. Tidak dipungkiri, saya juga mendapatkan pertemanan yang tidak sedikit melalui agensi naskah.


Namun, lama kelamaan saya merasakan ada sesuatu yang kurang cocok. Sejak awal didengung-dengungkan bahwa "penulis pemula tidak akan bisa diterima oleh penerbit mayor", "hanya melalui agensi naskahlah penulis pemula bisa menembus penerbit mayor". Tentu saja hal ini diperkuat dengan testimoni beberapa penulis pemula yang "berhasil" menembus penerbit mayor melalui agensi naskah.

Oke, saya memang sempat terhenyak dengan quesioner dari penerbit mayor seperti yang saya ceritakan di atas. Tetapi, saya juga kurang setuju kalau jalan keluarnya satu-satunya adalah dengan mengikuti agensi naskah. Sebagai penulis pemula saya memang butuh belajar banyak. Tetapi, saya keberatan kalau dalam posisi belajar itu saya otomatis dianggap tak berdaya.

Hal lain yang membuat saya mengevaluasi keikutsertaan saya di agensi naskah adalah mengenai peran agensi naskah itu sendiri. Setelah mengikuti beberapa pembicaraan di media sosial, saya setuju bahwa agensi naskah di Indonesia sifatnya tidak lebih dari "calo" naskah.

Kalau memang sudah sama-sama setuju, tidak ada salahnya juga memakai sistem calo seperti itu. Yang menjadi ganjalan buat saya adalah kampanye dari pemilik agensi naskah. Berulang kali dikatakan bahwa naskah akan dikemas sedemikian rupa sehingga layak diterima. Kedengarannya menjanjikan ya? Padahal kenyataannya, jauh panggang dari api. Dalam suatu tanya jawab, pemilik agensi naskah sendiri kebingungan mengelaborasi kata "mengemas". Artinya, yang bersangkutan hanya memakai kata yang kelihatannya hebat tetapi tidak untuk dilaksanakan. Kalau memang ternyata naskah tidak dikemas, sebaiknya dikatakan saja terus terang.

Di awal tulisan saya katakan saya ikut di dua agensi naskah. Di agensi naskah yang satunya lagi, pemiliknya tidak terlalu menggembar-gemborkan diri sebagai agensi naskah. Sistem pembayaran dan lain-lain juga kelihatannya lancar. Terbukti dari tidak adanya komplain atau masalah. Saya merasa lebih nyaman di sini. Sayangnya, jenis tulisan yang ditawarkan sama sekali di luar keahlian saya.

Hasilnya: tidak ada satu pun buku tulisan saya yang terbit melalui agensi naskah.

Buku pertama saya yang tembus penerbit mayor


Saya akhirnya mendapat kesempatan menerbitkan buku di penerbit mayor karena kebaikan hati seorang teman.

Kalau sekarang saya ditanya, apakah mau menerbitkan buku melalui agensi naskah, saya katakan: tidak masalah, selagi agensinya tidak yang bertipe neko-neko. Tetapi, sungguh, bukan bermaksud sombong. Saya hanya ingin membantu beberapa penulis yang serius ingin mengetahui kebenaran tentang ini: ketika satu pintu penerbit mayor sudah terbuka, ternyata pintu penerbit lain lebih mudah ditembus. Percayalah!

Asal kita sabar, terus melecut dan memoles diri, menjalin hubungan dengan sebanyak mungkin pihak, saya yakin kebanggaan menembus penerbit mayor dengan usaha sendiri bisa kita nikmati. 


***

Pekanbaru, 7 September 2013
@agnesbemoe.

Tuesday, 3 September 2013

Books Through My Eyes [BTSM]: Scary Outside, Beautiful Inside

September 03, 2013 4 Comments
Judul       : Gecho, Gecko Macho  
Penulis    : Dian Kristiani
Ilustrator : Indra Bayu  
Genre      : Novel Anak  
Penerbit   : Penerbit Kiddo
Halaman  : 110 halaman


Gecho, Gecko Macho, oleh Dian Kristiani


Tak seorang pun berpikir untuk menjadikan seekor tokek sebagai hewan peliharaannya (pet). Tapi tidak untuk Maretta. Ia malah kegirangan waktu mendapat warisan seekor leopard gecko dari Kakek Suwignya, kakek jauhnya.

Leopard gecko? Ya, leopard gecko. Sejenis tokek yang kulitnya totol-totol cantik mirip leopard. 

Secantik apa pun ia, tetaplah seekor tokek, reptil yang tidak semua orang bisa menerimanya. Maka tidak heran kalau Gecho, nama yang diberikan pada si leopard gecko, langsung dapat musuh. Mama dan Kak Angel. Beberapa kejadian membuat Mama dan Kak Angel tidak bisa lagi menerima Gecho di rumah. Papa akhirnya memutuskan untuk menjual Gecho.

Usaha terakhir Etik (panggilan untuk Maretta) inilah yang diceritakan di novel ilustrasi ini.

Novel ilustrasi yang merupakan buku kedua dari empat novel serial Pet-O-Love-Gic ini sangat cocok sebagai "bacaan jembatan" antara membaca cerita bergambar dengan novel. Ilustrasi diintegrasikan ke dalam cerita. Dalam hal ini saya harus angkat jempol pada Indra Bayu, yang ilustrasinya sangat hidup.
Membaca buku ini menjadi tambah menarik karena Dian Kristiani, penulisnya, piawai bercerita. Gaya bahasanya ringan, lucu dan segar. Cerita mengalir tanpa terasa.

Dian Kristiani  pandai membesut karaker-karakternya. Etik yang tomboy, mama dan Kak Angel yang lebay, papa yang gaul, serta Bono yang seru dan kompak jadi hidup di tangannya. 


Moral cerita berupa menyayangi sesama makhluk, baik manusia maupun hewan, disampaikan tanpa kesan menggurui. Novel ini membawa pembacanya untuk tidak menilai berdasarkan penampilan. Atau dengan lain perkataan, tidak usah terlalu mengangungkan penampilan luar. Gecho yang sangar ternyata menjadi penolong bagi Bono. Etik yang "serampangan" ternyata peduli dan peka terhadap teman. Scary outside, beautiful inside.

Novel ini juga membuktikan bahwa lucu/ringan tidak berarti tidak serius. Atau sebaliknya, keseriusan tidak harus disampaikan dengan "lebay bombay". Adegan Etik berbincang-bincang dengan Bono ketika Bono mengetahui ayahnya tidak lagi bisa bekerja malah jadi adegan favorit saya (halaman 76 - 77). Sangat anak-anak! Yang satu curhat, yang lainnya menanggapi dengan lugu dan spontan. Tidak ada drama yang tak perlu. Tidak ada "mentalitas korban" di sini.

Saya juga sangat menikmati pembicaraan antara papa dengan Etik waktu Etik harus melepaskan si Gecho (halaman 83 - 84). Pembicaraan yang komunikatif, cerdas, sekaligus menyentuh antara ayah dan anak.

Saya rasa anak sangat perlu contoh percakapan yang natural dan sehat seperti itu.

Karenanya, saya sangat merekomendasikan novel yang kavernya eye-cathing ini. Anak-anak tidak hanya terhibur, tetapi juga diberi kesempatan mencerap hal-hal positif; kasih sayang, persahabatan, dan keteguhan hati. 

***

Pekanbaru, 3 September 2013
@agnesbemoe

Tuesday, 27 August 2013

Santo Agustinus, Pujangga dari Afrika

August 27, 2013 0 Comments
 
Santo Agustinus, dari Pendosa menjadi Orang Kudus


Melihat beberapa penulis yang membuat promosi lewat video, saya kok jadi kepingin.

Saya coba-coba buat untuk buku anak tulisan saya "Kumpulan Kisah Santo Santa".

Kebetulan hari ini adalah Pesta Peringatan Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja. Kisah Santo Agustinus ada dalam buku saya tersebut. Saya suka cerita Santo Agustinus karena luar biasa pertobatannya! Sebenarnya saya nge-fans sama ibundanya, Santa Monica. Santa Monica berdoa tak kunjung putus buat putranya yang hidupnya amburadul; mabuk-mabukan, penjudi, menelantarkan anak dan istri. Doa tak kunjung putus itu ternyat berbuah manis. Santo Agustinus bertobat, dan bahkan menjadi orang kudus.


Ngomong-ngomong, videonya bisa disimak di sini: Santo Agustinus, Pujangga dari Afrika.

Selamat Pesta Santo Agustinus!

Pekanbaru, 28 Agustus
@agnesbemoe

Thursday, 22 August 2013

MENGENANG BAPAK

August 22, 2013 0 Comments

Hari ini, 26 tahun yang lalu, Bapak meninggal.
Bapak, selalu dan always, tergambar sebagai orang yang kaku dan keras buatku. Padahal, kalau aku gali lagi kenangan-kenangan masa kecil, Bapak tidak selalu seperti itu.

 
Bapak, bir Bintang, dan rokok Gudang Garam

PIANO KECIL
Ini mungkin yang pertama bisa kuingat. Aku tidak tahu berapa umurku. Yang jelas, belum sekolah karena kami masih tinggal di Surabaya. Hari itu aku ulang tahun. Bapak tidak ada. Sepertinya ada tugas ke luar kota.
 

Malam hari baru Bapak datang. Bapak tidak lupa bahwa aku ulang tahun. Beliau bawa sebuah piano mainan, piano kecil sebesar sebuah keyboard. Jaman itu, yang seperti itu adalah yang paling super duper kerennya! Aku ingat, kakak-kakakku iri berat.

RECEHAN DARI KALIMANTAN
Waktu aku SMP Bapak ditugaskan di Samarinda. Kami tidak ikut. Jadi, aku di Pasuruan, Jawa Timur, Bapak di Samarinda. Bapak jarang pulang. Suatu kali, Bapak pulang. Bapak bawa oleh-oleh yang aneh bin ajaib.
 

Kumpulan recehan disimpan di kaleng biskuit!
 

Recehan ini rupanya berasal dari kembalian Bapak kalau beli rokok. Jadi begini, harga rokok waktu itu tidak pas, selalu ada kembalian Rp. 50,-. Nah, setiap kali mendapat kembalian, Bapak menyimpan kembalian itu. Tidak disangka, setelah sekian lama (setahun lebih kalau aku tidak salah) recehannya terkumpul sampai sekaleng penuh biskuit Nissin!
 

Aku merasa, Bapak pasti teringat anak-anaknya biarpun sejauh apa pun beliau ditugaskan.

WAKTU AKU MERAJUK
Ini ceritanya aku SMP. Pas dapat tugas jadi pasukan Paskibra untuk Kabupaten Sumba Barat. Salah satu kewajibannya adalah punya seragam putih-putih, sepatu hitam, kaus kaki putih, dasi hitam, kaus tangan, dll.
 

Apa daya, pas aku lagi sibuk dengan kebutuhanku, pas juga ibuku sibuk dengan Dharma Wanitanya. Beliau tidak sempat mengurusi keperluanku. Maka, merajuklah diriku.
 

Aku berkurung di kamar, marah, menangis, menyesali nasib dengan lebaynya… hehehe…
Sampai malam, akhirnya aku tertidur sendiri.
 

Lalu, aku tidak tahu sudah jam berapa, Bapak masuk ke kamar. Beliau tanya apa saja yang jadi kebutuhanku. Aku bilang blah blah blah… (tentu saja sambil cemberut). Lalu, aku tidur lagi.
 

Besok paginya, aku kaget setengah mati. Di atas meja belajarku sudah ada seragam, kaus kaki, sepatu, dasi, dll. Hah? Berarti Bapak mencari semuanya itu malam-malam? Ya, ampuun!
 

Sampai sekarang, dasi yang dibelikan Bapak masih aku simpan lho! 


LIMA SEKAWAN
Aku dan Bapak dalam perjalanan dari Waikabubak, Sumba Barat ke Malang. Kami berhenti sebentar di Denpasar. Saat itu aku barusan lulus SMP dan mau lanjut SMA di Malang.
 

Di Denpasar kami jalan-jalan ke toko (yang mana, BUKAN kebiasaan Bapak. Bapak tidak suka jalan-jalan). Bapak bilang, cari kebutuhan untuk di Malang (maksudnya pakaian, dll). Oke, aku cari dan dapat. Ternyata Bapak menawarkan lagi: cari buku yang aku suka. (Wow, kejutan! Tumben martumben.)
 

Aku langsung memilih 1 set Lima Sekawan. Ya bener, tidak salah baca: 1 set (sekitar 15 buku kalau aku tidak salah). Pikirku, kalau tidak dikabulkan, ya sudah.
 

Ternyata, Bapak cuma melihat lalu membayar, tanpa komentar, yang mana amat sangat ajaib. Baru sekali itu aku ditraktir Bapak besar-besaran gitu… hehehe…

PENGUMUMAN KE ORANG SEKAMPUNG
Seperti aku bilang, Bapak bukan orang yang ekspresif.
Nah, kali ini ceritanya kami di kampung halaman Bapak di Maget Baomekot di Maumere, Flores. Aku baru saja naik dari kelas 1 SMA ke kelas 2.
 

Di suatu malam, ada pertemuan dengan keluarga di kampung. Tahu tidak apa yang Bapak lakukan? Bapak membawa, memegang, dan menunjukkan raporku ke keluarga di kampung! Sambil beliau bilang, betapa bangganya beliau padaku karena bisa meraih ranking di SMA. Beliau bilang aku dari SMP kampung (maaf ya, SMP Katolik Waikabubak…) tapi bisa mendapat ranking di SMA favorit di Malang.
 

Bapak begitu berapi-api. Hwadoh, di satu sisi aku malu, di sisi yang lain aku bangga bukan kepalang!

BERUSAHA BANGUN
Bapak sudah sakit keras. Kena kanker usus besar stadium akhir.
Aku sendiri sibuk untuk keberangkatanku dari Malang ke Yogyakarta karena aku diterima di IKIP Yogyakarta melalui jalur PMDK.
 

Aku mengurus keberangkatanku sendiri. Mulai dari mendaftar ulang, mencari tempat kos di Yogya, membayar ini itu, semua aku urus sendiri. Bapak, yang biasanya mengurusi kami, sedang sakit berat. Jangankan berjalan, beranjak dari tempat tidur pun sudah tidak bisa.
 

Pagi itu, aku mau berangkat. Travel sudah datang menjemput. Aku langsung ke kamar untuk berpamitan pada Bapak.
Dan, apa yang aku lihat: Bapak duduk bersandar di tempat tidurnya!
 

Ya, mungkin gerakan bersandar itu biasa saja buat yang sehat. Tapi buat Bapak yang sudah hampir bulanan “lumpuh” itu sangat tidak masuk akal!
 

Sampai sekarang, aku belum bisa membayangkan bagaimana Bapak menarik tubuhnya supaya bisa duduk untuk mengantarkan kepergianku. 



 

AKU DI JOURNAL BAPAK
Banyak sekali kenangan akan Bapak. Aku rasa tidak cukup sehari, atau selembar dua lembar untuk menuliskannya.
Yang satu ini adalah favoritku.
 

Aku membongkar-bongkar barang-barang Bapak ketika kutemukan agenda Bapak. Isinya semacam journal: kegiatan kerja sehari-hari. Oh, ya, agenda itu adalah agenda tahun 1968, tahun kelahiranku. Penasaran, aku menuju ke bulan Juni.
 

Di tanggal 15, hari Sabtu Wage, Bapak menulis (dengan tulisan kunonya yang khas): Du’a lahir.

***

Terima kasih, Tuhan, sudah memberiku Bapak yang luar biasa: kesannya saja tegas, kaku, diam, padahal penuh letupan cinta. Tuhan, izinkan Bapakku beristirahat dalam damai. Percayalah, Bapak sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik. I love you, Bapak.


***

Mengenangmu dengan cinta:
Du'a

Pekanbaru, 23 Agustus 2013

Monday, 19 August 2013

Pray for Egypt

August 19, 2013 0 Comments
Semoga yang bertikai, berdamai.
Semoga kerendahhatian didahulukan daripada kecongkakan
Semoga kelemahlembutan mengalahkan kemarahan.
Damai, buat semua saja, untuk segala kelompok.
Semoga, mampu melihat manusia dalam diri orang lain yang berbeda golongan.

Photo Credit: Agnes Bemoe
Pekanbaru, 20 Agustus 2013
@agnesbemoe

Tuesday, 13 August 2013

BUKAN CERITA ANAK: Singa Tua yang Bertobat

August 13, 2013 1 Comments
Sumber Gambar: http://images5.fanpop.com/image/photos/28900000/Scar-vs-Simba-the-lion-king-28921890-429-347.png


Thor, seekor singa tua yang sangat disegani, membuat keputusan mengejutkan.
"Aku mau bertobat! Aku akan bergabung dengan kawanan kerbau dan keledai." Ia berseru lantang dari batu karang tinggi tempatnya berdiri. "Aku tidak akan berbuat kejahatan lagi!"

Kawanan kerbau dan keledai menyambut Thor dengan suka hati. Mereka bersyukur, Thor yang kejam akhirnya bertobat.
"Ini adalah tanda kehebatan kaum kita. Lihatlah, seekor singa yang sangat buas dan kejam bisa kita pertobatkan!" Petuxa, pemimpin kerbau berseru.
"Mulai sekarang, tidak ada yang boleh mengganggu Thor. Dia harus kita lindungi!" Govlax, pemimpin keledai ikut menambahkan.

Thor, singa tua yang dulunya kejam dan jahat, hidup aman bersama kawanan kerbau dan keledai.

***

Di suatu pagi yang indah, Thor tidak sengaja bertemu dengan Hongak, seekor macan tutul yang jadi kawannya dulu. Hongak juga sudah sangat tua.
"Hei, kawanku! Selamat! Engkau sudah bertobat dan menemukan kedamaian."
"Kedamaian? Pfftttt!!"
Hongak melongo.
"Yang kucari adalah keamanan. Dulu, waktu masih muda, aku bisa mempertahankan diriku. Sekarang, aku sudah tua. Aku harus mencari tempat berlindung. Kalau tidak, bisa-bisa umurku tidak sepanjang ini..."
"Jadi? Selama ini engkau menipu kawanan kerbau dan keledai?" Hongak mengernyitkan dahirnya.
Thor mengangkat bahu.
"Mereka tidak merasa tertipu kan? Malahan, mereka merasa bangga karena sudah berhasil mempertobatkan aku" Thor membuat tanda kutip dengan sepasang telunjuk dan jari tengahnya.
"Wah, engkau sangat pandai, kawan!" seru Hongak.
"Heuheuheu... aku memang tua, tapi tidak bodoh. Ayo, ikut bersamaku. Bertobat... hahaha...!"
Hongak pun  mengikuti jejak Thor.

***

Pekanbaru, 14 Agustus 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Friday, 9 August 2013

Belajar Mencintai dari film "Brave"

August 09, 2013 0 Comments
Sumber: http://www.imdb.com/title/tt1217209/
Saya terhitung amat sangat lambat nonton film ini. Baru nonton kemarin di HBO.

Merida melakukan kekeliruan besar ketika ia melawan tradisi keluarganya. Ia sebenarnya hanya merasa muak dengan tradisi yang dirasakannya terlalu mengekang dirinya. Butuh waktu lama sampai akhirnya ia menyadari bahwa egonyalah yang menimbulkan kekacauan: ibunya berubah menjadi beruang, adik-adiknya juga, ayahnya menghadapi ancaman kudeta dari pendukungnya.

Yang langsung saya nikmati dalam film ini adalah pesannya. Ayah atau ibu bisa menjadi sosok yang dominan dan kaku karena suatu sebab. Ini potensial menimbulkan perlawanan di hati anak-anaknya. Namun, pada akhirnya, cinta kasih orang tua (yang kemudian menular pada anaknya) menyelamtkan keluarga dari kehancuran. Pesan cinta inilah yang pertama-tama membuat saya suka pada film ini.

Biarpun digambarkan sebagai sosok yang sangat cerewet, kuno, dan konvensional, saya yakin ibu Merida mendidik anak-anaknya dengan jiwa demokratis. Kalau tidak, tidak mungkin ia mendapatkan seorang anak seperti Merida. Kalau tidak ada demokratisasi dalam keluarga, pasti karakter Merida adalah anak "manis", "penurut", "jauh dari masalah", dll. Pilihan ayah dan ibu Merida untuk mendidik anak-anaknya dalam suasana demokratis ini adalah hal lain yang membuat saya senang.

Beberapa cerita (buku, dalam hal ini) sering menggambarkan keluarga ideal adalah keluarga tanpa masalah. Bila ada masalah maka penyelesaiannya adalah dengan memuaskan ego masing-masing (sambil membungkusnya dengan kata-kata indah semata). Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah cerita yang isinya kurang saya setujui. (Baca: Buku Cerita yang Bikin Saya Emosi). Film ini seperti jadi "pengobat" kedongkolan saya karena adanya buku-buku semacam itu.

Film "Brave" menggambarkan bahwa anggota keluarga bisa saja terdiri dari orang-orang yang jauh dari sempurna. Tetapi, mereka penuh cinta. Cinta yang tulus, bukan yang manipulatif. Cinta yang memberi untuk orang lain, bukan meminta orang lain untuk berkorban bagi diri sendiri.

Bila film "Brave" sering dikaitkan dengan keberanian Merida mencari takdirnya, saya malah mengasosiasikannya dengan cinta tulus di dalam hatinya kepada keluarganya. Cinta itu tentu saja tidak tumbuh begitu saja. Melalui kecerewetan dan kekunoannya, ibu Merida sudah duluan mengirimkan pesan cinta itu pada anak-anaknya.

Hasilnya, keluarga ini bisa menemukan jalan keluar dari permasalahannya dengan luar biasa: ketika semua anggota keluarga bersedia berkorban buat yang lain, ketika itulah "kutukan" terpatahkan.

Pesan yang luar biasa inilah yang membuat saya menyukai film ini.

Saya berharap semakin banyak orang mau mencari hal yang benar dan tidak lagi bersembunyi pada hal-hal manipulatif semata.

***

Pekanbaru, 10 Agustus 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Selamat Hari Raya Saraswati

August 09, 2013 0 Comments
Hari raya Saraswati adalah hari turunnya Ilmu Pengetahuan. Umat Hindu Dharma di Bali merayakannya setiap 210 hari sekali pada Sabtu (Saniscara), Umanis (Legi), Watugunung. Pada hari saraswati dilakukan pemujaan pada Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni. (Sumber: Wikipedia)

Sumber Gambar: http://hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-saraswati.html
***

Pekanbaru, 10 Agustus 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe

Wednesday, 7 August 2013

Buku Cerita yang Bikin Saya Emosi

August 07, 2013 0 Comments
Kemarin saya baca satu buku anak yang bikin emosi berat! Sumpah, saya tidak akan pernah mau memberikan buku itu pada anak perempuan mana pun yang saya temui.

Hampir seluruh isinya bertentangan dengan apa yang saya yakini benar. 

Buku ini menceritakan tentang anak korban perceraian kedua orang tuanya. Penulis tidak memilih pendekatan ilmu pengetahuan dalam bacaan ini. Tidak ada penggambaran anak sebagai korban perceraian secara spesifik (penggambaran psikologis, maksud saya). Hanya digambarkan tokoh merasa sedih (yang mana bisa dialami oleh semua anak, entah dia kehilangan pensil kesayangannya, atau kehilangan teman).

Yang membuat saya mutung berat adalah pesan yang amat jelas dari cerita itu yang mengajak pembaca kecilnya untuk menerima begitu saja perceraian. Tokoh dalam cerita itu digambarkan begitu mulia karena bisa memahami hati ibunya dan menerima (dengan mudahnya, tanpa sedikit pun efek psikologis) ketiadaan ayahnya.

Mengapa anak yang dipaksa untuk dewasa dan menerima situasi tidak enak itu? Mengapa bukan kedua orang tuanya yang nota bene umurnya tiga-empat kali lipat dari si anak yang belajar untuk mengatur hidupnya menjadi lebih dewasa (termasuk diantaranya ialah fighting for their marriage)?

Kita hidup di zaman yang mendevaluasi nilai-nilai perkawinan. Menikah gampang. Bercerai pun gampang. Pernikahan bukan sesuatu yang worth a struggle. Yang membuat saya sangat sedih adalah sejak dini anak sudah "dipersiapkan" untuk menjadi the quiters. Terimalah, Nak, upahnya adalah gelar "anak baik" :p 

Orang tua mereka boleh egois mencari kesenangan dirinya sendiri. Supaya anak tidak protes, maka sedini mungkin mereka sudah dicekoki untuk menerima perceraian itu perilaku mulia. God! Manipulasi sejak dini!


Sumber Gambar: http://static6.depositphotos.com/1150740/673/v/950/depositphotos_6737332-Cartoon-happy-family-on-walk.jpg

Tidak menafikan bahwa menghidupi pernikahan tidak gampang. Namun, saya sangat mempertanyakan mengapa tidak dibangun sisi lain dari kesulitan hidup karena perselisihan keluarga itu? Misalnya, anak melihat ayah dan ibunya bertengkar (seperti dalam cerita yang saya baca), suasana tidak enak, ayah-ibu-anak jadi seperti orang asing. Tapi lalu ada usaha melalui komunikasi intens yang cerdas dan dewasa sehingga anak belajar: orang tua pun bisa bermasalah namun mereka bisa menyelesaikannya dengan cantik dan elegan. Mengapa bukan sisi ini ya yang ditonjolkan?

Saya sangat menyesalkan ada penulis yang tega menuliskan hal ini. Saya juga menyesalkan ada penerbit yang tega menerbitkan buku ini. Maaf seribu maaf, menurut saya buku ini adalah manipulasi dan pembodohan. 

Sampai dengan pagi ini saya masih merasa dongkol dengan buku dan pemikiran di dalamnya. 

Lalu saya teringat akan pembicaraan dengan seorang teman: kita hidup dalam heterogenitas. Tidak hanya suku, agama, ras, atau kelompok, tetapi juga ide. 

Sangat besar kemungkinan kita berbeda pendapat, ide, dan keyakinan. Menjadi gondok adalah hak saya, tetapi kemudian berlarut-larut dengan membenci penulisnya ataupun penerbitnya, rasanya juga bukan tindakan yang pantas. 

Yang perlu saya lakukan adalah menerima kenyataan bahwa saya dan penulis punya pemikiran berbeda. Itu fakta. Menerima, itu tantangan yang tidak ringan buat saya. 

Mudah-mudahan dengan ini saya bisa belajar untuk semakin menerima kenyataan bahwa perbedaan pendapat tidak bisa dielakkan: saya tetap tidak setuju pendapatnya, tetapi tidak berarti saya tidak bisa terus membaca karya-karyanya ataupun bersilaturahmi dengan penulisnya (sambil inhale dan exhale....)

***

Pekanbaru, 8 Agustus 2013
Agnes Bemoe
@agnesbemoe